
~Rico POV ON~
"Dasar anak penjahat!" seru Nono sembari melemparkan batu ke arahku.
Batu seukuran rambutan itu mendarat tepat di pelipisku. Darah segar mengalir perlahan. Aku enggan mengusapnya. Percuma, karena mereka akan terus melempariku lagi dan lagi.
"Mati saja sana! Kalau Bapaknya aja tukang bunuh orang, pasti Dia juga akan jadi pembunuh!" seru Edo sambil menatapku sinis.
Aku hanya tertunduk menerima setiap cacian dari mulut mereka. Percuma melawan, nyatanya sekarang Ayahku sedang mendekam di balik jeruji besi karena membunuh seseorang.
Dunia yang awalnya menyenangkan dan penuh keceriaan, kini terasa mencekam bagi anak berumur delapan tahun sepertiku. Setiap pagi sampai malam, para pemburu berita berkerumun di depan rumahku. Sejak Ayah didakwa sebagai tersangka, Aku tidak bisa berangkat ke sekolah karena malu.
Siang itu perutku terasa begitu melilit, karena sejak malam belum makan. Aku menemui Ibu yang sedang melamun di kamarnya. Perlahan kubuka daun pintu untuk menemuinya.
"Bu, Rico lapar," ucapku sembari menatap nanar ke arah Ibu yang terduduk lesu di atas ranjang.
"Ibu belum bisa masak. Tukang sayur tidak mau menjual dagangannya kepadaku," ucapnya sembari membenamkan wajah ke dalam telapak tangan dan isakannya mulai lolos.
Melihat kondisi Ibu yang semakin hari terlihat semakin frustrasi, membuatku untuk belajar lebih mandiri. Aku memutuskan untuk mencari makanan yang tersisa di dapur. Hanya ada nasi putih dingin di atas meja. Kugarami nasi itu, kemudian mengunyahnya perlahan. Tak terasa air mata menetes membasahi pipiku.
Aku masih tidak percaya bahwa Ayahku telah membunuh seseorang. Beliau adalah panutan bagiku. Jangankan membunuh, berbicara dengan nada tinggi saja tidak pernah Beliau lakukan.
Saat berusaha menikmati nasi dinginku, terdengar suara benda jatuh dari kamar Ibu. Sontak Aku berlari menuju sumber suara. Kubanting pintu dengan kasar.
Kakiku melemas seketika, kemudian terduduk lemas sambil memandang ke arah langit-langit rumah. Ibu sedang meronta-ronta sembari memegang tali tambang yang melingkar di lehernya.
Aku berusaha mengumpulkan kekuatan untuk berlari dan meminta bantuan kepada para wartawan yang masih setia berkerumun di depan rumah. Begitu keluar rumah, Mereka semua mengarahkan lensa kamera untuk mengambil gambarku.
"Tolong, Ibuku!" teriakku di antara tangis.
Bukannya segera menolong, para pemburu berita itu justru merekamku. Beberapa orang mengarahkan alat perekam dan bertanya mengenai Ayah.
"Apa kalian tuli! Tolong Ibuku, Aku mohon." Kini aku menangkupkan kedua tanganku, berharap ada seorang saja dari Mereka yang mempedulikan ku.
Akhirnya seorang wartawan bernama Heru berlari menghampiri, dan mengajakku ke dalam kamar Ibu. Namun, semuanya terlambat. Beliau sudah kehilangan nyawanya dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Mata Ibu mendelik dengan lidah yang menjulur keluar. Melihat pemandangan itu membuatku berteriak histeris. Pak Heru mendekap, dan menutup mataku dengan telapak tangan.
Sejak hari itu, Pak Heru berbaik hati mengurus, dan mengadopsiku. Atas persetujuan Ayah, Aku mulai tinggal bersama keluarga kecilnya.
.
.
.
__ADS_1
"Ingin bertemu Ayahmu?" Pak Heru menangkup pipiku sembari tersenyum.
"Boleh?" tanyaku sambil menatap ragu mata Pak Heru.
"Tentu saja boleh," ucap Pak Heru seraya mengacak rambutku asal.
Aku akhirnya diantar ke LAPAS oleh Pak Heru. Saat sedang menunggu giliran menjenuk Ayah, aku tak sengaja mendengar percakapan dari dua orang sipir yang tengah berjaga.
"Dibayar berapa, ya Dia? Mau-maunya dijadikan kambing hitam," kata sipir bernama Edi.
"Kalau Aku, berapapun bayarannya ... pasti kutolak! Harga diri, Bos!" seru sipir lain bernama Jono.
"Jangan-jangan yang sedang mereka bicarakan adalah Ayah?"
Diam-diam Aku mencuri dengar setiap apa yang mereka ucapkan. Kedua sipir itu bahkan terkadang menjadikan subyek yang sedang dibicarakan sebagai bahan candaan. Mataku terbelalak ketika sebuah kalimat meluncur dari bibir Pak Edi.
"Istrinya baru beberapa hari lalu bunuh diri, kasian sekali. Demi uang, ia mengorbankan kebahagiaan anak istrinya," ujar lelaki itu.
Jantungku seakan berhenti berdetak, dan tanganku mengepal kuat. Rasanya Aku ingin berteriak detik itu juga, untuk mengatakan bahwa Ayah tidak seperti yang mereka pikirkan. Aku langsung beranjak dari bangku, ketika seorang petugas memanggil namaku.
