Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Bertemu Kembali


__ADS_3

PLAAAAKKK!!!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Mahen. Lelaki itu meringis sembari mengusap pipinya yang terasa sedikit panas.


"Kenapa, Sayang?" Mata Mahen terbelalak ketika menerima tamparan dari tangan kecil Maura.


"No! Papa ndak oyeh cup mama!"


(No, Papa tidak boleh cium mama!)


Mahen meringis melihat tingkah putrinya, ia menciumi kembali pipi Maura. Namun, bocah cantik itu melengos. Bibirnya monyong sampai bisa dikucir.


.


.


.


Hari itu seperti beberapa hari belakangan ini, Mahen menunggu di depan pintu gerbang sekolah Vincent. Begitu sosok mungil Vincent keluar gerbang, Mahen bergegas menghampiri putranya itu.


Langkah lebar Mahen menapaki jejeran paving berwarna abu-abu itu. Ia berhenti ketika tepat berada di depan Vincent. Bocah laki-laki di hadapannya itu, tersenyum lebar. Mahen mengacak-acak rambut Vincent, kemudian menggandeng jemari mungilnya.


"Hari ini Chen mau kemana?" tanya Mahen.


"Chen mau kebab!" seru Vincent.


"Oke, Pak!"


Mahen mulai melajukan mobilnya menyusuri jalanan. Matahari siang itu malu-malu mengintip di balik awan. Vincent menyanyikan lagu anak-anak I’m a Little Teapot.


" ... i'am a very special teapot. Yes , it's true .... "


Bocah laki-laki itu menaruh telapak tangan kirinya ke pinggang, dan tangan kanannya membentuk layaknya corong teko.


Mahen sesekali melirik ke arah putranya ketika mengendarai mobilnya. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah gerobak bercat merah dan kuning.


"Baba!" panggil Vincent.


"Halo, Chen." Lelaki tua dengan janggut dan kumis tebal itu melambaikan tangan sembari tersenyum.


"Beef Kebab Roll dua, Baba," ucap Mahen.


"Baik, tunggu sebentar, ya?"


Sembari menunggu pesanan, Mahen dan Vincent duduk di kursi plastik yang sudah disediakan. Aroma daging sapi yang dipanggang membuat air liur Vincent menetes. Bocah tampan itu berulang kali menelan ludah karena menghirup aromanya. Berulang kali ia menoleh ke arah gerobak.


"Dapat PR apa hari ini?" tanya Mahen.


Vincent yang sedang fokus memperhatikan baba menyiapkan kebab, seakan tuli. Mahen tak mau menyerah begitu saja. Ia kembali mengajak putranya itu berbicara.


"Chen, mama apa kabar?"


Senyum yang sedari tadi dibuat Mahen seketika lenyap. Vincent masih mengacuhkannya. Karena gemas dengan sikap putranya, Mahen mengapit pipi gembul Vincent. Kini bibir bocah itu terlihat seperti bibir ikan. Tatapan tidak suka terpancar dari mata bulatnya.

__ADS_1


"Phomon, tholong jangan ghanggu aku dhulu!"


(Paman, tolong jangan ganggu aku dulu).


Setelah mendengarkan protes dari Vincent, Mahen melepaskan tangannya. Kedua lelaki beda usia itu saling melemparkan tatapan permusuhan. Sampai akhirnya suara baba penjual kebab tertangkap oleh telinga Vincent.


"Chen, kebabmu sudah siap!" teriak baba.


Tanpa menunggu nanti, Vincent labgsung turun dari kursinya kemudian berlari ke arah baba. Mahen mengekor di belakangnya. Usai membayar, mereka berdua kembali masuk ke mobil.


Vincent tengah menikmati kebabnya sembari bersenandung. Kebab favoritnya itu memang tiada duanya. Tumpukan dagingnya super juicy yang diselimuti pita bread yang tipis dan enak. Bumbunya meresap sampai ke daging. Terlebih lagi baba membuat sendiri saus untuk kebabnya. Jadi, bisa dikatakan kebab itu the only one di dunia.


Sesampainya di depan sekolah Vincent, Mahen dibuat terperanjat. Jantungnya berpacu lebih cepat. Sosok perempuan yang selama ini diam-diam ia rindukan, kini berada di depan matanya. Vika terlihat memiliki tubuh yang lebih berisi. rambut panjangnya yang dulu hitam, kini diwarnai coklat keemasan.


"Paman, gawat! Aku bisa kena marah mama!" seru Vincent.


"Biar paman yang urus semuanya, jangan khawatir," ucap Mahen.


Ia keluar dari mobil sembari menggandeng tangan Vincent. Selayaknya Mahen yang terkejut, Vika pun merasakan hal yang sama. Pemandangan di hadapannya kini membuat kaki ibu satu anak itu lemas.


