
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Besok lusa Vika akan berangkat ke New York. Beberapa hari ini Mahen selalu pulang lebih awal. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama si kecil Vincent.
Pagi itu, Mahen berencana mengajak Vincent ke kebun binatang. Vika sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
"Ayo, Boy!" seru Mahen sembari menggendong Vincent.
Dua lelaki beda usia itu terlihat begitu riang. Melihat keakraban ayah dan anak itu, membuat Vika tidak tega untuk memisahkan keduanya. Namun, ia juga harus tetap menjaga hatinya. Perempuan itu tidak mau terus tersakiti jika terus berada di dekat keluarga Dirgantara.
"Disini senang, disana senang .... "
Vika terus menyanyi sepanjang perjalanan, agar putranya tidak bosan. Jika dikumpulkan, mungkin lagu yang dinyanyikan Vika bisa menjadi dua full album. Mahen sesekali melirik ke arah Vika dan Vincent sembari tersenyum. Ketika hampir sampai kebun binatang, Vincent malah tertidur.
"Yahh, kok malah tidur?" gerutu Vika.
"Mungkin dia lelah," ucap Mahen.
"Iya, sepertinya begitu," kata Vika sambil mengusap rambut tebal putranya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya mereka sampai kebun binatang. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di mobil sembari menunggu Vincen bangun.
"Mengenai penyakit Vincent .... "
"Dia mengalami kelainan pada ginjalnya," potong Vika.
"Apa?"
"Ada beberapa kista dalam ginjalnya, penyakit bawaan sejak lahir. Kata dokter, dia harus melakukan dialisis seumur hidup," jelas Vika kemudian mengecup puncak kepala puteranya.
Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokan Mahen. Perasaannya campur aduk. Diliriknya Vika yang masih menghujani Vincent dengan ciuman.
"Apa ... tidak ada cara lain untuk sembuh?"
Vika menatap Mahen, kemudian menggeleng. Matanya sedikit berembun mengingat kembali perkataan dokter beberapa bulan lalu.
"Sebenarnya bisa. Tapi, aku tidak yakin keluargamu bersedia melakukannya," ucap Vika.
"Kenapa keluargaku?"
"Karena Vincent harus melakukan prosedur transplantasi ginjal. Dokter bilang, biasanya ginjal akan cocok jika pendonornya memiliki hubungan darah yang dekat dengan resipien," jelas Vika.
"Apa harus segera dilakukan?"
"Tidak. Tapi mengingat setiap dua bulan Vincent harus melakukan dialisis, rasanya aku tidak tega."
Mata Vika kini mulai mengembun. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.
"Tunggu sebentar lagi. Setelah hasil tes keluar, kita akan melakukan transplantasi untuk Vincent," ucap Mahen.
"Apa Kakak lupa atau pura-pura lupa?" kata Vika sambil tersenyum kecut.
"Kami besok lusa akan pergi ke New York," imbuh Vika.
Entah mengapa perasaan gelisah memenuhi pikiran Mahen. Mereka berdua kembali diam dan bergelit dengan pikirannya masing-masing.
"Ma .... " Tubuh mungil di pangkuan Vika itu mulai menggeliat.
"Hai, Vincent. Sudah bangun?"
__ADS_1
Bayi mungil itu tersenyum menanggapi Vika. Kemudian ia menoleh ke arah Mahen, sembari mengangkat tangan minta digendong.
"Hei, Boy! Mau digendong? Kemarilah." Mahen mengambil alih Vincent dari pelukan Vika.
.
.
.
Berulang kali Vincent tunjuk sana sini karena begitu tertarik dengan binatang yang ada. Ini adalah momen liburan pertama bagi Vincent. Selama ini Vika terlalu sibuk dengan urusan butik, jadi begitu jarang mengajak putranya liburan.
Vincent sampai bertepuk tangan ketika bisa menyentuh langsung jerapah. Bahkan ketika melihat unta, bayi tampan itu merengek untuk diperbolehkan naik. Vika beberapa kali mengambil potret kebersamaan Vincent dan Mahen.
"Aku ke toilet sebentar," pamit Mahen.
"Ya, Kak. Yuk, Vincent ikut Mama," ucap Vika.
Namun, Vincent menggeleng ketika Vika mengangkat tangannya. Pelukannya pada leher Mahen bahkan semakin kuat. Senyuman Vika seketika pudar melihat tingkah Vincent. Melihat ekspresi Vika, Mahen terkekeh.
"Biar Vincent ikut, sebenar kok!" ujar Mahen.
"Tenanglah, aku tidak akan menculiknya. Atau Kamu mau ikut ke toilet?" tanya Mahen.
