
Sesuai janjinya, malam ini Raja menginap di rumah Vika. Nola juga menginap di sana karena permintaan Vincent. Jadilah mereka berempat mengadakan perkemahan dadakan.
Raja mendirikan dua tenda dibantu Vincent, lebih tepatnya direcoki. Sedangkan Vika dan Nola tengah menyiapkan beberapa camilan di dapur.
Usai mendirikan tenda, Raja dan Vincent menggelar matras kecil di depan tenda. Dua laki-laki beda usia itu kini duduk diatasnya sembari menikmati semilir angin malam. Tiba-tiba mulut kecil Vincent bertanya mengenai neneknya.
"Papa Raja mengenal nenek?"
"Tentu! Kenapa?"
"Apa nenek sama persis dengan yang ada di foto?"
"Nenekmu lebih cantik daripada yang terlihat di dalam foto," ucap Raja sembari melihat ke arah Vincent yang menatap langit dengan taburan bintang.
"Tadi malam, Chen bermimpi bertemu dengan nenek. Ia bertanya apa aku baik-baik saja."
"Lalu, apa yang Chen katakan?"
"Kujawab bahwa aku baik-baik saja," ucap Chen sambil tersenyum polos.
"Chen ingin pulang ke Bandung," lirih bocah itu sambil menunduk.
"Nanti, kalau liburan sekolah ... kita tengok nenek. Oke?"
"Tapi libur sekolah masih lama, Pa." Tatapan Vincent penuh keputusasaan.
"Baiklah, akhir pekan ini kita ke Bandung."
Vincent kini tersenyum lebar. Bocah itu tenggelam dalam pelukan Raja. Sang paman mengelus lembut rambut Vincent. Kemesraan paman dan keponakan itu berakhir ketika Nola dan Vika keluar dari arah dapur.
"Ehem! Ada yang lagi mesra-mesraan, nih!" goda Nola.
"Iya, mama nggak diajak pelukan!" ucap Vika dengan ekspresi merajuk.
Kini Vincent berlari ke arah ibunya, kemudian merentangkan tangan untuk memeluk Vika. Perempuan itu berjongkok agar Vincent bisa memeluk tubuhnya. Sekarang Vika sudah terkungkung dalam dekapan putranya. Ia menghirup dalam aroma minyak kayu putih yang menguar dari tubuh Vincent.
"Sudah-sudah ayo kita makan!" ajak Nola.
Akhirnya mereka berempat mulai membakar sosis dan beberapa camilan lain. Mereka menikmati kemah malam itu di bawah langit pekat berhiaskan bintang.
Keempat anak manusia itu saling melemparkan candaan, bernyanyi, dan memainkan beberapa game. Tak terasa kini suara burung hantu mulai terdengar, dan angin malam terasa menusuk tulang.
"Papa ... bobok ...," rengek Vincent sembari mengucek mata.
"Ayo, tidur!" seru Raja lalu menggendong tubuh Vincent dan masuk ke tenda.
"Aku tidurkan Chen dulu," pamit Vika dan Nola.
Vika mengangguk sambil tersenyum. Nola masih sibuk dengan ponselnya. Perempuan itu tengah berdebat dengan Jimmy mengenai jumlah undangan yang akan disebar.
"Ish, merepotkan sekali!" gerutu Nola.
"Kenapa lagi?" tanya Vika sambil memutar bola matanya.
"Aku sudah memperhitungkan jumlah undangan, tapi makhluk satu ini selalu minta untuk menambahkan kuotanya!" Nola memajukan bibirnya.
"Banyak sekali ternyata cobaan orang yang mau menikah," ucap Vika sembari tersenyum kecut.
__ADS_1
"Iya, kau tahu sendiri kan bagaimana rasanya?" Sedetik kemudian Nola baru sadar ucapannya keliru, jika bisa ditarik lagi ia akan melakukannya.
Nola melirik ragu ke arah Vika. Tatapan sahabatnya itu, kini tengah menerawang menatap jutaan bintang di langit. Senyum yang terulas di bibirnya terlihat begitu menyakitkan.
"Maaf ...," lirih Nola.
Vika kini menoleh ke arah Nola. Ia kemudian bertopang dagu sambil memandang sendu sahabatnya itu.
"Maaf untuk apa?"
Nola masih terdiam. Kini terdengar helaan napas Vika yang terdengar begitu berat. Tatapan Vika kembali ke langit kelam di atas sana.
"Kau tahu ... setiap orang memiliki takdir hidupnya masing-masing. Aku percaya akan tiba saatnya nanti, aku ada di posisimu. Repot dengan persiapan pernikahan, berdebat ringan mengenai pernikahan, dan rasa cemas yang menghantui sebelum pernikahan."
"Vik ...." Mata Nola mulai mengembun mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir tebal Vika.
"Kau pantas mendapatkan pernikahan impianmu. Bukankah setiap perempuan ingin menjadikan momen sekali seumur hidup itu terasa berkesan? Hanya saja ... aku tidak bisa mendapatkannya dalam pernikahanku sebelumnya," ucap Vika sambil melemparkan pandangan hangatnya ke arah Nola yang kini berderai air mata.
Nola merentangkan kedua tangannya. Ia ingin membagikan secuil kekuatan untuk Vika. Hati Vika kini menghangat. Ia selalu yakin akan mendapatkan kebahagiaan di ujung jalan nanti.
