
Maura Putri Mahendra, balita kecil berumur dua tahun itu tengah terbaring lemah. Nova tengah menggenggam tangan kecil putrinya. Perasaan khawatir memenuhi hatinya. Beberapa jam terakhir tubuhnya mendadak panas.
Maura memang mudah sekali sakit. Daya tahan tubuh balita itu sangat lemah. Saat memandang putrinya, terlintas kepingan masa lalu Nova.
.
.
.
Empat tahun yang lalu ...
"Mahen, sampai kapan Kamu mengacuhkanku!" seru Nova.
"Pergilah, aku sedang ingin sendiri." Mahen sana sekali tidak mempedulikan Nova.
Lelaki itu masih belum bisa melupakan kecelakaan pesawat yang membawa putranya ke New York. Waktu terus berjalan, tetapi Mahen masih terus meratapi kepergian Vika dan putranya. Selain itu, Mahen merasa bersalah kepada Raja. Ia menuduh bahwa saudara tirinya itu berselingkuh dengan Vika.
Di sisi lain, Nova hampir tidak tahan dengan keadaan rumah tangganya yang begitu kacau. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk kembali memenangkan hati Mahen. Namun, hasilnya hanyalah air mata di setiap malamnya.
Pagi itu, Nova tengah melamun di meja kerjanya. Butiknya juga sedang sepi. Tanpa disangka, ibu mertuanya datang berkunjung.
"Ma ..., " sapa Nova.
"Hm," jawab Bu Winda singkat kemudian duduk di atas kursi.
"Ada apa, Ma? Tumben .... " Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Bu Winda kembali angkat suara.
"Aku tidak suka basa-basi! Jika tidak segera hamil, bercerailah dengan Mahen!" teriak Bu Winda.
"Ma, tolong jangan seperti ini!" seru Nova.
"Aku sudah cukup bersabar! Aku menerimamu sebagai menantu karena kebetulan!" ucap Bu Winda sinis.
"Apa? Kebetulan? Ma ... jika tidak ada aku ketika Mahen kecelakaan, mungkin saat ini Mahen sudah .... " Ucapan Nova kembali dipotong Bu Winda.
"Hahaha! Jika saja Mahen waktu itu tidak merengek untukmu, mungkin sekarang kamu akan tetap mengamen di bus kota atau lampu merah! Apa perlu aku mengingatnya untukmu?" seru Bu Winda.
"Mama .... "
Nova sudah kehabisan kata-kata. Ia memutuskan untuk menghentikan perdebatannya dengan Bu Winda. Setelah menyampaikan niatnya mengunjungi Nova, Bu Winda langsung meninggalkan butik.
Istri pertama Mahen itu meremas rambutnya. Ia tak mau menjalani kehidupan lamanya. Tidur di kolong jembatan atau emperan toko. Bertemu Bang Jali si preman kejam yang selalu memukul jika uang setoran kurang. Sungguh Nova tidak rela jika harus kembali berkubang dengan itu semua.
Akhirnya ia berusaha sekuat yang ia bisa untuk segera mengandung. Meluluhkan kembali hati Mahen, kemudian kembali menjalani program kehamilan. Berkat usahanya, akhirnya Nova bisa melahirnya Maura si bayi cantik nan menggemaskan.
.
.
.
Entah sejak kapan Nova tertidur. Ibu Maura itu terbangun ketika merasakan rambutnya disentuh. Matanya mulai terbuka, ditegakkannya badan rampingnya. Ketika mendongak, tubuh tegap Mahen sudah berdiri di sampingnya. Nova langsung menghambur ke pelukan Mahen.
"Apa kata dokter?" tanya Mahen sembari mengusap punggung istrinya.
"Hanya demam biasa karena tumbuh gigi," ucap Nova.
__ADS_1
"Astaga, kenapa tadi bisa sepanik itu?"
Mendengar pertanyaan Mahen, tiba-tiba Nova melepaskan pelukannya. Matanya menatap tajam ke arah Mahen. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.
"Ibu mana yang tak panik melihat anaknya mengalami panas tinggi! Kau tahu? Sedari tadi Maura terus menyebut namamu!" seru Nova dengan suara dingin. Kemudian perempuan itu keluar dari kamar inap putrinya.
"Sayang, tunggu!" seru Mahen sembari menyusul Nova.
Mahen akan kepayahan jika istrinya itu mulai merajuk. Nova hanya akan luluh dengan satu hal, jumpalitan di atas ranjang bersamanya. Namun, ini rumah sakit! Artinya ia akan luluh setelah Maura diijinkan pulang oleh dokter.
Setelah dirawat selama dua hari, akhirnya Maura boleh pulang. Mahen dan Novabawa putri kecilnya itu mampir ke Rumah Besar terlebih dahulu.
"Wah, cucu Opa sudah pulang!" ucap Pak Theo sembari mengambil alih tubuh Maura dari gendongan Mahen.
