
"Hanya ada satu kamar disini ... bagaimana?" tanya Mahen.
"Sebentar lagi gelap, sepertinya cuaca juga sedang tidak bagus. Ambil saja, masalah tidur gampang," ucap Vika sembari tersenyum.
"Oke, aku bilang ke Pak Ujang dulu," kata Mahen.
Lelaki itu kemudian menghampiri Pak Ujang yang masih berdiri di tempat semula sambil memegang sapu.
"Pak, saya mau menginap satu malam saja. Bisa?" tanya Mahen.
"Bisa, Tuan. Pembayaran besok saja tidak apa-apa, ini kuncinya," ucap Pak Ujang.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Pak Ujang pun berlalu meninggalkan Mahen. Ketika melewati Vika, laki-laki separuh baya itu mengangguk sembari tersenyum. Ibu dari Vincent pun melakukan hal yang sama.
"Chen, ayo kita masuk!" ajak Vika.
"Yeay! Ayo, Ma!" seru Vincent.
Vika melangkah mendekati vila sembari menggandeng jemari kecil Vincent. Mahen yang sudah masuk terlebih dahulu, kini berada di ruang tamu.
Ruang tamu vila itu didominasi warna coklat. Semua perabot terbuat dari kayu. Terdapat satu set kursi dan meja kayu jati dengan ukiran khas Jepara. Di sudut ruangan terdapat lemari jam dengan motif ukiran yang sama dengan meja dan kursi.
"Aku lihat kamarnya dulu, Kak," ucap Vika.
"Iya, mau ditemani?" tanya Mahen.
"Nggak usah, Kak," ucap Vika sembari tersenyum tipis.
Vika mulai berjalan lebih dalam. Di ruang tengah vila itu terdapat sebuah sofa berwarna hitam dilengkapi dengan meja kaca dengan warna senada. Di sana juga terdapat sebuah televisi berukuran 24 inch.
Masih di ruang tengah terdapat satu set meja makan kayu dengan empat kursi. Selain itu ada dapur minimalis lengkap dengan oven, lemari pendingin, dan juga kabinet.
Vika menoleh ke arah kanan, di sana terdapat dua ruangan kecil. Satunya gudang dan yang lainnya toilet. Ketika menoleh ke kiri terdapat sebuah pintu yang bisa dipastikan adalah kamar.
Perempuan itu mendekati pintu tersebut, kemudian memutar tuasnya. Kamar tersebut terlihat luas, terdapat ranjang berukuran Queen dengan sprai bermotif bunga. Lemari kayu dua pintu juga memenuhi ruangan empat meter persegi itu.
Vika meletakkan tas ranselnya di atas kasur dan menuju kamar mandi. Vila kecil itu terlihat nyaman dan bersih. Ditambah lagi udara yang masih sejuk membuat Vika ingin berlama-lama disana.
Sebelum kembali menemui Vincent dan Mahen, Vika memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Ia mengeluarkan peralatan mandinya dari dalam ransel, kemudian masuk ke kamar mandi.
Melihat bathub rasanya perempuan itu ingin berendam untuk melepas stres. Diputarnya keran air panas dan dingin bersamaan. Ketika ia rasa cukup, Vika mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. Kini tubuhnya sudah terendam oleh air hangat yang menenangkan
__ADS_1
Lima belas menit kemudian ...
Vika terbangun dari tidurnya. Perempuan cantik itu tertidur karena merasa tubuhnya lebih rileks. Ia keluar dari bathub kemudian mengenakan kimono handuknya yang bermotif polkadot.
Begitu keluar dari kamar mandi, ia disuguhi pemandangan langka. Mahen tengah Vincent dan Mahen tengah tertidur pulas dengan posisi yang sama persis.
Keduanya tertidur dengan kedua tangan diangkat. Kepalanya sedikit menoleh ke arah kiri. Kaos mereka sedikit terangkat, memperlihatkan dua hal yang sangat bertolak belakang. Jika dibalik kaos Vincent terdapat tubuh tambunnya yang menggemaskan, lain halnya dengan Mahen. Lelaki itu memiliki tubuh atletis dengan enam persegi berjejer di perutnya.
Melihat pemandangan indah di depannya, Vika menelan ludahnya sendiri. Pikirannya mulai berkelana entah kemana. Jika ada orang lain yang melihat tatapan mesumnya sekarang, pasti akan illfeel.
Vika langsung mengambil baju gantinya di meja rias. Kemudian kembali masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Mahen membuka kedua matanya karena cacing dalam perutem sudah demo minta jatah. Lelaki itu berusaha mengumpulkan kesadaran. Setelah nyawanya kembali berkumpul, Mahen langsung turun dari ranjang.
