Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Perjuangan Vika Untuk Vincent


__ADS_3

Usai menghapus sisa tangisnya dan cuci muka, Bu Lasmi menemui Vika yang tengah istirahat di ranjangnya. Putrinya tengah tertidur pulas setelah perjuangan antara hidup dan matinya. Air matanyanya kembali menetes ketika melihat gurat kelelahan masih tampak jelas di wajah Vika.


Setelah kondisi Vika pulih, ibu baru itu mulai menanyakan bayinya. Ia ingin segera bertemu dengan buah hatinya.


"Kak, kenapa bayiku tak kunjung dibawa kemari?" tanya Vika.


"Itu ... karena dia membutuhkan perawatan khusus," jawab Raja singkat.


"Perawatan khusus?"


"Iya ..., " jawab Raja sembari menerbitkan senyum tipisnya.


"Apa dia sedang tidak baik-baik saja?"


Raja terdiam sejenak, ia mengumpulkan tekad untuk menyampaikan apa yang seharusnya Vika ketahui. Lelaki itu menarik napasnya panjang, kemudia menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya ... putramu mengalami sedikit masalah dengan ginjalnya," jelas Raja.


Vika tercengang, rasanya seperti dunianya runtuh dalam hitungan detik. Ia tak menyangka putra kecilnya akan mengalami masalah dengan ginjalnya.


"Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa sembuh, Kak?" tanya Vika dengan suara sedikit bergetar.


"Untuk sementara dokter akan memberinya obat, jika tidak bisa diatasi dengan cara ini putramu harus menjalani dialisis seumur hidup," kata Raja.


Mendengar kata ginjal dan dialisis membuat dirinya seakan terlempar kembali ke masa lalu. Masih begitu lekat dalam ingatannya ketika diajak sang ibu mengantar mendiang ayahnya ke rumah sakit untuk melakukan dialisis.


Ayah Vika meninggal karena gagal ginjal. Bahkan operasi transplantasi yang dilakukan juga tidak membantu. Bayangan masa lalu itu kini memenuhi pikiran Vika. Ketika sedang tenggelam dalam ingatan masa kecilnya, suara lembut Raja kembali membawa kesadaran Vika.


"Vik, Kamu baik-baik saja?" tanya Raja.


"Aku ingin melihat bayiku," pinta Vika sembari tersenyum.


Raja tak menyangka perempuan dihadapannya itu memiliki hati yang begitu kuat. Mungkin ibu lain akan menangis meraung-raung mendengar kabar buruk mengenai bayinya. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Vika. Dia memang perempuan spesial.


Akhirnya Vika dibantu oleh Raja melihat putra kesayangannya di ruangan khusus perawatan bayi. Ia melihat dari balik jendela kaca.


"Dokter bilang semua tanda vitalnya baik-baik saja, kecuali keadaan ginjalnya yang memiliki kelainan bawaan," ucap Raja.


"Tuhan sangat tidak adil," gerutu Vika.


Raja memperhatikan wajah Vika yang sendu. Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya, matanya menyiratkan perasaan haru. Tapi tangisnya sama sekali tidak pecah. Pertahanan Vika memang begitu luar biasa.


"Lihat dia! Begitu mirip dengan ayahnya! Aku yang mengandungnya sembilan bulan, merasakan payahnya hamil muda, bahkan bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia. Tetapi apa ini!" ujar Vika sembari tersenyum kecut.


"Apa kau tidak sedih mengetahui kondisi putramu saat ini?" Mulut Raja tanpa sadar mengucapkan kalimat bodoh itu.


Vika menoleh ke arah Mahen. Ia menggeleng, kemudian pandangannya kembali lagi kepada bayi mungilnya.

__ADS_1


"Mana ada ibu yang tidak sedih melihat anaknya kesakitan? Tapi apa gunanya menangis? Itu sama sekali tidak akan merubah keadaan," ucap Vika.


Kini jemarinya menyentuh jendela kaca yang membatasi Vika dan bayi mungilnya. Sekali lagi Raja dibuat kagum oleh ketegaran hati Vika.


"Kita harus kembali, sebentar lagi dokter akan melakukan pemeriksaan," ucap Raja mengingatkan Vika.


"Ayo, aku ingin segera pulih dan menggendong bayiku."


Akhirnya mereka menyusuri koridor dan kembali ke ruang rawat Vika.


.


.


.


Setelah satu minggu berbaur dengan bau obat-obatan, akhirnya Vika dan putranya diperbolehkan pulang. Puluhan kali Vika menciumi putra kecilnya.


