
"Papa!" teriak Vincent.
Mata Vika terbelalak mendengar teriakan putranya. Jantungnya berdegup kencang. Perlahan kepalanya menoleh ke arah pintu kamar putranya itu.
Sosok lelaki tampan, dengan seulas senyum memikat menyapanya.
"Apa kabar?"
"Astaga! Kupikir siapa!" seru Vika.
"Lah? Siapa memangnya?" Raja mendekati Vincent yang tengah duduk di ranjang.
Kini Vincent memeluk tubuh Raja dari belakang. Jemari Raja saling bertautan untuk menahan bokong Vincent. Kemudian ia berdiri dan berjalan keluar kamar.
"Ma, aku mau main sama papa baruku! Da-da!" seru Vincent.
Vika tersenyum kecut mendengar ucapan Vincent. Ada perasaan lega dan kecewa yang ia rasakan. Lega karena bukan Mahen yang datang, hatinya belum siap kembali bertemu cinta pertamanya itu. Namun, perasaan kecewa timbul akibat hatinya yang terlalu berharap banyak.
Vika menghirup napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah perasaannnya sedikit tenang, ia melangkah keluar kamar.
Vincent dan Raja sedang bermain dengan Miko kucing Persia yang Vika belikan. Ia berharap kucing berbulu putih bersih itu bisa mengalihkan perhatian putranya. Sedikit menjadi penghibur untuk hari-hari Vincent yang mungkin akan sedikit kosong tanpa kehadiran Mahen.
"Miko!" panggil Vika.
Kucing dengan bulu putih itu kini mendekati Vika, kemudian mengusapkan kepalanya pada kaki Vika. Perempuan itu kemudian duduk bersila sambil memangku Miko.
"Ma ... Chen mau papa baru!" teriak Vincent.
"Eh, papa baru?"
"Iya! Chen mau Papa Raja!"
Mendengar ucapan keponakannya, Raja tersipu malu. Diikuti gelengan kepala Vika. Perempuan itu heran dengan mood putranya yang akhir-akhir ini tidak stabil.
"Memangnya Paman Raja mau dipanggil 'papa'?" Vika kini bertopang dagu sambil memandang ke arah Vincent, sesekali ia melirik wajah Raja yang mulai merah padam.
"Boleh kan Papa Raja?" ucap Vincent sembari mengerjapkan matanya berulang kali.
Raja mengangguk cepat, tapi kemudian menggelengkan kepalanya. Vika terbahak melihat Raja yang sedang salah tingkah. Mendengar tawa Vika pecah, Raja mengusap tengkuknya.
"Gimana sih, Paman Raja! Sungguh tidak berpendirian!" seru Vincent sambil melipat kedua lengannya.
"Eh, dapat darimana kalimat seperti itu?" tanya Vika keheranan.
"Aku sering melihat Mama bicara begitu di telepon."
Vincent kini meraih ponsel ibunya yang tergeletak di meja. Bocah laki-laki itu berdiri tegak, menempelkan ponsel ke telinganya, dan menatap serius ke arah Vika.
"Tidak bisa seperti itu! Sungguh tidak berpendirian!"
Vika melongo melihat tingkah putranya. Raja menutup bibirnya untuk menyembunyikan tawanya. Bahunya bergetar hebat karena berusaha menelan tawa.
"Me-memangnya kapan mama seperti itu?" protes Vika.
"Itu ... ma ... waktu Tante Nola sedang marahan sama si om!" Vincent berusaha mengingatkan ibunya tentang kejadian beberapa waktu lalu.
Seketika Vika teringat tentang Nola yang bingung mengenai konsep pernikahannya. Jimmy yang awalnya menyetujui konsep ala negeri dongeng, tiba-tiba berubah pikiran. Pacar Nola itu ingin mengusung konsep Rustic untuk pernikahannya.
"Ma ... Chen ngantuk," rengek Vincent sambil mengucek mata.
"Oke, ayo, bobok!" Vika kini menuntun putranya menuju kamar.
"Aku keluar sebentar," pamit Raja.
Begitu kalimat itu meluncur dari mulut Raja, Vincent langsung balik kanan. Bocah tampan itu berlari ke arah Raja, kemudian menarik-narik celana pamannya.
__ADS_1
"Paman mau kemana? Chen boleh ikut?" tanya Vincent sambil mengerjapkan matanya, dan memasang muka manis.
Raja melirik ke arah Vika sebelum memberikan jawaban. Vika hanya mengangkat kedua bahunya sembari memiringkan kepalanya.
"Baiklah, boleh ikut. Tapi janji nggak boleh rewel!" ujar Raja.
"Yeay! Asyik!" teriak Vincent sambil melompat kegirangan.
.
.
.
Kini Raja, Vincent, dan Vika sudah berada di depan sebuah bangunan yang sepertinya bekas toko. Dari luar nampak sebuah papan kayu bertuliskan Dera Fashion. Raja mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Halo, Pak. Saya sudah sampai."
" ... "
"Iya, saya tunggu." Raja mematikan sambungan telepon, kemudian memasukkannya lagi ke dalam saku.
"Mau turun dulu atau nunggu di dalam mobil?" tanya Raja.
"Turun aja, sambil lihat-lihat kondisi bangunan," ucap Vika.
Raja keluar mobil terlebih dahulu, ia berniat membukakan pintu mobil untuk Vika.
