Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Lahirnya Si Bayi Tampan


__ADS_3

Malam itu Vika tidak bisa tidur. Badannya seakan hampir copot satu per satu. Pinggangnya terasa pegal luar biasa, perasaannya gelisah, terkadang kaki dan perutnya terasa kram.


Ia berusaha memejamkan matanya tapi gagal. Akhirnya Vika memilih untuk bekerja dengan laptopnya. Ia membuat beberapa materi untuk promosi butik.


"Vik ... Vika .... "


Vika terbangun ketika merasa tubuhnya digoncangkan berulang kali. Ketika membuka mata, sebuah senyum tipis menyapanya. Vika menguap sambil mengucek matanya untuk memfokuskan pandangan.


"Jam berapa ini, Bu?" tanya Vika sembari mengumpulkan kesadarannya.


"Baru jam dua dinihari. Kok, Kamu tidur disini?"


"Tadi di kamar, Vika nggak bisa tidur. Giliran diajak kerja mata ngantuk," ucap Vika.


"Kenapa nggak bisa tidur, Vik?"


"Badan Vika rasanya capek banget, Bu. Tidur miring kanan, miring kiri, maupun terlentang tetap nggak nyaman," keluh Vika.


"Coba Vika berbaring dulu di lantai, setelah mulai nyaman baru pindah ke kasur," ucap Bu Lasmi memberikan saran.


Akhirnya Vika melakukan apa yang diberitahukan ibunya, dan benar saja. Vika tertidur dalam lima belas menit.


.


.


.


Dering ponsel membangunkan Vika pagi itu. Badannya mulai menggeliat, matanya perlahan terbuka. Setelah berhasil membangkitkan tubuhnya dari kasur, Vika meraih ponsel yang berada di meja riasnya.


Terdapat dua panggilan tak terjawab dari satu nomor tak dikenal. Vika terkejut ketika ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama dengan panggilan tak terjawab sebelumnya.


"Halo," sapa Vika.


"Halo, benar ini dengan Kak Vika?"


"Iya, benar."


"Ini saya, Nola. Yang beberapa waktu lalu dibantu oleh Kak Vika."


"Oh, apa kabar?" tanya Vika.


"Baik, Kak. Apa Kak Vika sudah menemukan desainer untuk butik? Kalau belum, bolehkah saya ikut bekerja dengan Kakak?"


Pembicaraan mereka berlanjut selama setengah jam. Vika menerima Nola dengan senang hati karena kebaya yang didesain olehnya sangat diminati pelanggan butik.


Setelah selesai berbincang dengan Nola, Vika keluar kamar. Aroma nasi goreng membuat calon bayinya tak bisa diam.

__ADS_1


"Hei, Junior. Apa kamu lapar?" ucap Vika sembari mengelus perut buncitnya.


Bayi dalam perut Vika merespon dengan menendang keras dinding rahimnya. Vika meringis dibuatnya.


"Makan dulu, Vik. Nanti ibu ke butik duluan ya? Vika istirahat saja di rumah, kalau ada apa-apa telepon saja," pesan Bu Lasmi.


"Iya, Bu." Vika langsung melahap habis sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi.


Hari itu terasa lama bagi Vika, seharian ia hanya rebahan sembari mengecek surel masuk dari ponselnya. Beberapa pesan WhatsApp juga masuk. Ada yang baru bertanya harga lalu menghilang tanpa kabar, sebagian ada calon pelanggan yang banyak maunya, dan ada juga yang menawar dengan harga yang sangat sadis. Tetapi beberapa orang langsung meminta dikirim foto produk dan detailnya kemudian notifikasi bank masuk menggetarkan rekening Vika.


"Wah, aku suka yang begini," ucap Vika sambil terkekeh ketika notifikasi mobile banking menyapanya.


Ketika hendak mengambil buah untuk camilan, Vika terkejut bukan main. Air bening mengalir keluar dari jalan lahir.


"Apa ini? Apa aku ngompol?"


Sesekali perut Vika terasa kencang dan sakit. Karena panik akhirnya Vika menelepon ibunya.


"Bu, pulang sebentar ya. Perut Vika sakit dan Vika mengompol," pinta Vika kepada ibunya.


"Loh, ngompol? Tunggu sebentar! Ibu pulang sekarang," ujar Bu Lasmi.


Hanya memerlukan waktu lima menit untuk sampai rumah. Bu Lasmi mendapati Vika yang sedang meringis menahan sakit. Di bawah kursi tempatnya duduk ada sedikit genangan air.


"Vika! Sepertinya Kamu mau melahirkan!" seru Bu Lasmi.


Seakan mengetahui situasi genting di rumah Vika, tiba-tiba Raja sudah datang dengan mobilnya. Ia langsung masuk karena mendapati pintu terbuka lebar.


