Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Papa


__ADS_3

Mahen menghela napas, ia menangkup pipi gembul Vincent dengan kedua telapak tangannya. Kini pandangannya dan bocah lelaki itu bertemu.


"Dengarkan paman, setiap orang memiliki papa. Begitu juga dengan Chen. Mengerti?"


"Jadi ... mama berbohong?"


"Ehm, mungkin mama memiliki alasan tersendiri mengapa berbohong," kilah Mahen.


"Jadi, kita boleh berbohong?"


"Bukan begitu juga konsepnya, Boy!" seru Mahen.


Lelaki dua anak itu dibuat berpikir keras, layaknya siswa yang sedang mengerjakan ujian nasional. Dia harus berhati-hati dalam menjawab semua pertanyaan karena akan menentukan masa depan.


"Nanti setelah Kamu dewasa, pasti tahu. Mengapa terkadang kami orang dewasa harus berbohong karena suatu alasan," jelas Mahen.


"Kenapa anak kecil tidak boleh berbohong, tetapi orang dewasa boleh?" tanya Vincent.


Kali ini Mahen dibuat kepayahan oleh putranya. Ia menepuk dahinya, kemudian mengusap mukanya kasar. Otaknya buntu tidak tahu harus berkata apa lagi agar Vincent berhenti bertanya mengenai kebohongan.


Akhirnya pembahasan masalah bohong membohongi itu berakhir, ketika salah satu karyawan menyapa Vincent.


"Hai, Chen! Lama tidak ke sini!" sapa seorang laki-laki dengan emblem bertuliskan Rico.


"Iya, Paman. Akhir-akhir ini mama sibuk dengan pekerjaannya," jawab Vincent.


Lelaki bernama Rico itu kini mendekat ke arah Vincent. Bibirnya mendekati telinga bocah tampan itu.


"Apa paman boleh meminta nomor telepon mama?" bisik Rico.


Ketika telinga tajam Mahen yang mendengar ucapan Rico, ia berdehem.


"Ehem! Ayo, Chen kita bayar bukunya," ajak Mahen sembari menatap nyalang lelaki bernama Rico itu.


"Silahkan, Pak." Rico memberikan jalan kepada Mahen dan Vincent.


Usai membayar buku-buku itu, Mahen langsung mengantar Vincent kembali ke depan sekolahannya. Di sana, sosok Raja sudah menunggu sembari bersandar pada mobilnya.


"Kau terlambat lima menit!" ujar Raja sembari melirik arloji di tangannya.


"Maaf, tadi ada yang sedang protes karena sebuah kebohongan orang dewasa," sindir Mahen kepada Vincent.


Akan tetapi namanya anak-anak mana tahu ucapan yang merupakan sindiran atau bukan. Vincent tengah asyik memandangi buku-buku yang baru saja dibelinya. Tanpa rasa berdosa ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Hei, Boy! Tunggu!" seru Mahen.


"Ck, apalagi, Paman?" decak Vincent.


Mahen berjalan mendekati kaca mobil yang masih terbuka. Dari sana ia bisa melihat Vincent yang sedang melipat wajahnya.


"Masih mau jalan-jalan lagi dengan paman sepulang sekolah?" tanya Mahen.


Mendengar kata 'jalan-jalan' Vincent mengangguk cepat. Mata bocah laki-laki itu mulai berbinar, ia menyiapkan telinganya untuk mendengarkan perkataan Mahen selanjutnya.

__ADS_1


"Rahasiakan pertemuan kita dari mama. Mengerti?"


"Jadi, kali ini Paman menyuruhku berbohong?" tebak Vincent.


"Bukan berbohong, Chen. Hanya me-ra-ha-si-a-kan," ucap Mahen.


"Jadi, pertemuan kita merupakan sebuah misi rahasia seperti di film detektif!" ujar Mahen.


"O ... baiklah!" Vincent dengan mudahnya menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Mahen.


"Aku pulang dulu, Kak." Raja berpamitan kemudian masuk ke mobil.


Mahen tersenyum puas karena bisa menghabiskan waktu bersama putra yang selama ini ia rindukan. Lelaki itu baru beranjak setelah mobil Raja hilang dari penglihatannya.


.


.


.


Vika yang sedang sibuk dengan laptopnya dikejutkan oleh pelukan dari tangan jahil Vincent. Jantungnya serasa mau copot.


"Astaga, Chen! Kamu mengagetkan mama!" seru Vika.


