
Keramaian toko aksesoris sore itu menemani Vika dan Mahen. Mereka sedang asyik menceritakan kesibukan masing-masing setelah satu bulan tidak bertemu. Alunan lagu milik Afternoon Talk yang berjudul There's Only One Thing You Should Know, memanjakan telinga mereka.
"Akhir-akhir ini, Aku dan Nola dibuat kewalahan dengan pesanan yang membludak." Vika menurunkan bahunya, mengingat setumpuk pekerjaan yang sudah menanti esok hari.
"Baguslah! Itu tandanya bisnismu berkembang dengan baik," ucap Mahen sembari mengusap dagunya.
"Tapi Aku sampai kewalahan, Kak. Vika mau menutup sementara orderan. Soalnya Nola sedang cuti," gerutu Vika.
"Mau kubantu carikan orang lain untuk menggantikan Nola sementara waktu?" Mahen mencoba menawarkan bantuan.
"Nggak usah, Kak. Kalau untuk desain sudah selesai semua tinggal proses produksi. Vika berniat menutup orderan sementara, sambil mau istirahat," ucap Vika.
"Ya sudah, kalau memang maumu begitu." Sebuah senyum terukir di bibir Mahen.
"Kak Mahen sendiri ... bagaimana pembukaan toko di Bali? Lancar?" tanya Vika.
"Lancar. Semoga saja omzetnya melejit seperti toko yang ada di Pulau Jawa." Dada Mahen mengembang, dan kepalanya kini terangkat.
"Oh ya, ngomong-ngomong ... kenapa Kak Mahen langsung membeli jam yang kutunjuk?" Vika kini bertopang dagu sambil melirik ke arah Mahen. Seulas senyum muncul di bibirnya.
"Itu ... karena ...." Mata Mahen yang tadinya memandang lekat Vika, kini beralih ke langit-langit toko.
"Karena apa?" Vika terus menatap lelaki di hadapannya itu sambil menanti jawaban.
"Karena Aku percaya, setiap apa yang Kamu katakan itu adalah sesuatu yang benar. Kamu selalu menilai sesuatu berdasarkan hatimu, hati tak pernah salah." Kini pandangan Mahen kembali ke arah Vika.
Vika mengalihkan pandangannya dari Mahen, kemudian menunduk. Jantungnya berdebar sangat kencang, dan mukanya seakan habis terbakar karena tatapan Mahen. Ia memilin rok yang dipakai dengan ujung jarinya.
Mahen yang melihat tingkah Vika, kini tersenyum. Ia mengusap tengkuknya untuk mengghalau rasa canggung yang tiba-tiba merayap. Beruntungnya ada si pelayan yang datang mencairkan kecanggungan di antara mereka.
"Silahkan, Pak." Pelayan itu tersenyum ramah sembari menyodorkan sebuah tas bertuliskan Your Time, merek jam tersebut.
"Terima kasih," ucap Mahen sambil tersenyum, dan meraih tas dari tangan si pelayan.
Keluar dari toko, mata Vika tertuju pada sebuah restoran Korea yang berada di seberangnya. Vika akhir-akhir ini suka melihat drama Korea, seketika teringat Bibimbap yang terlihat enak di drama itu.
"Kenapa?" Mahen mencondongkan badannya ke arah Vika sambil mengikuti arah pandangan perempuan itu.
"Apa restoran itu baru buka?" tanya Vika sembari menunjuk restoran Korea yang menyita perhatiannya.
"Baru seminggu, mau makan disana?" Mahen tersenyum lebar diikuti anggukan Vika.
__ADS_1
.
.
.
Sekarang di hadapan Vika tersaji semangkuk besar bibimbap dengan telur mata sapi. Di dalam mangkuk berwarna hitam terapat bermacam-macam sayuran. Ada timun, wortel, tauge, bayam, daging ayam, serta jamur enoki dan champignon. Biji wijen bertaburan menghiasi bagian paling atas bibimbap itu.
Melihat pemandangan di depannya, membuat air liur Vika menetes. Ia langsung menuang saus gochujang ke dalam mangkuk, mengaduknya perlahan, kemudian menyuapkan sesendok penuh nasi campur ala Korea itu ke dalam mulut.
Vika mengunyah makanan di dalam mulutnya secara perlahan. Ia mencoba menikmati setiap rasa yang terkecap oleh lidahnya. Rasa gurih dari ayam dan telur terasa semakin lezat karena rasa saus gochujang yang pedas manis.
