Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Meriang (Merindukan Kasih Sayang)


__ADS_3

Deringan alarm dari ponsel membangunkan Vika. Ibu muda satu putra itu meregangkan otot-ototnya yang kaku. Beberapa hari ini banyak sekali permintaan untuk menjalin kemitraan dengan franchise milik Raja. Hampir delapan puluh persen orang yang mengajukan setuju dengan biaya dan syarat untuk menjalin kemitraan.


Area bawah mata Vika semakin menggelap. Ia menatap sedih mukanya yang kusut karena jarang diurus. Tumpukan protein kecil bersarang di beberapa bagian wajahnya. Wajah Vika yang mulus kini dikeroyok oleh jerawat nakal.


"Ck, aku harus meminta pertanggungjawaban Raja!" gerutu Vika.


Usai sikat gigi dan mencuci muka, Vika berjalan ke arah dapur. Tumpukan piring dan gelas kotor menyapanya pagi itu. Hanya dalam sepuluh menit, Vika bisa membereskannya. Kemudian perempuan itu membuka lemari pendingin untuk melihat bahan makanan yang ada.


"Dada ayam, wortel, kentang, brokoli, dan jagung manis. Oke!" Vika mengabsen isi kulkasnya.


Ia berencana akan membuat sup ayam kedoyanan Vincent. Perempuan cantik itu mulai memotong sayuran, sembari bersenandung. Tak lama kemudian terdengar deritan pintu dari kamar Nola.


"Pagi, Bu! Masak apa hari ini?" tanya Nola sembari membuka kulkas untuk mengambil sebotol air mineral, lalu menengguknya separuh.


"Sup ayam, kalau sempat mau masak perkedel tahu juga. Kamu mau ikut makan menu hari ini, atau dimasakin yang lain aja?" Vika memberikan pilihan lain kepada Nola.


"Tenang saja, aku ini pemakan segala! Tidak perlu repot-repot memikirkan masalah perutku," ucap Nola.


"Hahaha, pemakan segala? Maksudmu rakus?" goda Vika.


"Sialan!" gerutu Nola sembari melempar botol air mineral yang ia genggam.


"Aduduh! Jangan sembarangan, ya! Nanti kalau kaki jenjangku patah, gimana?" ucap Vika.


"Gampang! Tinggal diganti dengan kaki ayam!" celetuk Nola.


"Kamu pikir aku ini rumah? Pakai cakar ayam?"


Nola terbahak karena melihat lawakan garing Vika. Keduanya saling melemparkan lelucon. Setelah selesai memasak, Vika melepas celemeknya.


"Nola, bisa minta tolong sajikan sarapan ke meja makan? Aku mau membangunkan Chen dulu," pinta Vika.


Nola membentuk simbol 'oke' dengan jari telunjuk dan jempolnya. Vika langsung melangkah menuju kamar sang anak. Ketika masuk ke kamar Vincent, sebuah foto berukuran 16R menyapa penglihatannya. Foto pertama kali Vincent melihat dunia dalam gendongannya.


Vika masuk lebih dalam ke kamar Vincent. Kini ia menuju jendela besar yang berada di samping ranjang Vincent. Dibukanya tirai biru tua bermotif bintang dan bulan itu. Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar dengan interior khas anak laki-laki itu. Stiker Kapten Amerika, Iron Man, dan Hulk menghiasi tembok kamar Vincent.


Perlahan Vika mendekati putranya yang masih terlelap. Betapa terkejutnya ia karena mendapati tubuh Vincent menggigil hebat. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahinya. Vika menempelkan punggung tangannya ke jidat putranya untuk mengecek suhu. Tubuh Vincent panas layaknya bara api.


Vika mencoba tetap tenang. Ia mengambil termometer dari laci nakas di kamar Vincent. Benda pengukur suhu tubuh itu ia selipkan di ketiak Vincent. Setelah menunggu beberapa saat, Vika menilik angka yang tercantum pada termometer.


"Astaga! 39,7!" seru Vika.


Tanpa menunggu lama, Vika langsung menggendong putranya keluar kamar. Nola yang melihat kepanikan Vika, langsung meninggalkan aktivitas beres-beres dapurnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nola.


"Aku mau membawa Chen ke rumah sakit, ia demam tinggi!" seru Vika.


"A-aku ikut! Biar aku yang menyetir," ucap Nola.


.


.


.


"Apa kata dokter?" Suara Raja menyapa pendengaran Vika.


"Belum tahu. Masih menunggu hasil laboratorium," ungkap Vika.


