
Vincent langsung berdiri kemudian merentangkan kedua lengannya. Bocah itu menantikan dekapan sang ayah dengan antusias. Mahen pun tanpa ragu merengkuh tubuh putranya. Ia memeluk tubuh Vincent erat, Seakan tak ingin berpisah lagi.
"I miss you soo bad, Chen!" seru Mahen.
"I miss you too, Papa," ucap Vincent sembari menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh ayahnya.
Kemesraan ayah dan anak itu berakhir ketika Vika mendekati Vincent. Perempuan itu berusaha menata hatinya dan mengontrol ekspresinya agar terlihat tetap tenang.
"Chen, mama keluar dulu menyelesaikan administrasi. Chen baik-baik ya disini bersama paman," ucap Vika.
Mendengar sebutan paman Vincent dan Mahen langsung beralih ke mode merajuk. Raja yang menyaksikan momen itu hanya bisa terkekeh.
"Eh, anu ... papa maksudku," ucap Vika sembari nyengir kuda.
Usai Vika mengoreksi panggilannya untuk Mahen, dua lelaki beda usia itu langsung memasang wajah sumringah sambil mengacungkan jempol mereka. Vika menggeleng, kemudian keluar dari ruang inap Vincent.
"Benar-benar tidak adil! Aku yang mengandung, melahirkan, bahkan merawatnya sampai sekarang. Namun, kenapa Vincent tidak memiliki sesuatu yang mirip denganku!" gerutu Vika dalam hati.
"Chen, paman pamit pulang ya? Baik-baik dengan papamu. Jika dia nakal, pukul saja!" seru Raja sembari menunjukan kepalan tangannya di depan muka Mahen.
Melihat tingkah adiknya, Mahen melotot diikuti gelak tawa Vincent. Mahen mendudukkan putranya ke atas ranjang, kemudian mengacak-acak rambut Vincent.
"Tunggu di sini sebentar, papa mau mengantar paman," ucap Mahen.
"Iya, Pa." Vincent kini tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya ke arah Raja.
Mahen dan Raja akhirnya keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan beriringan sampai ruang perawat, kemudian berhenti.
"Terima kasih," ucap Mahen.
"Aku tidak melakukan apapun, ini murni keinginan Chen. Kuperingatkan Kakak, agar jangan membuat kedua orang itu menangis. Atau aku akan membawa mereka pergi jauh!" ancam Raja.
"Maksudmu?" tanya Mahen.
"Tidak ada, aku pamit." Kini Raja bergegas meninggalkan Mahen yang masih dipenuhi tanda tanya besar di kepalanya.
.
.
.
Usai menyelesaikan administrasi, Vika kembali lagi ke kamar Vincent. Pemandangan menyejukkan memanjakan matanya. Anaknya sedang tertidur pulas dalam dekapan Mahen.
Vika mulai melangkah mendekati Mahen dan Vincent. Ia mengusap lembut pipi putranya itu.
"Biar aku yang menggendongnya," ucap Mahen.
"A-aku akan turun terlebih dahulu, biar kubawa tasnya," ucap Vika kemudian meraih tas jinjing yang sudah ia siapkan sedari tadi.
__ADS_1
"Kita pulang bersama. Aku ingin tahu dimana kalian tinggal," tegas Mahen.
"Mobilku?" tanya Vika
"Biar nanti sopirku yang mengantarkannya," jawab Mahen kemudian beranjak dari sofa sambil menggendong Vincent.
Vika dan Mahen kini berjalan beriringan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan semua orang menatap keduanya layaknya melihat model tengah berjalan di atas catwalk.
Vika hanya menunduk karena paling benci menjadi perhatian banyak orang. Sedangkan Mahen tetap melangkah penuh percaya diri tanpa menghiraukan tatapan orang-orang.
Usai melewati koridor rumah sakit yang panjang dan lama itu, mereka sampai di parkiran.
"Tolong bukakan pintu, kunci mobi ada di kantong celanaku," ucap Mahen.
Vika mengambil kunci mobil dan membukakan pintu untuk Mahen. Setelah merebahkan putranya di kursi belakang, ia langsung menuju kursi kemudi. Vika yang sudah masuk terlebih dulu terlihat kesulitan masang sabuk pengaman.
"Ck, mobil bagus begini kenapa sabuk pengamannya macet!" gerutu Vika dalam hati.
Melihat Vika yang sedang kepayahan, Mahen mencoba membantu. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah Vika, kemudian memasangkan sabuk pengamannya.
