Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Vika kini mondar-mandir di dalam sebuah kamar bernuansa vintage. Ranjang dengan sprai putih terlihat mencolok karena taburan bunga mawar merah. Di atasnya terdapat satu buket bunga Daisy yang ditali dengan pita berwarna merah hati.


"Ba-bagaimana ini?" Vika menggigit kukunya sambil terus berjalan gelisah.


Gaun pengantin masih melekat di tubuhnya. Sejujurnya, Vika kesulitan membuka resleting gaun itu. Ia ingin meminta bantuan Raja. Namun, perasaan canggung memenuhi hatinya saat ini. Bisa dibilang mereka tidak pernah berpacaran.


Keduanya sudah lama saling mengenal, tapi Raja selalu menghargai Vika sebagai seorang perempuan. Ia hanya akan menyentuh Vika saat berusaha menenangkan hatinya. Ciuman di butik tiga bulan lalu merupakan salah satu sejarah dalam hidup Raja.


Ketika sedang bergelut dengan pikirannya, pintu kamar terbuka. Wajah tampan Raja tersenyum dan mulai melangkah masuk. Vika membatu ketika melihat suaminya itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya basah karena keringat dingin, dan napasnya mulai memburu.


"Mandilah, Aku akan mandi setelah Kamu selesai," ucap Raja sembari mengusap puncak kepala Vika.


"I-itu ... anu ...." Vika mengangkat sedikit roknya.


"Sini, kubantu buka resletingnya," ucap Raja sambil terkekeh.


Vika akhirnya membalikkan badan. Jemari Raja mulai menarik resleting gaun Vika ke bawah. Perlahan tapi pasti, gaun Vika terbuka. Punggung putih dan mulus perempuan itu begitu menggoda bagi Raja. Ia ingin sekali mendaratkan ciuman di sana. Namun, sebisa mungkin ditahannya.


"Sudah, mandi sana!" Kepala Raja sedikit mendongak menunjuk kamar mandi.


"Kakak, bisa keluar dulu? A-aku harus melepas gaun ini di sini," pinta Vika sambil tertunduk malu.


"Kamu malu dengan suamimu sendiri?" tanya Raja seraya memincingkan mata.


"N-nggak, kok!" ucap Vika dengan suara melengking.


"Kalau begitu, tidak masalah jika aku disini melihatmu melepas gaun ini?" Raja sedikit menarik kerah gaun Vika untuk menggodanya, sebuah seringai terulas.


"Ka-Kakak keluar sekarang!" seru Vika sambil menarik kembali kerahnya, kemudian mendorong tubuh Raja keluar kamar.


Tawa Raja meledak, dari dulu ia suka menggoda Vika. Membuat perempuan itu tersipu malu menjadi kesenangan tersendiri baginya. Tubuh Raja menghilang di balik pintu.


Vika mengunci kamar agar Raja tidak masuk ketika ia mandi. Ia masih malu, jika harus memperlihatkan bagian tubuhnya yang biasa tertutup pakaian.


Lima belas menit sudah Vika mandi di bawah guyuran shower. Ia memakai kimono handuk, kemudian keluar kamar mandi. Vika mulai mengeringkan rambut setengah basahnya menggunakan alat pengering rambut.


Terdengar suara ketukan pintu, Vika segera memakai piyama bermotif polkadot. Kemudian segera melangkah ke arah pintu. Ia membuka lebar pintu kamar, dan Raja melangkah masuk.


Melihat penampilan Vika yang biasa saja, membuat Raja sedikit kecewa. Ia menghela napas kasar, bahunya sedikit merosot, kemudian tanpa sadar menggelengkan kepala.


"Ke-kenapa, Kak?" tanya Vika.


"Tidak apa-apa." Raja tersenyum kecut, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Ia mulai menanggalkan pakaian satu per satu dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor.


"Sepertinya Aku harus bersabar." Raja menengok bagian bawah tubuhnya, lalu berkata, "Sabar ya, Nak. Hari ini belum waktunya."


Setelah menyelesaikan ritual mandi, Raja e

__ADS_1


keluar hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Tubuh bagian atas terekspos jelas, memperlihatkan otot dada yang liat. Mulut Vika sampai ternganga melihat pemandangan di depannya.


"Kak! Ce-cepat pakai baju!" teriak Vika sambil menutup mata dengan buku yang tadi ia baca.


"Iya ... ini mau ambil baju," ucap Raja sambil tersenyum tipis.


"Sudah belum?" tanya Vika.


"Sudah." Raja yang kini memakai kaos hitam dan celana pendek berjalan ke arah Vika.


Vika mulai membuka matanya, ia terkesima dengan penampilan sederhana Raja. Pakaian apapun yang melekat padanya akan terlihat pantas.


