Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Kembali Ke Rumah Mahen


__ADS_3

Deretan gedung pencakar langit menyambut Vika ketika memasuki jalanan ibukota. Sore itu langit berwarna jingga. Jalanan masih terlihat basah karena hujan yang baru reda.


Vincent masih damai dalam dekapan sang nenek. Sedangkan Raja masih fokus dengan jalanan yang padat lancar.


"Jadi, Kita langsung ke rumah Mahen?" tanya Raja.


"Iya, aku sudah memastikan hanya Mahen yang di rumah. Nova sedang ada acara di luar kota," ucap Vika.


Kini Nola berbalik membantunya. Segala informasi mengenai Nova dapat ia ketahui dengan mudah melalui Nola. Perempuan itu bersedia membantu kapanpun Vika membutuhkan bantuan.


"Baiklah, Ibu juga ikut tinggal di sana?" tanya Raja kepada Bu Lasmi.


"Iya, ibu takut nanti terjadi hal buruk jika tidak membersamai Vika," ujar Bu Lasmi.


"Tidak akan ada hal buruk, Bu." Vika mencoba menenangkan ibunya.


Langit sudah berubah menjadi gelap ketika Vika sampai di rumah Mahen. Tangan Vika sedikit gemetar ketika hendak memencel tombol bel.


Ting tong ... Ting tong ....


Hanya sekali menekan bel pintu rumah minimalis itu terbuka. Mahen masih mengenakan kemeja dan celana panjang formal. Sepertinya lelaki itu juga baru pulang.


"Kak, apa kabar?" sapa Vika sembari tersenyum.


"Kamu ... kenapa kesini?" tanya Mahen sedikit tergagap.


"Itu .... " Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bu Lasmi sudah menghampiri Vika.


Vincent tengah menangis karena meminta haknya. Kini Vika mengambil alih tubuh puteranya, kemudian mencoba menenangkan Vincent. Tangis bayi laki-laki itu baru berhenti ketika pandangannya bertemu dengan mata Mahen.


Melihat sosok Mahen, Vincent tersenyum kemudian mengarahkan kedua lengannya kepada ayahnya. Ia minta digendong. Mahen yang belum mengerti, menatap Vika penuh tanya.


"I-itu, Vincent minta digendong," jelas Vika.


Mahen masih terdiam. Melihat tindakannya tidak mendapatkan respon dari Mahen, Vincent menangis histeris. Akhirnya Mahen mengijinkan mereka masuk.


Ketika di dalam rumah Vincent masih menangis sesegukan. Karena tidak tega akhirnya Mahen menggendong bayi yang sebentar lagi berusia satu tahun itu. Keajaiban pun terjadi, Vincent langsung terdiam dan kini tersenyum ceria.


"Sebelumnya maaf mengganggu waktu Kak Mahen," ucap Vika membuka percakapan.


"Tolong biarkan saya, ibu dan Vincent tinggal sementara di sini beberapa hari ke depan," sambung Vika.


Mahen tidak merespon Vika. Ia hanya melakukan kontak mata dengan sopan. Berulang kali perhatiannya direbut oleh Vincent. Bayi laki-laki itu akan memukul wajah Mahen ketika merasa diabaikan.


"Tapi ... jika Kak Mahen keberatan, aku akan tinggal di apartemen milik Raja," ucap Vika.


"Jangan!" Tiba-tiba Mahen berteriak, sontak hal itu membuat Vika terkesiap.

__ADS_1


"Ya?"


"I-itu ... anu ... menginaplah ..., " ucap Mahen.


"Tapi Kalian harus pergi sebelum Nova kembali!" teriak Mahen.


Melihat respon Mahen, Vika tersenyum. Kemudian Vika pamit untuk membersihkan kamar kecil yang dulu pernah ia tempati. Sedangkan Bu Lasmi menuju dapur untuk membuat makan malam. Vincent? Jangan tanyakan lagi. Bayi kecil itu sedang asyik bermain dengan Mahen.


"Aku akan membawa Vincent ke atas," ucap Mahen kepada Vika.


"Ya," jawab Vika singkat sambil tersenyum tipis.


.


.


.


"Vik, coba ajak Mahen makan dulu!" seru Bu Lasmi sembari menghidangkan masakannya ke atas meja makan.


"Iya, Bu."


Vika seakan terlempar kembali ke masa dimana ia baru masuk rumah itu. Sofa tempat pertama ia tidur sampai pegal, kamar mandi tempat ia dihajar Nova pertama kali, kamar sempit tempatnya melepas penat dan tangga biasa ia melihat Mahen naik turun setiap waktu.