"Hahaha, ampun, Ma!" Tawa Vincent pecah ketika jemari Vika mulai menggelitiki pinggangnya.


Setelah puas memberikan pelajaran untuk putranya, Vika menutup laptopnya. Kini Vincent sudah dudu di pangkuan ibunya.


"Tidak, aku tadi pergi dulu ke toko buku dengannya," ucap Vincent.


"Ke toko buku? Untuk apa?" tanya Vika.


"Aku sampai hafal alur cerita buku yang setiap hari Mama bacakan. Aku bosan, dan ingin mendengarkan cerita lain," jelas Vincent.


"O ... jadi begitu," kata Vika.


Perempuan itu menciumi puncak kepala putranya, dihirupnya dalam-dalam aroma blackcurrant dari sampo Vincent. Tindakannya itu berhenti ketika Vincent mendongak.


"Kenapa?" tanya Vika.


"Boleh aku bertanya sesuatu, Ma?" Vincent kini menunduk.


"Boleh, apa yang ingin kamu ketahui?" Vika memutar tubuh putranya. Kini mereka berhadap-hadapan.


"Aku sering melihat teman-teman diantar oleh laki-laki dewasa yang mereka panggil papa, ayah, dan abi. Mereka tidak memanggil lelaki dewasa itu dengan sebutan paman, seperti aku memanggil Paman Raja dan Paman Rico. Kenapa begitu, Ma?" tanya Vincent.


DEG!


Jantung Vika seakan berhenti berdetak. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bibirnya terkatup rapat karena bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan putranya itu.


"Itu ... ka-karena .... "


Apa yang Vika takutkan akhirnya terjadi. Ia tahu kebohongannya akan segera terbongkar. Vincent terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Pasti pertanyaan ini juga akan ia lontarkan. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar.

__ADS_1


"Chen, dengarkan mama. Apa selama bersama mama Chen tidak bahagia?" tanya Vika.


Vincent menggeleng, kemudian kembali menatap wajah ibunya untuk menuntut penjelasan.


"Apa tidak bisa membeli apa yang Kamu mau?


"Tidak. Mama selalu memberi setiap apa yang aku mau," jawab Vincent polos.


"Papa itu hanya pelengkap dalam sebuah keluarga. Ada atau tidaknya papa, yang terpenting Chen merasa bahagia. Chen tidak membutuhkan seorang papa, selama ada mama. Mengerti?" ucap Vika.


Vincent menggeleng, sikap keras kepala putranya itu memang mendarah daging. Buah mang selalu jatuh tak jauh dari pohonnya. Sekarang ini, ia sedang menghadapi versi mini Mahen.


"Kalau aku mau papa, apa mama bisa memberikanku seorang papa?"


Bahu Vika merosot. Jika ada bendera putih di sampingnya, saat itu juga ia akan mengibarkannya sebagai tanda menyerah. Jika sikap keras kepala Vincent muncul, maka tak ada seorang pun yang bisa mengatasinya. Segala ucapan dan rayuan tidak akan mempan lagi.


"Tidak semudah itu, Chen. Papa itu bukanlah barang yang bisa dibeli jika kita menginginkannya." Kini tatapan Vika menyiratkan keputusasaan, ia berharap Vincent berhenti merengek mengenai persoalan papa.


"Kalau begitu aku akan memanggil Paman Raja, Papa!" seru Vincent sembari turun dari pangkuan ibunya kemudian berlari ke arah kamar.


"Chen!" teriak Vika.


Seketika kepala Vika terasa berat. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa, kemudian memijat pelipisnya perlahan. Perempuan itu mengatur napas agar sedikit rileks.


.


.


.


"Papa!" teriak Maura ketika mendapati Mahen pulang lebih awal sore itu.


Gadis kecil itu langsung menghambur ke pelukan sang ayah. Lengannya dikalungkan ke leher Mahen, sedangkan sang ayah menciumi pipi putri kecilnya itu.


Nova hanya bisa menatap iri kemesraan putrinya dan Mahen. Perempuan itu memasang muka cemberut dan menyilangkan tangannya di depan dada. Mahen yang melihat tingkah istrinya, langsung menghampiri Nova kemudian menghujaninya dengan ciuman.


PLAAAAKKK!!!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Mahen. Lelaki itu meringis sembari mengusap pipinya yang terasa sedikit panas.


"Kenapa, Sayang?"


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa Like, komen, dan Vote yaaa sebagai bentuk dukungan kepada Author...


Sehat-sehat semuaaa😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2