Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Terulang Lagi


__ADS_3

Tangis Vika mendadak berhenti ketika mendapatkan sebuah telepon dari sebuah nomor asing. Perempuan itu mengangkat telepon dengan tangan gemetar. Berbagai dugaan muncul dalam otaknya.


"Ha-halo ..., " sapa Vika dengan suara bergetar.


"Mbak Vika!" Suara yang terdengar akrab itu menyapa Vika melalui sambungan telepon.


"Rico? Ada apa?" tanya Vika.


"Chen sedang bersamaku di toko buku, tadi kebetulan aku melihatnya sedang menunggu sendirian. Jadi, kubawa ke toko sekalian. Kasihan," jelas Rico.


"Hah ... Kau tahu, jantungku hampir saja melesat dari tempatnya! Aku akan ke sana sekarang!" seru Vika.


Hati Vika seakan diguyur air es setelah mendengar kabar dari Rico. Ia menghapus sisa tangisnya, kemudian langsung melajukan mobilnya ke toko buku.


Tak lama kemudian Vika sudah sampai di depan toko buku langganan Vincent itu. Vika melangkah secepat yang ia bisa untuk memastikan Vincent dalam keadaan baik-baik saja.


"Chen!" teriak Vika yang membuat beberapa gelintir pengunjung menoleh ke arahnya.


Vika menganggukkan kepala beberapa kali secara perlahan, sebagai tanda permintaan maaf. Pengunjung yang tadinya menjadikan Vika pusat perhatian, kini kembali tenggelam dalam aktivitas mereka masing-masing.


Dari arah rak buku cerita, terdengar suara Vincent yang sedang cekikikan. Vika langsung melangkah menuju sumber suara. Vincent sedang membolak-balik buku dengan posisi duduk di lantai dan kaki yang diselonjorkan. Disampingnya ada Rico yang menemani.


"Chen!" seru Vika.


Kini Vika berdiri tegak dengan lengan yang dilipat di depan dada. Kedua makhluk bernama laki-laki di hadapannya itu mendongak. Bibir mereka dihiasi senyum lebar tanpa secuil pun rasa bersalah.


"Mama!" seru Vincen. Bocah itu melemparkan asal buku yang tadi dibacanya, lalu memeluk kaki jenjang sang ibu.


"Chen, kenapa sebelum kemari tidak meminta Paman Rico menelepon mama?" cecar Vika.


"Yang penting kan sekarang sudah menelepon?" kilah Vincent.


"Dasar!" seru Vika sambil tersenyum kecut.


"Maaf, Mbak. Soalnya tadi saya buru-buru, jadi tidak mengabari terlebih dahulu," ungkap Rico.


"Iya nggak pa-pa, Co. Terima kasih, ya. Maaf, sudah merepotkan," ucap Vika sambil membawa Vincent ke dalam dekapannya.


Ponsel Vika berdering, perempuan itu mengangkat panggilan suara dari Mahen.


"Iya ... sudah ketemu, Chen ada di toko buku."


" ... "


"Iya, tadi kesini bersama Rico."


" ... "


"Iya." Vika menutup sambungan telepon, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam weist bag.


"Chen, papa akan ke sini. Mau mengajakmu ke tempat Baba Ahmed," kata Vika.

__ADS_1


"Yeay!" Vincent kini mengangkat tangannya sambil bersorak.


"Saya kerja lagi ya, Mbak," pamit Rico.


"Iya, sekali lagi terima kasih, ya!" ucap Vika.


"Sama-sama. Nanti kalau butuh apa-apa, saya ada di meja kasir," pesan Rico.


Vika mengangguk sambil tersenyum lebar. Kini ia mengantar Vincent kembali ke tempat semula ketika membaca buku.


Beberapa menit kemudian ...


Tiba-tiba Vincent beranjak dari posisinya. Bocah lelaki itu kini berlari ke arah pintu masuk. Vika yang terkejut membuntuti putranya. Ternyata Mahen sudah berada di ambang pintu dengan senyum mempesonanya.


"Hai, Boy!" sapa Mahen.


"Papa!" seru Vincent.


Bocah laki-laki tampan itu kini sudah berada dalam pelukan ayahnya. Vika sampai terheran-heran, bagaimana bisa Vincent merasakan kehadiran ayahnya?


"Ayo, Pa!" ajak Vincent.


"Kemana?" tanya Mahen pura-pura lupa.


"Kebab Baba Ahmed, dong!" ucap Vincent.


"Ah, iya! Untung jagoan papa ini mengingatkan!" seru Mahen.


"Aku harus menemui Nola, kalian ke sana sendiri saja," ucap Vika sambil tersenyum tipis.


