
Sejak kegiatan perkemahan yang gagal itu, Vika dan Mahen lebih sering bertemu. Seminggu sekali mereka akan menghabiskan waktu bersama seharian. Jika Mahen sedang senggang, ia akan menjemput Vincent saat pulang sekolah kemudian nongkrong di tempat Baba penjual kebab.
Hari itu Vincent dan Mahen tengah menunggu kebab istimewa Baba. Keduanya saling bercerita mengenai keseharian masing-masing karena sudah seminggu tidak bertemu. Mahen tengah sibuk mempersiapkan toko yang akan buka di luar kota.
"Jadi, kemarin Chen menang lomba melukis, Pa," ucap Vincent dengan gaya khas anak-anak.
"Oh, ya? Selamat! Chen memang hebat!" seru Mahen sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Papa masih sibuk, ya? Chen mau bobok lagi bareng Papa," kata Vincent sembari meremas ujung celananya.
"Nanti kalau papa sudah tidak sibuk, kita menginap lagi di vila kemarin, mau?" tanya Mahen.
"Mau! Nanti Chen pokoknya mau bawa pulang Miki!" seru Vincent dengan mata berkilat.
"Aduh salah ngomong aku!" batu Mahen sambil menepuk jidatnya.
"Chen, kebabmu siap!" ujar Baba Ahmed.
"Oke, Baba!" seru Vincent kemudian berlari ke arah Baba Ahmed.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Vincent diantar pulang oleh papanya. Bocah itu begitu tergila-gila dengan kebab buatan Baba Ahmed.
"Chen, pelan-pelan makannya." Mahen melihat saus belepotan di area mulut Vincent.
"Hem," ucap Vincent sambil terus fokus mengunyah daging kebabnya.
"Apa Paman Raja masih sering mengunjungi?" tanya Mahen.
"Kadang-kadang setiap hari, tapi kadang-kadang tidak," jawab Vincent sekenanya.
Untung saja Mahen paham dengan apa yang diucapkan putranya. Raja memang sedang fokus dengan cabang bisnisnya di Bali. Banyak sekali permintaan dari Pulau Dewata itu. Jadi, ia hanya akan mengunjungi keponakannya itu dua bulan sekali.
Tanpa terasa kini mereka sudah sampai di apartemen Nola. Mahen menghentikan laju mobilnya di parkiran.
"Kita sudah sampai, Chen. Ayo, turun!" ajak Mahen.
"Ayo, Papa!" seru Vincent.
"Aduh, berantakan sekali. Sini papa usap dulu, nanti mamamu bisa ngomel jika melihat kekacauan ini," ucap Mahen.
Mahen mengambil tisu basah di atas dashboard. Semenjak Maura hadir dalam hidupnya, Mahen menyiapkan tisu basah di dalam mobil. Ia paham betul jika benda itu akan selalu dibutuhkan jika memiliki anak kecil.
Lelaki itu mengusap sisa kekacauan Vincent usai memakan kebab. Setelah bersih, mereka naik ke apartemen menggunakan lift.
Ting!
Pintu lift terbuka, kedua lelaki beda usia itu menyusuri koridor untuk menuju apartemen Nola.
"Lima kosong tujuh, lima kosong delapan .... " Vincent menyebutkan nomor pintu yang ia lewati.
Setelah berada di depan pintu dengan nomor lima kosong sembilan, langkah mereka berhenti. Vincent memencet bel dengan bantuan Mahen. Tak lama pintu terbuka, menampilkan sosok cantik Vika yang sedang memakai kaos oblong longgar dan celana pendek.
"Mama!" seru Vincent.
Kini Vincent sudah berada dalam dekapan Vika. Bocah laki-laki itu menghirup dalam aroma wangi ibunya. Mahen hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya.
"Aku langsung pulang, ya," pamit Mahen.
"Tidak masuk dulu," ucap Vika basa-basi.
"Apa boleh?" tanya Mahen memastikan.
__ADS_1
"A .... "
"Boleh, Papa!" seru Vincent.
"Astaga, aku salah bicara!" batin Vika sambil memejamkan matanya.
Dengan berat hati akhirnya Vika mengijinkan Mahen masuk. Mahen memiliki kartu as-nya sekarang. Vika tidak bisa mengatakan 'tidak' jika Vincent sudah meminta.
Mahen mendudukkan bokongnya di atas sofa empuk berwarna hitam. Vincent masih dalam dekapan Vika, sambil memainkan rambut ibunya.
"Mau minum apa?" tanya Vika.
"Apa saja asal tidak beracun," ucap Mahen sambil terkekeh.
"Baiklah, nanti kubawakan air keran," ucap Vika ketus.
Seketika senyum konyol Mahen sirna. Vika berlalu masuk ke dalam kamar. Sambil menunggu Vika, laki-laki itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ketika melihat potret Vincent dan Vika, lelaki itu berjalan dan mengambil sebuah bingkai foto berukuran 4R.
Sosok Vincen yang sedang berdiri memakai setelan rompi bermotif kotak-kotak, tengah tersenyum menampilkan empat gigi susunya yang baru tumbuh. Vika berjongkok di sampingnya mengenakan celana jeans panjang dengan atasan blus bermotif bunga sakura.
