
Vika kini sedang menatap sedih ke arah putranya masih belum sadarkan diri. Ia menguatkan hati untuk menemani Vincent. Kembali terngiang di telinganya mengenai beberapa permintaan Vincent sebelum kondisinya menurun.
Rasanya seperti mimpi. Tubuh yang suka berlarian kesana kemari dan tak bisa diam itu, sekarang tengah terbaring lemah di atas brankar. Bibir Vincent yang biasanya tidak berhenti mengoceh, kini terlihat kering dan tertutup rapat.
"Chen, mama tahu Kamu anak yang kuat. Mari berjuang bersama. Kamu pasti bisa melewati ini semua."
Vika mengecup lembut tangan mungil Vincent. Berkat semangat dan energi positif yang Raja berikan, Vika bisa lebih tegar. Ia sudah bertekad untuk terus kuat demi Vincent.
Sebuah ketukan dari jendela membuat Vika terbelalak. Di luar PICU sudah ada Mahen, Bu Winda, dan Pak Theo. Tatapan mereka bertiga menyiratkan kesedihan yang sama dengan Vika. Akhirnya Vika melangkah keluar dengan berat hati.
Begitu Vika keluar, Bu Winda langsung membawa tubuhnya ke dalam pelukan. Perempuan paruh baya itu menangis sejadi-jadinya. Berulang kali ia mengucapkan permintaan maaf.
Setelah berusaha sekuat hati agar tidak menangis, akhirnya pertahanan Vika roboh. Air matanya kembali mengalir deras membasahi blus yang dipakai Bu Winda. Dua perempuan beda usia itu sekarang tengah berbagi pedih dan saling menguatkan.
Begitu tangis keduanya mulai reda, Bu Winda mengatakan sesuatu yang tak pernah Vika duga.
"Mama akan coba berkonsultasi dengan dokter mengenai tranplantasi ini. Jika ginjal mama atau papa cocok, dengan senang hati kami akan berikan untuk Vincent," ucap Bu Winda sambil menghapus bulir air mata Vika.
Perasaan haru kembali memenuhi dada Vika. Ia mengangguk cepat tanda setuju. Perempuan itu melirik ke arah Mahen yang terlihat kacau. Rambut Mahen terlihat acak-acakan, dan kemeja yang ia pakai kelihatan kusut.
"Mama dan papa akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu."
Bu Winda dan Pak Theo kini berjalan menuju ruang pemeriksaan. Di depan ruang PICU kini menyisakan Mahen dan Vika. Keduanya saling diam dan Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Mahen angkat bicara.
"Sejak kapan kondisi Chen mulai memburuk?"
"Baru tadi pagi, tetapi langsung jadi begini. Sebelumnya ia selalu ceria dan aktif seperti biasa. Hanya saja ...."
"Hanya saja?"
"Tadi pagi Chen lebih banyak diam, dan dengan bodohnya aku tak mencegahnya untuk tetap bersekolah. Ha-harusnya aku tidak mengijinkannya untuk bersekolah," ucap Vika sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan.
Mahen rasanya ingin sekali membawa Vika ke dalam pelukannya. Akan tetapi, ia urungkan. Ia tak mau memperburuk keadaan ataupun dikatakan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Jadilah Mahen hanya mengelus lembut punggung perempuan yang dicintainya itu. Tak lama Raja mulai menghampiri mereka.
"Kak, sudah lama?" tanya Raja.
"Belum."
"Vika, makan dulu. Dari tadi pagi kamu belum makan," ucap Raja sambil menyodorkan kotak berisi makanan.
"Iya, Kamu harus tetap kuat demi Chen," bujuk Mahen.
Vika kemudian meraih kotak makanan itu dari tangan Raja. Dibukanya perlahan, aroma rendang yang biasanya membuat cacing di perutnya bergejolak, kini terlihat biasa saja. Vika akhirnya menyuapkan nasi Padang itu ke dalam mulut. Rasanya hambar, sehambar hatinya saat ini.
.
.
.
Beberapa hari kemudian ...
Setelah melalui beberapa proses pemeriksaan dan tes laboratorium, akhirnya dokter menyatakan ginjal Bu Winda lah yang cocok sebagai pendonor. Dokter menyarankan Bu Winda untuk mengatur pola makan dan rutin berolah raga sebelum melakukan transplantasi.
"Mama pulang dulu, semoga nanti operasinya lancar," ucap Bu Winda sambil tersenyum lembut.
"Terima kasih, Ma," ucap Vika sambil memeluk erat ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Kabar dari dokter menjadi angin segar bagi Vika. Semangatnya kembali bangkit. Ia selalu berdoa untuk kesembuhan Vincent. Semoga setelah ini, putranya bisa memiliki kehidupan normal layaknya anak-anak lain. Tanpa harus menjalani dialisis yang menyakitkan.
"Ayo, Ma. Takutnya Maura merajuk," ajak Pak Theo.
"Kami pulang dulu, ya, Vik," pamit Pak Theo.
"Aku mau di sini menemani Vika, Pa, Ma," ucap Mahen sembari menatap lembut ke arah Vika.
Pak Theo dan Bu Winda mengangguk lalu pergi dari Rumah Sakit itu. Mahen mencoba mengajak bicara Vika setelah tidak bertemu berhari-hari.
"Vik, maaf ... maaf untuk semua perlakuan buruk keluargaku selama ini." Mahen menunduk penuh penyesalan.
