
Di Kediaman Keluarga Dirgantara ...
Seminggu terakhir Bu Winda menjalani hidup sehat. Perempuan itu ingin memberikan yang terbaik untuk cucunya. Demi menebus kesalahannya di masa lalu, dan mengakhiri rasa bersalah yang terus menggerogotinya sejak lima tahun lalu.
"Ma, sudah siap? Kita berangkat sekarang," ucap Pak Theo.
"Ayo, Pa."
Pasangan paruh baya itu mulai berjalan ke arah pintu keluar menuju garasi. Namun, langkah mereka berhenti karena melihat Mbok Marni berjalan dengan wajah panik.
"Nyonya, Tuan, di depan ada polisi,"
"Polisi?" Pak Theo dan Bu Winda saling menatap.
Pak Theo langsung balik kanan, kemudian menemui dua orang polisi yang sudah duduk di ruang tamu.
"Siang, Pak. Maaf, ada keperluan apa, ya?" tanya Pak Theo sopan.
"Saya ke sini dengan membawa surat penahanan sementara untuk Bu Winda," ucap sang polisi sambil menyodorkan secarik kertas.
"A-apa salah saya, Pak!" seru Bu Winda.
"Tolong kerja samanya, Bu. Anda harus kami tahan untuk menjalani pemeriksaan."
Pak Theo hanya mematung usai membaca surat yang ada di tangannya. Kedua polisi itu mendekati Bu Winda kemudian memasangkan borgol pada kedua tangannya.
"Pa ... tolong mama!" teriak Bu Winda sambil terus berontak.
Pak Theo tak bergeming. Sebuah luka di masa lalunya kembali terbuka. Kedua polisi itu kini menyeret Bu Winda ke dalam mobil. Pak Theo kini terduduk lesu di atas sofa. Ia menyandarkan punggungnya, berharap beban pikirannya sedikit berkurang.
Pak Theo tak menyangka. Ternyata selama ini ia telah dibodohi oleh Bu Winda. Istri yang telah mendampingi puluhan tahun itu, menyimpan fakta busuk dibalik kematian kekasihnya. Bahkan perempuan itu melemparkan kesalahannya kepada orang lain.
Kakek dari Vincent dan Maura itu hanya bisa menelan kekecewaannya. Sampai akhirnya sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
" ... "
"Papa bingung."
" ... "
"Mamamu ditangkap polisi karena kasus lama."
" ... "
"Seseorang melaporkannya mengenai kasus yang terjadi puluhan tahun lalu."
" ... "
"Kematian Ibu Raja."
Tut ... Tut ... Tut ...
Sambungan telepon terputus. Pak Theo kini mengusap wajahnya kasar. Di saat genting seperti ini, ada saja masalah yang menghambat. Ia mulai menguatkan hatinya kembali. Lelaki itu langsung menyambar kunci mobil dan berniat datang ke rumah sakit.
.
.
.
__ADS_1
Mendengar kabar dari ayahnya, perasaan Mahen begitu kacau. Ia tak menyangka ternyata ibunyalah orang yang membunuh Kamila, Ibu Raja. Vika yang melihat ekspresi tak tertebak dari wajah Mahen mulai panik.
"Apa ... mama berubah pikiran?" tanya Vika.
"Bukan begitu, mama sekarang ada di kantor polisi," ucap Mahen sambil meremas rambut hitamnya.
"Kantor polisi? Untuk apa?"
"Ada seseorang yang melaporkan ulang kasus kematian Ibu Raja."
"Apa hubungannya dengan mama?"
"Mama dituduh sebagai tersangka utama."
Mata Vika kini terbelalak, kedua telapak tangannya menutup mulutnya yang mengaga lebar. Di tengah keterkejutannya, tiba-tiba Mahen berdiri. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana kemudian menghubungi Raja.
"Dimana sekarang?"
" ... "
Usai mengetahui keberadaan Raja, Mahen langsung meninggalkan Vika yang masih berusaha mencerna seluruh kejadian. Pikirannya semakin kacau karena nasib Vincent saat tergantung ginjal Bu Winda dan kebaikan Tuhan.
.
.
.
~Mahen POV~
Dada Mahen bergemuruh hebat. Praduga muncul di benaknya. Ia yakin sekali bahwa Raja adalah satu-satunya orang yang menyimpan dendam kepada ibunya.
Suasana jalanan siang itu terasa sangat kacau, sekacau perasaan Mahen kali ini. Setelah sampai di salah satu kedai milik Raja, Mahen memarkirkan mobilnya asal. Laki-laki itu turun dari mobil dan membanting pintunya kasar.
Hentakan kaki Mahen seakan bisa membelah tanah yang ia pijak. Raja menghampiri kakaknya itu dengan sebuah senyum tanpa dosa. Senyuman yang terlihat menjijikkan di mata Mahen.
"Ada apa, Kak?"
BUGH!!!
Tinju Mahen mendarat mulus di rahang tegas Raja. Kini tubuh tegap Raja tersungkur di lantai. Teriakan beberapa pengunjung yang terkejut menggema di dalam kedai.
Raja berdiri, kemudian menatap heran ke arah kakaknya itu. Ia mencoba mendekati Mahen. Langkahnya terhenti ketika sebuah kalimat meluncur dari bibir tipis kakaknya itu.