Ketika sampai di depan pintu kamar, Vika mengetuknya perlahan. Namun, tak aja jawaban dari Mahen. Akhirnya Vika masuk ke kamar tanpa ijin.


Setelah puas mengambil gambar, Vika mengangkat tubuh Vincent. Karena Vika kurang hati-hati, Mahen terbangun. Matanya masih terlihat sayu karena kantuk.


"Ma-maaf, Kak."


"Jam berapa ini?"


Vika menoleh ke arah jam dinding, kemudian kembali menatap Mahen. Tubuhnya tak bisa diam karena mengayun Vincen di dalam pelukannya agar tidak terbangun.


"Jam delapan malam, Kak," jawab Vika.


KRUUUUUUUUKKK ....


Kecanggungan mereka seketika runtuh saat perut Mahen protes. Vika berusaha menahan tawanya agar tidak pecah, ia takut Mahen akan tersinggung jika tertawa.


"Aku tidak lapar!" seru Mahen.


"I-ini ... sistem pencernaanku sedang bekerja!" imbunya.


Tak lama setelah Mahen berdalih, cacing di perutnya mulai protes kembali. Sontak Vika tertawa lepas, sudut matanya kini terdapat setitik cairan bening karena tawanya. Seketika tawa Vika terhenti saat Vincent merengek. Mahen melemparkan tatapan membunuh.


"Sssstttt ... tidur lagi ya, Sayang. Mama minta maaf," ucap Vika sambil mencoba menidurkan Vincent kembali.

__ADS_1


"Kak, ayo ikut makan," ajak Vika.


"Turunlah dulu, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu," ucap Mahen.


Akhirnya Vika turun tanpa protes sedikit pun. Di bawah, Bu Lasmi tengah berbincang dengan seseorang. Melihat Vika sudah keluar kamar Mahen, ia mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa, Bu?" tanya Vika.


"Tante Riri, dia menanyakan kabar Vincent," jawab Bu Lasmi sembari mengambil cucunya dari gendongan Vika.


"Ibu tidurkan dia dulu, Kamu makan saja dulu," imbuh Bu Lasmi.


Vika memutuskan untuk duduk sembari memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah Mahen yang menuruni anak tangga. Vika mendongak, ia terpesona dengan penampilan sederhana Mahen malam itu. Lelaki itu mengenakan kaos polos hitam dipadukan dengan celana cargo selutut.


"Masak apa?" Suara Mahen kembali menyadarkan Vika.


"Ah ... itu ... ibu cuma goreng ikan, bikin sambel, dan tumis kangkung," jawab Vika.


Malam itu mereka makan dengan tenang. Perasaan canggung masih menyelimuti kedua insan yang pernah jatuh hati itu.


Usai makan, Vika membereskan meja makan. Saat hendak membawa piring kotor ke wastafel, tiba-tiba kaki Vika terpeleset. Keseimbangannya goyah dan mata Vika terpejam pasrah membayangkan rasa sakit yang akan timbul jika kepalanya beradu dengan lantai.


Beruntungnya Mahen menangkap tubuh ramping Vika sebelum jatuh ke lantai. Lengan liat Mahen melingkar kokoh di pinggang Vika. Mata keduanya kini beradu, geleyar aneh yang lama tak muncul hinggap di hati Vika.


Satu detik, dua detik, tiga detik. Entah mengapa Vika merasa wajah Mahen semakin dekat. Bahkan ia bisa merasakan hembusan napas lelaki itu menyapu wajahnya. Wajah Mahen semakin dekat, dan ketika jarak keduanya tinggal setipis kaca Mahen tersenyum jahil.


"Cepat berdiri, Kau berat!" bisik Mahen.


Sontak Vika langsung cepat-cepat berdiri, tetapi bukan Vika namanya jika tidak ceroboh. Karena terlalu gugup, kakinya terpeleset kembali. Kini piring yang ia pegang melayang ke udara. Dan ...


PRANG!


Lantai dapur kini dipenuhi pecahan piring, tubuh Vika pun terjatuh dalam posisi terduduk. Mahen hanya bisa tepuk jidat melihat atraksi yang dilakukan Vika.


.


.


.


Bersambung...


Semoga suka ya, dengan ceritanya.


Jangan lupa berikan dukungan untuk author dengan meninggalkan Like, komen dan Vote.


Sayang Kalian 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2