
Sepanjang perjalanan, Vincen terus bernyanyi dengan riang di kursi belakang. Sedangkan Vika memutuskan duduk di samping Mahen akibat rengekan Vincent yang ingin sendirian.
"Chen, senang?" tanya Mahen sambil melihat putranya dari kaca spion.
"Senang, Pa!" seru Vincent.
"Ingat kata mama .... " Kalimat Vika menggantung karena dengan cepat Vincent memotong pembicaraan.
"Chen, tidak boleh berlarian kesana-kemari tanpa ditemani oleh mama atau papa!" seru Vincent sembari menirukan gaya bicara ibunya.
Mahen yang melihat tingkah putranya langsung terbahak. Tawanya seketika berhenti ketika melihat tatapan tajam Vika dari ujung matanya.
"Sorry," ucap Mahen sambil berusaha menelan sisa tawanya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat perkemahan yang slmasih terlihat alami. Hawa tempat itu terasa sejuk khas pegunungan. Masih terdapat banyak pohon pinus yang menjulang tinggi.
"Aku parkirkan mobil dulu, kalian tunggu disini ya," ucap Mahen.
"Iya, turunkan saja barang-barangnya disini." Vika mulai turun dari mobil lalu menuju bagasi.
Vincen menolak untuk turun terlebih dahulu. Ia ingin terus bersama Mahen. Vika dibuat geleng-geleng dengan sikap putranya yang semakin ketergantungan dengan ayahnya. Seakan ada lem yang merekat kuat diantara kedua lelaki beda usia itu.
Usai menurunkan barang bawaan, Mahen langsung mengendarai mobilnya menuju area parkir yang berlawanan arah dari pintu masuk.
Sambil menunggu Vincent dan Mahen, Vika memutuskan untuk mengambil beberapa foto selfie. Pemandangan area perkemahan itu sangat sayang jika tidak diabadikan. Ketika asyik dengan aktivitasnya, tiba-tiba Vika terperanjat.
Lengan seorang lelaki yang tidak ia kenal merangkul bahunya. Sontak Vika menepis lengan lelaki itu.
"Jangan kurang ajar! Siapa Kamu!" seru Vika sambil terus menepis lengan lelaki asing dihadapannya.
"Kamu ... apa kabar?" tanya laki-laki itu dengan senyum menjijikkan.
"Maaf! Kamu salah orang! Jangan mendekat!"
"Sayang, kemarilah!" ujar lelaki itu.
Aroma alkohol tercium dari napas lelaki asing itu. Vika menelan ludah berulang kali karena ketakutan. Tubuhnya mulai gemetar. Lelaki itu melangkah lebih dekat ke arah Vika, dan sekarang semakin agresif.
Ia menempelkan tubuh sintal Vika ke sebuah pohon besar. Suasana area itu sedang sepi karena bukan hari libur. Vika menepis setiap sentuhan yang akan melayang di tubuhnya. Rasa takut dan panik kini menguasai dirinya. Air matanya mulai meleleh, waktu terasa begitu lama.
Bibir lelaki itu sudah mulai beraksi. Mendarat di pencak kepala Vika, kemudian turun ke keningnya, dan terus turun hinga pipi. Pukulan dari kepalan tangan Vika tidak ada artinya bagi lelaki itu. Ia tetap nekad melancarkan aksinya.
"Tolong!" teriak Vika.
Matanya kini terpejam. Ia tak mau melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Waktu berputar terasa begitu lama. Sampai akhirnya ...
BUGHH!
Pukulan keras Mahen sukses mendarat di rahang tegas milik lelaki itu. Tubuh besar dan tegap orang asing itu kini tersungkur di tanah bersama dedaunan kering yang berserakan. Entah seberapa besar kekuatan yang Mahen kerahkan. Laki-laki itu sampai tak sadarkan diri.
__ADS_1
Tubuh Vika merosot, kakinya seakan tak bertulang. Perempuan itu menangkupkan kedua telapak tangannya lalu menangis sejadi-jadinya. Vincent mendekat kemudian ikut menangis.
"Mama jangan nangis, paman itu nakal ya? Nanti biar Chen hukum dia!" seru bocah itu diantara tangisnya.
Vika memeluk erat tubuh mungil putranya untuk mendapatkan kekuatannya kembali. Tak lama kemudian petugas keamanan datang meringkus lelaki asing itu.
