
Suasana kafe yang menyenangkan tak senada dengan suasana hati Mahen yang kacau. Ia merasa dibodohi. Atau memang dia pria yang bodoh? Entahlah.
Mahen tengah duduk di sebuah kafe yang terletak di dekat rumahnya. Iringan musik akustik dan suara merdu sang penyanyi membuat para pengunjung terbawa suasana. Hati Mahen bergemuruh menanti kehadiran Raja. Adik tiri yang ia pikir sudah meninggal karena kecelakaan lima tahun lalu.
Lelaki itu duduk menghadap ke arah pintu masuk, agar segera mengetahui jika Raja datang. Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya Raja datang. Mahen mengangkat lengannya agar Raja langsung mengetahui keberadaannya.
Raja melangkah lebar menuju meja Mahen. Ia menarik kursi kayu dan mendudukinya. Tatapan Mahen sedari tadi terasa menghunus jantungnya.
"Minum apa, Pak?" tanya seorang pelayan.
"Iced Aren Latte," ucap Raja.
Usai mencatat pesanan Raja, pelayan itu berlalu. Kini ketegangan tercipta kembali diantara Mahen dan Raja.
Raja berdehem mencoba meredakan kegugupannya. Ia sedikit merasa bersalah karena ikut serta dalam skenario Vika.
"Kak, apa kabar?" tanya Raja basa-basi.
Bukannya menjawab, kini Mahen justru bersandar pada kursi sembari menatap tajam ke arah Raja.
"Maaf," lirih Raja.
"Aku tidak butuh kata maafmu!" seru Mahen.
"Apa yang ingin Kak Mahen ketahui?" tanya Raja.
"Semuanya," jawab Mahen singkat.
"Jadi ... sebenarnya ... "
FLASH BACK ON
Hati Vika kalut mendapati sikap Mahen yang tidak mempedulikannya dan Vincent. Perempuan itu akhirnya keluar dari rumah Mahen dalam keadaan hati yang kacau. Seakan mengetahui isi hati ibunya, Vincent merengek.
"Vik," panggil Bu Lasmi.
Vika menoleh, kemudian sebisa mungkin tersenyum. Namun, naluri seorang ibu pastilah sangat kuat. Bu Lasmi memeluk putri semata wayangnya itu penuh cinta. Vika menghirup napasnya dalam-dalam menikmati aroma ibunya yang menenangkan.
"Kita kembali saja ke Bandung, ibu tidak mau Kamu terus tersakiti jika berada di sini," ucap Bu Lasmi.
"Lalu bagaimana dengan tiket New York? Batalkan! Biar ibu yang bicara dengan Raja," seru Bu Winda.
"Iya," ucap Vika singkat.
Setelah berjalan sampai depan kompleks, mobil Raja yang hendak masuk perumahan itu berhenti. Lelaki itu kemudian membukakan pintu untuk Vika. Melihat sosok Raja, Vincent mengangkat tangannya minta digendong.
__ADS_1
Di dalam mobil suasana begitu hening. Vika melamun sembari memperhatikan jalanan ibukota yang sibuk seperti biasa.
"Raja, ibu bisa minta tolong untuk membatalkan penerbangan ke New York?" pinta Bu Lasmi.
"Kenapa, Bu?" tanya Raja.
"Kembali saja ke Bandung, biarkan Vika menyembuhkan lukanya di sana daripada pergi ke tempat asing. Aku takut nantinya beban pikirannya bertambah jika harus menyesuaikan diri lagi di sana," jelas Bu Lasmi sembari melirik Vika dari kaca spion depan.
"Baiklah, aku akan menghubungi pihak maskapai untuk membatalkan tiket Kita," ucap Raja.
Langit sudah berubah menjadi gelap ketika mereka sampai di Bandung. Vika langsung masuk ke dalam rumah, seakan jiwanya kosong entah kemana. Vincent pun diabaikannya. Balita yang hampir berusia satu tahun itu terus merengek ingin dipeluk, tapi Vika mengacuhkannya.
"Vik, apa mau terus seperti ini?" tanya Bu Lasmi.
Telingan Vika seakan tuli, ia sama sekali tidak merespon perkataan ibunya. Karena kesal, Bu Lasmi menampar pipi mulus putrinya itu. Setelahnya, baru Vika tersadar. Perempuan itu mengusap pipinya untuk mengurangi rasa sakit bekas tamparan ibunya.
Vika menatap nanar ke arah ibunya, setitik air mata mulai meluncur membasahi pipi perempuan itu.
