
*Tiga bulan s**ebelumnya* ...
Vika mematung melihat Mahen yang bersimpuh di hadapannya. Ia tidak menyangka mendapat lamaran Mahen. Rasa haru menyeruak memenuhi dadanya.
Jantung Mahen berdetak lebih kencang menanti jawaban dari Vika. Ia berulang kali menelan ludah. Matanya berkilat karena yakin Vika akan menerima lamarannya.
"Bagaimana, Vik? Maukah Kau menikah denganku?" Mahen kembali bertanya karena tak sabar menanti Vika yang masih terkejut.
"Kak, sejujurnya Aku sangat senang karena ini adalah lamaran pertamaku dalam hidup. Seandainya kak Mahen melamarku seperti ini tujuh tahun lalu, pasti aku akan menerimanya." Bahu Vika menurun dan tersenyum kecut.
"Jadi ... Kau menolakku?" Mata Raja yang tadinya berkilat penuh percaya diri, kini terlihat sayu tanpa cahaya.
"Maaf, Kak." Vika menunduk sambil memilin ujung blus yang ia kenakan.
"Apa karena Raja?" tebak Mahen.
Mendengar Nama Raja disebut, kepala Vika mendongak, dan matanya terbelalak. Hanya mendengar nama lelaki itu saja, membuat irama jantung Vika tidak beraturan.
"Ternyata benar." Mahen tersenyum miring kemudian berdiri.
Vika menatap ke Mahen yang kini menutup kembali kotak cincinnya. Lelaki itu menghembuskan napas kasar. Matanya menatap tajam ke arah Vika.
"Vika Aditama binti Juno Aditama, dengan ini Saya Mahen Putra Dirgantara menalakmu karena hatimu bukan milikku lagi!" Mahen mengucapkan talak kepada Vika.
Jika perempuan lain akan menangis tersedu-sedu dan hatinya hancur berkeping-keping, tidak dengan Vika. Perempuan itu justru tersenyum lebar. Ia beranjak dari sofa dan meraih tangan Mahen.
"Kak, terima kasih atas kenangan manis yang pernah Kak Mahen berikan untuk Vika. Maaf, karena Vika menolak lamaran Kakak," ucap Vika.
"Cih, dasar! Jangan bersikap manis di hadapanku, atau aku akan berubah pikiran!" Mahen menurunkan ujung bibirnya kemudian mengacak-acak rambut Vika.
Vika terkekeh melihat tingkah Mahen saat itu. Mahen pun berpamitan, ia pulang dengan membawa kepingan hatinya. Mungkin ini adalah karma buruk untuknya. Mahen bertekad untuk mengubur perasaannya dalam-dalam, sebisa mungkin tak akan memunculkannya ke permukaan.
Ketika Mahen keluar dari ruangan Vika, tanpa sengaja ia menginjak buket bunga Daisy. Lelaki itu memungutnya dan memanggil Vika. Mendengar namanya dipanggil, Vika keluar dari ruangannya.
"Ada apa, Kak?" tanya Vika.
"Ini ...." Mahen menyodorkan buket bunga itu kepada Vika.
"Jangan-jangan ...." Mata Vika melebar.
"Raja!" seru Vika dan Mahen bersamaan.
__ADS_1
Detik itu juga, Vika meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Raja, tapi hasilnya nol. Panggilannya diabaikan oleh Raja. Air mata perempuan itu mulai merebak. Berulang kali ia mencoba menelepon Raja, tetapi tidak diangkat.
"Bagaimana?" Mahen mengernyitkan dahinya.
Vika hanya menggeleng, kemudian tangisnya pecah. Ini adalah pertama kalinya Raja mengabaikan panggilannya. Hatinya seperti diiris sembilu karena ulah Raja.
"Ayo Kita ke rumahnya!" Mahen menarik lengan Vika dan mengajaknya menemui Raja.
Di dalam perjalanan, bibir Vika komat-kamit mengucapkan untaian harapan. Ia tidak ingin kehilangan Raja. Lelaki yang terus menjaganya dengan tulus, membantu di saat kesusahan, dan menghibur ketika bergelung dalam kesedihan.
Langit hitam membersamai keduanya sampai ke rumah Raja. Kediaman pemilik hati Vika terlihat gelap. Tidak ada tanda-tanda Raja sedang berada di dalamnya. Begitu Mahen mematika mesin mobil, Vika langsung berlari ke arah pagar rumah itu. Ia memencet bel berulang kali, berharap Raja keluar membukakan pintu.
Air mata Vika merebak, dadanya seakan dihimpit oleh batu besar. Mahen mendekati Vika dan berusaha menenangkannya. Ia memegang bahu Vika, kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi perempuan itu.
