Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Ingin Tidur Bersama


__ADS_3

Sebuah pukulan mesra mendarat di lengan kekar Raja. Vika memasang ekspresi marah, tapi lain di muka lain di hati. Saat ini bunga tengah bermekaran dalam hatinya. Tidak dapat dipungkiri, Raja adalah orang pertama yang selalu bisa membawa tawanya kembali.


Tiba-tiba sebuah mobil memotong laju kendaraan mereka. Otomatis Raja mengerem mobilnya. Tubuh mereka terbanting ke depan lumayan keras. Vincent sampai terjatuh dari bangkunya.


CIIIIIIITTTTT!!! BRAAAKKKK!!!


Bagian depan mobil Raja sedikit penyok ketika menghantam mobil yang menghalangi jalannya. Untung saja sabuk pengaman dan air bag mobil Raja bekerja dengan baik.


Vincent yang tadi tertidur pulas, kini terjaga karena terjatuh dari kursi. Beruntungnya bocah itu tidak mengalami luka sedikitpun. Vika langsung mundur ke kursi belakang kemudian mendekap erat Vincent.


"Chen, ada sakit?" tanya Vika panik.


Vincent yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, kini hanya menggeleng. Raja keluar dari mobil kemudian menemui pengendara ceroboh di hadapannya.


Betapa terkejutnya Raja ketika mengetahui orang yang hampir saja membawanya dalam bahaya. Mahen kini menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


"Apa maksudmu, Kak?" bentak Raja.


"Dimana Kau sembunyikan Vika dan Vincent?" tanya Mahen dengan nada sinis.


"Untuk apa Kak Mahen menanyakan keberadaan Vika dan Vincent? Apa hakmu, Kak?"


"Aku ayah Vincent dan suami Vika!" teriak Mahen.


"Hah! Ayah dan suami macam apa yang selalu membuat anak istrinya selalu bermuram durja! Kakak tahu? Air mata mereka terlalu berharga untuk ditumpahkan!" teriak Raja kemudian melayangkan tinju ke rahang kakak tirinya itu.


Seketika tubuh Mahen tumbang. Ia tertawa sambil menatap langit. Raja yang emosi kembali menghujani Mahen dengan bogem mentah. Mahen hanya tertawa setiap menerima tinju dari Raja.


Sudut bibirnya kini mulai mengeluarkan darah. Melihat Raja yang sudah tidak bisa mengendalikan diri, kini Vika keluar dari mobil. Perempuan itu meminta Vincent untuk tetap berada di dalam mobil.


Vika setengah berlari menghampiri Raja. Ia menarik lengannya sekuat tenaga agar menjauh dari tubuh Mahen yang seakan tak bertulang.


"Kak Raja, tolong hentikan! Kamu bisa membunuhnya!" teriak Vika.


"Dia pantas mendapatkannya!" seru Raja sambil terus berusaha menghampiri Mahen.


"Tolong, hentikan Kak! Kumohon!" seru Vika.


Lengan Vika kini melingkari perut Raja dari belakang. Air mata perempuan itu mulai tumpah. Akhirnya Raja berhenti berontak. Ia menjauh dari tubuh Mahen yang masih terkapar di atas aspal.


"Jangan pernah mencari Vika dan Vincent! Jika kebetulan bertemu, berpura-puralah tidak mengenalnya!" seru Raja.


Raja kini berjalan menjauhi Mahen yang kini terduduk sambil mengusap darah yang masih menempel di sudut bibirnya.


Kini Mahen hanya bisa memandang punggung Vika dan Raja yang mulai menjauh. Air mata Mahen perlahan menetes. Ia berharap Vika menoleh kemudian berlari ke arahnya.


"Satu ... dua ... tiga ...." Mahen berhitung dalam hati, tapi semua berakhir dengan kekecewaan. Vika sama sekali tak menoleh seperti yang ia harapkan.


Mahen hanya bisa tersenyum kecut, meratapi cintanya yang datang sangat terlambat. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia akan memperjuangkan Vika sekuat tenaga. Namun, semua penyesalannya tidak akan membuat waktu kembali berputar. Ia hanya bisa merutuki kebodohannya di masa lalu.


.


.


.


Hari ini adalah hari pertama Vincent masuk ke sekolah yang baru. Bocah laki-laki terlihat begitu bersemangat. Ia diminta maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri.


"Perkenalkan, nama saya Vincent Aditama. Biasa dipanggil Chen. Saya anak dari seorang ibu bernama Vika Aditama. Salam kenal teman-teman!" ucap Vincent dengan senyum merekah.


"Baiklah, Chen. Sekarang duduk di sana," ucap Bu Leni sembari menunjuk sebuah bangku kosong.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu."


Vika yang menemani Vincent di hari pertama pindah sekolah, mengintip di balik jendela. Hatinya terasa lega karena putranya terlihat begitu riang ketika jam pelajaran.


Perhatian Vika terhadap Vincent teralihkan ketika mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Raja.


"Halo, Kak. Ada apa?"


" ... "


"Oh, iya."


"Dia terlihat sangat ceria. Aku rasa kali ini Chen sudah bisa sedikit terbiasa. Tidak seperti waktu itu."


" ... "


"Oke."


Vika mematikan sambungan telepon kemudian kembali mengintip Vincent. Putranya kini sedang bernyanyi sembari menirukan gerakan yang dicontohkan gurunya.


.


.


.