Nola yang sedari tadi berada di dalam mobil, kini ikut keluar. Nola merengkuh pundak Vika, kemudian menenangkannya. Saat Vincent dan Mahen berhenti melangkah, Vika yang sudah sedikit tenang kini menegakkan tubuhnya.


"Chen, kemari!" seru Vika sambil berusaha tersenyum.


Kaki kecil Vincent mendekati ibunya. Vika menunduk kemudian mencium puncak kepala putranya itu. Sebuah senyum hangat terbit di bibir Vika.


"Chen, pulang dulu dengan Tante Nola. Mama ingin membicarakan sesuatu dengan paman itu," ucap Vika.


"Iya, Ma."


Vincent terlihat lesu, bocah itu merasa bersalah karena telah membohongi ibunya. Ia melangkah gontai memasuki mobil, diikuti Nola. Vika terus memandangi mobilnya hingga tak terlihat.


"Maaf ..., " ucap Mahen.


Mendengar permintaan maaf Mahen, Vika menatap cinta pertamanya itu. Tatapan penuh kebencian menyapa Mahen siang itu. Ia sadar telah menorehkan begitu banyak luka di hati Vika.


"Mari kita bicara layaknya orang dewasa!" seru Vika.


Tanpa permisi, Vika langsung memasuki Tesla hitam milik Mahen. Lelaki itu pun mengikuti Vika dengan pasrah.


.


.


.


Mahen memutuskan untuk membawa Vika ke sebuah kafe dekat sekolahan Vincent. Sepanjang perjalanan, dua makhluk yang pernah Aling mencintai itu hanya diam. Hanya ada suara deru mesin mobil yang terdengar.


Setelah melajukan mobil selama sepuluh menit, mereka sampai di sebuah kafe sederhana. Vika masih tetap diam, sampai akhirnya Mahen mencoba membuka suara.


"Maaf," ucap Mahen. Sejak bertemu di depan sekolahan Vincent, hanya kata maaf yang mampu ia ucapkan.


Vika masih terdiam seribu bahasa. Sikap perempuan di hadapannya itu membuat Mahen salah tingkah. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.

__ADS_1


"Sejak kapan?" tanya Vika.


"Ya?"


"Sejak kapan Kamu mulai menemui Vincent?" tanya Vika. Tatapannya sedingin es, membuat tubuh Mahen seakan beku.


"Sekitar dua minggu lalu," jawab Mahen.


"Jadi ... sejak Vincent membawa pulang buku-buku itu?"


Mahen hanya bisa mengangguk. Kini Vika menyandarkan punggungnya pada kursi. Vika mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Ia ditipu oleh tiga orang sekaligus dalam satu waktu. Triple kill!


"Tolong, jangan temui Vincent lagi," ucap Vika.


"Jika aku tidak mau?" ucap Mahen sembari melayangkan tatapan tajam.


"Aku akan pergi lagi. Kali ini lebih jauh!" seru Vika.


"Tolong, jangan siksa aku seperti ini! Lima tahun ini aku sudah cukup tersiksa karena mengira kalian sudah .... " Kalimat Mahen menggantung. Ia kembali teringat kecelakaan pesawat yang seharusnya Vika tumpangi lima tahun lalu.


"Menyiksamu? Hah! Aku tidak pernah melakukan apapun untuk itu! Bukankah harusnya aku yang mengatakan itu?" ucap Vika sembari menatap Mahen sinis.


Mahen kembali menundukkan kepalanya. Perasaan bersalah kembali menghantam dadanya. Rasanya sesak. Ia mengakui bahwa apa yang dikatakan Vika benar.


Bayangan dosanya di masa lalu kembali terlintas dalam ingatan. Bagaimana ia memperlakukan Vika. Menginjak-injak harga diri perempuan itu. Bahkan ia menutup mata dengan kecemburuan, dan menulikan telinganya dengan prasangka buruk ketika Vika diusir dari Rumah Besar.


Kepala Mahen kembali tegak, ditatapnya perempuan penuh luka di depannya itu. Vika masih menatap Mahen penuh rasa benci.


"Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin memperbaiki hubungan kita."


.


.


.


Bersambung...


❤️❤️❤️


Hai ... hai ...


Apa kabar, Dear?


Maaf yaa untuk double up belum bisa setiap hari karena anak-anak author sedang masa pemulihan.


Jaga selalu kesehatan teman-teman yaaa...


Jangan Lupa mampir juga di Novel pertama Author,



Cinta segitiga antara MUA asal Indonesia dengan Idol K-Pop dan Manajernya. Boleh dibaca yaaa sambil nunggu Second Wife UP...

__ADS_1


Sayang Kalian...


Sehat-sehat yaaa😘😘😘


__ADS_2