Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Tes DNA


__ADS_3

Keesokan harinya, Vika memutuskan untuk mengajak Vincent berjalan-jalan ke taman sekitar komplek. Putra tampan Vika itu terlihat begitu ceria ketika sampai taman.


"Mama ... tu ..., " ucap Vincen sembari menunjuk ke arah penjual balon.


"Vincen mau balon?" tanya Vika.


Bayi itu mengangguk antusias. Melihat putranya begitu menginginkan balon itu, Vika akhirnya membelinya. Setelah bosan bermain balon, Vincent merengek. Bayi itu berulang kali mengucek matanya karena mengantuk.


"Anak mama mau tidur? Yuk, kita pulang!"


Vika akhirnya menggendong tubuh mungil Vincent. Sepanjang perjalanan pulang Vika terus bersenandung. Ia berharap saat sampai di rumah, Vincent sudah terlelap.


Setibanya di depan rumah, Vika dikejutkan oleh keberadaan mobil Bu Winda. Tesla berwarna perak itu sudah terparkir di halaman rumah Mahen. Perasaan gugup merasuki hati Vika. Ia berulang kali menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.


Begitu perasaannya lebih tenang, Vika mulai melangkah masuk. Diputarnya tuas pintu perlahan. Setelah pintu terbuka, Bu Winda dan Pak Theo menoleh ke arahnya. Sang ibu juga ikut duduk bersama kedua mantan mertuanya itu.


"Siang, Pa, Ma," sapa Vika setenang mungkin.


"Siang, Vik. Apa kabar?" Pak Theo tersenyum ramah menanggapi sapaan Vika.


"Baik, Pa. Sudah lama?"


"Baru saja, kemarilah. Kami ingin bicara," ucap Pak Theo sembari menepuk sofa kosong di sampingnya.


"Vika bawa Vincent dulu ke kamar. Permisi," ucap Vika.


Usai membaringkan Vincen di kamarnya, Vika bergegas menemui Pak Theo dan Bu Winda. Wajah ketiga orang tua itu terlihat tegang.


"Aku tidak suka basa-basi. Jangan berusaha menipu Kami dengan membawa anak yang asal-usulnya tidak jelas itu!" seru Bu Winda.


"Maksud Mama?"


"Ma, tenanglah. Kita bisa bicarakan baik-baik." Pak Theo berusaha menenangkan istrinya.


"Begini, Kami berniat melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah Vincent putra Mahen atau bukan," jelas Pak Theo.


"Boleh, jika diperlukan," ucap Vika datar.


"Jika hasil dari tes ini negatif, Kamu harus segera enyah dari keluarga Dirgantara!" seru Bu Winda.


"Sebenarnya Vika tidak peduli dengan hasil tes itu, Ma. Setelah ini Vika berencana pindah ke New York."


"Ke-kenapa?" tanya Pak Theo.


"Vika tidak ingin semakin terluka jika tetap tinggal di negara ini," ucap Vika.


"Pergilah! Jika ternyata hasilnya positif, tinggalkan Vincent disini!" seru Bu Winda.


Seakan tersambar petir di hari yang cerah, Vika langsung terperanjat. Ia tak menyangka umpan yang ia lemparkan, justru menariknya dalam sebuah masalah yang lebih rumit. Kepalanya mendadak berputar.


"Jika hasilnya negatif, aku akan melaporkanmu karena telah melakukan penipuan!" seru Bu Winda dengan nada dingin.


"Apa ini! Tolong Anda jangan menyiksa putri saya dengan kekonyolan ini!" teriak Bu Lasmi.

__ADS_1


"Jika hasilnya positif, aku akan tetap membawa Vincent pergi! Aku tidak rela putraku diasuh oleh orang seperti Mama!" tegas Vika.


"Dulu ketika aku hamil, Kalian mengusirku tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun. Padahal detik itu juga kita bisa melakukan tes DNA. Namun, apa ini? Aku tidak mau mengikuti aturan konyol Mama lagi!" teriak Vika.


"Ma, Vika benar. Tolong jangan keterlaluan!" tegas Pak Theo.


"Kalian tidak mengerti perasaanku!" seru Bu Winda.


Perempuan paruh baya itu kemudian meninggalkan rumah dalam keadaan dongkol. Pak Theo menenangkan Vika terlebih dahulu sebelum menyusul istrinya yang keras kepala itu.


"Masalah mama, biar papa yang urus. Tenanglah, jika mamamu mengajukan gugatan hak asuh kepada pengadilan pasti Kamu yang tetap menang," ucap Pak Theo kemudian menyusul Bu Winda.


.


.


.


Keesokan harinya, Vika menyerahkan sampel rambut Vincent kepada Mahen. Lelaki yang pernah menikahinya itu hanya diam ketika menerima helaian rambut Vincent.


