
Para tim medis sudah bersiap di dalam ruang operasi. Mereka semua mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk pasien dan keluarganya.
Peluh bercucuran di dahi dokter bedah yang tengah menangani Vincent dan Bu Winda. Tanda vital pendonor dan resipien masih terpantau aman dari monitor. Dokter mulai menyayat bagian pinggang Vincent dengan pisau bedah. Perawat di sampingnya menyeka keringat sang dokter yang tengah memegang peranan paling penting saat ini.
Semua terlihat begitu tegang di dalam ruang bedah tersebut. Hanya terdengar suara indikator dari monitor pasien.
Ketenangan dalam ruangan itu berakhir ketika terdengar seruan dari seorang perawat yang mengabarkan kondisi vital Bu Winda menurun.
"Dok, detak jantung pendonor tiba-tiba melemah!" seru sang perawat.
Tim medis melakukan beberapa tindakan untuk membuat detak jantung Bu Winda kembali stabil. Namun, takdir berkata lain.
BIIIIIPPPPPPPPPP....
Tak lama setelah Bu Winda pergi, Vincent menyusul. Sebuah beban berat kini bergelayut di hati seluruh tim medis yang ada di ruangan tersebut. Dalam waktu hampir bersamaan, dua nyawa gagal diselamatkan. Hal itu menjadi sebuah beban tersendiri bagi mereka.
Di luar ruang operasi, Vika dan yang lain tengah menanti kabar baik dari dokter. Seorang perawat yang keluar dari kamar operasi menghampiri mereka. Vika adalah orang pertama yang menghampiri perempuan dengan perlengkapan khusu operasi.
"Ba-bagaimana operasinya, Sus?" tanya Vika terbata-bata.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu. Namun, takdir berkata lain. Maaf, pendonor dan resipien telah berpulang. Kami turut berduka."
Mendengar penuturan dari sang perawat, dunia Vika seakan berputar. Harapanya jatuh seperti jutaan debu. Mulut Vika kini terkunci, hatinya tertutup dan tenggelam dalam kesedihan. Air mata perempuan itu seakan telah habis. Kesedihan kali ini benar-benar mengguncang jiwanya. Sampai-sampai air mata tidak cukup untuk mendeskripsikan kepiluannya.
Tubuh Vika lemas seketika. Raja yang sedari tadi berada di belakangnya, menangkap tubuh Vika yang seakan tak bertulang. Mahen pun harus menelan pil pahit. Dalam satu waktu, ia harus kehilangan dua orang yang sangat ia cintai.
"Vik, Vika!" Raja menepuk pelan pipi Vika.
Tatapan perempuan dalam pelukannya itu kosong. Bibir Vika terkatup rapat. Ia terlihat sedang menatap nanar ke arah pintu kamar operasi yang ada di hadapannya.
"Chen ... kenapa belum keluar?" ucap Vika dengan nada datar.
"Vika, tolong jangan seperti ini." Raja kini menggoncangkan tubuh Vika, berharap kesadaran perempuan itu kembali.
"Chen! Cepat keluar, Sayang. Bukankah Chen ingin pulang ke Bandung?"
"Vika, aku mohon, sadarlah!" seru Raja.
"Chen boleh bawa Miki pulang, ayo kita jemput Miki sekarang! Cepat keluar, Chen!" teriak Vika histeris.
Raja tak tahan lagi melihat Vika yang seakan kehilangan nyawanya. Lelaki itu mendekap erat tubuh Vika. Barulah Vika menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa sesak, matanya kini dibanjiri oleh air mata, dan hatinya hancur berkeping-keping.
Di luar rumah sakit, langit seakan ikut menangisi kepergian Vincent dan Bu Winda. Cuaca cerah hari itu tiba-tiba berubah mendung. Langit mulai menumpahkan airnya.
.
.
.
~Nova POV~
__ADS_1
"Mbok, aku mau bawa Maura jalan-jalan sebentar, ya."
"Jangan lama-lama, ya, Non? Mbok takut nanti jika tiba-tiba nyonya dan tuan pulang, Maura tidak di rumah," ucap Mbok Marni dengan nada penuh kekhawatiran.
"Iya, Mbok. Maura, kita jalan-jalan sebentar, yuk."
"Ayo! Ula mau es krim, enak!"
"Oke, kita ke toko papa dulu, ya?"
Maura mengangguk antusias. Jemari mungilnya kini tertutup dengan jari sang ibu. Gadis kecil itu berjalan sambil melompat layaknya kelinci.
Sepanjang perjalanan, Maura bersenandung menyanyikan beberapa lagu anak-anak yang ia hafal. Sesekali Nova ikut bernyanyi sambil terus memperhatikan jalanan yang mulai ramai.
"Papa sekarang jarang di rumah, kakak belum bangun," ucap Maura dengan nada sedih.
"Apa Maura sayang kakak?" tanya Vika.
"Sangat sayang! Kakak tampan, baik, dan suka tersenyum," ucap Maura antusias. Kini pipinya memerah seperti buah ceri.
Nova hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah centil putrinya. Nova berniat menjenguk Vincent di rumah sakit. Tak peduli dengan ekspresi semua orang nantinya. Ia hanya ingin menebus kesalahannya kepada Maura, dengan menuruti keinginan untuk bertemu Vincent.
