Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Ranjang yang Kembali Dingin


__ADS_3

~Nova POV~


Malam itu, Nova sudah berdandan cantik untuk menyambut kedatangan Mahen. Maura yang sudah tidur lepas Isya membuat Nova semakin leluasa untuk berlama-lama berhias di depan cermin.


Ia mengoleskan krim malam pada kulit putihnya. Untuk mempertegas alis, perempuan itu menggunakan bubuk pewarna khusus alis. Tak lupa Nova membuat garis tipis yang natural menggunakan pen eyeliner. Terakhir ia mengoleskan lisptik berwarna merah menantang kesukaan Mahen.


Setelah menyelesaikan riasannya, Nova menggunakan seragam kebanggaan favoritnya. Lingerie seksi berbahan sutra terbaik dengan potongan minimalis. Ada sedikit renda di bagian dada untuk mempermanis seragam tempurnya itu.


Ketika ia mendengar pintu penghubung garasi dan dapur yang berderit, Nova langsung turun untuk menyambut pujaan hatinya. Senyum lebar menghiasi bibir tipisnya. Perempuan itu menuruni anak tangga dengan perasaan riang.


Begitu sampai dihadapan suaminya, Nova langsung melompat ke arah Mahen. Ibu Maura itu mengalungkan lengannya ke leher Mahen, dan melingkarkan kaki jenjangnya ke pinggang suaminya itu.


Seulas senyum menawan Mahen terbit, ia mengecup bibir istri pertamanya itu sekilas sebagai makanan pembuka.


"Maura sudah tidur?" tanya Mahen.


"Sudah, Sayang," jawab Nova dengan nada manja.


Mahen tersenyum penuh arti, kemudian mencecap bibir Nova penuh gairah. Anak tangga bukan menjadi penghalang. Begitu sampai di kamar, Mahen merebahkan tubuh ramping Nova ke atas ranjang.


Lelaki itu mulai menindih istri sahnya itu tanpa melepaskan tautan bibirnya. Nova melepaskan saru per satu kancing kemeja Mahen dengan lihai. Begitu semua terbuka, ia melemparkan asal kemeja Mahen. Jemari nakal Nova mengusap lembut dada bidang suaminya.


Ketika hendak menyantap jamuan makan malamnya, tiba-tiba Mahen kehilangan selera. Lelaki itu berhenti menyentuh istrinya kemudian menggulingkan tubuhnya di samping Nova.


"Sayang, kenapa?" tanya Nova.


"Mendadak kepalaku pening," ucap Mahen.


"Pasti ada yang salah! Ini bukan pertama kalinya Kamu menolakku!" seru Nova.


"Maaf, tapi aku benar-benar lelah," ucap Mahen kemudian mengecup kening istrinya.


Karena kesal, Nova turun dari ranjang kemudian memakai kimono untuk luaran. Perempuan itu menuruni anak tangga dengan menghentakkan kaki kuat-kuat.


Nova membuka lemari pendingin, kemudian meraih sebotol air mineral. Diteguknya air itu hingga menyisakan setengah bagian. Perempuan itu merogoh saku kimononya untuk mendapatkan ponselnya. Setelah benda pipih itu berada dalam genggamannya, ia menelepon seseorang.


"Tolong ikuti Mahen kemanapun ia pergi!"


" ... "


~Nova POV END~


Pagi itu Vika mengantarkan Vincent seperti biasa. Karena malas kembali ke apartemen, ia memutuskan untuk membawa pekerjaannya ke salah satu toko desert favoritnya.


Vika memesan cheese cake, dan segelas Thai Tea. Ia mulai membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah mulai menumpuk.


Sesekali ia tersenyum penuh arti ketika membalas pesan dari Mahen. Perempuan itu hampir saja meloncat kegirangan, ketika mendapati ponselnya bergetar karena Mahen menelepon. Setelah mengatur ritme napasnya, Vika mengangkat telepon dari Mahen.


"Halo .... "


" ... "


"Sedang ada di Almond's Cake,"

__ADS_1


" ... "


"Oh, iya. Ya sudah."


Vika memutuskan sambungan telepon. Perempuan itu harus menelan kekecewaan. Mahen besok tidak bisa menemuinya karena harus kembali ke Surabaya. Ia mendengus kesal, kemudian menyeruput minumannya hingga tandas.


"Tidak usah muncul sekalian, jika tak bisa menepati janji!" gerutu Vika.


"Jadi ... bagaimana? Aku pulang lagi?"


"Iya! Pulang saja sana!" teriak Vika.


"Tunggu!" Mata Vika terbelalak setelah menyadari suara Mahen yang ada dipikirannya terdengar begitu nyata menyapa telinga.