"Enak!" Mata Vika kini tak berkedip sedikit pun.
Melihat tingkah Vika, Mahen menyembunyikan senyumannya di balik telapak tangan. Perempuan di hadapannya itu mudah sekali bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Kesederhanaan Vika itulah yang membuat hati Mahen tak bisa berpaling darinya.
"Kak Mahen, mau?" Vika menyodorkan sesendok nasi ke mulut Mahen.
Pipi Mahen bersemu merah mendapat perlakuan manis dari Vika. Ia membuka mulut lebar, berharap perempuan itu menyuapkan nasi ke dalamnya. Akan tetapi, kini bibir Mahen terkatup rapat.
Vika membelokkan sendok itu, dan memasukkannya ke dalam mulut. Perempuan itu menjulurkan lidah usai menelan bibimbap. Mahen hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Vika dan Mahen mendapat kursi di bagian tengah. Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya film dimulai. Setiap adegan membuat jantu Mahen serasa mau copot. Ia berteriak histeris, menutup matanya, bahkan terkadang bersembunyi di balik lengan Vika.
Rasanya kaki Mahen melemah ketika sinema itu usai. Ia sampai tak kuat berdiri dan harus menunggu beberapa menit untuk mengumpulkan kembali tenaganya. Vika hanya terkekeh melihat wajah Mahen yang kini pucat pasi.
Setelah berhasil mengumpulkan lagi kekuatannya, Mahen dan Vika berjalan beriringan keluar dari bioskop. Vika memandang lelaki di sampingnya itu dengan senyum mengejek, sedangkan Mahen melemparkan tatapan tajam.
"Kamu sengaja, ya?" Mahen seketika berhenti sambil melipat lengannya di depan dada.
"Nggak! Aku hanya sedang ingin menonton film itu saja!" kilah Vika sambil terus tersenyum jahil.
Mahen mendengus kesal, mengingat Vika yang seperti sengaja mengajaknya menonton film horor. Namun, perasaan kesal itu sirna saat melihat senyum manis Vika.
Ketika hendak menuju mobil, tubuh Vika ditabrak oleh seorang perempuan dengan potongan rambut pendek. Reflek, tangan Mahen menangkap tubuh rampingnya. Tatapan mereka kini bersiborok. Sebuah geleyar aneh menyusup ke dalam hati Vika.
"Tidak apa-apa?" tanya Mahen.
"I-iya." Vika kini berdiri tegak, kemudian menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi gelagat keduanya. Perempuan yang tadi menabrak Vika, masih membatu sembari menatap dua orang di depannya.
__ADS_1
"Mahen?" Perempuan berambut pendek itu terbelalak ketika mengetahui siapa yang ada di hadapannya.
Mendengar namanya diucap, Mahen menoleh ke arah si perempuan. Ia menyipitkan mata dan memiringkan kepalanya, berusaha mengingat dimana pernah bertemu perempuan di hadapannya itu.
"Aku Aluna," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Aluna ...." Alis Mahen saling bertaut ketika mencoba mengingat kembali siapa perempuan itu.
"Aluna ... yang dulu ada di kantor polisi. Bagaimana keadaan ibu dan putramu? Dia istrimu?" cecar Aluna.
Mahen melirik ke arah Vika. Perempuan itu terlihat tidak nyaman dengan rentetan pertanyaan yang diajukan Aluna. Akhirnya, Mahen berpamitan dan tidak menjawab satu pun pertanyaan dari Aluna.
"Maaf, Kami permisi." Mahen memegang kedua bahu Vika, kemudian mengajaknya masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan wajah Vika terlihat mendung. Otak Mahen berpikir keras untuk membuatnya kembali tersenyum. Sebuah ide jahil muncul, ia ingin menggoda ibu dari putranya itu.
"Kenapa, Neng? Cemburu?" tanya Mahen sembari menaik turunkan alisnya.
"Cemburu? Maaf, ya, Pak! Saya tidak ada hak untuk cemburu terhadap Bapak!" Vika bersungut-sungut sambil memutar bola matanya.
Tawa Mahen pecah sampai matanya berair. Vika yang kesal kini mencembikkan bibirnya sambil melipat tangan di depan dada.
.
.
.
Bersambung ...
Pagiii...
Disini mendung loh, di tempat kalian gimana?
Oya, hawanya cocok buat ngeteh ditemani camilan sembari baca novel karya salah satu author kece di Noveltoon, Kak Santi Suki.
......Jangan lupa mampir yaa,
......
__ADS_1