Vika menggenggam erat jemari putranya. Baru kali ini Vincent terlihat begitu lemah. Walau sebenarnya ia menderita kelainan ginjal, tubuh bocah itu tak seperti orang sakit. Vincent terlihat sangat aktif, ceria, dan tidak pernah mengeluh sakit. Melihat kondisi Vincent sekarang membuat hati Vika terasa nyeri.


"Maafkan Mama, Nak. Belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu," batin Vika.


"Masalah pekerjaan, jangan dipikirkan. Vincent adalah prioritasmu sekarang ini," ucap Raja.


"Maaf, aku terlalu banyak merepotkanmu," ucap Vika.


"Iya ... iya .... "


Vika tersenyum konyol menanggapi perkataan Raja. Tak lama kemudian terdengar rintihan Vincent. Anak kecil itu mengeluarkan suara lirih, hampir tak terdengar.


"Aku ... punya papa ... pergi kalian jangan ganggu aku," lirih Vincent.


Mendengar igauan Vincent, hati Vika terasa sakit bagai ditusuk ribuan jarum. Apa anaknya dirundung teman-temannya? Tapi mana mungkin anak-anak seusianya bisa seperti itu? Entahlah.


"Coba besok aku ke sekolahan Chen untuk menanyakan perihal ini," ucap Raja seakan mengetahui jalan pikiran Vika.


~Raja POV ON~


Keesokan harinya, Raja langsung menyambangi sekolahan Vincent. Ini adalah kali pertama Raja memasuki sekolah TK bertaraf internasional itu.


Bangunannya terdiri dari lima ruang kelas, ruangan guru, ruang kepala sekolah, ruang administrasi, dan beberapa fasilitas lain.


Raja langsung menemui seorang perempuan dengan jilbab merah muda, Bu Anisa. Dia adalah wali kelas Vincent.


"Selamat pagi, Bu. Kedatangan saya hari ini ingin menanyakan perihal perilaku Vincent di sekolah," ucap Raja.

__ADS_1


"Maaf, kalau boleh tahu anda siapanya Vincent, Pak?" tanya Bu Anisa sopan.


"Saya pamannya, adik dari papa Vincent," jelas Raja.


"Jadi, begini ... sebenarnya Vincent itu anak yang sangat ceria. Dia sangat suka bersosialisasi dengan teman-temannya. Kecerdasan yang ia miliki juga luar biasa, tetapi .... " Ucapan Bu Anisa menggantung.


Perempuan dengan tatapan mata yang meneduhkan itu menghembuskan napas kasar. Kemudia ia mulai kembali berbicara.


"Akhir-akhir ini Vincent terlihat murung dan sedikit emosional, puncaknya kemarin. Ia memukul kepala Alex, salah seorang teman dari kelas lain," jelas Bu Anisa.


"Kenapa?" tanya Raja.


"Menurut pengakuan Vincent, Alex meledeknya karena tidak memiliki papa."


"Astaga, bagaimana bisa di umur sedini itu Alex melakukan kekerasan verbal? Tolong benahi lagi sistem pendidikan di sini, Bu!" tegas Raja.


"Maaf, Pak. Semua itu diluar kendali kami," ucap Bu Anisa sopan.


"Asal Anda tahu, pagi tadi Vincent mengalami demam karena stres!" seru Raja.


Bu Anisa hanya bisa mengucapkan permintaan maaf. Ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan hal apa lagi untuk menenangkan Raja. Perempuan itu hanya bisa menunduk sembari menerima setiap kalimat yang Raja lontarkan.


Begitu puas menyeramahi Bu Anisa, Raja langsung pamit. Sepanjang koridor kelas, Raja terus menggerutu dalam hati. Bahkan, ia berniat akan mindahkan Vincent ke sekolahan yang lebih baik. Ia tidak mau meninggalkan ingatan buruk mengenai masa taman kanak-kanak dalam memori Vincent.


Ketika sampai di depan gerbang sekolahan, Raja dikejutkan oleh sosok Mahen yang terlihat berantakan. Kumis tipis yang tidak dicukur, kemeja dengan sisi kiri yang keluar dari celana, dan juga rambutnya terlihat kusut.


"Kamu kenapa?"


.


.


.


Bersambung...


Terima kasih sudah setia membaca Second Wife 😘😘😘


Ada yang mau lihat Visual Vika dan yang lain?


Boleh tinggalkan komen yaaa,


Nanti Chika bakal kasih Visual mereka di akhir bab setiap harinya😘

__ADS_1


__ADS_2