
Keesokan harinya Vika memutuskan mengalahkan rasa malasnya dan memilih untuk pergi ke butik. Setelah semua keperluan harian Vincent siap, ia menggendong bayi mungilnya itu. Perlahan ia melangkah menyusuri jalanan kompleks yang sepi.
Suasana butik terlihat lengang dari luar, tidak seperti biasa. Hari-hari sebelumnya, jldi jam segini halaman butik sudah berjejer rapi motor karyawan. Kali ini hanya ada dua motor saja yang terparkir, milik Nola dan Tante Riri.
"Pagi, Nola," sapa Vika.
"Pagi juga, Kak. Hai jagoan! Yuk, ikut tante!" ucap Nola sembari mengambil alih tubuh mungil Vincent.
"Mereka benar-benar mogok kerja?"
"Ya ... sepertinya begitu, Kak," jawab Nola sambil menggoda Vincent.
"Baiklah, kita kerja dengan seadanya orang. Sementara terima orderan dengan deadline yang agak panjang saja," ucap Vika.
"Ya, Kak. Tapi masalahnya ada beberapa pesanan yang harus selesai pekan ini juga," jelas Nola.
"Kita lemburkan Tante Riri, aku juga bisa membantu beberapa pekerjaan produksi," ungkap Vika.
"Baik, Kak."
Sejak hari itu, Tante Riri bekerja lembur sampai malam. Suaminya sempat protes, tapi setelah diberi pengertian akhirnya dia diberikan ijin untuk lembur. Dengan catatan, Tante Riri harus dipulangkan paling lambat jam sembilan malam.
Seminggu sudah mereka berempat bekerja bagai kuda poni. Rasa lelah terbayarkan ketika semua pelanggan puas. Beberapa dari mereka bahkan memberikan uang tip.
"Syukurlah, selesai tepat waktu semuanya," ucap Vika lega.
"Iya, syukurlah," kata Vika.
"Riri, terima kasih ya sudah mau terus bertahan," ucap Bu Lasmi sembari menggenggam tangan Tante Riri.
"Iya, Vika nggak tahu lagi apa jadinya tanpa Tante!" seru Vika.
"Sama-sama, toh saya juga mendapatkan bayaran yang sangat pantas untuk ini," ujar Tante Riri.
Ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba datang seorang perempuan dengan pakaian yang terlihat mencolok. Ia sekonyong-konyong membanting pintu kemudian melipat kedua lengannya di depan dada.
"Mana gaun yang kupesan!" teriaknya.
"Maaf, Ibu siapa?" tanya Vika santun.
"Saya yang memesan gaun atas nama Lucas!" seru perempuan itu.
"Lho! Bahkan dua bulan lebih Ibu tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi. Alamat yang Ibu berikan juga alamat palsu!" seru Vika.
"Yang penting saya mau gaun itu sekarang!"
"Sudah tidak ada," ucap Vika datar.
__ADS_1
"Apa!"
"Silahkan pergi," usir Vika.
"Ingat ini! Aku pastikan reputasi butikmu ini akan hancur dalam sekejap!" seru perempuan itu sembari menunjuk Vika dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak takut!" tantang Vika.
Perempuan itu kemudian berlalu keluar dari butik dan membanting pintu kasar. Bu Lasmi mendekati Vika, ia merengkuh lengan putrinya kemudian memeluknya.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang kamu lakukan sudah benar. Semua akan baik-baik saja," ucap Bu Lasmi menenangkan Vika. Ia tahu perasaan ibu dari cucunya itu sedang kacau.
Vika mencoba mengatur napas agar pikirannya kembali tenang. Setelah merasa tenang ia melepaskan diri dari pelukan Bu Lasmi.
"Terima kasih, Bu." Vika tersenyum tipis.
Bu Lasmi hanya mengangguk menanggapi ucapan terima kasih dari putrinya itu. Tante Riri dan Nola berpamitan. Begitu dua orang itu pulang, Vika mulai membereskan perlengkapan Vincent. Sedangkan Bu Lasmi menggendong cucunya dan melangkah keluar butik terlebih dahulu.
.
.
.
"Sepertinya yang perempuan itu ucapkan bukan hanya sekedar gertakan saja," ucap Nola.
Sejak perempuan misterius itu datang satu bulan yang lalu, sama sekali tidak ada pembeli yang datang ke butik. Bahkan klien mereka sebelumnya, mendadak membatalkan pesanan mereka. Hal itu membuat pikiran Vika kacau.