Ibu satu anak itu ingin membuat Maura merasa senang. Setiap ia menelepon Maura, gadis kecilnya itu selalu berkata ingin bertemu Vincent.
"Lampu merah ... berhenti, Mama!" teriak Maura memberi aba-aba.
Perlahan Nova menegerem mobilnya. Sambil menunggu lampu hijau ia menggelitiki pinggang Maura. Tak elak gadis kecil itu terbahak-bahak.
Terpaksa Nova mengangkat tangannya dari pinggang Maura. Ia mulai melajukan mobilnya lagi. Ketika hampir mencapai zebra cross, tiba-tiba seorang pengamen kecil berlari.
Jantung Nova hampir saja meledak. Ia membanting setir mobilnya ke kiri. Suara dentuman bergema siang itu. Mobil Nova ringsek karena menabrak sebuah pohon besar.
Nova merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dahinya. Perempuan itu mengusap bagian yang terasa basah. Darah segar mengalir perlahan, mulai membasahi alis tipisnya.
"Da-darah!" seru Nova.
Sontak ia teringat putrinya yang ada di kursi penumpang. Langit seakan runtuh, hati Nova serasa diremas, dan tangisnya mulai pecah.
Tubuh mungil Maura terbanting ke depan, kepalanya menumbuk dasbor mobil. Bercak darahnya berceceran menempel pada dasbor. Nova merutuki kecerobohannya yang tidak memasang sabuk pengaman Maura dengan benar.
Nova merengkuh tubuh mungil putrinya, kemudian ia bawa ke dalam pelukan. Tangisnya semakin pecah. Tubuh Nova kini bergetar hebat. Mobilnya sekarang dikerumuni oleh warga sekitar dan beberapa pengguna jalan yang kebetulan melintas.
Suara sirine ambulans bertalu-talu membelah keramaian ibukota yang sedang macet. Dalam sepuluh menit, Nova dan Maura sudah berada di rumah sakit. Seorang perawat membersihkan luka pada dahi Nova kemudian menempelkan plaster antiseptik di atasnya.
Tatapan mata Nova sekarang ini kosong. Ia hanya bisa melihat tim medis tengah sibuk mengerumuni tubuh mungil Maura. Kekuatan perempuan itu seakan hilang tak tersisa.
"Pasien membutuhkan transfusi darah!" teriak salah seorang dokter, diikuti perawat yang mulai keluar ruangan itu.
.
.
__ADS_1
.
Nova kini terduduk lesu di depan IGD, pikiran buruk berputar-putar di kepalanya. Berulang kali ia mengusap wajahnya kasar. Kakinya mengetuk lantai berulang kali karena rasa cemas.
"Nyonya Nova Adisti?" tanya seorang perawat.
"I-iya, saya, Sus. Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Nova dengan suara terbata-bata.
"Putri Anda mengalami pendarahan yang cukup parah, ia membutuhkan transfusi darah. Sedangkan, golongan darah yang dimiliki putri Anda sangat langka. Di rumah sakit kami hanya ada satu kantong. Kami telah menghubungi pihak PMI, disana hanya ada tiga kantong. Putri Anda masih membutuhkan sekurang-kurangnya dua kantong," jelas si perawat.
"Ambil saja darah saya, Sus. Ambil sebanyak yang kalian butuhkan!" seru Nova di tengah isakannya dan derai air mata.
"Apa golongan darah Anda?" tanya si perawat.
"B positif," jawab Nova singkat.
"Maaf, golongan darah pasien AB negatif. Mungkin ada keluarga lain yang memiliki golongan darah tersebut? Atau paling tidak rhesus negatif?" tanya si perawat.
"Saya akan menghubungi kerabat lain," ucap Nova sambil terisak.
Vika kembali terduduk lesu di atas bangku. Ia merogoh tas mahalnya untuk mencari ponsel.
Ketika hendak menghubungi Mahen, matanya menangkap sosok lelaki itu.
"Mahen!" teriak Nova.
Mahen berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Nova langsung berlari menghampiri lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Ma-Maura sedang membutuhkan donor darah," ucap Nova sambil sesenggukan.
"Apa maksudmu?"
"Aku dan Maura tadi mengalami kecelakaan, dan sekarang kondisinya sedang kritis. Dia membutuhkan pendonor segera," jelas Vika terbata.
"Dimana Maura sekarang?"
"Masih di IGD," ucap Vika.
Mahen langsung berlari menyusuri koridor rumah sakit dan menuju ruang IGD. Sesampainya di ruangan itu, seakan dunianya berputar melihat kondisi putrinya yang tergolek lemas di atas brankar.
Perlahan lelaki itu mendekat, meraih tangan kecil dengan selang yang dialiri cairan merah. Dalam sehari ia mendapatkan tiga kejutan sekaligus. Kakinya seakan tidak bisa menapak di atas tanah. Takdir terasa begitu menyakitkan untuknya.
"Aku akan mendonorkan darahku untuknya," ucap Mahen.
Dia langsung mengambil langkah seribu keluar dari IGD menuju konter perawat untuk mengajukan diri sebagai pendonor.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...