
Siang itu Vika tengah melamun di dalam mobil sembari menunggu Vincent keluar dari gerbang sekolah. Tatapannya kosong seolah kehilangan nyawa. Area bawah matanya menghitam akibat insomnia yang menyerangnya tiga Minggu terakhir.
Setiap malam ia berharap pagi segera datang, dan hari cepat berganti. Entah mengapa Mahen kini adalah salah satu hal yang paling ia tunggu kehadirannya.
Vika sedikit menurunkan kaca mobil agar angin sepoi-sepoi kembali menyegarkan matanya. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk karena kantuk yang menyerang.
Vika kembali terjaga ketika kaca mobilnya diketuk. Ditolehnya kaca mobil bagian kiri, ia terkesiap. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Perempuan itu melihat muka seseorang tengah menempel lekat di kaca mobilnya. Mata orang itu melotot, lubang hidungnya terlihat lebar seperti Patkai, dan bibir makhluk itu gepeng karena melekat pada kaca.
"Astaga! Hantu muka gepeng!" seru Vika.
Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, Vika terbahak. Perutnya hampir kram karena tawanya yang tiba-tiba meledak. Dibukanya jendela yang tadi ditempeli makhluk aneh itu. Terlihatlah sosok Vincent yang mencembikkan bibirnya. Kedua lengannya bersedekap di depan dada.
"Mama, nih! Dipanggil-panggil dari tadi nggak ada jawaban!" gerutu Vincent.
"Haha, maafin mama, Chen! Mama pikir kamu tadi hantu!" seru Vika sambil menyeka air mata di ujung Indra penglihatannya.
"Jahatnya Mama, nih!" ucap Vincent sembari menghentakkan kakinya.
"Uluh-uluh, sini anak mama yang paling tampan!" seru Vika sambil melambaikan tangannya.
Vincent langsung masuk ke mobil sambil membanting kasar pintunya. Bocah laki-laki itu menekuk wajahnya sambil terus membeo mengikuti setiap ucapan yang keluar dari bibir ibunya.
"Sebagai permintaan maaf mama ... hari ini Chen boleh minta apa saja!" ujar Vika.
Mimik wajah Vincent berubah, kini bocah tampan itu duduk menghadap ke arah Vika dengan mata berkilat.
"Janji?" ucap Vincent sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Vika tersenyum, kemudian menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Vincent. Bocah lelaki itu meninju udara berulang kali karena senang.
"Jadi, Chen mau apa?" tanya Vika.
"Chen mau .... "
.
.
.
Beberapa jam kemudian ...
Vika memijit perlahan kepalanya yang berdenyut karena ulah putranya. Bocah lelaki itu kini sedang salto di atas kasurnya sambil menggunakan kostum Iron Man. Berguling kesana kemari, membuat sprei berantakan tak berbentuk lagi.
"Hiyak! Ciyu ... ciyu! Dor! Aaaakkk ... aku tertembak!" teriak Vincent.
Bocah kecil itu kini terbaring sambil memegangi perutnya. Vika memutar bola matanya, bagaimana peluru bisa menembus kostum Iron Man? Entahlah. Hanya Tuhan dan Vincent yang tahu.
__ADS_1
Kegaduhan itu berakhir ketika sebuah panggilan video masuk ke ponsel Vika. Perempuan itu dengan cepat menyembunyikan ekspresi kegirangannya. Kini Vika memasang muka masam, kemudian ia menggeser ke atas tombol hijau pada layar ponselnya.
"Mana Chen?" tanya Mahen.
"Chen! Ada yang mencarimu!" ujar Vika dengan perasaan dongkol.
"Yeay! Papa!" seru Vincent saat melihat gambar Mahen menghiasi layar ponsel Vika.
Vincent menyambar ponsel mamanya secepat kilat. Kedua anak ayah itu kini tengah asyik melepas rindu. Vika hanya bisa memandang dengan tatapan sebal. Seolah ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya sekarang.
Ketika perasaan dongkol sudah menguasai, biasanya Vika akan tidur. Perempuan itu keluar kamar Vincent, kemudian merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Benar saja, dalam hitungan menit Vika sudah terlelap dalam tidurnya.
Tubuh Vika menggeliat ketika merasakan sesuatu yang lembut menghujani wajahnya. Mata Vika masih terpejam, ia terkikik kegelian. Penerangan yang sangat minimal membuat suasana di sekitarnya remang-remang.
"Chen, hentikan ... geli!" lirih Vika.
Kecupan yang tengah menghujani Vika bukannya berhenti, malah kini semakin gencar. Kecupan itu kini mencecap bibir manis perempuan itu. Aroma musk kembali menyeruak ke dalam rongga hidungnya. Mata Vika yang masih sayu melihat siluet lelaki dewasa tengah berada diatasnya.
"Kak Mahen?" pikirnya.