"Apa kita batalkan saja acara hari ini?" tanya Mahen.
Vika yang sudah lebih tenang kini mendekap tubuh putranya yang sedang tertidur pulas.
"Kita tunggu Chen bangun dulu, aku tidak mau membuatnya kecewa," ucap Vika.
"Baiklah," kata Mahen.
.
.
.
Vika dan Mahen menunggu Vincent kembali terjaga dalam diam. Keduanya tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Apa ... Kak Nova tahu hari ini Kakak menemui kami?" tanya Vika.
"Menurutmu?"
"Aku tidak mau merasa menjadi pelakor," ucap Vika sambil tersenyum kecut.
"Memangnya dia akan mengijinkanku pergi jika dia mengetahuinya?" ucap Mahen.
"Mau sampai kapan seperti ini?" Tatapan Vika menerawang.
Vika tahu Mahen menemuinya karena Vincent. Namun, sejujurnya hati Vika terlalu lemah jika terus berhadapan dengan Mahen. Pesona ayah dari putranya itu tak pernah pudar di matanya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam masih tersimpan secuil perasaan untuk Mahen.
"Lalu ... apa maumu?" tanya Mahen dengan wajah serius.
"Entahlah," kata Vika datar.
Suasana kala itu membuat Vika dan Mahen terhanyut. Sinar matahari berwarna lembayung mulai menembus sela-sela daun pinus. Aroma tanah basah memenuhi rongga hidung keduanya.
Wajah Mahen mulai mendekati paras cantik Vika. Lelaki itu menyibakkan anak rambut yang menutupi muka Vika. Ibu jari Mahen mengusap lembut bibir Vika yang menggoda. Pertahanan Vika runtuh, tanpa sadar perempuan itu memejamkan mata ketika bibir Mahen semakin mendekati bibirnya.
"Ma ..., " igau Vincent.
Sontak wajah Mahen berpaling ke arah lain. Ia mengusap tengkuknya untuk mengusir rasa canggung. Kini muka Vika terlihat merah padam. Keduanya kini saling membuang muka layaknya remaja yang ketahuan sedang bermesraan.
"Ah, se-sebaiknya kita segera membangunkan Chen. Agar tahu apa keinginannya. Berkemah atau menginap di vila sekitar sini," ucap Mahen canggung.
"I-iya, aku akan membangunkannya," ucap Vika tak kalah canggung.
__ADS_1
Vika mengecup dahi Vincent, kemudian memencet lembut hidung mancut lelaki kecilnya itu. Merasa terganggu dengan ulah ibunya, akhirnya mata Vincent terbuka. Bocah laki-laki itu menguap. Jemari kecilnya mulai mengucek sepasang mata yang masih mengantuk.
"Ada apa, Ma?" tanya Vincent.
"Chen mau tetap berkemah, atau menginap di vila?" ucap Vika memberi pilihan.
"Aku ingin menginap di vila saja ma," jawab Vincent sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Baiklah, ayo bangun. Kaki mama sudah kesemutan," ucap Vika.
"Mau Papa gendong?" tanya Mahen.
Vincent mengangguk penuh semangat, kemudian merentangkan kedua tangannya.
"Baik ... ayo kita cari vila dekat sini!" seru Mahen.
.
.
.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah vila dengan gaya vintage. Vila itu memilik dinding yang terbuat dari kayu. Di depan Vila terdapat halaman yang cukup luas untuk memarkirkan mobil. Ada juga ayunan besi berwarna putih di sana.
"Sore, apa vila ini sudah ada yang menyewa?" tanya Mahen pada seorang lelaki paruh baya yang sedang menyapu di depan vila.
"Belum, Tuan. Apa Anda ingin menyewa?" tanya si penjaga Vila.
"Boleh, Pak .... "
"Ujang, nama saya Ujang. Tapi vila ini kecil, cuma punya satu kamar," jelas Pak Ujang.
"Sebentar, saya tanya mereka," ucap Mahen.
Lelaki itu melangkah ke arah Vika dan Vincent yang sedang bermain ayunan. Melihat kehadiran Mahen, Vika menoleh. Mahen menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian mulai bicara.
"Hanya ada satu kamar disini ... bagaimana?"
.
.
.
Bersambung ...
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa selalu dukung author yaa agar selalu sangat dalam berkarya...
__ADS_1
Sayang Kaliaaannn❤️❤️❤️