Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Lelaki Misterius


__ADS_3

Butik Vika hari itu terlihat begitu lengang. Sejak memutuskan tidak menerima orderan, hanya ada satu dua orang yang datang untuk mengambil pesanan. Beberapa pelanggan datang untuk membeli stok pakaian yang masih tersedia.


Ketika Vika sedang sibuk di depan laptop, salah seorang karyawan masuk ke ruangannya. Nita terlihat panik, napasnya memburu, dan keringat mengucur membasahi dahi. Ia bicara terbata-bata sembari memainkan cincin di jemarinya.


"M-mbak Vika, di depan ada pelanggan sedang mengamuk!" seru Nita saling menggesekkan kedua tangannya.


"Kenapa?" Tubuh Vika kini bersandar pada kepala kursi.


"I-itu ... dia mau Kita membuatkan gaun pengantin untuk satu bulan lagi," jelas Nita.


"Sudah dijelaskan kenapa Kita menolak permintaannya?" tanya Vika sambil memainkan pena yang ada di tangannya.


"Su-sudah, Mbak, tapi dia kekeuh mau bicara langsung sama Mbak Vika," gagap Nita.


Vika menghembuskan napas kasar, kemudian beranjak dari kursi. Perlahan langkah kakinya menapaki lantai menuju ke ruang depan.


Dari kejauhan Vika bisa melihat sosok perempuan dengan muka ditekuk. Tangan kanannya sedang menggenggam ponsel, sedangkan yang kiri dilipat ke atas dada. Perhatian perempuan itu beralih kepada Vika.


"Selamat siang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vika sambil tersenyum sopan.


"Kamu pemilik butiknya?" Perempuan itu menatap remeh Vika dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Benar, perkenalkan ... saya Vika Aditama pemilik butik ini." Vika menyodorkan tangan untuk bersalaman.


"Aku tidak suka basa-basi. Buatkan gaun pengantin untuk akad nikahku!" seru perempuan itu sambil memandang tangan Vika yang masih menggantung di udara.


"Baik, siapa nama Anda?" tanya Vika.


"Nadine!" Perempuan itu menjawab singkat pertanyaan Vika.


"Maaf, Kak Nadine ...," Ucapan Vika terhenti karena Nadine menyela.


"Jadi, mana katalognya?" Perempuan itu menengadahkan tangannya untuk melihat katalog milik butik.


"Kami mohon maaf, Kak. Desainer Kami sedang cuti, jadi untuk sementara waktu tidak menerima pesanan." Vika tersenyum lebar dengan otot leher yang mulai menegang.


"Saya tidak menerima penolakan! Cepat telepon desainermu! Aku akan membayar berapapun yang kalian minta!" Nadine mengangkat dagu sambil melipat tangan di depan dada.


"Ini bukan masalah uang. Silahkan Anda mencari butik lain, banyak sekali butik yang lebih bagus dari milik kami. Jadi ...." Ucapan Vika kembali terhenti ketika pintu butik dibuka dengan kasar.


Seorang lelaki dengan setelan kemeja memasuki butik. Wajahnya merah padam dengan mata melotot saat menghampiri Nadine. Bibir Vika menganga lebar setelah mengetahui siapa yang masuk ke butiknya.


"Dokter Lie!" seru Vika.

__ADS_1


Sontak Dokter Lie menatap Vika. Ia menautkan alisnya, berusaha mengingat kembali siapa perempuan di hadapannya itu.


"Saya Vika, Dok. Ibu mendiang Vincent Aditama," ucap Vika sambil tersenyum lembut.


Dokter Lie kembali teringat kejadian satu Tahun yang lalu. Dimana ia merasa gagal menjadi seorang dokter. Bahkan kariernya terancam hancur, akibat desas-desus aneh yang beredar mengenai kematian Vincent. Ia dituding melakukan mal praktek kepada Vincent.


Beberapa perawat dan tim medis yang ikut serta dalam operasi Vincent juga merasakan hal yang sama. Mereka merasa gagal, karena dalam waktu bersamaan dua nyawa melayang di depan mata.


"A-apa kabar, Bu?" Dokter Lie tergagap karena teringat masa lalu buruknya itu.


"Baik, Dok. Anda apa kabar? Calon istri?" tanya Vika sembari melirik Nadine yang menatap tajam ke arahnya.


"I-iya. Perkenalkan, Dia Nadine. Calon istri Saya." Dokter Lie kini memegang kedua bahu Nadine.


"Sudah tadi!" seru Nadine dengan nada ketus.


Rahang Vika mengeras berusaha menahan amarahnya. Sebisa mungkin ia tersenyum sopan untuk menghargai Nadine dan Dokter Lie sebagai pelanggan. Perempuan itu akhirnya mengalah karena mengingat kebaikan Dokter Lie selama menangani Vincent.


"Baiklah. Sebagai ucapan terima kasih, Kami akan mengerjakan gaun untuk pernikahan Anda dan Nona Nadine," ucap Vika sambil tersenyum tipis.


"Gitu, dong, daritadi!" gerutu Nadine dalam hati.