Vika tetap diam menikmati setiap sentuhan lembut yang mendarat di kulit mulusnya. Tanpa ia sadari sebuah desah*n lolos dari bibir tebalnya.
"Aku hanya sedang bermimpi," pikir Vika.
Perempuan itu kini bergerak liar seiring sentuhan nikmat yang ia rasakan. Mimpi itu terasa nyata baginya. Berulang kali ia mendengar namanya disebut dengan suara yang begitu lembut dan penuh gairah.
.
.
.
Pintu kamarnya berulang kali digedor kasar oleh Vincent. Seketika ia terkesiap, kesadarannya langsung pulih seutuhnya. Ia meneliti setiap pakaian yang melekat di tubuhnya. Masih utuh! Vika menghembuskan napas lega.
"Tapi sejak kapan aku pindah ke kamar? Seingatku, aku tertidur di sofa?" ucap Vika pelan.
"Mama!" Vincent kembali mengeluarkan suara cemprengnya.
"Iya! Sebentar!" teriak Vika.
Vika melangkah malas ke arah pintu, kemudian keluar kamar. Vincent sedang menatapnya sinis di depan pintu kamar. Bocah laki-laki itu sedang dalam mode merajuk. Vincent sudah rapi dalam balutan seragam sekolahnya.
"Hooooaaampph." Vika menguap lebar tanpa menutup bibirnya.
"Mama! Nggak sopan!" seru Vincent.
"Apa, sih, Chen!" protes Vika.
__ADS_1
"Pagi .... " Suara bariton yang sangat familiar kini menyapa pendengaran Vika.
Bibir Vika yang masih menganga lebar kini langsung rapat seketika. Mahen tengah berada di dapur menggunakan celemek, Nola yang duduk di meja makan menepuk dahinya. Ia malu dengan kondisi Vika yang kacau balau.
Detik itu juga, Vika balik kanan dan masuk lagi ke kamarnya. Ia membanting portal penghubung kamarnya dengan ruangan lain itu begitu keras. Gantungan kayu bertuliskan namanya, sampai terlempar dari daun pintu.
Vika langsung menilik penampilannya di depan cermin. Rambut lepek acak-acakan, sisa mekap yang tidak dibersihkan, kaos oblong yang warnanya tak jelas, dan celana kolor motif batik kebanggaan. Vika langsung terduduk lesu sambil memandang pantulan dirinya di dalam cermin. Sekarang rasanya ia ingin bersembunyi di lubang semut.
Usai mandi dan berpakaian rapi, Vika keluar kamar. Vincent, Nola, dan Mahen sudah mulai sarapan terlebih dahulu. Vika berjalan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya karena malu. Berulang kali Vika menabrak beberapa barang yang dilewati karena tidak memperhatikan jalan.
"Vik, kamu ini kayak bocah aja!" seru Nola.
"Mama malu? Sama papa?" cecar Vincent.
Vika mendongak, menggeleng, kemudian kembali menunduk. Setelah terseok-seok melewati berbagai rintangan, tubruk ini itu, akhirnya Vika sampai di meja makan dengan selamat. Ia menyantap nasi goreng telur ceplok yang sudah tersaji di hadapannya sambil terus menunduk.
"Tidak usah malu, Ma. Papa bilang, Mama selalu cantik di matanya!" seru Vincent.
"Uhuk!" Otomatis Vika tersedak mendengar ucapan putranya.
Mahen yang panik langsung menyodorkan segelas air putih kepada Vika. Ia meminum air itu hingga tandas. Nola hanya terkekeh melihat sikap sahabatnya.
"Pa, hari ini Chen diantar Tante Nola. Papa istirahat saja dulu," ucap Vincent.
"Oke, Boy!" seru Mahen.
"Aku anterin Chen, ya? Setelahnya langsung ke butik, jadi kalian jemput Chen saat pulang sekolah nanti," kata Nola.
Usai mengecup pipi kedua orangtuanya, Vincent melambaikan tangan kemudian menghilang di balik pintu.
"Lihat aku! Kenapa harus malu?" tanya Mahen.
"Huaaaa ... tadi keadaanku kacau sekali. Aku malu berpenampilan seperti tadi di depan Kak Mahen!" seru Vika sambil mengubur wajahnya dalam telapak tangan.
Mahen mendekati Vika, kemudian mengangkat dagu perempuan cantik itu. Mahen tersenyum penuh arti.
"Bahkan aku lebih menyukaimu yang polos tanpa sehelai benang pun dengan rambut acak-acakan seperti semalam. You look soo hot, Babe!" bisik Mahen di telinga Vika.
Mendengar ucapan Mahen, mata Vika terbelalak. Ia menoleh ke arah Mahen yang masih tersenyum miring.
"Ja-jadi semalam aku tidak sedang bermimpi?" tanya Vika.
"Mau mengulanginya lagi?" goda Mahen, dan sebuah ******* mendarat di bibir Vika.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...