Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Kembali Ke Persembunyian


__ADS_3

Sejak hari itu, Vika mengabaikan Mahen. Rasa sesak menghimpit dadanya. Perasaannya yang baru saja kembali bersemi untuk Mahen, harus kembali ia pupuskan. Ia tahu bagaimana sikap Nova. Perempuan itu selalu sungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan.


"Sudah selesai?" tanya Nola.


"Iya, sebaiknya kita segera berangkat. Aku tidak mau berurusan dengan wanita gila itu!" seru Vika.


"Baiklah, sepertinya Chen sudah sedikit mengerti. Kemarin Raja meneleponnya dan memberikan sedikit penjelasan." Nola mulai menjinjing tasnya.


"Aku tidak mau nantinya terjadi apa-apa kepada Chen. Semoga ini menjadi jalan terbaik." Vika kini berdiri, kemudian berjalan menuju kamar Vincent.


Baru tiga langkah ia berjalan, terdengar suara dentingan bel. Seketika Vika berhenti. Sedangkan Nola meletakkan kembali tasnya, kemudian beranjak menuju pintu.


"Biar aku yang membukakan pintu."


Sebelum membuka pintu, perempuan itu menempelkan matanya pada lubang intip. Refleks badannya berbalik. Ia menatap ke arah Vika sambil menggerakkan bibirnya tanpa suara.


"Mahen!"


"Biarkan saja." Vika kembali meneruskan langkahnya kemudian masuk ke kamar.


Nola pun akhirnya menjauh dari pintu masuk. Ia memainkan ponselnya sembari menunggu Mahen pergi.


Namun, harapannya sirna. Mahen yang keras kepala tak juga beranjak pergi. Bahkan suara bel yang berulang kali dipencet, semakin mengganggu Nola. Karena kesal akhirnya perempuan itu membuka pintu.


Nola melayangkan tatapan sinis ke arah Mahen. Perasaan lega sedikit menyelubungi hati Mahen.


"Vika, ada?" tanya Mahen.


"Tidak! Pergilah!" Nola langsung menutup pintu, dengan cepat kaki Mahen maju untuk mengganjal pintu bagian bawah.


"Tolong, aku ingin bicara dengannya," pinta Mahen.


"Aku bilang dia tidak ada!"


Mahen seakan tuli, ia menerobos Nola kemudian masuk ke apartemen. Mahen berteriak seperti orang gila.


"Vika! Chen! Dimana kalian?"


"Tidak ada! Aku bilang mereka sudah pergi!"


Mahen meneliti setiap ruangan yang ada di tempat itu. Kamar Vika sudah kosong, ketika membuka kamar Vincent yang ia temukan hanya hawa dingin yang keluar dari pendingin ruangan.


"Aaaaaakk!" teriak Mahen frustasi, lelaki itu kemudian meninju tembok yang ada di hadapannya.


"Tolong, keluarlah!" Nola meraih lengan atas Mahen, sambil menunjuk arah pintu keluar.


"Beri aku lima menit." Mahen kini terlihat lebih tenang, ia kemudian menghela napas kasar.


"Aku tahu kalian masih di sini, tolong dengarkan aku, Vika. Aku akan menceraikan Nova," ucap Mahen.


Vika membekap mulutnya agar isakannya tidak lolos. Ia sedang bersembunyi di balkon sambil mendekap Vincent yang masih terlelap.

__ADS_1


"Chen, papa menyayangimu. Papa tidak bisa hidup tanpamu. Jangan pernah pergi lagi, Boy," ucap Mahen lesu.


Mata Vika sekarang dibanjiri air mata. Perempuan itu berulang kali memukul dadanya yang terasa sesak.


"Tolong, kembalilah padaku. Aku berjanji akan membuat kalian bahagia. Menuruti apapun yang kalian mau." Mahen kembali membujuk dua orang yang sangat ia cintai itu.


Setelah kehabisan asa, akhirnya Mahen berjalan lunglai ke arah pintu keluar. Begitu Mahen keluar dari apartemen, Nola langsung menyusul Vika yang bersembunyi di balkon apartemen.


Nola melihat sahabatnya yang masih membungkam mulutnya dengan air mata yang bercucuran. Hati Nola seakan diremas melihat pemandangan di hadapannya.


"D-dia sudah pergi, Vik." Kini Nola mendekati Vika, kemudian merengkuh bahu sahabatnya itu.


"Da-dadaku rasanya sesak sekali, Nola. A-apa yang harus aku lakukan! Mudah sekali aku kembali jatuh hati pada Kak Mahen!" seru Vika sambil sesegukan. Tangan perempuan itu masih memukuli dadanya, berharap sesak yang menghimpit segera berlalu.


Kini mata Nola mulai mengembun. Ia mendongakkan kepalanya agar air matanya tak jatuh. Nola memeluk tubuh sahabatnya itu untuk memberikan kekuatan.


.


.


.