"Huhuhu, sakit, Bu," lirih Vika.
"Kamu bukan anak-anak lagi! Lihat Vincent! Dia sangat membutuhkanmu!" tegas Bu Lasmi sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Sesaat Vika lupa bahwa ia memiliki putra yang sangat lucu sebagai penghibur hatinya. Ia melangkah gontai menuju ranjang tempat Vincent tertidur pulas. Perempuan itu membelai lembut wajah putranya. Wajah damainya ketika tidur membuat hati Vika meleleh.
"Maafkan mama Vincent, karena belum bisa menjadi mama yang baik untukmu."
"Sudah siap, Bu?" tanya Vika.
"Sudah," ucap Bu Lasmi sembari menggendong cucu kesayangannya.
Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Vika beserta Bu Lasmi segera keluar dari rumah. Raja sudah menunggu di teras sambil melihat ponselnya.
"Yuk, Kak," ajak Vika.
"Baiklah, ayo! Chen mau ikut paman menyetir?" tanya Raja.
Bocah lelaki berumur satu tahun itu mengangguk cepat. Dari gendongan Bu Lasmi, kini tubuh mungilnya sudah berpindah ke dalam dekapan Raja.
Dalam perjalanan menuju panti, Vincent sangat senang berceloteh ala balita. Ia sering mengucapkan kata 'apa' setiap melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Raja pun menjelaskannya dengan sabar dan bijak.
Ketika Vincent melihat pedagang balon di sebuah taman, bocah itu mulai merengek.
"Oyon! Oyon! (balon! balon!)," seru Vincent.
"Chen mau balon?" tanya Vika.
__ADS_1
"He'eh! (Iya)," ucap Vincent sembari mengangguk.
Vika akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil. Langkah kakinya perlahan menyeberangi jalanan beraspal yang mulai panas karena terpaan sinar matahari. Vika menggunakan telapan tangannya untuk memayungi mata agar tidak silau.
Begitu sampai di gerobak tukang balon, Vika mutuakan untuk memilih balon berbentuk karakter favorit Vincent. Balon itu memiliki bentuk bintang, didominasi dengan warna merah muda, dan bagian bawah tubuhnya ditutupi oleh celana kolor bermotif bunga. Ya, Vincent sangat menyukai karakter Patrick.
"Berapa, Mang?" tanya Vika.
"Lima belas ribu, Neng."
Vika merogoh dompet yang ada di dalam tasnya. Dari benda berbentuk persegi panjang itu, ia mengambil selembar uang dua puluh ribuan. Si penjual menerima uang tersebut, kemudian mengacak-acak tas pinggangnya untuk mengambil uang kembalian.
Saat sedang menunggu kembalian, Vika dan si penjual dikejutkan dengan suara decitan rem mobil. Sontak Vika menoleh ke arah belakang. Perlahan kakinya melangkah mendekati tempat kejadian.
Begitu mengetahui siapa yang tertabrak mobil, Vika seakan kehilangan pijakan. Kakinya lemas, jantungnya seperti berhenti berdetak, dan dunia serasa berputar. Ia melihat sang ibu terkapar bersimbah darah di atas jalanan beraspal.
Mata Bu Lasmi sudah terpejam. Dari kepalanya mengucur banyak darah. Mukanya terlihat pucat pasi. Orang-orang mulai mengerubungi tubuh ibunya yang sudah lemas. Hari itu Bu Lasmi meninggalkannya untuk selamanya.
FLASH BACK OFF
Mendengar cerita Raja, hati Mahen bergetar. Ia kembali berkubang dalam rasa bersalah.
"Andaikan hari itu aku memilih mempertahankan Vika, pasti semua tidak akan pernah terjadi," batin Mahen.
Melihat kakak tirinya termenung, Raja memanggilnya berulang kali.
"Kak Mahen, Kau baik-baik saja?"
Mahen mematap sendu wajah Raja, kepalanya menggeleng pelan. Mata lelaki itu mulai memerah menahan tangis.
"Apa Vika masih mau menemuiku?"
.
.
.
Bersambung ...
Assalamualaikum...
Akhirnya bisa Up dua kali sehari ❤️❤️❤️
Doakan bisa up sehari tiga kali layaknya makan nasi yaaa ... hihihi.
__ADS_1
Jangan lupa terus beri dukungan kepada Chika dengan meninggalkan Like, komen, dan votenyaa...
Aku mencintai kalian banyaaaakkk sekali, Readers 😘😘😘