"Kenapa Kamu melakukan ini kepadaku?" Mahen menatap dingin ke arah Raja.
"Apa maksud Kak Mahen? Kita bicarakan semuanya baik-baik." Raja mencoba meraih pundak Mahen, tapi ditepis oleh kakaknya itu.
"Tarik kembali laporanmu!" tuding Mahen.
"Laporan apa maksud Kak Mahen!" Kini nada bicara Raja mulai meninggi karena frustasi.
"Pagi ini mama dibawa ke kantor polisi karena laporanmu kan!" teriak Mahen.
"Sepertinya ada salah paham disini," kata Raja dengan nada datar.
Setelah berulang kali membujuk Mahen, akhirnya keduanya duduk dengan kepala dingin di salah satu sudut kedai itu.
"Aku berani bersumpah, Kak! Bukan aku yang melaporkan Tante Winda!" seru Raja.
__ADS_1
"Rasanya kepalaku ingin meledak! Seharusnya besok Chen bisa melakukan transplantasi. Namun, apa ini?" ucap Mahen sambil menenggelamkan wajahnya di balik tangan.
"Aku benar-benar tidak tahu siapa yang melaporkan kasus ini. Aku pun sudah memendamnya selama ini. Kakak tahu sendiri, bagaimana aku mati-matian untuk bertahan di keluarga Dirgantara." Raja tersenyum kecut.
"Jujur, aku sangat kecewa karena Kak Mahen tiba-tiba datang menuduhku. Aku ini orang yang sangat pandai balas budi. Bisa hidup sampai detik ini adalah salah satu kebaikan Tante Winda. Bisa saja saat kejadian itu aku turut dihabisi."
Kenangan buruk masa lalu kembali terlintas dalam benaknya. Kejadian dimana ibunya tergolek tak bernyawa dengan kepala pecah bersimbah darah.
"Aku tahu sekali perasaan Tante dulu. Sejahat-jahatnya beliau, ia juga punya hati yang bisa patah. Hanya saja waktu itu emosi sudah menguasainya hingga gelap mata."
"Raja, aku ikut merasa bersalah atas kejadian itu." Wajah Mahen menunduk penuh duka.
"Seandainya aku jadi Kak Mahen, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Karena sudah sewajarnya yang tidak terima dengan kejadian itu adalah orang terdekat korban."
"Tunggu! Aku baru menyadari hal ini!" seru Mahen.
"Ada apa, Kak?"
"Ada dua korban sebenarnya. Ibumu dan satu orang lagi, Kau tahu siapa?"
"Paman si tersangka palsu?"
Mahen mengangguk mantap. Mereka berdua berencana mencari jejak lelaki yang pernah menggantikan Bu Winda sebagai tersangka. Berbagai rancangan untuk mencari informasi tentang keberadaannya mereka bahas detik itu juga.
"Sekarang sebaiknya kita ke kantor polisi menyusul Tante Winda. Sebisa mungkin kita minta pihak kepolisian untuk membebaskan Tante Winda sementara waktu, sampai selesai proses transplantasi ginjal," ucap Raja.
"Kau benar!"
Akhirnya Mahen melajukan mobilnya menuju kantor polisi tempat Bu Winda ditahan. Riuhnya jalanan ibukota tidak menjadi penghalang untuk kedua putra dari Theo Dirgantara itu. Tujuan mereka sama, ingin segera menyelamatkan nyawa Vincent.
~Mahen POV END~
Sementara di rumah sakit, Vika tengah was-was menanti kelanjutan nasib putranya. Perempuan itu mondar-mandir di depan ruang PICU layaknya setrikaan. Vika menggigiti kuku jarinya karena rasa cemas yang menyelubungi.
Langkahnya terhenti ketika mendapati sosok Pak Theo menghampiri. Pria paruh baya itu menampilkan ekspresi wajah yang terlihat kacau.
"Vik, bagaimana keadaan Vincent?"
"Masih belum sadar sampai sekarang, Pa!"
Kini bulir air mata Vika jatuh karena mengingat kondisi putranya yang semakin menurun. Pak Theo mendekap tubuh Vika untuk menenangkannya.
"Semoga kasus mama segera selesai. Papa harap semua yang dituduhkan kepadanya tidak benar."
Ketika sedang berbagi kesedihan, dua orang perawat menghampiri Vika dan Pak Theo.
"Permisi, Pak, Bu. Ananda Vincent hari ini harus melakukan dialisis, sambil menunggu pendonor datang. Dokter Lie sudah menjadwalkan ulang jadwal operasi untuk Vincent," jelas si perawat.
"Baik, Sus. Tolong lakukan yang terbaik untuk anakku," ucap Vika di sela tangisnya.
Kedua perawat itu masuk ke ruang PICU, tak lama seorang dokter ikut menyusul untuk melakukan dialisis.
Vika dan Pak Theo menunggu di depan ruang ICU dengan perasaan cemas. Mulut Vika komat-kamit mengucapkan doa agar Tuhan berbaik hati, dan memberikan kesembuhan untuk putranya. Di sampingnya, Pak Theo menggenggam erat tangan Vika untuk memberi kekuatan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...