Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Calon Mahen Junior


__ADS_3

Seminggu lagi usia pernikahan Mahen dan Vika menginjak satu tahun. Hati Vika mulai gelisah karena tidak kunjung hamil. Perasaan tertekan dan mood yang kian memburuk membuat nafsu makan Vika menurun. Hal itu membuat Mahen sangat khawatir.


"Vik, apa Kamu baik-baik saja?" tanya Mahen.


"Aku sedikit kelelahan, Kak. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan dan sebenarnya Vika sedikit stres," tutur Vika.


"Kenapa? Masalah anak?" tebak Mahen yang ternyata tepat sasaran.


Vika mengangguk, ia masih memikirkan ancaman Bu Winda mengenai pengembalian uang. Mahen membawa Vika ke dalam pelukannya, diusapnya lembut rambut panjang istri keduanya itu.


"Tenang ... jika mama mengungkit masalah uang, aku yang akan menggantikannya untukmu."


Mendengar ucapan Mahen, hati Vika seakan diguyur dengan air es. Beban pikirannya sedikit berkurang, tapi ada satu hal lagi yang mengganjal mengenai kontrak pernikahannya dengan Mahen.


"Kak, ba-bagaimana dengan kontrak pernikahan kita?" tanya Vika penuh keraguan.


Mendengar pertanyaan Vika, Mahen terkesiap. Ia bahkan melupakan bahwa mereka adalah sepasang suami istri siri yang bisa berpisah kapan saja dengan mudah. Tapi sekarang akan sulit rasanya karena Mahen sudah terbelenggu dengan perasaannya sendiri.


"Aku belum memikirkannya," kata Mahen.


"Belum? Apa artinya nantinya akan memikirkannya juga?" batin Vika.


Memikirkan hal itu membuat kepala Vika berputar. Tiba-tiba perutnya bergejolak saat memikirkan perpisahan yang sebentar lagi ia temui. Perempuan itu langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


"Vik!" panggil Mahen.


Vika sudah tak menggubris lagi suara Mahen yang terus memanggilnya. Setelah masuk kamar mandi, ia mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Melihat Vika yang sedang kepayahan, Mahen panik. Perlahan ditepuk punggung istri keduanya itu. Selama tiga jam lebih Vika bolak-balik ke kamar mandi. Kakinya mulai lemas. Akhirnya Mahen memituskan untuk membawa istrinya itu ke rumah sakit.


"Ayo, ke dokter. Badanmu lemas sekali, aku takut ada hal buruk terjadi nantinya," ucap Mahen.


Karena lemas, Vika hanya mengangguk. Mahen bergegas menggendong istrinya. Ia baru menyadari bahwa tubuh Vika terasa sangat ringan.


"Apa akhir-akhir ini badanmu terasa tidak nyaman?" tanya Mahen.


"Sedikit, Kak."


Setelah melakukan perjalanan yang terasa begitu panjang, akhirnya Mahen berhasil membawa Vika ke sebuah klinik. Serangkaian periksaan dilakukan. Sampai akhirnya sang dokter menyatakan satu hal yang membuat suami istri itu terkejut.


"Selamat, Nyonya Vika tengah mengandung. Usia kehamilannya sekarang sekitar enam minggu."


Mendengar ucapan sang dokter tentu saja Vika dan Mahen terkejut. Yang ada saat ini adalah perasaan bahagia. Apa yang dinanti keduanya akhirnya terwujud.


Setelah melakukan pembayaran, Mahen mbawa istrinya pulang. Di sepanjang perjalanan, jemari keduanya saling bertautan. Sesekali Mahen melirik ke arah Vika sambil tersenyum. Membayangkan sebentar lagi menjadi seorang ayah, membuat Mahen begitu sumringah.


.


.


.


Dua hari lagi akan diadakan pesta perayaan kecil untuk hari jadi pernikahan Vika dan Mahen. Mereka berencana mengumumkan kehamilan Vika kepada Pak Theo dan Bu Winda. Karena hari ini Mahen tidur di rumahnya sendiri, akhirnya mereka membahas hal itu melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Bagaimana junior hari ini? Nakal?" tanya Mahen.


"Aku benar-benar dibuatnya kepayahan. Aku sama sekali tidak bisa turun dari ranjang, Kak." jawab Vika.


"Kasihannya. Jangan lupa minum vitaminmu, coba berikan ponselnya pada junior," ucap Mahen.


"Sudah," kata Vika.


"Hai ... junior, jangan nakal! Papa sebentar lagi akan kesana. Jadi anak baik, ya?" ucap Mahen sambil terkekeh.


"Iya, Papa." Mendengar suara Vika yang menirukan suara anak kecil membuat Mahen tertawa.


Ternyata percakapannya dengan Vika didengar oleh Nova. Ia menemukan alasan mengapa Mahen semakin mengabaikannya. Ia menyusun sebuah kejutan di hari ulang tahun pernikahan Vika dan Mahen.


.


.


.


Hari itu cuaca begitu cerah. Di kediaman keluarga Dirgantara, para pembantu sedang sibuk di dapur. Sementara Mahen dan ayahnya tengah berbincang ringan bersama Raja. Bu Winda hanya terdiam melihat keakraban mereka. Begitupun Vika, perempuan itu hanya terdiam sembari memperhatikan keakraban dan kedekatan ayah-anak di hadapannya.