Setelah pulang sekolah, Vika membawa Vincent untuk menemui Raja di salah satu kedainya yang baru buka. Vika melangkah masuk ke dalam kedai yang interiornya hampir sama dengan kedai lain milik Raja.


Vika celingukan untuk mencari sosok Raja. Sampai akhirnya ia melihat sosok wanita cantik yang berada di depan meja kasir. Vika melangkah mendekatinya.


"Maaf, bisa bertemu dengan Pak Raja?" tanya Vika pada seorang perempuan yang tengah bersolek di depan cermin.


Tatapanya memandang remeh ke arah Vika yang sedang tampil sangat sederhana. Hari itu Vika memang terlihat asal-asalan. Ia hanya memakai blouse berwarna lilac dengan celana bahan berwanya ungu tua. Kakinya hanya dibalut dengan sepatu kasual berbahan denim.


"Saya sudah ada janji dengan Pak Raja," ucap Vika ramah.


"Janji? Dengan Pak Raja? Ada bukti?"


Tatapan perempuan itu terlihat menilai. Bola matanya naik turun berulang kali memandang Vika dari ujung rambut hingga ujung kepala. Rasanya Vika ingin sekali mencolok mata perempuan di hadapannya itu.


Belum lagi bibirnya yang mengeluarkan nada bicara yang terdengar sinis. Jika tidak mengingat ini adalah pertemuan pertama Vika dengan perempuan itu, pasti ia sudah meremas bibir dengan gincu merah menyala itu.


"Sudah dari tadi?" Suara bariton Raja kini mengalihkan dunia si perempuan ular.


Tatapan menilai perempuan itu kini beralih pada Raja. Mendadak tatapannya berubah ramah. Ia berjalan cepat menggunakan stiletto seakan memakai sandal jepit.


"Kaak, ada yang mencari," ucap perempuan itu manja, tangannya melingkar pada lengan Raja.


"Ah, iya. Tadi aku sudah memintanya ke sini." Raja tersenyum sopan sembari berusaha melepaskan lilitan tangan perempuan di sampingnya itu.


"Sudah datang. Ayo duduk di sana!" ucap Raja sembari menunjuk sebuah kursi kosong di pojok kedai.


"Papa!" teriak Vincent.


Vika memutar bola matanya mendengar Vincent kembali berulah. Namun, sebuah ide jahil muncul di otaknya. Ia berniat mengikuti drama Vincent di hadapan perempuan ular itu.


"Sayang, siapa dia?" tanya Vika dengan senyum lembut.


"S-Sayang?" Tiba-tiba perempuan itu melepaskan lilitan tangannya.


"Oh, perkenalkan. Dia Suszy mitra baru kita, Sa-sayang," ucap Raja gugup.

__ADS_1


Perut Vika rasanya geli melihat Raja yang tidak pandai berakting. Ia berulang kali berusaha menelan tawanya agar tidak pecah. Kini Vincent maju dan meminta gendong pada Raja.


Bocah lelaki itu kini melemparkan tatapan sinis kepada Suszy.


"Tante kenapa pegang-pegang papaku?" tanya Vincent.


Suszy seakan tidak mendengar ucapan Vincent. Perempuan itu berpamitan, kemudian masuk ke dalam ruang staf. Setelah sosok Suszy menghilang di balik pintu, tawa Vika pecah.


"Haha! Cie ... yang punya penggemar baru!" ledek Vika.


"Apaan, sih! Nggak lucu!" seru Raja sambil melangkah ke meja yang tadi ditunjuknya.


Setelah sampai di meja itu, mereka duduk dan mulai berdiskusi masalah omzet kedai yang terus menanjak. Sementara waktu Raja berniat untuk menutup kemitraan karena SDM yang kurang memadai.


"Aku setuju denganmu. Jika belum ada tim pengawas yang bisa diandalkan, nantinya kita sendiri yang akan kepayahan."


"Baiklah, untuk sementara waktu tolong bantu aku mengawasi kedai ini dan yang ada rest area tol Jagorawi."


"Siap, Bos!" ucap Vika.


"Papa Raja, Chen boleh minta sesuatu?"


"Apa Chen?"


"Chen mau tidur dengan Papa Raja malam ini," ucap Vincent tiba-tiba.


"Eh, tumben. Kenapa?" tanya Vika.


"Apa Chen merindukan Papa Mahen?" Raja menatap lembut keponakannya itu.


Vincent hanya menunduk jemarinya kini memilin ujung kemeja seragam karena ragu.


"Kalau dengan tidur dengan paman bisa sedikit membuatmu lega. Paman akan melakukannya selama yang Chen mau!"


"Benarkah?" Tanya Chen dengan mata berbinar.


Di sisi lain, Vika tengah menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia memalingkan wajahnya untuk mengalihkan pandangan. Rasa bersalah kembali bergelayut di hatinya. Namun, ia tak memiliki pilihan lain. Dia berharap, semoga ini adalah pilihan yang tepat untuknya dan Vincent.


.


.


.


Bersambung ...


Assalamualaikum...


Apa kabar teman-teman?


Semoga selalu diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah ya... Aamiin.


Oya, buat temen-temen yang menyukai cerita dengan tema seperti ini, bisa mampir juga yaaa di karya salah satu teman Author...


Ini dia karyanya...



Terus dukung para author yaa agar tetap semangat dalam berkarya.


Matur Nuwun ...😘

__ADS_1


__ADS_2