Ia berniat memasak mi instan. Begitu keluar kamar, Mahen mendapati televisi menyala tanpa suara. Langkahnya perlahan mendekat ke arah sofa. Ternyata Vika sudah tertidur sambil menggenggam remote di tangan kirinya.
"Dasar, bisa-bisanya tidur di sembarang tempat!" gerutu Mahen.
Lelaki itu kemudian duduk bersimpuh di hadapan Vika. Ditatapnya lembut paras cantik Vika. Mata indah yang bisa menyihir siapapun yang memandang. Hidung mancung impian semua wanita bertengger indah di wajah Vika. Bibir tebal seksi nan menggoda kesukaan para kaum Adam.
Lelaki itu bertopang dagu menikmati setiap inchi keindahan di hadapannya. Bisikan setan kali ini menggodanya. Mata Mahen tak bisa lepas dari bibir kemerahan Vika. Berulang kali Mahen menelan ludah berharap nafsu yang terbersit di otak kotornya ikut tertelan.
Perlahan wajah Mahen mendekat. Semakin dekat, dan kini ia bisa merasakan hembusan napas Vika yang beraroma mint. Akhirnya bibir Mahen mendarat di atas bibir seksi Vika. Lelaki itu mengecup lembut bibir Vika.
"Mmmh .... " Terdengar lenguhan dari bibir wanita cantik itu.
Mendengarnya membuat libido Mahen semakin naik. Kecupan lembutnya kini berubah menjadi ******* yang menuntut. Napas lelaki itu mulai memburu dan ia merasa hawa panas menyelimutinya. Namun, Mahen segera sadar. Ia menjauh dari Vika.
Ia menampar sendiri kedua pipinya berulang kali berusaha menyadarkan diri.
"Ini tidak benar! Kau mau jadi pencuri? Sungguh lelaki tidak bermoral!" Lelaki itu merutuki dirinya sendiri.
Mahen langsung bangkit dan menuju toilet untuk mendinginkan otak mesumnya. Tak lama Mahen keluar toilet dengan muka dan rambut yang basah. Ia terkejut karena Vika kini sudah terjaga. Perempuan itu tengah melamun sembari menatap kosong ke arah televisi.
Mahen yang khawatir langsung melangkah cepat ke arah Vika. Ditepuknya perlahan bahu perempuan itu. Vika terperanjat.
"Astaga!" teriak Vika.
__ADS_1
"Ke-kenapa?" tanya Mahen gugup, takut kalau tadi ternyata Vika hanya berpura-pura tidur.
Vika hanya menggeleng. Wajahnya masih menunjukkan kebingungan, layaknya ibu-ibu yang baru saja mengosongkan isi ATM-nya karena terhipnotis. Melihat Mahen membuatnya teringat akan mimpi mesumnya barusan.
Dalam mimpinya, Vika sedang bertukar Saliva dengan Mahen. Setiap sentuhan dari bibir tipis Mahen terasa nyata. Bahkan dengan bodohnya Vika menikmati permainan lidah Mahen.
"Vik, Vika!" seru Mahen.
"Ah ... eh ... ya?" jawab Vika linglung.
"Jangan buat aku takut!" teriak Mahen.
"Kak, tolong menjauh dulu!" seru Vika.
"A-apa Kamu marah padaku?" tanya Mahen.
"Bu-bukan itu, tolong menjauh sebentar saja!" ucap Vika sambil menutupi wajah cantiknya yang merah padam dengan kedua telapak tangan.
"Ba-baik, aku mau buat mi instan, mau?" tanya Mahen.
Vika hanya mengangguk cepat, diikuti tangannya yang mengisyaratkan agar Mahen cepat pergi. Mahen langsung melangkah ke dapur.
Keesokan harinya ...
Kesadaran Vika terbuka ketika mencium aroma musk menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Perlahan matanya terbuka. Dihadapannya terpampang indah dada bidang lelaki.
"Gong Yo Oppa .... " Vika nyengir mesum kemudian menyentuh dada liat dibalik kaos hitam polos itu. Semua terasa nyata di ujung jemari lentik Vika.
"Ehm ... to-tolong jangan seperti ini."
Vika sontak mendongak, matanya terbelalak, dan teriakan memekakan telinga keluar dari bibir Vika.
"Aaaaaaaakkk ...! "
.
.
.
Bersambung ...
Semoga suka dengan ceritanya...
__ADS_1
Oh ya di hari Senin ini Chika mau merekomendasikan sebuah novel karya teman sesama Author... Karya milik kak Aisy Arbia ini wajib banget temen-temen baca ... Langsung mampir yaaa! Jangan lupa beri dukungan kepada Author dengan memberikan like, komen, vote, dan juga hadiah... Sayang Kaliaaannnn...