Langkah kecilku mengekor di belakang petugas yang menunjukkan ruang kunjungan. Aku melihat dari balik sekat kaca, Ayah sedang mengulas senyum palsu di bibirnya. Mata Beliau terlihat sembab dan ujung bibirnya sedikit sobek.
"Apa Ayah baik-baik saja?" Mataku terus menatap wajah Ayah yang mulai menua.
"Ayah baik-baik saja. Kamu bagaimana? Sudah masuk sekolah?" tanya Ayah.
Kami berdua melepas rindu dengan saling melempar candaan dan tertawa ringan, berharap luka hati Kami berangsur membaik. Waktu seperempat jam rasanya jauh dari kata cukup untuk berbincang.
Sejak hari itu, Aku memutuskan untuk diam-diam mencari tahu mengenai kebenaran di balik pembunuhan Bu Kamila.
Dibantu oleh Pak Rudi, Aku menemukan fakta bahwa Ayahku memang sengaja menerima tawaran untuk menjadi tersangka. Berdasarkan informasi yang kudapat. Beliau menerima penawaran Bu Winda karena beliau butuh uang. Saat itu keluarga Kami sedang terlilit hutang, dan Nenek sakit keras.
Aku tak bisa melakukan apapun. Namun, rasa dendam untuk kesombongan keluarga Dirgantara sudah terpatri di hatiku. Aku bertekad untuk membalas perlakuan mereka suatu saat nanti.
Seakan takdir mendukungku untuk membalas dendam. Tanpa sengaja, Aku mengetahui bahwa Nova menikah dengan salah seorang putra dari Bu Winda. Kucoba menghubunginya untuk melihat celah di keluarga terpandang itu.
"Halo, Nova. Apa kabar?" tanyaku melalui sambungan telepon.
" ... "
"Aku Rico, lama tak bertemu sekarang sudah jadi orang kaya rupanya." Aku menggoda Nova sambil tersenyum kecut.
" ... "
Saat itu juga, Aku mendapatkan celah di keluarga kaya yang terlihat sempurna. Nova bilang harus rela dimadu jika ingin tetap berada dalam keluarga Dirgantara.
__ADS_1
Mendengar hal itu, membuat ide jahat muncul di kepalaku. Aku menawarkan bantuan untuk membantu Nova memisahkan Mahen dan Vika, madunya.
Tidak sampai disitu, aku terus membututi Vika untuk mendapatkan informasi penting yang berhubungan dengan keluarga Dirgantara.
Sampai suatu saat Nova mendatangiku, dan meminta suatu hal diluar dugaan. Siang itu, Aku diminta untuk menunggunya di sebuah kafe.
Setelah menunggu sepuluh menit, sosok cantik Nova masuk dalam balutan gaun seksi. Melihat pemandangan indah itu membuat jiwaku meronta-ronta. Namun, Aku berusaha menguburnya demi terus berada di sisi Nova. Selain untuk balas dendam, sejujurnya aku sangat menyayangi perempuan itu.
"Sudah lama menunggu?" Nova menarik kursi kemudian duduk di atasnya.
"Belum lama, kenapa?" Kulihat mata Nova sembab karena sisa tangis. Hatiku pedih setiap melihatnya mengalami hal buruk akibat sikap keluarga Dirgantara yang egois.
"Bisa hamili aku?" Tatapan Nova terlihat sangat serius.
"Apa yang Kamu bicarakan?" Mataku melotot, tidak percaya dengan apa yang sedang Aku dengar.
"Mama memintaku untuk bercerai dengan Mahen, jika aku tidak segera mengandung." Nova membenamkan wajah cantiknya ke dalam telapak tangan.
Melihat Nova menangis membuat hatiku teriris. Akhirnya Aku menyetujui permintaan konyol Nova. Kami akan bertemu seminggu tiga kali untuk melakukan hubungan terlarang itu.
Aku tak tahu apa yang dirasakan Nova ketika berhubungan denganku. Namun, sebagai laki-laki yang menyayanginya ... Aku sangat bahagia.
Hubungan terlarang Kami membuahkan hasil, Nova mengandung seorang bayi perempuan. Rasa iri kepada Mahen bergelayut di hatiku, seharusnya Aku yang menjadi suami siaga untuk Nova. Bukan Mahen.
Sebagai seorang Ayah, tentu saja Aku juga ingin bersama Maura. Rasa ingin memilikinya harus kupendam dalam hati. Akan tetapi, keinginanku itu terwujud ketika Maura mengalami kecelakaan.
Mahen meminta Nova membawa pergi Maura setelah mengetahui kebenarannya. Aku tahu hati Nova saat itu hancur. Namun, Diriku berjanji untuk membahagiakan Nova dan Maura. Bagaimanapun caranya.
~Rico POV End~
.
.
.
Bersambung ...
Terima kasih untuk pembaca yang masih setia dengan karya receh Saya.
Kami para author memiliki alur yang sudah dibuat sedemikian rupa. Sudah siap menyaksikan kisah manis Vika?
Mulai Bab selanjutnya Vika bakalan bahagia...
Tenang...
__ADS_1
Aku mencintai Kaliaaaannn♥️♥️♥️