
Gaun yang masuk list pelelangan sudah hampir dua bulan tak ada kabar. Administrasi butik kacau balau. Rekening pribadi Vika pun semakin menipis untuk biaya dialisis Vincent. Raja berulang kali menawarkan bantuan, tetapi Vika selalu menolaknya dengan tegas.
Pagi itu jadwal dialisis Vincent. Bayi berumur enam bulan itu terlihat begitu ceria. Ia tak pernah sekalipun menangis meski dalam keadaan tidak sehat. Perkembangan motoriknya juga sangat baik. Badannya berisi dan terlihat seperti bayi normal pada umumnya. Hanya saja bayi itu terlihat sedikit pucat ketika mendekati jadwal dialisis.
"Hai, Boy!" sapa Raja.
Seakan mengerti bahwa sedang disapa, bayi laki-laki itu menatap Raja sambil tersenyum. Air liur menghiasi area bibir Vincent. Ia sedang memegang teether berbentuk telapak tangan.
"Baik. Saya akan langsung ke sana selesai mengurus dialisis Vincent. Terima kasih," ucap Vika sembari menempelkan ponsel ke telinga.
"Siapa?" tanya Raja.
"Pihak lembaga pelelangan. Ia memberi kabar bahwa gaunnya berhasil terjual, hanya balik modal. Lumayanlah daripada tidak sama sekali," ujar Vika sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Halo, Vincent! Sudah siap?"
Mendengar ucapan sang ibu Vincent langsung mengangkat tangannya minta digendong. Senyum lebarnya menular kepada Vika dan Raja. Setelah membawa Vincent ke dalam pelukannya, Vika berpamitan pada Bu Lasmi.
"Bu, Vika berangkat ya? Kalau ada apa-apa minta Nola segera menelepon," ucap Vika kemudian mencium punggung tangan ibunya.
"Raja juga pamit ya, Bu," pamit Raja sambil mengangguk.
"Iya, hati-hati di jalan. Nggak perlu ngebut, titip Vika dan Vincent!" kata Bu Lasmi.
"Baik, Bu. Permisi," ucap Raja.
Setelah berpamitan mereka langsung memasuki mobil dan membelah kota Bandung yang ramai lancar. Kota besar satu ini masih terasa sejuk, padahal aktivitas warganya sama seperti di Jakarta. Hal itulah salah satu alasan kenapa Vika sangat nyaman tinggal di Bandung.
Di dalam mobil, Vika bercanda dengan Vincent. Raja hanya tersenyum melihat kedua ibu dan anak itu bergurau. Sesekali terdengar gelak tawa Vincent yang kegelian akibat gelitikan Vika.
"Seandainya aku bertemu denganmu lebih cepat, akan kupastikan kamu tak pernah menderita dan selalu tertawa lepas seperti saat ini," batin Raja sembari terus memperhatikan Vika dan Vincent dari kaca spion depan.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Sambil menunggu antrian, Vika dan Raja mengajak Vincent bermain di playground.
"Wah, tampan ya seperti ayahnya!" celetuk seorang perawat dengan nama Dinda.
"Ah, dia ... pamannya," ucap Vika sembari tersenyum.
"Eh? Paman? Maaf, Bu. Ku kira ayahnya," ucap Dinda. Rona merah menghiasi wajahnya karena malu. Perawat cantik itu akhirnya berlalu.
Dia bukan orang pertama yang mengira Raja adalah ayah Vincent. Karena memang jika diperhatikan kedua lelaki beda usia itu sangatlah mirip. Ketampanan Pak Theo benar-benar diwariskan kepada anak dan cucunya.
"Ananda Vincent Aditama," panggilan Yuna, perawat yang selalu mendampingi dokter Arjun.
__ADS_1
Raja merengkuh tubuh mungil Vincent kemudian membawanya menuju ruang konsultasi bersama Vika.
"Semua tanda vital Vincent baik. Hari ini tidak masalah untuk melakukan dialisis," ucap dokter Arjun sembari tersenyum.
"Misalkan dilakukan transplantasi ginjal di usia Vincent yang sekarang bagaimana, Dok?" tanya Vika.
"Apa Bu Vika sudah memiliki calon pendonor?"
Vika hanya menggeleng. Sebenarnya Vika sudah melakukan serangkaian tes agar bisa menjadi pendonor, sayangnya ginjalnya tidak cocok dengan milik Vincent. Raja juga diam-diam melakukan tes, tetapi hasilnya sama.
Ibu muda itu tidak tega jika harus melihat Vincent terus melakukan dialisis. Ia berencana meminta bantuan kepada Mahen suatu saat nanti.
.
.
.
