Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Ibu, Vika Pulang


__ADS_3

Di tengah guyuran hujan, Raja mengantar Vika pulang ke rumah ibunya. Tangan Vika gemetar, ia ragu saat hendak mengetuk pintu. Perempuan itu tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi ibunya.


Setelah mengumpulkan keberanian, Vika menghembuskan napas kasar.


Tok ... tok ... tok ...


"Ya, sebentar."


Jantung Vika berdegup kencang seiring suara langkah ibunya. Tuas pintu sudah diputar. Vika tidak bisa mundur sekarang. Derit pintu menyapa pendengarannya. Ekspresi wajah ibunya yang keheranan pun menyapa mata Vika.


"Loh, Vik, pulang?" tanya Bu Lasmi sambil mengawasi keadaan sekitar.


"Iya," jawab Vika singkat. Sebisa mungkin, Vika menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia tidak tega melihat ekspresi kecewa yang akan muncul di wajah ibunya yang semakin menua. Anak yang dia bangga-banggakan, diam-diam telah melemparkan kotoran ke mukanya.


"Hujan deras begini, kenapa tidak pulang besok saja? Tadi pulang naik apa?"


"Teman, Bu."


"Ayo, masuk dulu. Ibu buatkan teh hangat," ajak Bu Lasmi.


Vika menarik kopernya sambil mengekor di belakang ibunya. Sang ibu langsung menuju dapur untuk membuatkan teh. Tak lama Bu Lasmi keluar dengan secangkir teh dan beberapa potong kue.


"Diminum dulu."


Perlaham Vika menyesap teh hangat buatan ibunya. Aroma teh menyeruak memenuhi penciuman Vika, membuat hati Vika sedikit tenang.


"Kamu nangis?" tanya Bu Lasmi.


"Nggak kok, Bu," kilah Vika.


"Vik, Kamu itu anak ibu. Ibu tahu sekali kalau Kamu tidak pandai berbohong," tegas Bu Lasmi.


Mendengar ucapan ibunya, dada Vika semakin sesak. Air mata yang sejak tadi ia bendung, akhirnya lolos. Mendadak Vika mendekati ibunya. Perempuan itu bersimpuh dalam pangkuan sang ibu.


"Vik, Kamu, kenapa? Jangan seperti ini," ucap Bu Lasmi panik.


Hanya tangisan dan isakan yang keluar dari mulut Vika. Ia tak sanggup menceritakan semua yang telah ia alami. Bu Lasmi berusaha menenangkan Vika. Diusapnya punggung perempuan yang sudah ia rawat selama 25 tahun.


"Maafin Vika, Bu. Vika bikin Ibu kecewa," ucap Vika setelah sedikit tenang.


"Kami ini bicara apa, sih, Vik?"


"Bu, se-selama ini ... Vika ... telah berbohong ...," ucap Vika terbata-bata.


"Kamu bohong apa, Vik?"


Sembari terus terisak Vika menceritakan seluruh kejadian yang ia alami. Dari ia menerima tawaran untuk menikah siri dengan Mahen. Hingga kejadian hari ini, dimana ia diusir dalam keadaan hamil.


"Pergi," ucap Bu Lasmi dengan nada datar tetapi penuh penekanan.


"Bu ..., " Vika merengek berharap hati ibunya luluh.


"Jangan panggil aku ibu!" teriak Bu Lasmi. Matanya menyiratkan kekecewaan dan amarah.

__ADS_1


Melihat ibunya menatapnya penuh amarah, membuat hati Vika sangat sakit. Seumur hidup baru kali ini ia diusir. Biasanya apapun kesalahan yang ia perbuat, ibunya hanya akan mendiamkannya selama beberapa jam. Setelahnya akan kembali normal.


Tetapi kali ini tidak, Vika tahu kesalahan yang ia perbuat begitu fatal. Ia juga tidak bisa berharap lebih untuk dimaafkan.


"Kau tahu? Aku berjuang mati-matian untuk membesarkanmu seorang diri, tapi apa? Ini? Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi!"


Berulang kali Vika mengucapkan kata maaf, tapi tak membuat kekecewaan ibunya sembuh seketika. Akhirnya Vika keluar dari rumah itu. Langkahnya tertatih di tengah guyuran hujan. Air matanya sudah bercampur menjadi satu dengan air hujan yang jatuh.


Perempuan itu tak tahu kemana harus pergi. Malam semakin larut, hujan mulai reda menyisakan jalanan yang dingin dan basah. Kaki Vika mulai mati rasa. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan kakinya di depan toko yang sudah tutup. Tanpa terasa ia tertidur dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan.


.


.


.


"Iya, Pak. Saya sudah bawa perempuan itu ke rumah sakit, ia terkena demam tinggi," ucap seorang perempuan melalui ponselnya.


Perempuan itu memutuskan untuk mengakhiri telepon, setelah melihat Vika mulai bergerak.


"Mbak, sudah baikan?" tanya perempuan itu.


Vika masih belum merespon. Ia masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Vika memindai ruangan tempatnya berada. Setelah sadar, ia terkejut memdapati dirinya telah terbaring di brankar rumah sakit.


"Ba-bagaimana bisa saya sampai sini?" tanya Vika.


