
Setelah berhasil melewati lautan kendaraan di jalanan ibukota yang sibuk, akhirnya Vika sampai di kedai kopi Raja. Ribuan pertanyaan sudah tersimpan rapi di benak Vika.
Kaki jenjang Vika yang dibalut pump shoes mulai melangkah masuk ke kedai kopi milik Raja. Dress pressed body terlihat begitu indah membungkus tubuh sintal Vika. Beberapa pengunjung sampai menoleh karena melihat keindahan pahatan Tuhan yang satu itu.
Rambut kecoklatannya tergerai indah dihiasi headband bermotif bungak sakura. Wajahnya terlihat segar dengan pulasan mekap bernuansa peach.
Salah seorang karyawan Raja bernama Amel menghampiri Vika. Gadis manis itu tersenyum ramah karena sepengetahuannya, Vika adalah kekasih Raja.
"Mbak Vika, cari Pak Raja?" tanya Amel.
"Iya, ada kan?" tanya Vika dengan senyum memikatnya.
"Ada, sebentar saya panggilkan," ucap Amel lalu masuk menuju ruang staf.
Sembari menunggu kehadiran Raja, Vika mengeluarkan laptop dari tas Dior miliknya. Jemarinya mulai menari diatas keyboard. Ditelitinya satu per satu surel yang masuk, kemudian dibalasnya satu per satu.
"Sudah lama?" Suara bariton Raja membuat Vika menghentikan aktivitasnya.
Perempuan berambut coklat keemasan itu mendongak, kemudian menatap tajam Raja. Seketika Raja merapatkan bibirnya karena aura permusuhan menguar dari tatapan Vika.
Raja menarik bangku, kemudian mendaratkan bokong seksinya diatas benda itu. Vika menutup laptopnya, bersandar pada kursi, dan melipat kedua tangannya ke atas dada.
"Apa tidak ada yang ingin kau ucapkan kepadaku?" tanya Vika sinis.
Mata Raja mengerjap beberapa kali, kemudian ingatannya kembali pada drama Vincent melalui telepon kemarin sore. Laki-laki itu sekarang memandang Vika dengan tatapan penuh sesal.
"Maaf," ucap Raja singkat.
"Maaf? Jika kata maaf bisa dengan mudah diterima, bui tidak akan ada penghuninya!" seru Vika.
"Apa Kau sudah merasa paling benar?" tanya Raja mencoba membalikkan keadaan.
"Lalu, apakah kepercayaanku kepadamu selama ini hanyalah lelucon yang bisa kau mainkan sesuka hatimu?" Vika tak mau kalah berdebat.
Kedua anak manusia saling menatap tajam berusaha mencari pembenaran mereka masing-masing. Akhirnya Raja mengalah, tatapan lelaki itu berubah sendu. Ia menghela napas kasar, lelaki itu bertopang dagu di atas meja.
"Nona cantik, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Raja sembari tersenyum lebar. Alisnya dinaik-turunkan untuk menggoda Vika.
"Cih," decih Vika sambil tersenyum geli.
Vika memang tidak pernah bisa benar-benar marah pada Raja. Terlebih lagi, dia adalah orang paling berjasa dalam hidupnya. Lelaki tampan itu selalu memberinya bantuan tanpa diminta. Akan selalu hadir setiap Vika dan Vincent membutuhkannya.
"Vik, bagaimana keadaan Chen sekarang? Bocah itu kemarin menelepon sembari menangis sesegukan," ucap Raja.
__ADS_1
"Aduh, sikap egois Mahen benar-benar merekat erat padanya seperti lem!" gerutu Vika.
"Berikan dia waktu, Vincent mungkin membutuhkannya untuk introspeksi diri," ucap Raja.
"Iya, aku juga terus membujuknya. Pagi ini kesabaranku benar-benar diuji olehnya," kata Vika.
"Kenapa?"
"Kau tahu? Dia malah menyalahkanmu karena menyembunyikan papanya!" ucap Vika sembari merengut.
Tawa Raja pecah seketika. Ia benar-benar seperti melihat Mahen kecil ketika bersama Vincent. Sikap egois dan suka mengoreksi kesalahan orang lain, adalah sikap terburuk Mahen. Selebihnya lelaki itu memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan pekerja keras.
Keseruan mereka saat membahas Vincent, ternyata membuat seorang perempuan mematung seketika di depan kedai.
~Nova POV ON~
"Oke, kita bertemu di Kopiku ya? Aku ke sana sekarang," ucap Nova melalui sambungan telepon.