"Tuan, Nyonya, makanan sudah siap, silahkan," ucap Bi Minah.


"Baik, Bi." Mahen dan Pak Theo menjawab bersamaan.


"Ayo, kita makan," ajak Pak Theo.


Keluarga itu makan dengan tenang seperti biasanya. Setelah selesai, Mahen mulai berbicara untuk mengumumkan kehamilan Vika.


"Hari ini, Mahen ingin membagikan berita bahagia untuk kalian." Sebuah senyum terbit di bibir Mahen.


"Beberapa hari lalu, aku dan Vika mendatangi dokter karena kondisinya tengah memburuk," ucap Mahen.


"Vika, Kamu sakit?" tanya Pak Theo.


"Bu-bukan begitu, Pa. Mahen belum selesai bicara, lho," protes Mahen.


"Ya ya ... lanjut," ucap Pak Theo.


"Jadi, kata dokter ... Vika ... tengah mengandung!" ucap Mahen diikuti senyum lebar yang ditahannya beberapa jam terakhir.


Mendengar kabar bahagia dari Mahen, membuat ketiganya tersenyum bahagia. Terutama Bu Winda, akhirnya apa yang diinginkan olehnya akan segera terwujud. Muka datarnya beberapa jam lalu, kini berubah menjadi lebih hangat.


"Selamat, ya, Nak," ucap Pak Theo.


"Terima kasih, Pa," jawab Mahen.


"Akhirnya aku akan dapat keponakan!" seru Raja.


"Kamu harus berjanji untuk menjadi paman yang baik, oke?" kata Mahen.


Kebahagiaan mereka seketika hancur ketika Nova tiba-tiba masuk. Perempuan sesampai itu menghampiri mereka sambil menenteng sebuah amplop cokelat.

__ADS_1


"Wah, sepertinya sedang ada perayaan disini. Kenapa kalian tidak mengundangku?" ucap Nova sembari tersenyum miring.


"Kak Nova, apa kabar?" sapa Vika.


"Haha, tak perlu sok baik, Sayang. Sebentar lagi aku akan membongkar semua kebusukanmu!" seru Nova.


Nova menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi ia bawa kepada Mahen. Ketika melihat isi amplop itu, tubuh Mahen menegang. Rahangnya mulai mengeras, jemarinya mengepal, dan matanya melotot. Mendadak Mahen melayangkan tinjunya ke pipi Raja.


"Kak!" teriak Vika.


Adu jotos dua lelaki itu berlanjut sampai dipisahkan oleh Pak Theo dan sopirnya.


"Kamu kenapa, Mahen?" tanya Pak Theo.


"B*jingan ini harus kuberi pelajaran, Pa!" seru Mahen.


"Maksudmu apa , Kak?" tanya Raja karena masih tidak mengerti alasan Mahen bertindak kasar.


"Ini alasannya!" teriak Bu Winda sembari membuang berlembar-lembar foto.


Raja memungut satu per satu foto tersebut. Dalam foto itu terdapat sosok dirinya dan Vika yang tengah bertemu beberapa kali.


"Oh, ini .... " Suara Raja tetap tenang saat hendak menjelaskan cerita dibalik foto yang ada di tangannya.


"Kalian berselingkuh?" terka Mahen.


Mendengar dugaan konyol suaminya Vika terkejut. Hanya karena melihat foto yang sebenarnya terlihat normal baginya.


"Kak, Vika bisa jelaskan semuanya. Tolong redam dulu emosi Kakak," pinta Vika.


"Aku bisa memaklumi foto yang lain, tapi foto ini!" ucap Mahen sambil melemparkan beberapa lembar foto saat dirinya dan Raja masuk ke dalam hotel.


"Kak, foto itu .... " Ucapan Vika dipotong oleh Mahen.


"Aku jadi ragu, apa bayi itu benar-benar milikku," ucap Mahen sambil tersenyum sinis.


"Kak .... " Mendengar ucapan Mahen membuat hati Vika sakit bagai diiris sembilu. Air matanya mulai meleleh, rasa sesak di dada berubah menjadi sebuah isakan.


"Bawa pergi air matamu itu! Aku tidak sudi melihatnya!" usir Mahen.


"Mama tidak menyangka Kamu berbuat hal serendah ini demi uang, Vika!" seru Bu Winda.


Ditengah cacian yang terlontar secara bergantian dari mulut Mahen dan Bu Winda, Nova tersenyum penuh kemenangan. Pak Theo bersikap tenang dan datar, akan tetapi juga tidak bisa mengambil tindakan apapun.


Vika sesegukan sambil berusaha menjelaskan kepada Mahen dan keluarganya. Tapi semuanya sia-sia, mata Mahen sudah tertutup oleh kecemburuan.


Hari yang harusnya menjadi momen membahagiakan untuk Vika, berakhir penuh luka dan tangis. Vika mengemasi barangnya dan meninggalkan kediaman keluarga Dirgantara. Tatapan sinis penuh kebencian dari Mahen, menjadi salam perpisahan yang menyakitkan baginya.


Akhirnya Vika melangkah keluar ditemani Raja dan gerimis hujan yang seakan mengetahui perasaannya saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2