
Hari itu perasaan Vika terasa tidak enak. Entah mengapa sebuah firasat buruk hinggap di hatinya. Ia terus berucap dalam hati agar semuanya baik-baik saja.
"Ananda Vincent Aditama," panggil seorang perawat.
"Ya," sahut Vika.
Ibu muda itu berdiri, kemudian berjalan menuju ruang konsultasi dokter. Raja sudah mengekor di belakang Vika.
Vika menghembuskan napas kasar sebelum membuka pintu. Setelah merasa sedikit tenang, diputarnya tuas pintu, dan senyuman dokter Arjun menyambutnya.
"Silahkan duduk, Bu."
Vika menarik kursi lalu duduk diatasnya. Kini wajah dokter Arjun berubah sedikit serius. Ia membuka sebuah amplop putih yang disodorkan oleh sang perawat. Di dalam amplop itu berisi hasil laboratorium milik Vincent. Setelah selesai membaca isi dari lembaran kertas itu, akhirnya dokter Arjun angkat bicara.
"Kondisi ginjal Vincent sudah tidak bisa berfungsi normal jika hanya dengan mengkonsumsi obat-obatan."
Ingin rasanya Vika menangis detik itu juga. Tapi ia ingin tetap kuat untuk putranya. Jika air mata bisa menyembuhkan penderitaan putranya, menangis berjam-jam ia sanggup menjalani. Sayangnya, hasil tangisan tak akan membuat putranya sembuh.
Ia mendengar setiap penjelasan yang keluar dari bibir dokter Arjun. Raja berulang kali mengusap punggung Vika untuk menenangkan ibu muda itu. Setiap kata yang terucap oleh dokter tampan itu bagaikan sengatan listrik bagi Vika. Terasa mengejutkan dan menyakitkan.
"Jadi, Vincent harus menjalani dialisis seumur hidup, Dok?" tanya Vika dengan suara sedikit bergetar.
"Iya. Sebenarnya kita bisa menempuh tindakan operasi transplantasi ginjal jika mendesak," ucap dokter Arjun.
"Tetapi untuk saat ini dialisis masih bisa untuk memperpanjang usia Vincent," imbuh dokter Arjun.
"Memperpanjang?" Seketika badan Vika lemas mendengar penuturan sang dokter.
Dokter Arjun hanya mengangguk pelan. Melihat ekspresi Vika yang terlihat tidak baik-baik saja, hati Raja terasa begitu sakit. Lelaki itu sungguh tidak bisa melihat Vika sedih.
.
.
.
Saat perjalanan pulang Vika hanya membisu. Raja ingin menghiburnya, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya keduanya hanya terdiam, bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Setibanya di rumah, Vika masih diam. Pikirannya sudah kosong dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Vincent yang masih tertidur pulas, ia letakkan ke dalam boks bayi.
Air mata Vika kini mulai berdesakan ingin keluar. Hatinya terasa sesak mengingat kembali ucapan sang dokter. Pertahanannya akhirnya runtuh. Tubuh Vika merosot, ia menangis sejadi-jadinya. Bayangan kematian menghantui bayi mungilnya yang bahkan baru berumur beberapa bulan.
__ADS_1
"Kenapa takdir begitu kejam, Nak," lirih Vika.
Diusapnya lembut pipi bulat putranya. Isakan Vika semakin kencang, dan tubuhnya bergetar menahan agar tangisnya tidak semakin pecah.
Sejak hari itu fokus Vika hanya kepada Vincent. Butik sepenuhnya ia percayakan kepada Nola dan sang ibu. Ia hanya datang ke butik ketika jenuh dan ada pelanggan yang ingin bertemu langsung.
"Kak, pesanan pelanggan seminggu lalu sudah selesai. Mau di cek lagi?" tanya Nola melalui sambungan telepon.
"Nanti sore aku ke butik, ya."
Setelah menutup panggilan, Vika menghubungi sang pelanggan yang memperkenalkan diri sebagai Lucas. Firasat buruk kembali menghantui Vika. Panggilan teleponnya sama sekali tidak direspon, belasan pesannya juga diabaikan. Perempuan itu segera berjalan ke butik dan membawa Vincent dalam gendongannya.
Napas Vika tersengal-sengal ketika sampai diambang pintu butik. Matanya langsung beredar mencari keberadaan Nola. Akhirnya Vika mendengar namanya dipanggil dari balik punggung.
"Kak Vika," sapa Nola.
