Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Menemui Chen Diam-diam


__ADS_3

Mahen masih bergelut dengan pikirannya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Rasa bersalah terus menggerogoti hatinya. Kebodohannya di masa lalu membawa dampak yang teramat buruk bagi Vika dan putranya.


Butiran air hujan mulai turun membasahi jalanan beraspal. Mahen mulai menurunkan kecepatan mobil ketika memasuki kompleks perumahannya.


Selepas memasukkan mobilnya ke garasi, Mahen masuk ke rumah melalui pintu samping. Lampu ruang makan masih menyala. Sosok istri pertamanya tengah tidur dengan posisi terduduk, kepalanya bertumpu pada lengan yang dilipat.


Dulu pemandangan ini selalu menyambutnya sebelum Maura lahir. Baru kali ini ia melihatnya kembali. Mahen melangkah perlahan mendekati Nova. Ia menyelipkan helaian rambut perempuan itu ke belakang telinga. Tubuh Nova menggeliat, kemudian kesadarannya kembali.


"Baru pulang, Sayang?" tanya Nova sembari mengucek matanya untuk menghilangkan kantuk.


"Iya, kenala tidur disini?"


"Ah ... itu ... aku menunggumu pulang. Ponselmu tidak bisa dihubungi tadi."


"Maaf, baterai ponselku habis," ucap Mahen sembari melemparkan senyum menawannya.


"Jadi ... mau makan sekarang?"


"Boleh, tapi sedikit saja. Aku masih kenyang."


Nova mulai melayani suaminya itu. Dituangkannya nasi putih ke atas piring, diikuti dengan lauk pauk yang sudah dingin.


Malam itu mereka makan dalam keheningan. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


.


.


.


"Mulai hari ini, biarkan aku yang menjemput Chen," ucap Mahen.


"Tapi .... " Kalimat Raja menggantung karena ragu.


"Aku hanya ingin bersama dengan Chen sebentar saja. Beri kami waktu tiga puluh menit saja," pinta Mahen.


Raja terlihat berpikir, ia bertopang dagu sambil sesekali mengusap tempat jenggot tipisnya tumbuh. Keningnya terlihat berkerut.


"Baik, kita akan bertemu lagi disini setiap harinya tiga pulih menit usai jam pulang Chen," ucap Raja setelah berpikir berulang kali.


Bagi Raja sangat tidak adil rasanya apabila tidak mengijinkan Mahen bertemu dengan Chen. Tak lama kemudian, sosok lincah Vincent keluar dari sekolahannya.


Senyum bocah itu mengembang, deretan gigi susunya terlihat. Langkah kecilnya menapaki paving untuk menghampiri dua laki-laki dewasa yang ia kenal.


"Paman!" teriak Vincent.


"Chen, apa kabar?" sapa Mahen.


Vincent menatap sinis Mahen kemudian mengacuhkannya. Kini pandangannya tertuju pada Raja. Di mata Vincent, Raja adalah pahlawan dan lelaki dewasa panutan. Ia sering kali meniru gaya rambut Raja. Terkadang Vincent mengikuti cara bicara lelaki yang ia panggil paman itu.


"Ayo, kita pulang, Paman!" ajak Vincent.

__ADS_1


Melihat sikap putra kandungnya, hati Mahen terasa pedih. Sakit tapi tak berdarah. Vincent seakan tidak memiliki ikatan batin dengannya. Terlihat sekali bahwa bagi Vincent, dia hanyalah orang asing yang kebetulan beberapa kali bertemu.


Melihat raut muka Mahen yang suram, Raja mencoba mencairkan suasana. Lelaki itu berjongkok di depan Vincent, kemudian mengacak rambutnya asal.


"Ehm, jadi ... Paman Mahen sengaja kemari khusus menjemputmu, Chen," ucap Raja.


"Kenapa?"


"Karena, Paman Mahen ingin meminta bantuan kepadamu," bohong Raja.


Vincent yang paling tidak bisa mendengar kata 'tolong' akhirnya menoleh ke arah Mahen. Bocah kecil itu menghembuskan napas kasar. Kedua lengannya dilipat ke depan dada.


"Paman, mau minta tolong apa?" tanya Vincent sembari bersungut-sungut.


"Itu ... sebenarnya .... "


Melihat Mahen tengah kebingungan, akhirnya Raja membantunya untuk membuat alibi. Kini ia berdiri dan mulai angkat suara.


"Anak laki-laki Paman Mahen hilang beberapa tahun lalu," ucap Raja.


Kini pandangan Vincent beralih pada Raja. Bocah itu mencoba mencerna ucapan Raja.