Vika mencoba menghubungi Nola. Setelah tersambung, ia menyerahkan ponselnya kepada Nadine. Vika sampai menggelengkan kepala ketika mencuri dengar pembicaraan kedunya terdengar sedikit menegangkan. Pelanggannya itu menginginkan gaun dengan desain unik. Ia juga meminta dibuatkan dengan bahan impor terbaik.


"Minum dulu, Mbak." Nita menyodorkan secangkir cokelat hangat.


"Terima kasih." Vika tersenyum, kemudian duduk tegak dan meraih cangkir dari tangan Nita.


"Nita pulang duluan ya, Mbak. Pacarku sudah menunggu di depan," pamit Nita kemudian melangkah keluar butik.


Vika mengekor di belakangnya untuk membalik papan penanda yang tergantung pada pintu. Ia tak lupa juga menutup tirai jendela, dan duduk kembali di sofa. Perempuan cantik itu merebahkan tubuh rampingnya.


Ketika hendak memejamkan mata untuk melepas penat, Vika mendengar deritan pintu. Ia kini bangkit dari sofa dan menatap ke arah pintu. Perempuan itu melihat siluet seorang laki-laki sedang berdiri di ambang pintu.


"Siapa? Butik Kami sudah tutup tolong kembali besok," ucap Vika dengan nada bicara kesal.


Lelaki itu terus melangkah masuk. Jantung Vika berdetak tak beraturan, sesekali ia menelan kasar ludah, dan napasnya kian memburu. Ketegangan berakhir ketika suara tawa keluar dari bibir pria di hadapannya.


"Kakak!" seru Vika sembari memukul dada bidang Raja.


"Hahaha ... kenapa? Takut?" Raja melangkah mundur untuk menghindari pukulan Vika.


"Vika kira siapa! Lihat rambut ini! Kenapa berubah hitam? Pakai poni lagi! Seperti orang lagi jatuh cinta saja!" ujar Vika sambil terus memukul dada Raja.

__ADS_1


"Hahaha ... ampun!" teriak Raja.


Tiba-tiba keseimbangan Raja goyah karena kakinya terpeleset. Ia memegang lengan Vika sebagai tumpuan. Lelaki itu lupa, bahwa badannya terlalu besar jika hanya mengandalkan Vika yang berbadan ramping.


Akhirnya mereka berdua mendarat di atas lantai. Tubuh Vika kini menindih Raja. Ia berusaha bangkit, tetapi kedua lengan Raja memeluknya erat.


"Kak, tolong lepas," ucap Vika lirih.


Vika mendongak untuk melihat wajah Raja. Matanya melebar karena mata lelaki itu tertutup rapat. Ia mencoba untuk bangkit, kemudian menepuk lembut pipi Raja.


Betapa paniknya Vika, karena Raja hanya terbaring lemah tak merespon. Ia menggoncangkan tubuh Raja, berharap agar lelaki itu segera bangun. Air mata Vika mulai bercucuran. Pikiran buruk silih berganti berputar di kepalanya.


"Kak ... bangun! Jangan bercanda seperti ini!" teriak Vika sambil terus menepuk pipi Raja.


Perlahan mata Raja terbuka, dan berusaha bangkit dibantu Vika. Setelah berhasil duduk, Raja memijat pelipisnya perlahan.


"Apa ada yang sakit, Kak?" Vika meneliti setiap bagian tubuh Raja, ia ingin memastikan tidak ada luka serius ataupun darah yang mengalir.


"Aku baik-baik saja. Tenanglah," ucap Raja sambil tersenyum lembut. Ia menggenggam pergelangan tangan Vika agar berhenti menyentuh tubuhnya.


Raja kini menarik lengan Vika sehingga jatuh ke dalam pelukannya. Ia mengusap perlahan punggung Vika. Perempuan itu menumpahkan semua kekhawatirannya melalui air mata. Setelah tangis Vika reda, Raja melepaskan pelukannya.


"Lihat, Aku baik-baik saja." Raja tersenyum lembut, menangkup wajah cantik Vika, dan mengusap perlahan sisa tangisnya.


"A-aku nggak mau Kak Raja kenapa-napa," ucap Vika diantara isakannya.


Raja tersenyum lembut, jantungnya berdebar lebih kencang. Tangannya kini berpindah ke tengkuk Vika. Ia menarik wajah Vika semakin dekat. Hembusan napas perempuan itu menyapu lembut wajahnya.


Mata Raja kini sedang berfokus pada bibir merah Vika. Wajah keduanya semakin dekat, perlahan tapi pasti bibir Raja mendarat pada bibir manis Vika. Ia mulai mengecupnya lembut.


Vika yang terbawa suasana, kini membuka lebar bibirnya. Napas keduanya semakin memburu, menikmati setiap sentuhan lembut dari bibir lawan mainnya.


Tiba-tiba Raja melepaskan tautan bibirnya, ia tak ingin bertindak lebih jauh. Lelaki itu mengusap lembut bibir Vika dengan jarinya. Sebuah senyum manis terbit di wajah Raja.


"Ayo, aku antar pulang!" Raja berdiri sambil mengulurkan tangannya kepada Vika, dan disambut oleh perempuan itu.


Mereka keluar dari butik dengan perasaan yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Cicak di dinding menjadi saksi hidup bagaimana mereka mulai bertukar rasa.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2