"Mau diberi nama siapa?" tanya Bu Lasmi.


"Vincent Aditama, aku harap dia nantinya jadi anak yang tidak mudah dikalahkan oleh keadaan!" jawab Vika dengan suara mantap.


"Kenapa pakai nama kakeknya?"


"Hehe, aku akan mengubah namanya jika ayah dan neneknya sudah mengakui Vincent sebagai anak dan cucu mereka," ujar Vika.


"Wah! Tampannya!" seru Riri.


"Iya, tampan sekali! Calon idola kompleks kita ini!" ujar Nola.


"Siapa dulu pamannya?" timpal Raja.


Mendengar ucapan Raja semua orang disana terkekeh kecuali Vincent. Bukankah akan membuat bulu kuduk berdiri jika bayi berusia satu minggu itu ikut terkekeh?


Sebuah syukuran sederhana dilakukan untuk Vincent. Vika dan ibunya mengundang beberapa tetangga untuk makan bersama. Vika juga berbagi sembako untuk warga kurang mampu di sekitar kompleks sebagai rasa syukurnya.


Begitu acara selesai, rumah mereka kembali sunyi. Vika sedang membaringkan Vincent ke dalam ranjanh bayi ketika sang ibu masuk ke kamarnya.


"Vincent sudah tidur?" tanya Bu Lasmi.


"Sudah, Bu," jawab Vika sembari memandang wajah damai putranya yang tengah terlelap.


"Bagaimana selanjutnya?"


"Maksud Ibu?"


"Apa Kamu tidak berniat mengabari Mahen mengenai kondisi putranya?"

__ADS_1


"Vika tidak yakin dia akan peduli, Bu." Vika mulai mengusap rambut tebal putranya.


"Jika memang ia peduli, seharusnya Kak Mahen bertahan sedikit lagi sampai Vincent lahir untuk melakukan tes DNA. Tapi dia sudah dibutakan oleh amarah, dan ditulikan oleh keegoisan," imbuh Vika.


"Baiklah, selama dirimu merasa nyaman dan tidak terbebani ibu tidak akan mendesakku mengenai Mahen," ujar Bu Lasmi.


"Terima kasih, Bu," ucap Vika sembari masuk ke dalam pelukan ibunya. Pelukan ternyaman di dunia. Pelukan yang sangat nyaman dan menenangkan.


.


.


.


Vika berjuang sekuat yang ia bisa untuk mengembangkan bisnisnya. Dibantu oleh Nola, kini butiknya dikenal oleh banyak orang. Mulai dari tetangga kompleks, pegawai pemerintah daerah, sampai beberapa fashion influencer berbondong-bondong membeli produknya.


Suatu hari sebuah pesanan masuk melalui surelnya. Bahkan sang pelanggan sudah mentransfer uang sepuluh juta sebagai uang muka. Ia menginginkan gaun pengantin dan beberapa gaun untuk bridesmaid.


"Gila!" seru Vika.


Nola yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sontak menoleh ke arah Vika. Kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. Karena penasaran, akhirnya Nola bertanya.


"Kenapa, Kak? Ekspresi Kak Vika seperti sedang menang lotre?" tanya Nola.


"Kita dapat project besar! Bahkan uang muka sudah di transfer ke rekening!" seru Vika.


"Benarkah, Kak?"


Vika mengangguk kemudian menunjukkan surel yang ia terima. Mata Nola terbelalak karena terkejut. Baru kali ini ada orang yang mau memberi uang muka sebanyak itu. Apalagi butik mereka baru berjalan beberapa bulan.


"Huhu, rasanya pengen nangis aku, Kak!" ujar Nola.


"Haha, jangan nangis! Ayo lanjut kerja! Coba buat desain sesuai keinginan pelanggan kita ini."


"Siap, Kak!"


"Oya, hari ini aku ada janji dengan dokter untuk konsultasi. Titip butik sebentar ya? Kalau butuh apa-apa langsung hubungi aku," ucap Vika sambil menyambar tasnya.


Perempuan itu membawa Vincent ke dalam pelukannya lalu dibawanya keluar butik. Di luar, mobil Mercy milik Raja sudah terparkir rapi. Melihat Vika keluar butik, Raja langsung menghampirinya dan membukakan pintu untuk perempuan yang masih ia cintai dalam diam itu.


Demi mendapatkan kesembuhan Vincent, Vika harus bolak-balik berkonsultasi dengan beberapa dokter sekaligus. Ia mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk putranya itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2