"Chen, ayo kita ke-lu-ar ... lah? Tidur bocahnya," ucap Vika.
"Ayo!" seru Raja setelah pintu mobil ia buka.
"Chen tidur, gimana?"
Vika melangkah terlebih dahulu diikuti Raja yang sudah menggendong Vincent. Mata Vika memperhatikan bangunan yang terlihat sedikit suram itu. Cat temboknya mulai luntur termakan usia. Debu juga menempel lekat di kaca jendela.
"Yakin mau membeli tempat ini?" tanya Vika.
"Iya, tempatnya strategis dan hanya sepuluh menit dari kontrakanmu," ucap Raja.
"Kenapa kontrakanku?" tanya Vika
"Ya ... supaya kalau aku penat bekerja bisa lekas pulang dan bermain dengan Chen," ucap Raja.
Mendengar ucapan Raja, Vika langsung menatap curiga lelaki di sampingnya itu. Yang ia lihat adalah ekspresi penuh keseriusan. Namun, tiba-tiba sebuah senyum jahil menghiasi bibir Raja.
"Selamat, Anda kena prank!" seru Raja.
"Awas Kamu, ya!"
Kini jemari Vika mencubit lengan atas Raja. Lelaki itu meringis kesakitan dan berusaha menghindar. Namun, Vika sekarang sedang dalam mode emak-emak gahar. Tentu saja tidak mudah bagi Raja untuk menghindari cubitan maut Vika. Jari telunjuk dan jempolnya mencubit lengan Raja tanpa ampun, layaknya kepiting yang sedang bertarung dengan predatornya.
"Ampun ... ampun ...!" seru Raja.
"Nggak! Bercandamu nggak lucu!" ucap Vika.
Pertarungan sengit keduanya berhenti ketika mendengar deheman dari seorang laki-laki. Vika dan Raja otomatis menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.
"Maaf mengganggu kemesraan kalian," ucap lelaki paruh baya bernama Pak Wira.
"Siang, Pak!" sapa Raja.
Vika mengangguk sambil tersenyum kepada Pak Wira. Pria berkumis itu kini berjalan ke arah Raja, ia mengulurkan tangannya untuk menyalami Raja.
"Mari, saya perlihatkan bagian dalam."
__ADS_1
Pak Wira kini membuka pintu, dan berjalan masuk diikuti Vika dan Raja. Ruangan itu masih tertata rapi, hanya saja diselimuti debu. Perlengkapan khas toko pakaian masih mendominasi ruangan itu.
Ada rak-rak kayu, hambalan kaca yang menempel di dinding, dan beberapa swastika. Manekin full body sempat mengejutkan Raja.
"Astaga!" seru Raja sambil memegang dadanya agar jantungnya tidak melompat keluar.
"Ini cuma patung, Mas," ucap Pak Wira.
Vika hanya terkekeh melihat tingkah Raja.
Perempuan itu heran kenapa Raja memilih tempat ini untuk membuka kedainya. Tempatnya kurang luas untuk ukuran kafe. Tidak ada dapur dan fasilitas lain yang memadai.
Usai tawar-menawar akhirnya sang pemilik melepaskan bangunan kecil itu di harga dua ratus juta.
"Ini kuncinya dan surat kepemilikan tanah dan bangunan," ucap Pak Wira sembari menyerahkan kunci dan sertifikat bangunan itu.
"Baik, Pak. Saya transfer sekarang uangnya." Raja mengotak-atik ponselnya, tak lama ia menunjukkan bukti transfer kepada Pak Wira.
"Oh, ya. Terima kasih, senang bekerja sama dengan Mas Raja."
"Sama-sama, Pak."
"Ngomong-ngomong istrinya cantik, Mas! Kayak artis, hehe," bisik Pak Wira yang masih terdengar oleh telinga Vika.
"Eh, itu ...." Belum sempat menjelaskan hubungannya dan Vika, Pak Wira memotong kalimatnya
"Sudah ya, saya pamit!" Pak Wira kemudian pergi meninggalkan Vika dan Raja yang masih terbengong-bengong.
.
.
.
Ketika dalam perjalanan pulang, Vika mencoba memberi saran kepada Raja. Ia kurang setuju dengan keputusan Raja untukembeli bangunan itu.
"Aku rasa tempat itu kurang menguntungkan kalau mau dijadikan untuk membuka kafe."
"Apa aku bilang buat kafe?" ucap Raja.
"Maksudnya?"
"Nola bilang, Kamu ingin membuka bisnis butik lagi? Ya, itu bakal butikmu nantinya," ucap Raja sambil tersenyum.
"Kak, tolong jangan seperti ini," ucap Vika sembari menunduk.
"Jangan berpikiran macam-macam. Ini salah satu bentuk investasi, aku tetap meminta hasil dari pendapat butik. Bagaimana dengan sixty fourty?" tanya Raja sambil terkekeh.
"Kaaaak, serius!" seru Vika.
"Loh, aku serius ini. Seribu rius malahan!"
Kini Vika mulai memukul mesra lengan Raja. Walaupun wajah Vika menunjuk ekspresi marah, lelaki itu tahu bahwa sekarang ini hati Vika tengah berbunga-bunga.
Ketika sedang asyik mengobrol tiba-tiba sebuah Tesla memotong laju mobil Raja.
CIIIIIIITTTTT!!!
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1