.
.
.
Angin dingin malam itu menemani Vika yang masih termenung di depan tenda. Memori tentang kenangan manis bersama Mahen kembali hadir. Ia ingin memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang menyenangkan saja. Sebisa mungkin perempuan itu membuang segala ingatan buruk di masa lalu. Ia tidak mau rasa dendam menggerogoti hatinya.
"Belum tidur?" Suara Raja membuat lamunan Vika buyar.
"Belum. Chen sudah tidur?"
"Nanti kalau liburan kita ajak dia ke sana," ucap Vika.
"Dia mau secepatnya, aku menjanjikan akhir pekan ini."
"Oke. Bisa diatur," kata Vika sembari tersenyum lembut.
Senyuman Vika seakan menyihir Raja. Malam itu wajah cantik Vika seakan bersinar. Lelaki itu ingin mencoba mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam. Pandangan Raja melembut, ia memberanikan diri menyentuh jemari Vika.
Raja secara perlahan menggeser telapak tangannya. Ketika permukaan kulit mereka saling bersentuhan, ada geleyar aneh di hati Raja. Perasaan sayangnya untuk Vika tak pernah sedikitpun berkurang. Sebisa mungkin ia tidak menorehkan luka pada hati perempuan itu.
Ketika hendak bertindak lebih jauh, gerakan tangan Raja berhenti. Telapak tangannya kini mengambang di udara. Ia mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaan. Ia takut kecewa.
Akhirnya Raja hanya bisa menatap langit, menitipkan rasa cintanya kepada bintang yang berkelip.
.
.
.
Keesokan harinya Vika mengantar Vincent ke sekolah. Putranya hari itu tampak murung. Vika berulang kali bertanya kepada Vincent mengenai perasaan dan kondisi tubuhnya.
"Chen, yakin mau masuk sekolah hari ini? Apa kita istirahat saja?"
"Chen tidak mau ijin! Besok bukankah jadwal ke rumah sakit? Chen nggak mau kebanyakan bolos sekolah, nanti bodoh!" seru Vincent.
__ADS_1
"Kalau nanti merasa tidak enak badan, langsung bilang ke Miss Karen. Mengerti!"
"Yes, Mom," ucap Vincent sambil tersenyum.
Setelah sampai di sekolah, Vincent langsung masuk ke dalam kelas. Begitu sosok putranya menghilang dibalik gerbang, Vika kembali melajukan mobilnya. Ia diminta Raja untuk memberi pelatihan pada karyawan di kedai baru miliknya.
Ketika sampai di depan kedai, ia melihat Suszy yang kembali menggoda Raja. Perempuan itu menempelkan sepasang jeruk Bali-nya ke lengan Raja.
"Cih, bibit pelakor yang mulai tumbuh!" seru Vika dengan nada kesal.
Perempuan itu kini melangkah turun dari mobil. Tubuhnya tegap dengan dagu sedikit dinaikkan layaknya model yang sedang berjalan diatas catwalk. Kali ini ia tidak mau diremehkan untuk kedua kalinya.
Begitu melihat Vika masuk menghampirinya, Suszy langsung mundur teratur. Kini Vika mendekati Raja kemudian mengecup pipi lelaki itu. Pipi Raja sekarang bersemu merah, perasaannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bunga asmara sedang bermekaran jauh di dalam hatinya.
"Maaf Nona Suszy, bisa saya bicara dengan SU-A-MI saya?" Vika menekankan kata suami untuk membuat perempuan ular itu menjauh.
Tanpa sepatah kata pun, kini Suszy melengos sembari menghentakkan kakinya. Vika melirik ke arah Raja.
"Ada yang empuk ... tapi bukan kasur, ya, Pak?" sindir Vika.
"Ah, eh, gimana ... gimana?" tanya Raja mendadak bodoh.
"Hm ... nggak gimana-gimana, Pak Raja yang paling polos sedunia," ucap Vika kemudian menarik kursi dan duduk di atasnya.
"Mau minum apa?" tawar Raja basa-basi.
"Nggak usah, aku cuma sebentar. Aku kira hari ini Kak Raja nggak datang." Kini Vika bertopang dagu.
"Oh, Suszy meneleponku tadi. Katanya ada beberapa hal yang masih belum ia mengerti."
"Oalah ... ya ... ya ...."
Perbincangan mereka terus berlanjut membahas beberapa hal receh. Tiba-tiba ponsel Vika berdering. Sebuah panggilan dari nomor asing masuk.
"Siapa?"
"Nomor asing." Vika memperlihatkan layar ponselnya yang kini berkedip.
Ia menggeser tombol hijau pada layar. Vika menajamkan pendengarannya.
"Halo ... "
" ... "
Dunia Vika seakan berputar, tenaganya seperti menguap ke udara. Bahkan kini ponselnya merosot dan jatuh ke lantai. Air mata Vika kini menetes. Melihat kondisi Vika yang kacau, Raja menggoyangkan lengannya.
"Ada apa?"
Bukannya menjawab, Vika malah terisak dan mulai menangis histeris. Nasib buruk lagi-lagi menyapa kehidupan Vika yang malang.
"Chen! Dia ... "
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...