Ketika menoleh, wajah tampan Mahen sudah ada di depan hidungnya sambil tersenyum lebar. Vika mengerjapkan matanya berulang kali karena masih menyangka ia sedang berhalusinasi.


"Lihat! Bahkan sekarang aku tengah melihat bayangannya di depan mata! Sepertinya aku mulai gila!" seru Vika.


Sedetik kemudian sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Vika. Sontak Vika tersadar bahwa apa yang didengar dan dilihatnya adalah nyata. Bukan sekedar halusinasi.


"Kak Mahen? Sejak kapan di sini?" kata Vika.


"Dari tadi, bahkan sebelum Kamu datang," ungkap Mahen.


Kemudian Mahen menarik kursi di depannya dan mendudukinya. Lelaki itu menyadarkan punggungnya pada benda yang terbuat dari kayu itu.


"Ada kepentingan apa Kakak di sini?" tanya Vika.


Kedua anak manusia itu kini tengah mengobrol seru. Sesekali tawa mereka pecah. Sampai akhirnya berhenti karena Mahen harus menemui kliennya.


"Aku ke meja seberang dulu, ya? Sebentar lagi klienku datang," pamit Mahen.


"Iya, Kak. Semoga lancar, ya!" seru Vika.


Begitu Mahen meninggalkan mejanya, Vika kembali tenggelam dengan ratusan surel yang masuk. Jemari lentiknya mulai berlarian di atas laptop.


Vika menyedot minumannya, lalu melirik arloji yang melingkar indah di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Hampir saja Vika tersedak karena terkejut.


"Astaga! Aku sudah terlambat!" seru Vika.


Perempuan itu menengok meja tempat Mahen berada, tapi sudah kosong. Vika bergegas memasukkan laptopnya, kemudian langsung keluar dari tempat dengan aroma manis itu.


Lima belas menit kemudian ...


Vika kembali panik karena tidak melihat sosok putranya di tempat biasa ia menunggu. Perempuan itu mencoba menghubungi Mahen.


"Kak ... apa Kakak menjemput Chen?"


" ... "


"D-dia sudah tidak ada di sekolahan," ucap Vika panik.


" ... "

__ADS_1


"Baik, aku akan meneleponnya," ucap Vika kemudian mematikan sambungan telepon.


Perempuan cantik itu kembali menempelkan ponselnya ke telinga. Setelah tersambung ia kembali bicara dengan nada yang mulai bergetar.


"Nola, Chen ada denganmu? Apa tadi Kamu menjemputnya?" tanya Vika panik.


" ... "


"Dia sudah tidak ada di sekolahan," ucap Vika gemetar sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.


" ... "


Mata Vika kini mulai memerah, ia berusaha tetap berpikir positif. Setelah mengatur napasnya agar tenang, Vika turun dari mobilnya. Ia menghampiri Pak Dodi, satpam sekolah putranya.


"Pe-permisi, Pak. Saya ibu dari Vincent Aditama. Apa Bapak siapa yang sudah menjemput Chen ?" tanya Vika.


"Oh, tadi dia langsung keluar dari gerbang. Jadi, saya tidak tahu pasti Chen dijemput siapa," ungkap Pak Dodi.


Jantung Vika rasanya hampir copot mendengar penuturan Pak Dodi. Kini matanya memerah karena menahan tangis. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.


"Biak, Pak. Terima kasih," ucap Vika kemudian segera keluar dari lingkungan sekolah itu.


Vika kembali ke dalam mobil, kemudian menumpahkan air matanya. Ia kalut, tidak tahu harus berbuat apa. Melapor polisi pun belum bisa. Pasti mereka hanya akan memberi saran agar mencari di lingkungan sekitar.


Vika kini menunduk, menempelkan dahinya di atas setir mobil. Air mata perempuan itu mulai bercucuran. Dadanya terasa sesak.


Sampai akhirnya, sebuah panggilan telepon dari nomor asing membuat tangis Vika terjeda. Perempuan itu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Tangannya gemetar ketika menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Terbersit pikiran buruk dalam otaknya yang sempit.


"Halo ..., " sapa Vika kepada si penelepon.


" .... "


.


.


.


Bersambung ...


Assalamualaikum teman-teman...


Apa kabar hari ini?


Selalu jaga kesehatan ya...


Cuaca sedang tidak bersahabat.


BTW, buat menemani teman-teman karena hari yang mendung dan hujan, Chika mau merekomendasikan sebuah novel karya salah satu teman Author, punya Kak JBlack.


Jangan lupa mampir dan meninggalkan like, komen dan Vote yaaa...


__ADS_1


__ADS_2