
Di Sekolah Vincent ...
Siang itu Vincent merasa tubuhnya begitu lelah. Beberapa kali ia ijin ke toilet untuk buang air kecil. Dalam satu jam Vincent bisa pipis empat sampai lima kali. Puncaknya ketika ia hendak ijin ke toilet di jam terakhir sebelum pulang sekolah.
Vincent mengangkat tangannya untuk mendapat perhatian dari Miss Karen. FC
"Ya, Chen. Mau ke toilet lagi?"
Vincent hanya mengangguk lemah. Wajahnya terlihat pucat pasi. Mata bocah itu nampak sedikit bengkak. Karena Vincent tak kunjung berdiri, Miss Karen mendatanginya.
"Apa ada yang sakit?" tanya Miss Karen.
"Disini dan disini, Miss." Vincent memegang kepala dan pinggangnya secara bergantian.
"Astaga, sejak kapan?"
Vincent menggeleng lemah karena tidak tahu pasti, kapan ia merasakan sakit di kepala dan pinggangnya. Miss Karen memapah Vincent untuk ke toilet. Saat baru berjalan tiga langkah, tubuh Vincent ambruk. Sontak seisi kelas gaduh karena panik.
Miss Karen dengan sigap membawa tubuh mungil Vincent menuju UKS. Sesampainya di sana, Dokter Farhan mengambil alih tubuhnya. Dokter tampan itu memeriksa sekilas kondisi tubuh Vincent.
"Apa orang tuanya pernah mengatakan sesuatu mengenai anak ini?" tanya Dokter Farhan dengan nada sedikit panik.
"Katanya ia menderita kelainan ginjal bawaan sejak lahir," jelas Miss Karen.
"Tolong panggilkan ambulans dan hubungi orang tuanya. Cepat!"
Usai mendapat perintah dari Dokter Farhan, Miss Karen langsung menelepon ambulans. Setelah itu ia mencoba menghubungi nomor ponsel Vika.
" ... "
"Halo, Bu Vika. Saya Karen wali kelas Chen. Putra Anda mendadak pingsan, kami akan segera membawanya ke rumah sakit."
Di ujung telepon tak ada suara respon lagi. Bahkan sambungan telepon terputus.
"Ambulans datang, biar aku yang bawa anak ini ke Rumah Sakit Pion. Tolong beritahu orang tuanya," ucap Dokter Farhan kemudian membawa tubuh mungil Vincent keluar UKS.
Miss Karen langsung mengirimkan pesan teks untuk memberi tahu Vika kemana Vincent akan dirawat.
.
.
.
Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit Pion, Vika hanya bisa menangis sesegukan. Berbagai pikiran buruk kini memenuhi kepalanya. Firasat tak baik yang ia rasakan dari tadi pagi, kini terbukti.
"A-andai saja aku sedikit saja keras kepala pagi ini! Pasti hal ini tidak akan terjadi!" ucap Vika di sela-sela tangisnya.
"Tenanglah ... Chen pasti baik-baik saja." Raja mencoba menenangkan hati Vika yang tengah kacau.
Setelah menempuh perjalanan dengan deraian air mata, akhirnya Vika sampai di rumah sakit. Kaki jenjangnya kini berlari menyusuri koridor mencari keberadaan putranya.
Raja menggenggam jemari Vika agar tidak berlari semakin jauh. Lelaki itu menuntunnya menuju konter perawat untuk mengecek dimana Vincent dirawat.
"Permisi, Sus. Bisa minta tolong mengecekkan pasien atas nama Vincent Aditama?"
"Baik, Pak. Sebentar."
__ADS_1
Isakan tangis Vika masih bertahan hingga kini. Raja mencoba memberinya pelukan, dan kecupan ringan pada puncak kepala Vika agar dia sedikit tenang. Si perawat kini tengah menggerak-gerakkan tetikus untuk mengecek data pasien.
"Vincent Aditama, lima tahun sepuluh bulan, kini sedang dirawat intensif di ruangan ICU khusus anak-anak," ujar si perawat.
"Baik, terima kasih, Sus," ucap Raja.
Mendengar kata ICU membuat jantung Vika seakan berhenti berdetak. Bayangan masa lalu kembali mencuat. Ia kembali teringat almarhum ayahnya yang berakhir di ruangan itu.
Kakinya lemas seakan tak bertulang, tubuhnya hampir saja tumbang jika Raja tidak memapahnya. Mereka berdua mulai berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan si perawat.
Ketika sampai di depan ruang PICU, seorang dokter yang memakai perlengkapan khusus baru saja keluar. Vika dan Raja bergegas menghampiri dokter tersebut.
"Permisi, Dok," ucap Raja.
Dokter itu hanya terdiam sampai akhirnya Vika angkat suara.
"Sa-saya Ibu Vincent," ujar Vika sambil berusaha menguatkan hatinya.
"Oh, baiklah. Mari ikut dengan saya."
Raja dan Vika kini mengekor di belakang sang dokter. Setelah sampai di sebuah ruangan dengan papan nama dr. Charlie Tan Sp.A, mereka masuk.
"Silahkan duduk."