Seminggu yang lalu Tante Riri terpaksa diberhentikan sementara karena Vika sudah tidak sanggup membayar upahnya. Hanya Nola yang rela bekerja tanpa upah meskipun Vika sudah melarang. Ia berdalih ada pemasukan lain dari klien yang meminta desain secara online.
"Lalu bagaimana kelanjutan butik ini?" tanya Nola.
"Entahlah, aku sudah tidak tahu harus berbuat apalagi," ucap Vika dengan suara lemah.
Otaknya sudah buntu kali ini. Butik yang baru dirintisnya belum ada setahun, tiba-tiba kolaps ketika hampir mencapai puncaknya. Saat sedang termenung, sebuah masalah muncul lagi.
Ci Lulu tiba-tiba datang menghampiri Nola dan Vika. Dari arah luar sebuah senyum mengembang di bibirnya.
"Pagi, Ci. Apa kabar?" sapa Vika.
"Baik, boleh berbincang sebentar?" tanya Ci Lulu sambil tersenyum.
"Mari, Ci. Silahkan duduk," ajak Vika.
Ketiga perempuan itu kini duduk di sofa yang biasa digunakan untuk berbincang dengan klien. Ci Lulu merogoh tasnya kemudian mengeluarkan sebuah amplop kecil yang terlihat tebal dari luar.
"Apa ini?" tanya Vika.
__ADS_1
"Maaf, Vik. Cici harus membatalkan kontrak untuk bangunan ini," ucap Ci Lulu dengan wajah sedikit ragu.
"Ke-kenapa Ci? Apa uang sewanya kurang?" tanya Vika.
"Anakku ingin menggunakan untuk rumah tinggal," ucap Ci Lulu.
"Tapi ... misalkan Kamu bisa menyewa dengan biaya dua kali lipat, aku akan mempertimbangkannya." Ci Lulu tersenyum penuh arti.
"Jadi bukankah intinya, uang sewa dariku kurang?" ucap Vika dingin.
"Intinya bukan itu, karena anakku butuh rumah saja sebenarnya. Kalau Kamu bisa menyewa dua kali lipatnya, aku tinggal menambah sedikit untuk uang muka kredit rumah," jelas Ci Lulu.
Vika menghembuskan napas kasar. Ia sudah tak punya jalan lain. Akhirnya ia memutuskan untuk menutup butiknya itu.
"Baik. Beri aku waktu tiga hari untuk mengosongkan rumah ini, Ci."
"Oke, tiga hari lagi aku akan kembali untuk mengambil kunci."
Setelah Ci Lulu pergi, Vika merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Nola yang sedari tadi diam ketika Ci Lulu datang, kini mulai bersuara.
"Kak, yakin mau menutup butik?"
"Hm, tidak ada pilihan lain lagi. Maafkan aku ya tidak bisa melanjutkan hubungan kerjasama ini lagi. Aku sangat berterima kasih karena sejauh ini Kamu ikut membuat butik kecilku berkembang dengan pesat." Vika kini sudah terduduk sembari menggenggam tangan Nola.
Mata Nola mulai berkaca-kaca. Ia ikut sedih karena tidak bisa memperjuangkan butik itu.
"Maaf, Kak. Kali ini aku tidak bisa membantu apapun," ucap Nola.
"Tidak, bantuanmu selama ini sudah sangat berarti untuk diriku dan butik ini. Semoga suatu saat nanti aku bisa menjalin kerja sama lagi denganmu." Vika kini memeluk tubuh Nola yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Aku akan sering-sering menghubungimu, Kak." Nola kini keluar dari pelukan Vika.
Nola mulai membereskan ruang kerjanya dan mengemasi semua barang miliknya. Setelah selesai, perempuan itu berpamitan dengan Vika.
"Kak, Nola pergi dulu ya?" pamit Nola.
"Hati-hati di jalan," ucap Vika.
Begitu Nola pergi, ia mengedarkan pandangan ke butiknya yang kini sunyi. Beberapa gaun masih tersimpan dalam lemari kaca karena tak dijemput tuannya. Beberapa gaun baru setengah jadi nampak cantik menempel pada manekin.
Vika kembali terpuruk, kini air matanya mulai menetes. Ia tak kuasa lagi membendungnya karena berpura-pura kuat. Isakannya terdengar begitu menyayat. Seluruh kesedihannya tertumpah hari itu juga. Ia berharap air mata bisa sedikit meringankan bebannya saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...