Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Sebuah Kecelakaan


__ADS_3

Mahen hanya bisa menatap setiap sudut ruangan di rumahnya. Dalam waktu singkat, Vincent bisa membuatnya begitu jatuh hati. Nova kebingungan ketika melihat sikap suaminya murung sejak semalam.


"Apa Kau baik-baik saja?" tanya Nova.


"Menurutmu?" ucap Mahen dengan nada datar.


"Apa sikapmu tidak bisa seperti dulu?" ucap Nova lesu.


Perempuan itu merasa begitu tertekan karena sikap Mahen yang tetap acuh. Segala macam cara ia lakukan agar bisa merebut kembali hati suaminya. Di depan Mahen, ia bersikap lebih dewasa dan penurut. Demi suaminya, Nova rela kursus memasak. Membereskan rumah ketika libur juga ia kerjakan. Namun, hasilnya nol besar.


"Tolong, beri tahu aku. Bagaimana agar hubungan kita sehangat dulu?" kata Nova dengan suara sedikit bergetar.


Sapaan 'sayang' sudah tidak pernah ia dengar dari Mahen sejak Vika diusir dari kediaman Dirgantara.


"Apa aku sudah ketahuan?" pikir Nova.


"Tolong, biarkan aku sendiri," ucap Mahen lalu meninggalkan Nova sendirian.


"Ternyata sesakit ini rasanya diabaikan," lirih Nova. Air mata mulai menetes ke pipinya.


.


.


.


"Pesawat terbang Elang Air boing 008 tujuan New York telah hilang kontak sejak pukul 08:04 .... "


Badan Mahen pagi itu menegang. Matanya terbelalak ketika mendengar berita buruk dari televisi. Berulang kali ia memutar ulang siaran itu, untuk memastikan ada kesalahan mengenai berita kecelakaan.


Namun, kenyataan pedih itu nyata adanya. Seketika tubuh Mahen lemas. Ponselnya yang berdering berulang kali juga ia abaikan. Pikirannya begitu kacau dan kalut.


Seharian itu Mahen mondar-mandir di depan televisi untuk mengetahui update berita mengenai pesawat yang ditumpangi Vika.


"Bagaimana? Apa sudah ada kabar mengenai korbannya?" ucap Mahen sembari menempelkan ponselnya ke telinga.


" ... "


Setelah mendengar berita dari salah seorang teman wartawannya, Mahen menutup sambungan telepon. Lelaki itu duduk bersadar pada sofa. Diusapnya wajahnya secara kasar.


Jika waktu bisa ia putar kembali, Mahen akan menahan Vika agar tetap bersamanya. Kepingan kenangan singkatnya bersama Vincent pun muncul. Bayi menggemaskan itu, bagaimana keadaannya sekarang? Hanya Tuhan yang tahu.


Nova yang terus memperhatikan Mahen akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Perempuan itu mulai mendekati Mahen. Dia duduk di sampingnya dengan tetap memberi jarak.


"Kenapa hari ini Kau terlihat kacau?"


"Bukan urusanmu!" ucap Mahen dingin.


"Paling tidak aku bisa mendengarkan kecemasanmu, agar bebanmu sedikit berkurang," kata Nova.


"Kau tahu berita pagi ini?"


"Pesawat Elang Air?"

__ADS_1


"Vika, Ibunya, Raja, dan Vincent ada di dalam pesawat itu! Dan belum ditemukan," ucap Mahen lesu.


Mendengar ucapan Mahen, sontak Nova terkejut. Bukan karena berita buruk itu, melainkan karena suaminya bisa mengetahui Vika ikut terbang dalam pesawat.


"Bagaimana Kau bisa tahu Vika ada di dalam pesawat itu?"


Mahen membisu enggan menjawab. Namun, Nova terus mendesaknya. Akhirnya kesabaran Mahen habis. Ia membentak perempuan yang pernah menghangatkan ranjangnya bertahun-tahun itu.


"Bukan urusanmu! Tolong diam saja jika masih ingin mempertahankan statusmu sebagai Nyonya Mahen Dirgantara!" teriak Mahen.


"Kenapa seperti ini? Dimana Mahen yang kukenal dulu? Dimana Mahen yang penuh kesabaran dan bijak itu?" seru Nova setengah berteriak.


"Hah! Kau masih berani mempertanyakannya? Jawablah sendiri! Aku yakin Kau sudah tahu jawabannya!" Seru Mahen, kemudian meninggalkan Nova.


.


.


.


Semangat hidup Mahen redup sejak saat itu. Seluruh omzet departemen store miliknya turun. Beberapa perusahaan yang berkonsinyasi juga mengancam untuk hengkang dari departemen store Mahen.


Pagi itu Pak Theo mengunjungi Mahen di kantor manajemen miliknya. Karena sudah terbiasa datang kesana, beliau tidak perlu membuat janji. Ketika memasuki ruangan hati lelaki yang umurnya hampir menginjak enam puluh tahun itu mencelos.