"Jika setelah ini ada acara mendadak segera hubungi aku, ya? Aku akan segera pulang," pesan Vika.


Mahen mengacungkan jempolnya. Vika mengecup jidat putranya, kemudian melangkah ke pintu keluar. Ketika perempuan itu hendak menarik tuas pintu, tubuhnya terdorong. Seseorang dari luar membuka pintu dengan kasar.


"Aw!" pekik Vika yang kini tersungkur di lantai.


Mahen langsung menghampiri Vika, kemudian membantu wanitanya itu berdiri. Vika membersihkan telapak tangannya dari debu yang menempel. Sedangkan Mahen membantunya Vika berdiri.


"Jadi ... ini penyebab gairahmu seketika menghilang ketika bersamaku!" seru Nova.


Vika dan Mahen kini menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka terbelalak ketika mengetahui Nova lah yang mendorong pintu secara kasar. Istri pertama Mahen itu kini mendekat ke arah Vika. Tangannya melayang ke udara bersiap mendarat di atas pipi mulus Vika.


Namun, dengan sigap Mahen berhasil mencengkeram pergelangan tangan Nova. Lelaki itu menatap dingin ke arahnya. Nova memberontak berusaha melepaskan diri. Namun, semakin ia berusaha lepas semakin kuat cengkraman tangan Mahen.


"Lepas! Pelakor itu layak mendapatkannya!" teriak Nova.


"Cukup! Ayo, pergi dari sini!" ajak Mahen sambil terus memegang lengan Nova.


"Aku dulu sudah memperingatkanmu! Ingat! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" teriak Nova layaknya orang yang sedang kesetanan.


"Kita bicara lagi nanti, Vik!" seru Mahen.

__ADS_1


"Papa! Ayo ke tempat Baba Ahmed!" teriak Vincent.


"Nanti papa akan menjemputmu! Papa akan mengurus tante ini terlebih dahulu!" seru Mahen.


Vika kini mendekap putranya. Nova memandang Vika dan Vincent dengan tatapan penuh kebencian. Vika seketika merinding merasakan aura permusuhan yang terpancar dari mata Nova.


Vincent menangis sejadi-jadinya, ia terus meronta ingin ikut dengan ayahnya. Dengan berat hati Mahen meninggalkan Vincent yang sudah berderai air mata.


Sesaat Vika merutuki kebodohannya yang kembali terjebak perasaan dengan Mahen. Selepas memastikan Mahen pergi dari toko, Vika menggendong Vincent. Rico membantunya menenangkan putranya itu. Dalam dekapan Rico bahkan Vincent sampai terlelap.


"Terima kasih, Co. Hari ini Kamu membantuku sampai dua kali. Semoga lain waktu aku bisa membantumu ketika sedang kesusahan," ucap Vika.


"Jangan terlalu dipikirkan, Mbak. Kebetulan saja hari ini aku melihat kejadian ini. Jadi, bisa membantu Vincent dan Mbak Vika," ucap Rico.


"Aku pulang dulu, ya." Vika kini mengambil alih tubuh mungil Vincent, membuka pintu mobil, dan menidurkan Vincent di kursi belakang.


Vika kini masih terdiam di balik setirnya. Perempuan itu kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Raja.


"Halo ... Kak," sapa Vika.


" ... "


"Bisa bantu aku mengurus kepindahan sekolah Vincent?"


" ... "


"Aku mengalami hal buruk hari ini, aku ingin kembali menghindari Kak Mahen dan Nova." Setitik air mata kembali meluncur ke pipi Vika.


" ... "


"Nanti akan kuceritakan semuanya ketika kita bertemu."


" ... "


"Iya. Kutunggu," ucap Vika kemudian mematikan sambungan telepon.


Vika menghapus sisa tangisnya kemudian mulai tancap gas meninggalkan toko buku. Kali ini ia benar-benar harus sembunyi. Jika bisa, ia ingin pindah dimensi agar Mahen tak menemukannya dan Vincent.


Gerimis di bulan Januari, seakan ingin menghapus tangis Vika. Kondisi awan di langit sangat cocok mewakilkan perasaannya saat ini. Vika akhirnya harus mengalah, menahan perih yang menyayat hati, dan pergi sejauh yang ia bisa.


Bersambung ...


Assalamualaikum teman-teman...


Aku ikut sedih pas nulis part ini, serius.


Tapi yakinlah bahwa Vika akan segera menemukan kebahagiaannya.


Tuhan tahu takdir terbaik untuknya.


Sambil nunggu Second Wife up, mampir yukkk di karya Chika yang lain.

__ADS_1



Sayang Kaliaaaannn😘😘😘


__ADS_2