"Kenapa diam? Apa Kakak takut jika Vincent ternyata puteramu atau sebaliknya?" tanya Vika.


"Tolong ijinkan aku menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Vincent," pinta Mahen.


"Kenapa aku harus melakukannya?" ucap Vika sinis.


"Raja bilang kalian akan berangkat pekan depan," kata Mahen.


"Aku tidak peduli dengan hasil tes nantinya. Hanya saja ... kurasa ... Aku sudah terlanjur menyayangi Vincent," ucap Mahen lesu.


Mendengar ucapan Mahen, ada perasaan haru menyelinap ke dalam hati Vika. Perempuan itu berusaha menguatkan hatinya agar tidak berubah pikiran.


"Baiklah jika itu maumu," ucap Vika.


Perempuan itu kemudian meninggalkan Mahen yang masih terduduk di ruang tengah. Mahen menatap nanar helaian rambut Vincent yang sudah terbungkus rapi oleh plastik bening.


.


.


.


"Jadi, berapa lama hasilnya akan keluar?" tanya Mahen kepada seorang petugas laboratorium.


"Paling cepat dua minggu, dan paling lambat empat minggu."


"Baik, terima kasih."


Usai menyerahkan sampel rambut, Mahen bergegas untuk pulang ke rumah. Ia sudah tak sabar menghabiskan waktu sampai pekan depan. Beruntungnya lagi, Nova langsung pergi ke Paris selama beberapa minggu setelah pekerjaannya selesai.


Keramaian ibukota tak membuat semangat Mahen surut untuk segera pulang. Seumur hidup, baru kali ini ia ingin segera pulang ke rumah. Biasanya setelah urusan pekerjaan selesai, lelaki itu akan pergi hangout bersama teman kuliahnya dulu.


Sesampainya di rumah, Mahen dibuat panik karena kondisi rumah begitu sunyi. Ia mencari keberadaan Vika dan Vincent di setiap sudut rumah. Karena tidak menemukan keberadaan mereka, Mahen mencoba menelepon Vika.

__ADS_1


Kepanikannya bertambah ketika nomor ponsel Vika tidak bisa dihubungi. Hanya ada sapaan dari operator seluler yang bersuara merdu. Ia tidak tahu kemana harus mencari Vika dan Vincent.


Mahen hanya bisa menunggu hari itu. Berharap Vika pulang ke rumahnya. Seharian ia dibuat senewen karena keberadaan Vika yang entah dimana. Di saat pikirannya kacau, lelaki itu pasti lebih memilih tidur.


Mahen merebahkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu. Kemudian ia memakai headphone dan memainkan lagu favoritnya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Mahen berpindah ke alam mimpi.


Mata Mahen terbuka ketika merasa mukanya basah. Di hadapannya kini terpampang wajah lucu Vincent yang tengah memamerkan empat giginya yang baru tumbuh. Dihirupnya dalam aroma khas bayi yang menempel di badan Vincent.


"Hai, Boy! Darimana?" tanya Mahen meskipun ia tak akan mendapatkan jawaban dari bibir mungil Vincent.


Vincent hanya tersenyum menanggapi ucapan Mahen. Bayi sepuluh bulan itu mengangkat tangannya ingin digendong. Mahen langsung mengangkat tubuh Vincent layaknya pesawat terbang.


Mendengar Vincent tertawa lepas, Vika menghampiri puteranya itu. Ia membawa semangkuk nasi tim untuk Vincent.


"Ayo kita makan dulu, Sayang," ucap Vika.


Kini tubuh Vincent telah berpindah di pangkuan Vika. Bayi itu terlihat antusias dengan makanan yang dibawa sang ibu.


"Darimana?" tanya Mahen.


"Rumah sakit," Vika menjawabnya dengan singkat.


"Siapa yang sakit?"


"Vincent."


"Apa kau berbohong?"


Detik itu juga Vika melayangkan tatapan tajam ke arah Mahen. Mahen yang merasa tak bersalah hanya menggerakkan mulutnya membentuk kata 'apa'.


"Aku serius, Vincent sedang sakit. Sejak lahir ia memiliki kelainan pada ginjalnya," ucap Vika.


Hati Mahen bergetar. Ia tak menyangka bayi yang terlihat tumbuh sehat itu, ternyata sedang sakit. Dipandanginya wajah tanpa dosa Vincent. Entah mengapa bayi itu terlihat begitu kuat. Selama tinggal di rumahnya sama sekali tidak pernah menangis layaknya bayi yang sedang sakit.


.


.


.


Bersambung...


___________________________


Assalamualaikum teman-teman...


Terima kasih yaa sudah setia membaca Second Wife. Kali ini Chika mau merekomendasikan sebuah Novel karya teman sesama Author. Jangan lupa mampir yaa...😘😘😘



Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, dan komennya yaaa untuk mendukung Author.


Sayang Kaliaaannn ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2