"Itu foto waktu Chen baru bisa jalan," ucap Vika tiba-tiba.
"Apa Chen pernah sekecil itu, Ma?" tanya Vincent.
"Iyalah, masa iya keluar dari perut mama langsung segede ini!" ujar Vika.
Mahen kembali terkekeh melihat dua orang dihadapannya yang tengah berdebat. Ia kemudian kembali duduk di sofa dan menyalakan televisi.
"Titip Chen sebentar, aku buatkan kopi," ucap Vika.
"Iya. Kemari, Boy!" panggil Mahen.
"Papa, nanti malam temani Chen bobok, ya?" pinta Vincent.
"Tante Nola hari ini tidak pulang," ucap Vincent.
"Kenapa?" tanya Mahen.
"Katanya ... si om sedang sakit, jadi Tante Nola menjenguknya,"
"Om?"
"Pacar Nola, Jimmy," sahut Vika.
Kini Vika kembali dengan nampan berisi dua cangkir kopi dan segelas jus apel untuk Vincent. Usai meletakkan nampannya di atas meja, Vika duduk di atas sofa. Vincent kini tengah fokus menyeruput jusnya sambil melihat acara kesukaannya.
"Bolehkah aku pekan depan mengajak Maura saat bertemu Chen?" tanya Mahen.
"Maura? Tolong jangan cari penyakit, Kak," ucap Vika dingin.
"Maksudmu?"
"Apa Kak Mahen yakin Maura tidak akan menceritakan pertemuan kita kepada Kak Nova?" tanya Vika memastikan.
"Aku rasa tidak, kebetulan pekan depan Nova ada pekerjaan di luar kota," ucap Mahen.
"Baiklah kalau begitu, tetapi tolong ingat satu hal. Begitu Kak Nova mengetahui bahwa kita sering bertemu, detik itu juga aku akan membawa Chen pergi!" ujar Vika.
"Baiklah, apapun yang Kamu inginkan." Mahen kini meraih cangkir diatas meja, kemudian menyesap kopinya.
.
__ADS_1
.
.
~Mahen POV~
Langit dipenuhi dengan jutaan bintang ketika Mahen memarkirkan mobilnya di garasi. Langkah kakinya yang lebar memasuki rumah sambil bersenandung. Jam menunjukkan pukul 19:00 ketika lelaki itu melirik arloji mahalnya.
"Papa!" teriak Maura kemudian berlari ke arah Mahen.
"Halo, Cantik! Belum tidur?" tanya Mahen.
"Beyum, Ula mau bobok ditemani Papa," ucap Maura.
"Dari tadi Maura terus menanyakanmu, Pa," ucap Nova sembari mencubit hidung mungil putrinya.
"Baiklah, kita bobok sekarang!" ujar Mahen.
"Aku hangatkan makan malam dulu, ya?" ucap Nova.
Mahen mengangguk, kemudian membawa putri kecilnya ke dalam kamar. Hanya membutuhkan lima belas menit untuk menidurkan Maura. Ketika mastika putrinya tidur lelap, Mahen berjinjit keluar kamar.
Nova tengah menunggunya di meja makan sembari memainkan ponselnya. Menyadari kehadiran Mahen, Nova meletakkan benda pipih itu di atas meja. Mahen kemudian menarik kursi dan duduk di atasnya.
"Masak apa hari ini?" tanya Mahen sembari tersenyum.
"Sop iga, ayam kecap, sama perkedel kentang," ucap Nova mengabsen makanan yang ada di meja makan.
Perempuan itu mengambilkan nasi putih, kemudian menyajikannya di depan Mahen.
"Terima kasih," ucap Mahen sambil tersenyum.
"Iya, makanlah."
"Bagaimana proyek toko di Surabaya, Yang?" tanya Nova.
"Semua berjalan lancar sesuai rencana," jawab Mahen.
"Kalau masih ada outlet kosong di sana, boleh aku menyewa untuk butik?" tanya Nova.
"Nanti akan kutanyakan kepada pihak manajemen gedung," ucap Mahen.
"Terima kasih, Sayang!" seru Nova sambil tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian ...
Temaram lampu tidur menemani Mahen dan Nova malam itu. Sepasang suami istri itu tengah melakukan pemanasan sebelum berolah raga malam.
Setiap kecupan lembut Mahen yang mendarat di kulit mulus Nova, membuatnya bergetar. Tak lupa Mahen meninggalkan tanda kepemilikan di leher putih milik Nova.
Ketika kembali mengecup bibir merah istrinya, tiba-tiba Mahen teringat Vika. Dilepaskannya tautan bibirnya dari bibir Nova. Lelaki itu terduduk, Nova yang melihat gelagat aneh suaminya ikut bangun. Napas perempuan itu masih terengah-engah akibat ulah Mahen yang membuatnya on fire.
"Kenapa, Sayang?" tanya Nova.
"Tiba-tiba kepalaku pusing, sebaiknya kita lanjutkan lain kali," ucap Mahen kemudian turun dari ranjangnya.
Nova hanya bisa menahan gejolak dalam tubuhnya yang terlanjur berkobar. Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk berendam agar badannya lebih rileks.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...