
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam akhirnya Vika sampai di Kota Kembang. Di hadapannya kini nampak sebuah rumah sederhana. Temboknya berwarna putih tulang, ada beberapa coretan di sana-sini. Lantai rumah itu sudah diselimuti banyak debu.
"Ini, rumah Ibu?" tanya Vika.
"Iya. Sudah lama ditinggalkan semenjak ibu menikah dengan ayahmu," ucap Bu Lasmi.
Perlahan mereka memasuki rumah yang sudah puluhan tahun terbengkalai itu. Raja yang mengekor di belakang mereka terlihat tidak suka dengan kondisi rumah yang sangat kotor.
"Tunggu!" seru Raja
Mendengar seruan Raja, dua wanita beda usia itu menoleh.
"Apa tidak sebaiknya dibersihkan dulu?" tanya Raja.
"Iya, ini nanti kan mau kami bersihkan," kata Vika.
"Lebih baik meminta bantuan orang lain, Vika sedang hamil besar. Aku takut terjadi apa-apa jika sampai ia kelelahan," ucap Raja.
"Lalu siapa yang mau membersihkan rumah usang ini?" tanya Bu Lasmi.
"Nanti kita cari orang sekitar sini," ucap Raja.
Saat sedang berdiskusi, terdengar salam dari luar rumah.
"Permisi .... "
Bu Lasmi langsung keluar untuk mengetahui orang yang tengah mengucapkan salam.
"Teh Lasmiapa seorang perempuan berkulit putih.
"Riri, apa kabar?" tanya Bu Lasmi.
"Baik. Kamu apa kabar? Masih tinggal di sini?"
"Masih atuh Teh, mau kemana lagi kalau nggak tinggal di sini?"
"Kupikir sudah pindah seperti yang lain," ucap Bu Lasmi.
Mendengar percakapan ibunya dengan orang lain, Vika memutuskan untuk ikut menyapa.
"Ini anaknya, Teh?" tanya Riri.
"Iya, kenalkan Dia Vika, putriku." Bu Lasmi mengenalkan Vika kepada Riri.
"Vika, Tante." Perempuan itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Riri.
"Ah, iya. Saya Riri. Dulu ibumu ini kerja sama saya di konveksi sebelah sana," jelas Riri sembari menunjuk sebuah bangunan lantai dua yang sekarang sudah kosong.
"Sekarang kosong?" tanya Bu Lasmi.
"Iya, bangkrut. Terus banyak yang pindah ke pusat kota. Kalau tidak ya ke ibukota seperti Teteh," jelas Riri.
"Sayang, ya," ucap Bu Lasmi singkat.
"Maaf, ya, Tante nggak disuruh masuk. Masih kotor dan berantakan soalnya," ujar Vika.
"Iya, Neng. Mau dibantu beres-beres? Sementara diberesin, Teteh sama Eneng bisa tinggal di rumah Riri," tawar Riri.
"Nggak ngrepotin?" tanya Bu Lasmi.
"Nggak lah, Teh," ucap Riri sembari tersenyum tipis.
.
.
.
__ADS_1
Kegiatan bersih-bersih itu memakan waktu setidaknya satu minggu. Akhirnya sekarang rumah sederhana itu terlihat jauh lebih baik. Tembok yang tadinya usang, dicat ulang menjadi warna hijau muda. Lantai yang awalnya berlapis debu, kini sudah mengkilap. Di Terasnya dihiasi dengan pot berisi beraneka macam bunga.
"Bu, tahu siapa pemilik bangunan kosong bekas konvensi itu?" tanya Vika.
"Tahu, Ci Lulu. Kenapa?"
"Vika berencana menyewanya untuk dijadikan butik. Kita bisa buka lapangan pekerjaan juga untuk warna sekitar sini," usul Vika.
"Boleh, tapi modalnya?"
"Vika ada sedikit tabungan, Bu."
"Baiklah, kalau begitu." Akhirnya Bu Lasmi menyetujui usul putrinya.
Dalam waktu satu minggu, bangunan itu sudah bersih dan direnovasi. Mesin jahit untuk keperluan produksi berada di lantai atas. Di lantau bawah digunakan untuk memajang hasil produksi, menerima pesanan, dan kegiatan administrasi lainnya.
Vika berencana membuka butik setelah melahirkan. Untuk sementara waktu ia sedang merekrut karyawan untuk bagian penjualan dan produksi.
"Sedang sibuk, Bu?" sapa Raja.
Vika yang sedang fokus dengan laptop dihadapannya, kini mendongak. Ia meregangkan otot-ototnya yang mulai kaku karena terlalu lama duduk.
"Iya, ternyata nggak semudah dibayangkan ya kalau mau merintis sebuah bisnis," ungkap Vika.
"Haha, ya begitulah. Tenang saja, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Semangat ya!" ujar Raja menyemangati.
Vika tersenyum lebar, pria dihadapannya ini selalu menjadi pendukung terdepan untuknya. Akan tetapi, Raja juga terus mengingatkan kalau ada sesuatu yang tidak benar.
"Mau jalan-jalan?" tanya Raja.
"Boleh ... kemana?"
"Mau lihat kedai baruku di Braga?"
"Boleh!"
