Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Sebuah Lamaran


__ADS_3

Raja menggandeng Vika keluar dari butik. Otak Vika masih berusaha mencerna kejadian beberapa menit lalu. Kenapa ia merespon ciuman dari Raja?


"Dasar tak tahu malu!" batin Vika.


Vika menunduk, sambil berulang kali menggelengkan kepala secara cepat. Jika bisa, ia ingin sembunyi di lubang semut detik itu juga.


"Mau langsung pulang?" tanya Raja yang kini harus melepaskan gandengan tangannya.


Vika mengangguk perlahan. Pipinya kembali merona ketika menatap Raja walau hanya sekilas. Ia masuk ke mobil, disusul Raja yang kini berada di belakang kemudi.


Suasana canggung memenuhi mobil Raja. Vika berusaha mengalihkan pandangannya keluar jendela. Sedangkan Raja berulang kali melirik ke arah Vika. Ia takut perempuan itu marah karena sudah mencium tanpa ijin.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di rumah kontrakan Vika. Langit mulai berwarna jingga dengan gumpalan awan putih yang bergelayut manja pada dekapannya. Vika mulai melangkahkan kakinya keluar dari mobil, dan berhenti sejenak untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Kak, terima kasih sudah mau mengantar." Vika mencondongkan tubuhnya ke jendela mobil.


"Iya, sama-sama. Besok kujemput, ya?" Raja tersenyum.


"I-iya. Sampai jumpa besok, Kak." Vika melambaikan tangan, kemudian Raja mulai melajukan mobilnya.


Vika memasuki rumah dengan langkah ringan. Ia langsung membersihkan diri dan bersantai di depan laptop. Melihat drama Korea favorit ditemani kripik kentang dan jus melon.


"Udah, tembak aja! Tembak aja sekalian! Orang jahat sepertinya tidak pantas hidup!" teriak Vika ketika melihat salah satu adegan dalam drama.


Vika selalu heboh sendiri mengomentari sikap tokoh utama yang terkadang lemah. Terkadang tersenyum karena tingkah konyol lawan main si pria. Sampai akhirnya ada adegan ciuman yang mengingatkan peristiwa tadi sore. Vika mengusap bibirnya sendiri kemudian tersenyum. Sedetik kemudia ia menggelengkan kepala.


"Aduh! Apa yang aku pikirkan!" Vika menoyor sendiri kepalanya, "Dasar otak mesum!"


"Tapi kenapa Kak Raja menciumku? Apa dia ... menyukaiku?" gumam Vika.


Perempuan itu mengibaskan telapak tangannya di depan muka, berharap pikiran aneh tentang Raja terbawa oleh angin. Wajah Vika terasa seperti sedang terbakar. Ia mematikan laptop di depannya, enggan melanjutkan menonton drama.


.


.


.


Keesokan harinya Vika pulang terlambat. Ia sedang membalas surel yang masuk mengenai permintaan kemitraan dengan kedai Raja. Perempuan itu tetap bekerja untuk Raja, meskipun sudah memiliki usaha sendiri. Hal itu Vika lakukan karena menyukai dunia marketing, dan untuk menyibukkan diri.


Jemari Vika berhenti menari di atas laptop karena mendengar pintunya diketuk.


"Ya, masuk." Vika mengalihkan pandangan dari laptop.


Sosok tegap Mahen mulai memasuki ruangan Vika. Ia tetap membiarkan pintu terbuka lebar, agar mengetahui jika ada orang lain datang ke butik.


"Belum pulang?" Mahen mendudukkan pantatnya ke atas sofa.


"Belum, Kak. Sebentar lagi," jawab Vika sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Sorot mata Mahen kini menyiratkan keseriusan.


"Baiklah." Vika menutup laptopnya, kemudian berjalan ke arah Mahen.


"Ada ap, Kak? Sepertinya serius sekali," tanya Vika sambil duduk di samping Mahen.


Mahen terlihat mengambil oksigen secara rakus, kemudian menghembuskan perlahan. Bola matanya menatap lembut wajah cantik Vika. Ia menautkan jemari dengan badan condong ke arah Vika.


"Mengenai status pernikahan Kita. Aku ingin Kita kembali rujuk, dan memulai semuanya dari nol," pinta Mahen.


"Bukankah pernikahan kita sudah lama berakhir?" Vika menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak pernah menalakmu, Vik." Mahen tersenyum miring.


"Ta-tapi perjanjian itu?" tanya Vika sambil menyipitkan mata.


"Aku bahkan tidak pernah mengingat ada perjanjian itu. Vika ... Aku benar-benar mencintaimu, rasanya ada ruang kosong dalam hati tanpa Kau di sisiku."


Mahen bersimpuh di hadapan Vika, mengenggam jemarinya, kemudian dikecup perlahan. Lelaki itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak hitam, dan membukanya. Cincin bertahta berlian terlihat mewah ketika kotak itu dibuka.


"Menikahlah denganku, Aku berjanji akan menjadikanmu Ratu di hatiku." Mahen menyodorkan kotak itu di hadapan Vika.