"Tenang, Kita cari di kedai," ucap Mahen.
"Ta-tapi kedai yang mana, Kak? Kakak tahu sendiri, ada puluhan kedai Raja di kota ini." Vika terus berbicara sambil terisak.
"Aku tahu dia ada di kafe mana. Ayo!" ajak Mahen.
Keduanya kembali menyusuri jalanan Ibu Kota yang padat merayap. Suara sahutan klakson mobil membuat suasana hati Vika semakin kacau. Ia berulang kali menggerakkan kaki sambil menggigiti kukunya.
Setelah berhasil membelah lautan mobil dan kendaraan lain, akhirnya Vika dan Mahen sampai di kafe. Vika langsung masuk dan menuju meja kasir. Ia bertanya kepada karyawan Raja dengan wajah panik, dan mata mengembun.
"Feb, Kak Raja ... ada?" Napas Vika semakin memburu menanti jawaban Febri, karyawan Raja.
"Pak Raja hari ini berangkat ke Bali, Mbak. Seharusnya ini sudah take off." Febri menautkan kedua alisnya sambil mengusap dagunya.
Badan Vika merosot, kini ia jongkok sambil menenggelamkan wajah cantiknya ke dalam telapak tangan. Ia menangis sesegukan, air mata membanjiri pipinya.
Ketika sedang tenggelam dalam lautan kesedihan, tiba-tiba lampu kafe padam. Beberapa pelanggan berteriak karena terkejut. Vika mendongak, mengamati suasana kafe yang kini temaram hanya mengandalkan pencahayaan dari lampu flip-flop.
Perlahan alunan lagu Janji Suci milik Yovie & Nuno menyapa pendengaran Vika. Dari arah pintu masuk, Raja berjalan sambil membawa satu buket bunga Daisy. Lelaki itu bersimpuh di hadapan Vika dan mengeluarkan kotak berisi cincin.
"Ada nama yang selalu tertulis di dalam hati, tapi belum tentu ia tertulis di atas buku nikah. Aku ingin Kamu tertulis di keduanya, Vika Aditama ... maukah menghabiskan sisa umurmu bersamaku? Ayo kita menikah!" Raja melamar Vika detik itu juga.
Vika mengangguk cepat tanda setuju, air mata penuh cinta mengalir membasahi pipinya. Raja berdiri, kemudian meraih jemari Vika. Ia memasangkan sebuah cincin bertahta berlian. Benda kecil itu kini melingkari jari manis Vika.
.
.
__ADS_1
.
Sepanjang perjalanan pulang, Vika terus tersenyum sambil memandangi cincin di jemari lentiknya. Raja menggenggam erat tangan Vika.
"Suka?" Raja tersenyum lembut ke arah Vika.
"Suka banget! Bukan karena cincinnya, melainkan perasaan yang tersimpan di dalamnya sangat tulus untukku," ucap Vika.
Mendengar ucapan Vika, Pipi Raja bersemu merah. Ia kembali teringat betapa hancur hatinya beberapa waktu lalu. Melihat Mahen melamar Vika di depan matanya, seperti angin beliung yang memporak-porandakan hatinya. Namun, semua kekhawatirannya mendadak sirna ketika membaca pesan dari Mahen.
Mahen mengatakan bahwa Vika menolak lamarannya. Kemudian niat Raja untuk melamar Vika kembali diteruskan. Ia meminta Febri membantu mempersiapkan segala sesuatunya di kafe, sambil menunggu Raja pulang dari toko bunga. Lelaki itu juga dibantu Mahen untuk mengulur waktu, sampai persiapan lamaran dadakan selesai.
"Pesta pernikahan seperti apa yang Kamu impikan?" tanya Raja.
"Ala Cinderella, boleh?" Vika mengerjapkan matanya berulang kali untuk meminta persetujuan Raja.
"Kalau Aku tidak mau?" Raja tersenyum datar.
"Aku akan terus menangis sampai Kak Raja mengabulkannya!" seru Vika.
"Kalau Aku tetap tidak mau?" tanya Raja.
"Tidak mungkin! Selama ini Kakak selalu melakukan semua yang kumau! Kak Raja tidak pernah menolak keinginanku!" Vika tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar!" Tangan Raja mendarat di kepala Vika, kemudian mengacak-acak rambutnya.
.
.
.
Bersambung ...
Terima kasih sudah setia membaca Second Wife...
Buat temen-temen yang suka tema Berbagi Cinta dengan alur cerita kocak, yukk mampir ke lapak salah satu author kece Liana Keizia...
Baca novelnya, dijamin ngakak sepanjang hari...
__ADS_1