"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Vincent.


"Ketika dia melihatmu, paman seperti melihat putranya yang hilang. Ia ingin selalu bersama Chen ketika pulang sekolah. Sebentar ... saja," jelas Raja.


"Jadi ... apa Chen mau menolong paman?" tanya Mahen.


Vincent terlihat berpikir, ia mengusap pelan dagunya dengan jari telunjuk. Beberapa saat kemudian, bocah lelaki itu memutar tubuhnya ke arah Mahen.


"Apa?" tanya Mahen.


"Belikan aku kebab ketika pulang," ucap Vincent.


"Ya? Kebab?"


Vincent mengangguk. Tentu saja Mahen segera menyetujui persyaratan bocah itu. Ia takut Vincen berubah pikiran. Mahen menempelkan jari telunjuk dan jempolnya sehingga membentuk tanda 'oke'.


Vincent melompat-lompat kegirangan layaknya kelinci, ketika permintaan kecilnya mendaoat persetujuan. Raja terkekeh melihat tingkah menggemaskan Vincent. Ia berusaha menahan tawa dan menyembunyikannya dibalik telapak tangan agar Vincent tidak tersinggung.


"Deal!" seru Vincent sembari menyodorkan tangannya sebagai tanda sepakat.


Saat ini rasanya sedang ada bunga bermekaran di hati Mahen. Secepat kilat lelaki itu menyambut uluran tangan Vincent. Digoyangkannya telapak tangan Vincent ke atas dan ke bawah.


.


.


.


"Jadi hari ini, Chen mau kemana?" tanya Mahen.

__ADS_1


"Chen mau ke toko buku. Chen bosan dengan buku cerita yang sudah dibaca mama ribuan kali," ucap Vincent.


"Oke! Mari kita pergi ke toko buku!" seru Mahen.


Dalam sepuluh menit, Tesla milik Mahen sudah terparkir di sebuah toko buku khusus anak-anak. Ketika melangkah ke dalam toko buku itu, matanya dimanjakan oleh dekorasi berbau anak-anak. Banyak karakter lucu seperti Donal Duck, Spongebob, Little Pony, dan kartun lain khas anak-anak.


Langkah kecil Vincent berjalan menuju sebuah rak setinggi satu meter berwarna biru tua. Di dakam rak itu tersusun rapi beraneka buku dongeng. Mahen membuntuti putra kecilnya dari belakang.


Vincent memegang dua buah buku. Buku bergambar kelinci yang sedang memeluk dahan pohon, dan satu lagi bergambar kancil dan kura-kura. Mahen berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Vincent.


"Chen, sering beli buku di sini?"


"Iya, Paman. Mama sering mengajakku datang kesini."


"Mau beli yang mana?" tanya Mahen.


"Itu ... apa aku boleh membeli keduanya?" tanya Vincent sembari mengedipkan matanya berulang kali.


Mahen tergelak melihat tingkah menggemaskan Vincent. Badannya bergetar menahan suara tawanya agar tidak pecah, perutnya seperti digelitik, dan sudut air matanya mulai basah.


Melihat Mahen menertawakannya, bibir Vincent merengut. Seketika tawa Mahen berhenti, ternyata putranya itu tidak suka ditertawakan di depan umum. Sungguh mirip dengannya.


Sebagai orang dewasa yang baik, Mahen merayu putranya. Ia tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya kepada Vincent. Ia mengacak-acak rambut tebal putranya itu.


"Chen, mau semuanya?" tanya Mahen.


Bocah itu masih cemberut, tetapi masih terus melirik kedua buku yang sudah diletakkannya asal di dalam rak.


"Baiklah, berikan pada, Papa!" celetuk Mahen.


"Papa? Paman bukan papaku! Kata mama, aku tidak punya papa. Aku hanya punya mama!" seru Vincent.


Mendengar penuturan putranya, jantung Mahen seakan diremas. Rasanya nyeri, sesaat ia merutuki ajaran sesat Vika. Bagaimana bisa perempuan itu mendoktrin anaknya seperti itu?


Mahen menghela napas, ia menangkup pipi gembul Vincent dengan kedua telapak tangannya. Kini pandangannya dan bocah lelaki itu bertemu.


"Dengarkan paman, setiap orang memiliki papa. Begitu juga Chen. Mengerti?"


.


.


.


Bersambung...


Semoga suka yaa ceritanya,


Terima kasih sudah setia membaca Second Wife,


Sembari menunggu upate bab, boleh ngintip ke karyaky yang lain yukkk...

__ADS_1



Bantu like yaaa, karena karya ini sedang dalam proses pengajuan kontrak๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2