"Sebelumnya perkenalkan, saya Inka. Semalam ketika saya hendak mengambil ponsel yang tertinggal di kedai, Mbak sudah terbaring di depan kedai dalam kondisi demam. Jadi saya membawa Mbak kesini," jelas Inka.


"Saya demam?"


Vika hanya mengangguk. Tak lama sosok lelaki yang ia kenal masuk ke ruangan itu.


"Lho, Vika!" seru Raja.


"Kak Raja?"


"Bukannya Kamu pulang ke rumah ibumu?" tanya Raja.


"I-itu ... aku diusir dari rumah," ucap Vika.


"Ah, Pak, Mbak, saya pamit dulu. Saya membuka toko, permisi." Inka berpamitan karena tidak mau ikut campur masalah yang tengah dihadapi oleh mereka.


Vika akhirnya menceritakan kejadian yang ia alami malam itu. Tangisnya kembali pecah saat mengingat hal itu.


"Aku tidak tahu harus tinggal dimana sekarang, Kak," ucap Vika.


"Kalau tidak keberatan, Kamu bisa tinggal di salah satu apartemenku."


"Be-berapa biaya sewanya Kak? Vika belum bisa bekerja. Vika juga tidak mau bekerja lagi di toko itu," ungkap Vika.


"Tidak usah menyewa, untuk pekerjaan Kamu bisa bekerja di kedai kopi milikku."


"Sungguh?"

__ADS_1


Raja mengangguk sembari tersenyum. Ia tidak bisa melihat perempuan yang ia cintai menderita.


.


.


.


Sejak hari itu, Vika bekerja sebagai kasir di salah satu kedai kopi milik Raja. Ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja sebelumnya. Sebenarnya Fany dan Lolita keberatan. Setelah menjelaskan permasalahannya, akhirnya mereka melepas Vika. Bahkan sesekali mereka tetap bertemu, terkadang bergantian mengantar Vika memeriksakan kandungannya.


Sebuah kejadian buruk kembali menimpa Vika dan calon buah hatinya. Pagi itu, Inka ijin tidak masuk karena harus menghadiri pernikahan kakaknya di luar kota. Jadi, mau tidak mau Vika harus berjaga di kedai sampai karyawan sift siang masuk.


Tidak banyak orang yang mengunjungi kedai karena hari kerja. Tapi menjelang jam makan siang, Vika dibuat keteteran karena tiba-tiba kedai ramai. Gerakannya semakin terbatas karena usia kandungan yang menginjak enam bulan.


"Baik, harap bersabar ya, Kak. Saya akan segera membuat pesanan Anda." Vika tersenyum manis kepada pelanggan.


Perempuan itu menghela napas melihat antrian yang masih mengular. Sembari menyiapkan kopi pesanan pelanggan, ia menelepon Raja untuk meminta bantuan.


"Baik, tunggu. Aku akan sampai di sana dalam sepuluh menit," ucap Raja dari ujung telepon.


Mendengar ucapan Raja, Vika sedikit tenang. Ia tinggal menghadapi tatapan pelanggan yang mulai jengah menunggu.


"Lama sekali sih, pelayanannya!" seru seorang pelanggan.


"Maaf, Kak. Saya sendirian sekarang, dan gerakan saya terbatas karena hamil. Tolong bersabar ya," ucap Vika sambil tersenyum sopan


"Makanya Mbak, kalau hamil itu di rumah aja! Jangan kerja!" teriak pelanggan lain.


"Benar! Ah, aku kapok beli di kedai ini!" teriak pelanggan lainnya.


Ujaran dan umpatan yang dilontarkan pelanggan membuat kepala Vika berdenyut. Bumi yang ia pijak terasa berputar cepat, keseimbangan Vika goyah. Ia terjatuh. Vika semakin panik ketika mendapati darah segar mengalir dari jalan lahirnya.


"Siapapun tolong!" teriak Vika.


Para pelanggan yang mengantri hanya saling memandang. Beberapa dari mereka malah menuding Vika sedang bersandiwara. Sebagian lagi acuh, kemudian meninggalkan kedai. Akhirnya Vika kehilangan kesadarannya.


.


.


.


Bersambung...


***


Dear Readers, dalam bagian ini ada salah satu pengalaman pribadiku. Dulu author bekerja diluar kota dengan jarak tempuh satu jam. Biasanya naik bus umum. Rasanya miris melihat generasi muda yang tidak memiliki nurani.


Beberapa kali kejadian, dimana penumpang lain membiarkan saya yang tengah hamil besar berdiri ditengah himpitan penumpang lain. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja berusia muda bahkan pelajar/mahasiswa yang seharusnya mau memberikan tempat duduknya yang nyaman untuk orang lain yang lebih membutuhkan. Tapi nyatanya sebagian dari mereka bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu.


Memang tidak semua dari mereka bersikap tidak peduli dan egois. Tapi ketika menemukan orang seperti itu rasanya miris. Semoga Readers tercintaku tidak demikian ya. Author tahu kalian orang-orang baik yang masih memiliki rasa empati.


Sehat-sehat yaa kalian...

__ADS_1


Aku mencintai kalian banyak sekali...😚😚


__ADS_2