Mendapatkan perlakuan Manis dari Mahen, mata Vika melebar dan jemarinya menutup bibir yang menganga lebar. Perlahan mata perempuan itu mengembun.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata telah menjadi saksi momen lamaran itu. Raja tak sanggup lagi melihat momen lamaran Mahen. Satu buket bunga daisy yang ia bawa, terhempas ke lantai. Layaknya perasaannya saat ini.


.


.


.


Di sebuah hotel ternama, sebuah resepsi pernikahan digelar secara mewah. Dekorasi bernuansa putih emas mendominasi ballroom. Langit-langitnya dihiasi dengan rangkaian bunga melati yang menjuntai.


Di ruang rias, Vika tengah menunggu mempelai prianya menjemput. Senyumnya terukir di bibir dengan lipstik berwarna merah muda, mekap natural tidak bisa menyembunyikan pipi Vika yang merona bahagia.


Tubuh ramping Vika dibalut oleh gaun dengan model rok ballgown, berkerah Sabrina, yang dihiasi empat ribu kristal. Kaki jenjangnya memakai sepatu round toe berwarna putih dengan hiasan mutiara.


Hati perempuan itu berdebar begitu kencang, berulang kali ia menarik napas dan menghembuskan perlahan. Kakinya bergerak cepat mengetuk lantai marmer di bawahnya. Deritan pintu ruang tunggu membuat Vika menoleh.


Nola berjalan ke arahnya sambil menggendong putri kecilnya. Matanya terbelalak melihat kecantikan Vika yang paripurna. Langkah ibu muda itu berhenti tepat di depan sang pengantin.


"Vik! Astaga! Kamu cantik sekali!" teriak Nola.


"Tolong jangan buat kepalaku semakin mengembang, Nola." Vika memutar bola matanya.


"Serius! Sejutarius, malah!" Mata Nola masih terbelalak.


"Aku gugup sekali, Nola." Vika menggigit bibirnya sembari meremas gaun.

__ADS_1


"Wajar, lihat saja nanti saat sudah berhadapan dengan belahan jiwamu. Semua perasaan gugup, khawatir, dan cemas akan lenyap berganti dengan hati yang berbunga-bunga." Nola tersenyum, matanya menerawang mengingat kembali momen pernikahannya dulu.


"Benarkah?"


Nola kini menggenggam jemari Vika sambil mengangguk mantap. Ia memeluk sahabatnya itu sekilas, kemudian tersenyum lebar.


"Aku berharap ini adalah awal dari kebahagiaanmu, Vik," ucap Nola.


"Terima kasih, Nola." Air mata Vika mulai berdesakan ingin keluar, ucapan Nola bagaikan embun pagi yang membasahi tanah tandus.


Tak lama pintu kembali terbuka. Seorang pria gagah dalam balutan tuksedo berwarna keemasan masuk menghampiri Vika. Senyum pria itu mengembang melihat mempelai wanitanya terlihat begitu cantik dan anggun.


"Sudah siap?" Lelaki itu mengulurkan tangannya.


Vika mengangguk mantap kemudian meraih tangannya. Keduanya melangkah keluar, dan mulai memasuki tempat resepsi digelar. Semua mata tertuju pada pasangan yang tengah berbahagia itu.


Langkah mereka terhenti ketika Mahen berdiri dari kursinya dan menghampiri Raja. Mata lelaki itu menatap tajam ke arahnya. Bibir Mahen mendekati telinga Raja.


Mahen berbisik, "Ingat pesanku ... jangan pernah membuat Vika menyesal karena lebih memilihmu."


"Aku tidak akan pernah membuat hal itu terjadi," ucap Raja sambil tersenyum.


Mahen memundurkan langkahnya, mengepalkan tangan, dan meninju pelan dada bidang Raja. Suami baru Vika itu tersenyum miring, kemudian menunduk.


"Selamat, ya, Brother." Mahen tersenyum sekilas.


"Terima kasih, Kak." Raja tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Aku harap Kamu selalu bahagia, Vik. Segera mengadu padaku, jika Adikku ini nakal. Aku akan menghajarnya!" seru Mahen, tangannya mengepal di depan wajah Raja.


Vika hanya mengangguk sembari tersenyum lembut. Kedua mempelai kembali berjalan menuju pelaminan. Bunga-bunga sedang bermekaran di dalam hati keduanya. Perjalanan cinta mereka baru saja dimulai. Keduanya berharap pernikahan mereka adalah awal yang baik.


.


.


.


Bersambung ...


Assalamualaikum semuaa...


Pasti ada yang bertanya-tanya, dilamar Mahen, kok nikahnya sama Raja, Thor? Terus, hubungan pernikahan Mahen dan Vika kan belum jelas


Nanti bakal author ceritakan di bab selanjutnya...


Tiga bab lagi selesai loh ...


Selanjutnya, Author mau lanjutin kisah Dinar dan Jihyuk di My Seoul: Love Is Sweet.

__ADS_1



Jangan lupa mampir ... ❤️❤️❤️


__ADS_2