Vika terkagum-kagum dengan konsep mal yang unik. Raja hanya tersenyum tipis melihat perempuan di sampingnya yang masih terpukau.
"Kedai kopimu di sebelah mana, Kak?" tanya Vika.
"Itu," ucap Raja sambil menunjuk sebuah toko di ujung hall.
"Wah, kedaimu juga mengikuti konsep mal. Jadi terlihat menyatu, keren!" puji Vika sambil mengacungkan dua jempolnya.
Mereka menghabiskan waktu di kedai itu bertemankan kopi dan kue stroberi. Semakin malam, suasana mal semakin ramai. Kedai Raja juga ikut diserbu oleh pelanggan. Banyak muda-mudi yang silih berganti memasuki kedai.
Beberapa saat kemudian, perhatian Vika tertuju pada seorang perempuan yang terlihat sedang kebingungan di depan kedai. Karena kasihan, ia menghampiri perempuan yang sepertinya seumuran dengannya.
"Kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Vika sopan.
"Saya sedang ada janji temu dengan seseorang, tetapi sepertinya dia menipu saya," ucap perempuan itu dengan mata yang mulai mengembun.
"Menipu bagaimana maksud, Kakak?"
"Jadi saya mendapatkan sebuah orderan desain kebaya, tapi orang itu tidak kunjung datang. Padahal saya sudah menunggu sejak tiga jam lalu," ucap perempuan itu dengan suara gemetar.
"Boleh saya lihat desainnya?"
Awalnya perempuan itu ragu. Akan tetapi setelah terdiam beberapa saat, ia menyodorkan sebuah amplop coklat yang sudah dibawanya sedari tadi. Vika membuka amplop itu, kemudian mengeluarkan isinya. Disana terdapat lima lembar kertas yang sudah berisi lima desain kebaya yang berbeda.
"Bisa bicara sebentar? Kita bicara di dalam, mau?" tawar Vika.
"Boleh, Kak."
Vika mengajak perempuan itu duduk bersama Raja. Calon ibu muda itu akhirnya mengutarakan niatnya untuk membeli semua desain kebaya itu.
"Begini, kebetulan saya sedang merintis sebuah butik. Saya menyukai desain yang Kamu buat. Kalau tidak keberatan, saya ingin membeli semua desain ini," ucap Vika.
__ADS_1
"Be-benarkah?" Suara perempuan itu sedikit gemetar, ujung matanya mulai basah.
"Berapa harganya?" tanya Raja.
"Sebagai rasa terima kasih, bayar saja .... "
Setelah melakukan transaksi, perempuan itu berpamitan. Vika dan Raja mengantarnya sampai depan kedai.
"Sekali lagi terima kasih ya, Kak?" ucap perempuan itu sembari tersenyum lebar.
"Sama-sama, Oya ... saya Vika, kalau Kakak berkenan bekerja sama dengan butik saya tolong hubungi saya ya?" ucap Vika sembari menyodorkan kartu nama.
"Baik, Kak. Saya permisi."
.
.
.
Dalam perjalanan pulang Raja berulang kali mengingatkan Vika untuk tidak mudah percaya kepada orang lain. Entah mengapa Raja memiliki firasat buruk terhadap perempuan yang baru saja mereka temui itu.
"Nggak lah, Kak. Sepertinya dia perempuan baik-baik," sanggah Vika.
"Baiklah, terserah Kamu. Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan orang lain," ucap Raja.
Vika hanya tersenyum menanggapi ucapan Raja. Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Vika. Bu Lasmi sedang duduk di depan rumah, ia masih sibuk memasang payet pesanan salah seorang tetangga. Melihat Vika sudah pulang, perempuan paruh baya itu menghentikan aktivitasnya.
"Kok baru pulang?" tanya Bu Lasmi sembari tersenyum tipis.
"Iya, Bu. Tadi kebetulan Vika ada urusan mendadak," kata Vika.
"Raja langsung pamit ya, Bu?"
"Nggak mampir dulu?" ucap Bu Lasmi.
"Nggak, Bu. Terima kasih, besok Raja harus berangkat lebih awal ke kedai."
"Baiklah, hati-hati di jalan ya," ucap Bu Lasmi.
"Terima kasih ya Kak, untuk hari ini." Vika tersenyum sembari menunjukkan amplop berisi desain yang ia beli.
Begitu mobil Raja meninggalkan halaman rumah, Vika dan Bu Lasmi masuk.
"Raja baik ya," tutur Bu Lasmi.
"Iya, Bu. Dia pria yang sangat baik," ucap Vika.
"Apa ... dia sudah punya pacar?"
"Vika nggak tahu, Bu. Tapi dulu temen Vika naksir ditolak sama Kak Raja," ungkap Vika.
"Hlo? Kenapa?"
"Vika kurang tahu, Bu."
"Jangan-jangan dia sukanya sama kamu, Vik?" goda Bu Lasmi.
"Aih, ibu apaan, sih! Sudah ah, Vika capek. Mau tidur," pamit Vika kemudian masuk kamar.
Vika memilih menjauh dari Mahen. Mencoba melupakan rasa cintanya yang sedang berkembang. Bukan hal yang mudah, tetapi Vika yakin bisa melaluinya. Mencoba memulai kehidupan baru, bersama ibu dan calon anaknya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...