Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Ayah Maura adalah ...


__ADS_3

Setelah acara pemakaman Vincent selesai, Mahen langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit. Bayangan Maura terus melintas di benak Mahen.


Setengah jam sudah Mahen mengendari Tesla hitamnya. Usai memarkirkan mobilnya, ia melangkah lebar menuju ruang laboratorium. Lelaki itu menemui seorang analis yang sedang bertugas di sana.


"Bu, saya ingin mengambil hasil pemeriksaan darah," ucap Mahen dengan nada penuh kekhawatiran.


"Atas nama siapa, Pak?" tanya si analis dengan senyuman ramah.


"Mahen Putra Dirgantara," terang Mahen.


"Ini, Pak," ucap seorang perawat sambil mengulurkan sebuah amplop cokelat kepada Mahen.


Mahen membaca isi kertas tersebut secara perlahan. Mata Mahen terbelalak dan jantung lelaki itu berpacu semakin cepat. Ternyata golongan darahnya tidak sama dengan milik Maura. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Mahen.


"Bagaimana bisa golongan darahku tidak cocok dengan Maura?" batin Mahen.


"Terima kasih," ucap Mahen sambil meremas kertas di tangannya. Ia melangkah gontai meninggalkan ruang laboratorium.


Ketika sedang tenggelam dalam pikirannya, Mahen menangkap sosok Nova yang tengah berjalan lunglai menyusuri koridor. Perempuan itu seakan tidak memiliki gairah hidup lagi. Begitu Nova sampai di hadapannya, Mahen melemparkan tatapan dingin kepada perempuan itu.


"Apa maksudnya ini!" Mahen melempar Nova dengan kertas yang sudah diremasnya. Mata Mahen memerah karena menahan amarah dan kesedihan di waktu yang bersamaan. Napasnya memburu seperti baru saja berlari maraton.


"I-itu ...." Kata-kata yang ingin Nova lontarkan, seakan tercekat di dalam tenggorokan. Keringat dingin kini membasahi telapak tangannya.


"Bicara yang benar!" teriak Mahen.


Bahu Nova tersentak, matanya kini terpejam dengan kepala tertunduk. Ia tidak sanggup menatap mata Mahen. Rahasia besarnya mulai terungkap. Setelah hatinya sedikit tenang, perempuan itu memberanikan diri untuk melihat ke arah Mahen.


"Ma-maaf," ucap Nova terbata-bata.


"Aku tidak butuh kata maafmu!" teriak Mahen.


"Sebenarnya ... Maura bukan putrimu." Air mata Nova kini meleleh, ia tertangkap basah kali ini.


"Lalu, siapa ayah dari Maura?" tanya Mahen dengan suara sedingin gunung salju.


"Dia ... adalah putri ... Rico."


Nova kini hanya bisa pasrah menerima semuanya. Nasi sudah menjadi bubur. Ia tak bisa menghindar lagi. Seluruh kebohongannya sudah terungkap.


"Siapa Rico?" Tatapan Mahen terasa seperti sebilah pisau yang bisa menghunus Nova kapan saja.


"Rico adalah orang yang bekerja di toko buku langganan Vincent. Dia teman kecilku ketika hidup di jalanan," ungkap Nova.


"Dimana dia sekarang? Cepat suruh dia ke sini!" Urat-urat di leher Mahen kini menegang, ia tak sabar ingin segera bertemu laki-laki sialan itu.


Nova kini meraih ponselnya dan mulai menghubungi Rico. Wajah Nova terlihat tegang, suaranya bergetar, dan air mata mulai jatuh membasahi pipi.


"Halo, Ric. Ma-Maura mengalami kecelakaan."


" ... "

__ADS_1


"Di Rumah Sakit Pion."


" ... "


Nova langsung mematikan sambungan telepon, ia melirik Mahen masih terus melayangkan tatapan dingin ke arahnya.


"Rico akan segera ke sini," lirih Nova.


Nova dan Mahen hanya saling diam layaknya orang asing yang enggan menyapa. Keheningan diantara mereka berakhir, ketika sosok Rico berlari ke arah Nova dan Mahen.


"Bagaimana keadaan Maura?" tanya Rico kepada Nova dengan nada penuh kekhawatiran.


"Ia masih membutuhkan pendonor," ucap Nova lesu.


"Aku akan menemui dokter untuk melakukan transfusi sekarang juga!" seru Rico.


Beberapa jam kemudian ...


Mahen tengah terduduk lesu di samping Maura. Ia tak sanggup menerima kenyataan, bahwa gadis kecil itu bukanlah putrinya. Mahen membelai rambut lurus Maura.


"Dia belum bangun?" tanya Nova dengan suara lebih tenang.


Mahen tidak menjawab. Ia muak rasanya mendengar suara Nova. Luka atas kepergian Vincent masih basah, tetapi Nova seakan menaburkan garam pada luka itu. Ketika langkah Nova semakin dekat, Mahen langsung berdiri dan keluar dari ruang perawatan Maura.


Nova yang tidak terima dengan sikap Mahen, membuntuti lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Ia menarik lengan Mahen, mencegahnya untuk tetap berada di rumah sakit.


Mahen memutar bola matanya, kemudian menghentikan langkah. Ia kemudian menghembuskan napas kasar. Tatapan Mahen terasa menusuk.