Vika menggeleng dengan cepat. Setelah mendapatkan persetujuan dari Vika, Mahen langsung bergegas ke toilet.
Sembari menunggu Mahen dan Vincent, Vika membuka kembali galeri foto pada ponselnya. Ia melihat lagi foto-foto yang tadi diambilnya. Ia menggesee berulang kali sampai foto terakhir.
"Benar-benar putra Mahen! Lihat ini! Dilihat dari sisi manapun dia begitu mirip dengan papanya. Sungguh tidak adil!" gerutu Vika.
"Dia memang anakku!" seru Mahen.
"Kenapa ekspresi mukamu begitu? Haha," ucap Mahen sambil terkekeh.
"Kak Mahen!" teriak Vika sambil memukul Mahen.
"Aduh! Sakit, Bu! Ampun!"
Hari itu terasa begitu menyenangkan. Tanpa sadar Vika berharap bisa terus seperti itu. Namun, ia tidak mau berharap banyak. Mungkin saja keluarga Dirgantara bisa menerima Vincent. Tapi untuk menerimanya? Vika tidak yakin.
"Mau makan dimana?" tanya Mahen sambil terus fokus pada jalanan yang mulai padat merayap.
"Terserah Kak Mahen," ucap Vika datar.
"Waduh, terserah?"
Seketika perasaan Mahen tak enak. Lelaki itu langsung teringat Nova. Jika kata 'terserah' sudah meluncur dari mulutnya, bisa dipastikan apa yang Mahen lakukan pasti akan salah.
"Jangan terserah, dong!" seru Mahen.
"Kak, aku pemakan segala. Jadi, tidak terlalu repot ketika mengajakku untuk mengisi perut!" ujar Vika.
"Oke!"
Akhirnya Mahen memutuskan untuk membawa Vika ke restoran Jepang favoritnya. Mereka memilih untuk duduk di dekat jendela. Vincent sudah terlelap kembali.
Seorang pelayan mendatangi meja mereka dan menyodorkan daftar menu. Vika memilih chicken set teppanyaki, sedangkan Mahen memilih beef set teppanyaki. Kedua manusia itu benar-benar bertolak belakang, tetapi sebenarnya mereka saling melengkapi.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang mengenai kehidupan setelah berpisah.
"Jadi, dulu Kau memiliki butik?"
"Iya. Hanya dalam hitungan bulan butikku omzetku melesat. Namun, dalam hitungan Minggu juga menukik tajam. Kolaps, kemudian bangkrut."
"Kenapa?"
"Ada seseorang yang tidak menyukaiku. Ia menggunakan berbagai cara licik untuk menjatuhkan usahaku," ucap Vika.
"Persaingan tidak sehat. Tenanglah, hukum karma masih berlaku," kata Mahen.
"Haha, iya Tuan." Vika terkekeh mendengar Mahen yang mendadak bijak.
"Lalu bagaimana hubungan Kalian?"
Mahen terlihat ragu ketika hendak menjawab. Ia malu jika harus mengakui bahwa sebenarnya tidak bisa melupakan Vika. Tapi gengsi Mahen terlalu tinggi. Lelaki itu sebisa mungkin mengontrol kebahagiaannya ketika bersama Vika agar tidak meluap.
"Itu .... "
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 18:07 ketika Vika memasuki rumah Mahen. Tiba-tiba Bu Lasmi menghampiri Mahen dan Vika. Wajahnya terlihat panik.
"Gawat!"
"Kenapa, Bu?" tanya Vika.
"Istri pertama Mahen akan datang malam ini. Barusan Pak Theo menelepon," ucap Bu Lasmi.
"Apa! Dia bilang baru akan pulang beberapa hari lagi!" ucap Mahen.
Saat itu Vika terlihat tenang. Ia sedang menguji Mahen, apa lelaki itu akan tetap memintanya pergi dari rumah seperti perjanjian awal atau tidak.
"Bagaimana ini, Vik?" tanya Bu Lasmi.
"Jangan tanyakan padaku, Bu." Vika memandang Mahen dengan tatapan tajam.
"Aku minta maaf, tapi sepertinya kalian harus pergi sekarang," ucap Mahen sedikit ragu.
"Baiklah, aku pergi sekarang juga," kata Vika datar.
Kemudian Vika berjalan ke arah kamarnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, ibu muda itu berhenti.
"Aku sudah memutuskannya, setelah ini Kak Mahen jangan menyesal. Aku tidak akan pernah menampakkan diri setelah hari ini. Aku harap Kakak juga melupakan Vincent."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
* Jangan lupa terus dukung author dengan meninggalkan komen, like dan Votenya yaa ... Terima kasih. 😘