"Terima kasih bantuannya, Pak. Akhirnya gaun saya bisa terjual," ucap Vika kepada Pak Tio pengurus lembaga lelang yang diikuti Vika.
"Sama-sama, Bu. Jangan sungkan-sungkan meminta bantuan kepada saya. Sebisa mungkin, kami akan memberikan harga terbaik." Pak Tio menjabat tangan Vika.
Vika memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena melihat Vincent yang kelelahan. Sesampainya di rumah, ia dikejutkan oleh kerumunan beberapa karyawan butik di depan rumah.
Ibu satu anak itu bergegas turun dari mobil, diikuti oleh Raja. Bu Lasmi berlari kecil menghampiri Vika, kemudian mengambil alih Vincent dari gendongannya.
"Kamu kemana saja? Ibu dan Nola seharian menghubungimu tapi tidak bisa," ucap Bu Lasmi panik.
Sontak Vika mengambil ponselnya, ia baru sadar jika benda pipih itu dalam keadaan mode senyap.
"Maaf, Bu. Ponsel Vika dalam mode senyap. Tadi sepulang dari rumah sakit, Vika menemui Pak Tio," ucap Vika.
"Bu, tolong bawa Vincent ke dalam terlebih dahulu," pinta Raja.
"Iya, tolong bantu Vika ya?" ucap Bu Lasmi.
Raja mengangguk tanda menyanggupi. Kini Nola yang berjalan ke arah Vika, para karyawan ikut mengekor di belakangnya.
"Gimana ini, Vik? Mereka meminta kenaikan gaji dua kali lipat!" ujar Nola.
"Apa? Ini tidak masuk akal!" seru Vika.
"Ada yang tidak beres!" timpal Raja.
__ADS_1
"Bu! Naikkan gaji kami!" teriak salah seorang karyawan. Teriakan demi teriakan bersahutan malam itu.
Berulang kali Vika berusaha menenangkan karyawannya tetapi tidak membuahkan hasil. Tuntutan tidak masuk akal mereka membuat kepala Vika seakan hampir meledak.
"Mulai besok, Kami mogok kerja!" seru Bu Titin.
"Betul!" sahut karyawan lain.
"Jika dalam waktu satu minggu tidak ada keputusan untuk menaikkan gaji, kami akan berhenti!" ancam Bu Titin.
"Setuju!" seru karyawan lain serentak.
"Itu permintaan konyol! Yang masih kekeuh ingin gajinya dinaikkan, bisa mengajukan surat pengunduran diri!" tegas Vika.
Mendengar ucapan Vika nyali karyawannya seakan menciut. Sudah tidak terdengar lagi cicitan mereka untuk minta naik gaji. Satu per satu dari mereka mulai meninggalkan halaman rumah Vika. Tubuh Vika sedikit lemas, tetapi berhasil ditangkap oleh lengan kekar Raja.
"Kau baik-baik saja?" tanya Raja.
Vika hanya mengangguk, ia dipapah oleh Raja untuk memasuki rumah. Vika bersandar pada sofa sembari memijit dahinya perlahan. Nola tengah bertopang dagu dengan pandangan menerawang. Sedangkan Raja hanya bisa mengamati kedua perempuan itu secara bergantian.
"Aku rasa ada yang janggal dengan kejadian hari ini," ucap Raja.
"Entahlah," kata Vika.
"Aku khawatir jika nantinya mereka benar-benar mengundurkan diri, Kak." Nola melemparkan pandangannya ke arah Vika.
"Aku akan bekerja dengan seadanya orang yang mau bertahan. Aku rasa upah yang aku berikan sudah sangat pantas, tetapi kenapa mereka bersikukuh minta kenaikan gaji?" ucap Vika keheranan.
"Kita lihat saja besok, apa mereka hanya sekedar menggertak atau bersungguh-sungguh dengan ucapannya," kata Nola.
"Maaf, untuk masalah ini aku tidak bisa ikut campur," ucap Raja. Ia merasa akan terlihat lancang jika ikut campur dengan urusan bisnis Vika. Kecuali, Vika meminta pendapat atau bantuan kepadanya secara langsung. Raja akan membantunya dengan senang hati.
"Baiklah, aku pamit. Besok aku akan datang lebih pagi, Kak." Nola mulai berpamitan kepada Vika.
"Aku antar sekalian, Nola. Kita searah," ucap Raja.
"Baik, Kak. Terima kasih."
Rumah kembali hening ketika Raja dan Nola pulang. Vika memutuskan untuk segera tidur, hari ini terasa berat baginya. Masalah tak henti-hentinya menghantam kehidupannya. Harapan Vika hanya satu, semoga nantinya ia bisa memiliki kehidupan yang tenang bersama Vincent dan ibunya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...