Klik!
Terdengar suara sabuk pengaman yang sudah terpasang dengan benar. Tak sengaja tatapan dua anak manusia itu beradu. Mahen bisa menghirup aroma manis dari tubuh Vika. Aroma yang pernah membuatnya mabuk kepayang di hari ulang tahun Vika beberapa tahun lalu.
Mahen sebisa mungkin mengontrol perasaannya. Ia tidak mau tergesa-gesa dalam bertindak. Lelaki itu harus berjuang untuk mendapatkan kepercayaan Vika.
"Te-terima kasih, Kak," ucap Vika.
Tanpa sepengetahuan Mahen, jantung Vika berpacu dua kali lebih cepat. Rasanya seperti akan meledak. Vika berulang kali merutuki dirinya yang lemah. Pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun, apakah semudah itu akan runtuh?
.
.
.
Setelah mengendari mobil selama setengah jam, akhirnya mereka sampai di apartemen Nola. Awalnya Mahen berniat untuk mengantar sampai depan pintu apartemen Nola. Namun, Vika menolaknya tegas.
"Terima kasih," ucap Vika.
Mahen kini melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Vincent. Bocah laki-laki itu masih terlelap, dan kini berpindah ke dalam gendongan Vika.
"Aku masuk dulu," pamit Vika.
Mahen mengangguk, kemudian Vika langsung melangkah pergi. Ayah dari Vincent itu masih menatap punggung Vika yang semakin menjauh. Bagitu sosok Vika menghilang dibalik pintu lift, Mahen masuk mobil dan pergi.
~BEBERAPA HARI KEMUDIAN~
"Mama, apa hari ini kita akan berlibur?" tanya Vincent berapi-api.
__ADS_1
"Ya, kemana?"
"Berkemah, papa ingin mengajakmu berkemah," ucap Vika.
"Berkemah? Apa itu, Ma?"
Vika menghentikan aktivitas beberesnya, kemudian menangkup kedua pipi putranya dengan telapak tangan.
"Berkemah itu, menginap atau tidur di alam bebas. Tidak ada kasur empuk, ataupun kamar yang nyaman," jelas Vika.
"Boleh bawa Nono?" tanya Vincent sembari menyodorkan boneka tirex berwarna hijau tua.
"Boleh dong!"
"Asyik!" seru Vincent sembari melompat kegirangan.
"Cie ... yang mau tamasya ..., " goda Nola yang baru keluar dari kamar mandi.
"Bukan tamasya Tante, tapi ber-ke-mah!" protes Vincent.
"OOO ... ber-ke-mah?" ucap Nola menirukan gaya bicara Vincent.
Melihat tingkah sahabatnya ibunya itu, Vincent beralih ke mode merajuk. Bocah itu langsung memancungkan bibirnya dan melipat kedua lengannya di depan dada. Melihat tingkah lucu Vincent, Nola tidak bisa menahan tawanya. Vika yang melihat perseteruan sengit keduanya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Oke, sudah semua. Kami berangkat dulu ya, Nola," pamit Vika.
"Iya, Vik. Hati-hati di jalan ya?" ucap Nola.
Vika tersenyum tipis, kemudian menggendong tas ranselnya. Jemari lentiknya ditautkan dengan jari kecil Vincet. Lalu mereka berdua keluar dari apartemen.
Di parkiran basemen Mahen tengah menunggu mereka. Lelaki itu mengenakan hoodie berwarna hijau dengan celana denim yang robek bagian lutut. Ayah dua anak itu tetap mempesona apapun pakaian yang melekat padanya.
Mahen sedang fokus dengan ponsel dalam genggamannya sambil bersandar pada Fortuner hitamnya. Vincent melepaskan tautan jemarinya dari sang ibu kemudian berlari ke arah ayahnya.
"Papa!" teriak Vincent sambil berlari ke arah Mahen.
Mendengar panggilan Vincent, Mahen memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kemudia berjongkok. Tangannya direntangkan lebar. Lalu tubuh mungil Vincent menumbuknya menuntut sebuah pelukan.
Rasa iri menyelinap di hati Vika. Ia seakan dilupakan oleh bocah yang sebentar lagi berusia enam tahun itu. Namun, ia sudah bertekad memberikan kebahagiaan untuk Vincent.
Walau terasa berat, ia terus melangkah ke depan. Vika berharap Mahen tidak akan mengecewakannya dan juga Vincent.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1