"Vik, Raja datang. Kamu tadi menghubunginya?"


Vika hanya menggeleng. Mulutnya sudah tidak mampu lagi mengatakan hal selain berdesis dan mengaduh.


"Kenapa, Bu?"


"Ini, Vika sepertinya akan melahirkan," ucap Bu Lasmi.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit!" Raja.


Raja mendekati Vika, kemudian bersimpuh di depannya.


"Masih kuat berjalan?"


Lagi-lagi Vika hanya menggeleng. Raja langsung membopong Vika sampai ke mobil. Bu Lasmi mengekor di belakang Raja sembari menenteng sebuah tas.


Sepanjang perjalanan Bu Lasmi mengusap puncak kepala Vika sembari memberi semangat. Vika terus berdesis dan mulai menitikkan air mata. Sedangkan Raja sebisa mungkin menyetir secepat yang ia bisa. Mendengar rintihan Vika membuat lelaki itu merasa iba.


Setibanya di rumah sakit, Vika langsung di bawa ke ruangan bersalin. Peluh bercucuran membasahi dahi Vika. Sang ibu dengan sabar menemaninya sambil terus memberi semangat.

__ADS_1


"Vika bisa! Bayangin sebentar lagi ketemu sama anakmu, sebentar lagi Vika denger tangisannya, dan bisa peluk juga cium-cium bayimu," ucap Bu Lasmi berulang kali.


Mendengar sugesti dari ibunya, Vika mencoba tetap semangat. Rasa sakitnya kian bertambah ketika dokter memberikan suntikan induksi. Bayi harus segera dilahirkan karena air ketuban semakin berkurang.


Kesakitan yang dirasakan Vika hampir 12 jam akhirnya berbuah manis. Terdengar suara tangis bayi memenuhi ruang persalinan. Perasaan haru dan lega mendominasi hati Vika dan Bu Lasmi. Malaikat yang mereka tunggu akhirnya lahir.


Tapi dalam satu hari Tuhan memberikan takdir yang mengejutkan. Dibalik kelahiran membahagiakan, sang dokter juga menyematkan sebuah kabar buruk untuk Vika dan keluarganya.


"Sebelumnya selamat atas kelahiran cucu, Ibu," ucap sang dokter kepada Bu Lasmi.


"Terima kasih, Dok," sahut Bu Lasmi.


"Tapi .... "


Kalimat menggantung sang dokter membuat Bu Lasmi berdebar. Firasat buruk menghinggapi hatinya. Terlihat helaan napas berat dari sang dokter. Ia membenarkan letak kacamatanya yang merosot.


"Cucu Ibu memiliki sebuah kondisi dimana terdapat banyak kista dalam ginjalnya. Kami menyebutnya PKD atau Penyakit Ginjal Polikistik," jelas sang dokter.


Walaupun belum mengetahui apa itu secara jelas. Melihat ekspresi dokter dihadapannya itu, Bu Lasmi bisa menebak bahwa penyakit itu bukan penyakit yang mudah ditangani. Apalagi terdapat embel-embel kista disana.


"La-lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?" tanya Bu Lasmi.


"Untuk menangani penyakit ini, cucu Anda harus menjalani dialisis ginjal seumur hidup atau menjalani transplantasi ginjal," terang sang dokter.


Bu Lasmi keluar dari ruang konsultasi dokter dengan tubuh lunglai. Ia tak sanggup lagi membendung air matanya. Melihat Bu Lasmi yang terisak, Raja mendekatinya.


"Ibu, kenapa?"


"Bagaimana ini?" ucap Bu Lasmi sembari terus terisak.


Akhirnya, Bu Lasmi menceritakan ulang apa yang baru saja dokter jelaskan. Raja mendengarkan dengan seksama. Setelah mendengar penjelasan Bu Lasmi, entah mengapa hati Raja ikut patah.


Lelaki itu bisa merasakan kesedihan yang dialami Bu Lasmi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Vika nantinya.


"Nanti biar aku yang menyampaikan berita ini pada Vika, Bu. Tunggu kondisinya stabil terlebih dulu."


"Terima kasih, Raja. Ibu tidak sanggup jika harus menyampaikan ini pada Vika. Aku tahu dia perempuan yang kuat. Tapi cobaan ini terasa begitu berat. Mudah-mudahan Vika bisa menerima semuanya ini secara lapang dada." Bu Lasmi menyeka air matanya yang sama sekali tak mau berhenti mengalir.


Tembok dingin koridor rumah sakit itu menjadi saksi bisu bagaimana perasaannya saat ini. Tapi perempuan paruh baya itu berusaha kuat demi putri dan cucunya. Ia yakin Tuhan sedang menyiapkan rencana terindah untuk putrinya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2