"Mama kemana, Pa?" tanya Mahen.
"Sedang di dapur, dari tadi pagi ia sibuk memasak ini itu untuk Maura," jawab Pak Theo.
"Nova susul Mama dulu ya, Pa," pamit Nova.
Pak Theo dan Mahen mengajak Maura bermain di halaman belakang. Balita lucu itu masih terlihat lesu, tetapi sudah mau diajak bercanda. Sesekali dia menunjukkan deretan gigi susunya ketiga diajak bercanda oleh ayah dan kakeknya.
"Bagaimana bisnismu?" tanya Pak Theo.
"Baik-baik saja, Pa. Terima kasih sudah memberikanku dukungan penuh."
"Sudah menjadi kewajiban papa untuk terus mendukung anak-anaknya," ucap Pak Theo.
"Lakukan juga hal itu kepada anak-anakmu kelak, jangan pernah membedakan satu sama lain," imbuh Pak Theo.
"Kejadian waktu itu meninggalkan luka dalam bagi kita semua. Bahkan mamamu yang egois juga merasakan hal yang sama," ucap Pak Theo.
Sejak kejadian itu, keluarga Dirgantara diselimuti rasa bersalah dan kesedihan luar biasa. Namun, mereka segera bangkit dan melanjutkan hidup.
Perusahaan milik Mahen yang hampir kolaps, berhasil melewati masa kritisnya. Pak Theo sempat terkena serangan jantung, dan Bu Winda tertekan akibat rasa bersalah. Semua bisa terlewati seoring berjalannya waktu.
"Papa ... mamam," ucap Maura dengan mata memelas.
"Ula lapar? Baiklah ... ayo susul mama di dapur!" ajak Mahen.
Lelaki itu langsung menggendong putrinya dan bergegas menuju dapur. Sesampainya disana, air liur Mahen hampir menetes. Bu Winda tengah memasak bermacam-macam makanan. Ada krim sup jagung kesukaan Maura. Ayam bakar madu favorit Pak Theo, soto Banjar idola Nova, dan cumi asam manis kedoyanan Mahen.
"Ma ... ada acara apa ini? Masak banyak banget?" tanya Mahen sembari mendudukkan Maura di kursi bayinya.
"Lagi pengen aja, sebagai ucapan syukur kalau Maura pulang dari rumah sakit," ucap Bu Winda.
"Mamamu, tuh. Giliran tiap harinya tiap papa minta dimasakin ini itu, bilangnya ... 'udahlah pa, beli aja!' kan sebel papa," gerutu Pak Theo.
"Ya kan cuma berdua, Pa! Nanggung mau masak," sahut Bu Winda sembari bersungut-sungut.
Mahen dan Nova hanya menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan suami dan istri itu. Mereka baru berhenti berdebat ketika Maura mulai merengek.
"Eh, kenapa cucu oma?"
"Iya, kenapa, Nak?" ucap Pak Theo
"Sepertinya Maura sudah lapar sekali," kata Nova sembari meraih mangkuk berisi krim sup.
__ADS_1
"Aduh, maaf ya, Sayang. Yuk, kita makan!"
Hari itu Nova dan Mahen memutuskan untuk menginap di sana. Bahkan Maura tak mau lepas dari kakek dan neneknya.
.
.
.
"Baik ... nanti untuk pembagian hasil, kita bisa bicarakan .... "
" ... "
"Biasanya fifty-fifty .... "
" ... "
"Baik, saya tunggu sore ini."
Mahen mematikan sambungan telepon. Ada brand mekap terkenal ingin masuk ke dalam departemen store miliknya. Perusahaan kosmetik itu terkenal bonafit.
Saat sedang sibuk dengan gawainya, kaki jenjangnya ditumbuk oleh sosok anak kecil. Badan anak itu sampai terpental karena kaki Mahen yang kokoh.
"Astaga!" teriak Mahen.
Tubuh kecil anak itu mulai bangkit. Mahen mendekati anak laki-laki yang tadi menabraknya. Wajahnya terlihat ketakutan.
"Hai, Boy! Lain kali hati-hati ya? Mau permen?"
Anak itu memandang Mahen dengan tatapan curiga. Kakinya mundur dua langkah.
"Mama bilang tidak boleh menerima apapun dari orang asing!" seru anak itu.
"Pintarnya! Siapa namamu?"
Mahen berusaha mengusap rambut tebal anak itu, tapi dengan sigap lengannya ditepis. Melihat tingkah bocah laki-laki itu Mahen terkekeh.
Dari sudut matanya, Mahen melihat langkah kaki seorang perempuan dengan pump shoes mendekat.
"Chen, darimana saja?"
.
.
.
Bersambung...
Haiii...
Semoga suka yaa ceritanya...
Terus berikan dukungan kepada Author dengan meninggalkan Like, komen, dan Vote yaa....
Sayang Kaliaaannn ... 😘😘😘
__ADS_1