Vika menoleh, kemudian perempuan itu menarik lengan Nola dan mengajaknya masuk ke ruang kerjanya.
"Begini ... aku bisa minta tolong hubungi nomor ini?" pinta Vika sembari menyodorkan ponselnya.
"Ini nomor siapa, Kak?"
"Lucas. Orang yang memesan gaun pengantin beserta bridesmaid-nya," ungkap Vika.
Berulang kali ia mencoba menghubungi nomor tersebut, tetapi ia hanya menggeleng. Nola hanya mendengar sapaan operator seluler yang mengatakan bahwa nomor sedang tidak aktif. Kepala Vika mendadak pening. Rasanya seperti ditumbuk dengan godam berton-ton.
"Lalu bagaimana ini, Kak? Kita sudah menghabiskan berkali lipat dari uang muka yang sudah dia berikan!" seru Nola.
"Sebentar, aku akan menghubungi Raja."
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan satu jam dari butik, kini Vika dan Raja sudah sampai di sebuah gudang kosong terbengkalai.
"Vik, kamu yakin ini alamatnya?" tanya Raja.
"Iya, Kak. Ini," ucap Vika sembari menyodorkan secarik kertas kepada Raja.
__ADS_1
"Benar, sepertinya Kamu kena tipu!" ujar Raja.
"Bagaimana ini. Aku sudah menghabiskan lima puluh juta lebih untuk biaya produksi pesanannya!" kata Vika frustasi.
"Mau bagaimana lagi? Bisa dijadikan pelajaran ke depannya. Aku dari dulu sudah mengingatkanmu untuk tidak mudah percaya kepada orang lain."
Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi. Saat ini Vika harus bisa menjual gaun-gaun itu. Asal kembali modal tidak masalah.
Hari itu Vika pulang dengan tangan kosong. Ketika semua karyawan sudah pulang, ia memandang gaun pengantin yang masih menempel indah pada patung manekin.
Gaun tanpa lengan berwarna putih itu tampak mewah dan gemerlap. Kainnya diimpor langsung dari Prancis. Taburan kristal Swarovski membuat gaun itu terlihat semakin indah. Sayangnya, nasib gaun itu tak seindah penampakannya.
Ia menghela napas kasar, kemudian membuka sebuah situs lelang untuk menjual gaunnya itu. Vika mendaftarnya dan membuka harga dua puluh lima juta. Harapannya hanya satu, semoga gaunnya segera terjual karena ada banyak jerih payah karyawannya disana.
Selesai mendaftarkan gaun untuk dilelang, Vika mematikan seluruh lampu butik dan berjalan lunglai ke rumah. Sesampainya di rumah, Vika mendapati Bu Lasmi sudah terlelap sembari mendekap cucu kesayangannya yang baru berumur empat bulan.
"Bu, Vika pulang," ucap Vika membangunkan ibunya.
"Iya, ibu pindah dulu ke kamar," pamit Bu Lasmi.
Vika mengangguk lemah. Sebelum mencapai ambang pintu, Bu Lasmi berhenti. Ia menoleh ke arah Vika.
"Mengenai gaun-gaun itu ... ibu sudah tahu dari Nola," ucap Bu Lasmi.
"Tenanglah ... rejeki tahu kemana tempatnya pulang," imbuh Bu Lasmi.
"Iya, Ibu tidur sana! Besok harus bekerja lagi bukan?" ucap Vika sembari tersenyum.
Akhirnya Bu Lasmi benar-benar meninggalkan kamar Vika. Di dalam kamarnya Vika meratapi nasib. Nasib buruk yang selalu menghampirinya terasa seperti hukuman dari kehidupannya di masa lalu. Ia kembali mengingat semua perbuatan buruknya selama hidup.
Tubuh dan pikirannya kini sudah teramat lelah. Ia mulai merebahkan tubuhnya, berharap sedikit beban hidupnya berkurang esok hari. Bahkan perempuan itu berharap semua ini hanya mimpi. Ketika ia bangun, semuanya akan kembali baik-baik saja.
Aroma minyak telon yang menyeruak ke indra penciumannya sedikit membuat perasaan Vika tenang. Didekapnya tubuh mungil anak laki-laki kesayangannya. Ia harus tetap kuat demi Vincent. Putranya masih membutuhkan curahan kasih sayang dan juga kucuran dana untuk biaya pengobatan.
Akhirnya mata Vika terpejam seiring hembusan napas putranya yang tanpa sadar telah ia hitung. Perempuan itu akhirnya terlelap dalam pelukan sang malam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...