Usai menutup sambungan telepon, Nova langsung menyambar tas Chanel-nya. Kebetulan hari ini Maura bersama Bu Winda, jadi ibu cantik itu bisa lebih leluasa bepergian.
Setelah membelah jalanan ibukota yang mulai padat, Nova sampai di sebuah kafe dengan nuansa vintage. Ia berhenti ketika sampai di depan kafe. Perempuan itu merogoh tas mahalnya untuk menemukan ponsel. Begitu benda pipih itu berada dalam genggamannya, Nova menghubungi seseorang.
"Sudah sampai?"
" ... "
Nova langsung mematikan sambungan teleponnya, kemudian melangkah memasuki kafe. Alangkah terkejutnya dia, ketika mendapati dua sosok yang lima tahun belakangan tidak pernah terdengar namanya.
Vika dan Raja tengah mengobrol seru di dalam kafe. Mata perempuan itu seakan mau copot. Berulang kali ia mengucek sepasang Indra penglihatannya, untuk memastikan apa yang Nova lihat nyata.
Akhirnya Nova melangkahkan kakinya untuk menghampiri dua orang yang masih seru mengobrol itu. Hanya membutuhkan lima langkah lebarnya untuk sampai di meja Vika dan Raja.
~ NOVA POV END ~
Tawa Raja berhenti ketika mendapati Nova sudah berdiri tegap di hadapannya.
"Sepertinya kalian sudah hidup sangat bahagia sekarang!" seru Nova.
Vika memalingkan wajahnya sembari tersenyum sinis. Raja berdiri untuk mengajak Nova keluar dari kedainya. Lelaki itu berusaha merengkuh lengah Nova. Namun, dengan cepat ditepis oleh ibu dari Maura itu.
"Jangan menyentuhku!" seru Nova sembari menatap tajam ke arah Raja.
"Tolong jangan buat keributan di sini, aku tidak mau membuat pelangganku tidak nyaman," mohon Raja.
__ADS_1
"Hei, j*lang! Lihat kemari!" seru Nova.
Tidak terima dengan ucapan Nova, akhirnya Vika bangkit. Ia tidak mau harga dirinya diinjak-injak oleh perempuan laknat di hadapannya itu. Vika sontak berdiri, menyilangkan lengannya ke depan dada, dan menatap nyalang ke arah Nova.
"Aku peringatkan jangan pernah mengganggu kehidupan keluargaku! Aku dan Mahen sudah bahagia! Menjauhlah dari kami!" ucap Nova dengan nada sedikit tinggi.
Bukan Vika namanya jika hanya menelan mentah-mentah omongan pedas Nova. Perempuan itu tersenyum miring, kemudian mendekat ke arah Nova. Bibir seksinya mendekati telinga Nova.
"Jangan menyulut lagi bara api yang sudah mulai padam," bisik Vika.
Vika kembali mundur dua langkah, kemudian menilik mimik wajah Nova yang merah padam.
"Apa Kau lupa? Aku dulu pergi menjauhimu dan su-a-mi-ku, tetapi apa yang Kau lakukan? Kau membuat hidupku menderita! Menjatuhkan usahaku dengan menghalalkan segala cara!" seru Vika.
"Ah! Tanpa sepengetahuanmu, aku juga pernah tinggal bersama su-a-mi-ku setelah butikku tutup! Haha, Kau tidak pernah mengetahuinya, kan?" ejek Vika.
"K-kau!" teriak Nova sembari mengacungkan jari telunjuknya di depan muka Vika.
Dengan berani, Vika menggenggam pergelangan tangan Nova. Vika tersenyum sinis sembari menyentil jari telunjuk Nova.
"Ancamanmu tidak akan pernah mempan untukku! Lagi pula, aku sungguh tidak pernah berminat untuk kembali pada orang yang tidak pernah bisa menghargaiku! seru Vika.
Nova hanya bisa menelan kemarahannya. Mukanya kini merah padam. Vika mulai melangkah meninggalkan kafe disusul Raja yang mengekor di belakangnya.
Sedangkan Nova kini tengah terduduk lesu bertemankan gelas kopi bekas Vika dan Raja. Ia tak menyangka ternyata pernah kecolongan. Mode waspadanya ternyata pernah lengah.
Ketika tengah bergelut dengan pikirannya yang kacau, langkah kaki seseorang mulai mendekati Vika. Diliriknya si pemilik kaki itu.
"Apa kabar?"
.
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote yaa untuk terus mendukung Author😘😘😘
Temen-temen juga boleh loo mampir di salah satu karya Chika yang lain...
Ta-da ini diaaa...
__ADS_1
Sayang Kaliaaannn ❤️❤️❤️