"Sayang, bisakah Kita memulai semuanya dari awal?" ucap Nova dengan mata yang mulai mengembun.


"Sayang? Mulai dari awal? Rasanya telingaku berdarah mendengar ucapan itu keluar dari mulut busukmu!" Senyum miring terbit di bibir Mahen.


"Aku akan melakukan apapun yang Kamu mau, tapi kita tetap bersama, ya?" Vika melepaskan cengkeramannya dari tangan Mahen, lalu ia menangkupkan kedua telapak tangaannya.


"Aku tidak sudi berbaikan lagi denganmu! Lelaki mana yang mau terus bersama perempuan kejam sepertimu?" Mahen melangkah pergi meninggalkan Nova yang menangis sesegukan.


Baru tiga langkah Mahen berjalan, lelaki itu berhenti. Ia kembali menoleh ke arah Nova. Jemari Mahen mengepal di balik saku celanananya.


"Begitu Maura sadar, bawalah ia pergi! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Ia balik kanan dan melanjutkan langkahnya.


Sosok tegap Rico kini berada di hadapan Mahen. Melihat ayah biologi Maura, membuat tubuh Mahen menegang. Ia berjalan dengan ritme cepat, kemudian melayangkan tinjunya ke ulu hati Rico.


Rico merasa nyeri di bagian yang ditinju Mahen. Ia meringis sambil memegangi perut atasnya. Namun, sebuah senyum penuh ejek muncul di bibir Rico.


"Bagaimana rasanya kehilangan ibu?" tanya Rico.


"Apa maksudmu? Kau mengejekku? Ha?" Mata Mahen membeliak.


"Hahaha, akhirnya Kau merasakan apa yang pernah Aku rasakan!" Gelak tawa Rico memenuhi koridor rumah sakit itu.


"Kau masih ingat Pak Rudi? Orang yang yang menggantikan ibumu dibalik jeruji besi, ia adalah bapakku!" seru Rico.

__ADS_1


Mendengar nama Rudi, Mahen tercenung. Pak Rudi adalah tukang kebun di Rumah Besar. Mahen mengira beliau mengundurkan diri karena tiba-tiba menghilang dari rumah. Ternyata Pak Rudi adalah orang yang menggantikan ibunya untuk menjalani hukuman.


"Jadi, Kau menghancurkan kehidupanku karena itu?" Rahang Mahen mengeras mendengar penuturan Rico.


"Kau tahu? Hidupku semakin menderita sejak kejadian itu! Ibuku sampai bunuh diri karena tidak tahan dengan ocehan tetangga!" teriak Rico.


"Semua itu tidak ada hubungannya denganku!" Mahen menghujani Rico dengan tinjunya.


Melihat tingkah Mahen yang semakin brutal, Nova berlari untuk melerai kedua laki-laki dewasa itu. Aksi Mahen diketahui oleh satpam yang sedang patroli. Lelaki dengan seragam safari itu meringkus Mahen, kemudian membawanya ke pos satpam.


.


.


.


Waktu berjalan begitu cepat. Tujuh hari sudah Vika meninggalkan kenangan bagi orang-orang yang mencintainya. Vika menatap kosong setiap sudut kamar Vincent. Rasanya baru kemarin bocah itu merajuk ingin memiliki papa baru. Namun, semua kenangan mengenai Vincent hanyalah menjadi memori bagi Vika.


Vincent kini sudah berada di dunia yang lebih baik. Ia sudah tidak harus merasakan dialisis yang menyiksa. Perempuan itu yakin, putranya sekarang lebih bahagia berada di sisi Tuhan.


"Vik, makan dulu." Nola mendekati Vika, kemudian duduk di sebelahnya.


"Nanti, Nola. Aku belum lapar," ucap Vika sambil berusaha untuk tetap tersenyum.


"Kamu harus tetap kuat, Vik. Chen akan sedih, jika melihat ibunya dalam keadaan seperti ini." Nola menggenggam jemari Vika untuk memberi kekuatan.


"Baiklah. Ayo, Kita makan!" Vika berdiri, kemudian keluar dari kamar.


Di meja makan, Raja sudah menunggu sambil menatap piringnya yang masih kosong. Pandangan lelaki itu langsung berkilat ketika mendapati Vika mau keluar dari kamar. Seminggu sudah perempuan itu mengurung diri di dalam kamar untuk meratapi kepergian Vincent.


"Apa kabar?" tanya Raja basa-basi.


"Kau mengejekku?" Vika kini tersenyum kecut. Ia menarik kursi di hadapannya lalu duduk di sana.


Sejak hari itu Vika memutuskan untuk segera memulai kehidupan barunya tanpa Vincent. Berlarut dalam kesedihan tidak akan membuat putranya kembali hidup. Ia bertekad untuk menjalani hidup sebaik mungkin demi Vincent


.


.


.


Bersambung ...


Assalamualaikum teman-teman...


Maaf, Ya untuk kemarin Chika hanya Up satu Bab. Seharian Baby K rewel, jadi novel ini nggak kepegang😭


Sambil nunggu Second Wife update, Yukk melipir dulu ke Novel Karya Mama Reni. Jangan lupa siapkan tisu ya, karena Novel ini mengandung bawang sepuluh kilo.


__ADS_1


Sayang Kalian ... ❤️❤️❤️


__ADS_2