Vika dan Raja duduk serta mempersiapkan hati mereka, untuk mendengarkan hal yang akan Dokter Charlie ucapkan.
"Saya di sini sebagai dokter penanggungjawab ananada Vincent Aditama. Bapak dan Ibu bisa memanggil saya Dokter Lie," ucap sang dokter memperkenalkan diri.
"Jadi bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Vika.
Dokter muda itu kini menghela napas kasar. Tatapannya terlihat serius dibalik kacamata lensa minusnya. Sebelum mulai bicara, ia membetulkan posisi kacamata.
Vonis Dokter Lie seakan petir yang menyambar Vika di tengah gurun pasir. Terbersit di pikirannya bahwa dokter di hadapannya ini salah diagnosa. Akan tetapi, dilihat dari sisi manapun tidak mungkin seorang dokter menggunakan kondisi pasien sebagai lelucon.
"Kami belum bisa mendapatkan donor ginjal yang cocok untuk Chen, Dok," ucap Raja.
"Pihak rumah sakit sudah memasukkan nama Vincent dalam daftar resipien. Semoga segera mendapatkan pendonor yang cocok," terang Dokter Lie.
"Baik, terima kasih, Dok. Kami permisi," pamit Raja sambil menyenggol lengan Vika.
Vika berjalan gontai keluar ruangan itu. Ia menolak uluran tangan Raja yang hendak memapahnya. Vika mengandalkan tembok rumah sakit yang dingin sebagai tumpuan. Isakannya terus keluar mengingat setiap kata yang Dokter Lie ucapkan.
Saat ini hanya pikiran negatif yang berputar dalam kepala Vika. Raja terus mengekor di belakang Vika. Setiap tubuh Vika hampir tumbang, ia dengan sigap menangkapnya. Sepuluh kali ia mencoba memberi Vika tumpuan, sepuluh kali pula ia ditolak.
"Mau melihat Chen?" tanya Raja.
"Aku tak sanggup melihatnya dalam kondisi seperti itu, Kak." Vika terus mengusap air matanya.
Raja hanya bisa menghela napas yang kini terasa menyesakkan. Tak lama kemudian sebuah panggilan dari Mahen masuk. Walau ragu, lelaki itu akhirnya mengangkat telepon dari sang kakak. Ia menjauh dari Vika agar tidak membuat suasana hatinya semakin hancur.
.
.
.
~Mahen POV~
__ADS_1
Seakan mengetahui kondisi buruk yang sedang dialami putranya, Mahen menghubungi Raja. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa dihubungi saat ini. Vika telah memblokir nomor ponselnya.
Setelah mencari menelepon berulang kali, akhirnya Raja mengangkat panggilannya.
"Halo ... perasaanku tak enak sejak tadi pagi. Apa ada hal buruk terjadi?"
" ... "
"Apa?"
" ... "
Mendengar kabar buruk dari Raja mengenai Vincent, Mahen mengusap kasar wajahnya. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Teriakan frustasi lolos dari bibir tipisnya.
Bu Winda yang terkejut langsung membuka pintu kamar Mahen.
"Kenapa?" tanya Bu Winda panik.
"Vincent sedang sekarat, Ma."
"Mahen! Apa Kamu lupa? Atau Kamu sedang tidak waras? Vincent sudah lama pergi dari dunia ini!" seru Bu Winda.
"Tidak! Sebenarnya mereka semua masih hidup, Ma. Lima tahun yang lalu ... mereka tidak jadi berangkat ke New York."
Bu Winda menutup mulutnya yang kini menganga lebar. Ia tak percaya dengan takdir yang tengah dialami putranya.
"Lalu ... se-sekarang mereka dimana?" tanya Bu Winda.
"Sekarang Vincent tengah berjuang diantara hidup dan mati, Ma." Mata Mahen memerah menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Maksudmu?"
"Aku barusan mendapat kabar buruk dari Raja. Vincent membutuhkan donor ginjal secepatnya," jelas Mahen dengan suara yang mulai bergetar.
"Donor ginjal? Apa maksudnya? Mama tidak mengerti."
"Vincent mengalami kelainan ginjal sejak lahir, selama ini bocah kecil itu harus menjalani dialisis agar tetap bertahan hidup."
Bu Winda kembali berkubang dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Ia kembali merutuki semua hal buruk yang telah ia lakukan terhadap Vika dan cucunya selama ini.
"Mama akan mendonorkan ginjal mama untuknya! Kita ke sana sekarang!"
Mahen langsung mengambil kunci mobilnya. Sedangkan Bu Winda mencoba mengabari suaminya yang sedang mengajak Maura berkeliling kompleks.
.
.
.
Bersambung ...
Yeay akhirnya hari ini bisa update 3 bab.
Maaf yaa belum bisa sesuai jadwal jam tayang.
Sejak semalam para author dibuat kalang kabut karena sistem platform yang ada sedikit gangguan. Jadi banyak novel yang baru lolos review tadi siang.
__ADS_1
Semoga besok bisa lancar up 3 bab sehari. Selain untuk segera menamatkan novel ini, juga sebagai rasa terima kasih Chika kepada para pembaca setianya.
Sayang Kaliaaaannn 😘😘😘