"Ayo, tidur!" Raja mulai membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Ya? Tidur? Se-sekarang?" gagap Vika.


Raja menarik lengan Vika, kepala perempuan itu kini mendarat di atas dada bidang suaminya. Raja mengecup puncak kepala Vika.


"Tidurlah, Aku akan melakukannya untukmu ketika Kamu sudah siap," bisik Raja.


Kepala Vika mendongak, menatap mata suaminya. Hati Vika terasa begitu nyaman ketika mendengar kalimat itu. Matanya mengembun karena rasa haru yang menyeruak di dalam dada.


"Maaf, ya, Kak," ucap Vika sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Raja. Ia menghirup dalam aroma parfum yang menguar dari tubuh Raja.


Di malam pertama mereka, tidak ada yang terjadi layaknya pengantin baru. Tak ada ranjang panas dengan ******* yang saling memburu. Yang ada adalah pelukan hangat penuh rasa cinta, dan rasa nyaman yang menyelimuti mereka hingga pagi.


.


.


.


"Vik, Kamu nikah udah berapa bulan?" tanya Nola sambil terus menambahkan detail pada desainnya.


"Satu bulan ...." Vika berbicara sambil memperhatikan gambar Nola.


"Kemarin, Aku dapat hadiah dari salah satu online shop langgananku. Pergilah bersama Raja." Nola meletakkan pensilnya, kemudian menyodorkan dua lembar voucer liburan ke Pulau Bintan.


"Kamu serius?" Vika meraih tiket itu kemudian tersenyum lebar.


"Serius, lagipula Aku masih sibuk mengurusi Flo." Nola kembali fokus dengan kertas dan pensil di depannya.


"Baiklah, terima kasih," ucap Vika kemudian memeluk Nola.


Deringan ponsel membuat pelukan Vika harus melepas pelukannya. Ia menggeser tombol hijau pada layar benda pipih itu. Di sana terpampang wajah tampan Raja sedang tersenyum lebar.


"Hari ini pulang sendiri dulu, ya?" ucap Mahen.

__ADS_1


"Kenapa?" Wajah Vika ditekuk sambil mencembikkan bibir.


"Aku janji cuma hari ini, Sayang. Besok dan seterusnya seumur hidup, akan selalu kujemput." Raja menunjukkan jari kelingkingnya.


"Janji?" tanya Vika.


"Janji! Ya sudah, Aku sedang ada klien." Raja hendak mematikan sambungan panggilan, namun Vika mencegahnya.


"Tunggu! Laki-laki atau perempuan?" Vika menyatukan kedua alisnya.


"Perempuan," jawab Raja.


"Cantik atau tidak?" tanya Vika.


"Cantik. Sangat cantik!" ujar Raja.


Ujung bibir Vika turun, "Kak Raja jahat!"


Vika kini mematikan ponsel. Dadanya bergemuruh hebat, dan seakan batu besar bercongkol di tenggorokan. Air mata mulai merebak, berdesakan ingin keluar.


"Cemburu, Bu?" goda Nola.


"Ng-nggak!" Vika berteriak kesal.


"Hahaha, dasar! Jangan berpikiran aneh-aneh! Raja itu pria baik, tenanglah." Nola beranjak dari kursi kemudian menepuk pundak Vika.


"Aku pulang dulu, cepat pulang juga sana!" Nola kini keluar ruangan.


Vika menghembuskan napas kasar, kemudian masuk ke ruangannya. Ia meraih tas, memakai jaket, dan keluar dari butik. Vika mulai memesan ojek dari aplikasi.


Sesampainya di rumah, suasana gelap mendominasi rumahnya. Vika meraba-raba tembok untuk mencari saklar. Begitu lampu menyala, Ia langsung naik ke kamar untuk mandi. Ketika hendak membuka pintu kamar mandi, telinganya menangkap suara benda jatuh dari lantai bawah.


"Kak Raja ... Sayang ...," panggil Vika.


Tak mendapatkan jawaban, Vika melangkah perlahan untuk membuka pintu. Ia meraih tongkat golf, kemudian turun melihat apa yang terjadi sebenarnya.


"Tidak ada apa-apa, mungkin perasaanku saja." Vika menurunkan tongkat golf yang tadi dipanggulnya.


Ketika berbalik badan, ia dikejutkan oleh Raja yang sudah berdiri sambil membawa kue ulang tahun.


"Selamat ulang tahun, Sayang." Raja tersenyum lebar sambil menyodorkan kue ke depan Vika.


Tak terasa air mata Vika menetes. Rasa haru memenuhi hatinya. Ia bahkan tidak mengingat bahwa hari ini adalah hari kelahirannya. Vika memejamkan mata, berdoa, kemudian meniup lilin.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2