"Aku sudah memaafkan kalian sejak lama. Menyimpan dendam tidak baik untuk kesehatan mentalku. Selama ini aku berusaha untuk belajar ikhlas. Bukankah Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita?" Vika menatap sendu ke arah Mahen.
"Hatimu benar-benar lapang, Vik. Apa masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya?"
Vika menghela napas. Tatapannya kini beradu dengan tembok rumah sakit.
"Sejujurnya, rasa yang dulu pernah ada untukmu masih tersimpan rapi di dalam hatiku, Kak. Namun, untuk kembali bersama denganmu ... mungkin aku akan memikirkannya ribuan kali," ungkap Vika sambil tersenyum lembut.
Dada Mahen bergetar mengetahui perasaan Vika saat ini. Akan tetapi di waktu yang sama hatinya terasa pedih karena Vika yang bisa saja menolaknya untuk kembali bersama.
"Aku sudah mendaftarkan perceraianku dengan Nova, setelahnya aku akan menikahimu."
"Kak Mahen yakin? Setelah bersamaku akan menjamin hidup Kakak lebih bahagia ke depannya?"
"Apapun permasalahannya ... asal Kamu tetap berada di sisiku, pasti aku akan berjuang," ucap Mahen.
Kini jemarinya bergerak ke arah tangan Vika. Namun, dengan cepat Vika menepisnya saat hendak mendarat di punggung tangannya.
"Kak, tolong jangan seperti ini. Aku saat ini hanya ingin Chen segera sadar dan sembuh."
.
.
.
~Nova POV~
"Mama!" teriak Maura sambil berlari ke arah ibunya.
Nova jongkok kemudian merentangkan kedua tangannya. Tubuh mungil Maura menumbuk Nova dan jatuh ke dalam pelukannya.
"Mama kangen Maura!" seru Nova sambil mencium pipi gembul Maura.
"Ula juga kangen Mama!"
"Oma dan opa kemana?" Nova kini berdiri kemudian mulai melangkah masuk ke Rumah Besar.
"Di Rumah Sakit. Kata oma, kakak sakit."
"Kakak siapa?"
"Kakak ganteng, Mama! Kakak Chen," ucap Maura.
Nova masih tidak mengerti arah pembicaraan putrinya. Akhirnya ia bertanya kepada Mbok Minah, asisten rumah tangga mertuanya.
"Mbok, papa sama mama kemana?"
__ADS_1
"Itu ... ke rumah sakit, mau ada tranplantasi ginjal buat cucu pertamanya," jelas Mbok Minah sambil terus mengelap piring untuk makan malam.
"Vincent? Dia sakit?"
"Iya ... sudah lama sakitnya, beberapa hari lalu mbok denger percakapan tuan muda dengan nyonya." Kini Mbok Marni menata piring-piring itu ke atas meja makan.
Tak lama kemudian Pak Theo dan Bu Winda datang. Maura langsung berlari ke arah mereka. Pak Theo membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya.
"Maura hari ini nakal atau nggak?"
"Nggak, kok. Ula hari ini cantik, baik, diam, dan tidak nangis," ucap Maura sambil menunjukkan jemari kecilnya.
"Anak pintar!" seru Pak Theo kemudian mencium pipi Maura.
"Mbok, tolong bawa Maura masuk," ucap Bu Winda.
Maura kini berada dalam gendongan Mbok Marni dan diantar masuk ke kamarnya. Sedangkan tiga orang dewasa lainnya duduk di ruang tengah.
"Ada apa malam-malam datang kesini?" tanya Bu Winda dengan nada dingin.
"Nova kangen Maura, Ma."
"Kangen? Mama kecewa sama Kamu!" seru Bu Winda.
"Ma ... tenang," ucap Pak Theo sambil merengkuh bahu istrinya.
"Bagaimana Kamu tega menyakiti Maura? Dia dibawa oleh Mahen ke sini dengan luka memar! Kamu apakan cucuku?" Tanya Bu Winda dengan nada tinggi.
"No-Nova saat itu sedang emosi, Ma ...." Nova menunduk sambil memilin jemarinya sendiri.
"Hah! Mama tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu! Tolong keluar sekarang! Sebentar lagi surat gugatan cerai dari Mahen akan sampai ke tanganmu!" seru Bu Winda sambil menunjuk ke arah pintu.
"Ma ...." Suara Nova terdengar sangat putus asa.
"Pergi!" teriak Bu Winda.
Akhirnya, dengan langkah berat perempuan itu meninggalkan kediaman Dirgantara dengan deraian air mata.
"Gugatan cerai? Semudah itukah Kau melupakan kebersamaan kita?" lirih Nova sembari tersenyum kecut.
Malam itu Nova pulang ke rumah dengan keadaan hati yang kacau. Kepalanya terasa berat. Sedetik kemudian ia tertawa seperti orang gila. Perempuan itu mulai menghapus air matanya.
"Semua gara-gara Kamu, Vika! Tunggu saja apa yang akan aku lakukan untuk menghancurkanmu!" seru Nova.
.
.
.
Bersambung...
Halo Readers tercintaku...
Beberapa waktu lalu ada yang bilang kok sikap Nova berubah-ubah?
FYI, Nova itu sebenarnya menderita gangguan mental yang biasa disebut dissociative identity disorder atau memiliki kepribadian ganda. Kok bisa? Nanti akan ada part yang menceritakan kenapa hal itu bisa terjadi.
Yang sabar yaa, Bos! 😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa terus beri dukungan untuk Chika yaa agar terus semangat dalam berkarya.