Pak Theo melihat Mahen menghadap kaca jendela besar dengan tatapan kosong. Ayah dari Mahen itu mendekati putranya.


"Mahen ..., " panggil Pak Theo.


Mendengar namanya disebut, Mahen menoleh. Kini di tangan Pak Theo sudah ada sebuah amplop cokelat. Dia meletakkan amplop itu di atas meja kerja Mahen.


"Bukalah, dan Kamu akan tahu isinya," ucap Pak Theo.


Mahen membuka tali pengait amplop itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas dengan kop surat rumah sakit ternama. Jantungnya mulai berdebar karena apa yang ada di dalam pikirannya ternyata benar adanya.


Setelah tiga menit membaca isi surat itu, tubuh Mahen mendadak lemas. Kepalanya seakan berputar sehingga membuat tubuhnya bersandar di kursi kerjanya.


"Vincent putramu! Menyesal? Sudah terlambat!" seru Pak Theo.


Air mata Mahen mengalir begitu deras. Baru kali ini ia merasa lemah tak berdaya. Bayi lucu yang telah mencuri hatinya itu, ternyata memang putra kandungnya.


"Maafkan papa, Boy! Maaf telah menyia-nyiakanmu selama ini! Bahkan dengan jahatnya, papa menolak kenyataan bahwa kamu adalah darah daging papa!" teriak Mahen.


Ratusan kata meluncur dari bibir Mahen. Lelaki itu berulang kali merutuki kebodohannya. Namun, bukankah semua sudah terlambat? Penyesalannya tidak akan mengembalikan Vincent ke pelukannya. Hanya Tuhan yang tahu dimana Vincent dan Vika sekarang.


Mahen akan menanggung penyesalan seumur hidup. Dia hanya bisa menunggu kabar sampai dua orang yang sekarang memenuhi hatinya itu ditemukan.


.


.


.


Empat tahun kemudian ...

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Maura?" tanya Mahen penuh rasa khawatir.


"Dia baik-baik saja, cepatlah pulang."


Lelaki itu langsung menutup sambungan teleponnya, diraihnya jas hitamnya. Sebisa mungkin ia melajukan mobil membelah kota Jakarta. Suara klakson saling bersahutan karena kemacetan akibat demonstrasi kenaikan upah minimum yang tidak manusiawi.


"Sial!" gerutu Mahen.


Ponselnya kembali berdering, Mahen segera mengangkat sambungan telepon. Nada penuh kekhawatiran terucap dari bibir Nova.


"Maura ... dia ..., "


"Kenapa? Jangan membuatku takut,"


"Dia kejang, aku sekarang sudah ada di rumah sakit. Cepat kesini!" seru Nova.


"Sedang ada demo, yang terpenting sekarang Maura sudah ada di tangan orang yang tepat."


Pikiran Mahen kembali kacau, sekacau suasana jalanan siang itu. Otaknya terasa mendidih, berulang kali lelaki itu memukul setir mobilnya.


Setelah melalui berbagai macam kekacauan, akhirnya Mahen sampai ke rumah sakit. Ia langsung menuju kamar tempat Maura dirawat. Perlahan dibukanya pintu ruangan itu. Di sana Nova tengah tertidur pulas di samping Maura.


Langkah Mahen mendekat. Dia hanya mematung memandangi wajah Nova dan Maura secara bergantian. Kedua perempuan di hadapannya itulah yang membuat semangat hidup Mahen kembali.


Mahen tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Lelaki itu tidak mau merasakan penyesalan seumur hidup untuk kedua kalinya. Dibelainya anak rambut Nova, kemudian ia selipkan di belakang telinga.


Merasa ada yang menyentuh rambutnya, Nova terbangun. Dihadapannya kini telah berdiri sosok lelaki yang sangat ia cintai. Nova berusaha tersenyum, ia turun dari brankar, dan menyambut Mahen dengan sebuah pelukan hangat.


"Apa kata dokter?" tanya Mahen sembari mengusap punggung istrinya.


"Hanya demam biasa karena tumbuh gigi," ucap Nova.


"Astaga, kenapa tadi bisa sepanik itu?"


Mendengar pertanyaan Mahen, tiba-tiba Nova melepaskan pelukannya. Matanya menatap tajam ke arah Mahen. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


"Ibu mana yang tak panik melihat anaknya mengalami panas tinggi! Kau tahu? Sedari tadi Maura terus menyebut namamu!" seru Nova dengan suara dingin. Kemudian perempuan itu keluar dari kamar inap putrinya.


.


.


.


Bersambung...


Assalamualaikum teman-teman...


Terima Kasih yaa sudah setia membaca Second Wife. Jangan lupa selalu beri dukungan kepada Author dengan meninggalkan Loke, komen dan vote nyaa...


Hari ini Chika mau merekomendasikan sevuah novel karya teman sesama author... Ta-da! Ini dia Novelnya


__ADS_1


Sehat-sehat yaaa Kaliaaannn😘😘😘


__ADS_2