~Mahen POV~


Lelaki itu berjalan lunglai keluar dari apartemen. Apa semenyakitkan ini mencintai seseorang?


Langkah kakinya yang biasanya terdengar tegas menghilang dalam sekejap. Mahen rapuh. Lelaki itu turun ke parkiran dan mulai mengendarai Tesla hitamnya.


Gerobak kebab Baba Ahmed yang menjadi saksi bisu bagaimana ia mencurahkan rasa sayangnya untuk Vincent. Sekolah taman kanak-kanak Vincent yang mengajarkannya cara bersabar. Dan juga mobil yang berisi keceriaan ketika Vincent dan Vika berada di dalamnya.


Tak terasa hati yang kosong itu kini sudah sampai ke parkiran rumah. Ketika membuka pintu mobil, si mungil Maura sudah menyambutnya dengan senyum menggemaskan. Mahen tersenyum melihat gadis cantik dihadapannya. Kini hanya Maura yang bisa menjadi sumber kekuatannya.


"Pa ... Ula mau mamam, tapi mama marah-marah," ucap Maura polos.


"Marah?"


Maura mengangguk. Kemudian tanpa sengaja lelaki itu melihat lengan putrinya yang terdapat lebam kecil berwarna keunguan.


"Ini kenapa?" tanya Mahen panik.


"Huhuhu ... mama nakal. Cubit Ula!" Maura kembali teringat ulah ibunya beberapa jam lalu.


Mendengar penuturan putrinya membuat Mahen naik pitam. Lelaki itu langsung membawa tubuh mungil Maura ke dalam mobil. Tanpa menunggu nanti, ia melajukan Tesla-nya menuju Rumah Besar.


"Ke rumah Oma, mau? Sementara kita menginap di sana." Mahen masih menatap ke arah jalanan di depannya.


"Mau ... Ula nggak mau mama!" seru bocah cantik itu sembari menatap sendu ke arah Mahen.


"Iya, Maura bobok sama Oma, ya?"


"Yeay!"

__ADS_1


Kedatangan Mahen dan Maura tentu saja disambut bahagia oleh Bu Winda. Perempuan paruh baya itu langsung membawa tubuh mungil cucunya dalam dekapan.


"Oma! Ula kangen banyak!" seru Maura sambil mengalungkan lengannya ke leher Bu Winda.


"Sama, Sayang. Oma juga kangen Maura," ucap Bu Winda sambil tersenyum.


Bu Winda membawa cucunya naik ke kamar Mahen. Sementara Mahen duduk bersandar di sofa. Kepalanya menengadah memandang langit-langit rumah. Ia berharap beban pikirannya sedikit berkurang.


"Kenapa?" Suara Pak Theo membuat Mahen kembali duduk.


"Pa ... aku mau bercerai dengan Nova."


"Alasannya?" tanya Pak Theo kemudian ikut duduk di sofa.


"Sebenarnya .... "


Mahen menceritakan runtutan kejadian yang ia alami beberapa bulan terakhir. Mulai dari ia menemukan fakta mengenai Vika yang masih hidup, perjuangannya meluluhkan hati Vika, kebahagiaan kecil yang mereka lalui bersama, sampai akhirnya Nova mengetahui semuanya.


Pak Theo memperlihatkan berbagai macam ekspresi. Perasaan lega, senang, sedih, dan kecewa bergantian memenuhi hatinya. Selepas Mahen bercerita, lelaki itu menghela napas kasar. Kini ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Jadi, sekarang Vika menjauhimu?"


"Iya, dan ini membuatku hampir gila, Pa!" Mahen kini meremas rambutnya.


"Ia mungkin butuh waktu untuk berpikir. Berikan ia ruang untuk sendiri, agar pikirannya kembali jernih," ucap Pak Theo.


"Untuk masalah masalah pengajuan gugatan cerai pikirkan baik-baik. Ada Maura yang masih membutuhkan sosok ibunya," sambung Pak Theo.


"Sementara waktu aku akan tinggal di sini, Pa. Boleh?"


Pak Theo hanya mengangguk. Mahen tersenyum kecut mengingat kembali rentetan peristiwa yang dialaminya.


~Mahen POV END~


"Chen, suka kamar barunya?"


Vincent mengangguk penuh semangat. Anak laki-laki itu langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia berguling kesana kemari kemudian berdiri dan melompat-lompat seperti kelinci.


Sebuah senyum kecil terbit di bibir Vika. Ia berharap bisa segera menyembuhkan luka yang tergores di hatinya dan Vincent. Perempuan itu percaya, perlahan semuanya akan kembali normal.


Vika meminta Raja untuk mendekor kamar Vincent sama persis seperti ketika berada di apartemen Nola. Atas bantuan Raja, dia dan Vincent kini bisa sedikit menjauh dari Mahen. Mereka mengontrak sebuah rumah kecil di pinggiran ibukota. Setelah menemukan pendonor untuk Vincent, mereka diajak Raja untuk pindah ke Bali.


"Papa!" teriak Vincent.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2