
Kini Mahen dan Raja tengah bersitegang dengan pihak kepolisian. Mereka ingin meminta penyidikan Bu Winda ditunda dengan alasan akan melakukan pendonoran ginjal.
"Jadwal penyidikan Nyonya Winda sudah ditetapkan! Kami tidak bisa seenaknya mengubahnya!" seru Pak Ridwan, salah seorang polisi yang menangani kasus Bu Winda.
"Lalu jam berapa, Bu Winda selesai untuk penyidikan hari ini?" tanya Mahen.
"Beliau akan melakukan penyidikan selama sepuluh jam untuk besok," terang si polisi.
"Besok? Lalu hari ini?" tanya Raja dengan tatapan sedingin es.
"Hari ini hanya pemeriksaan biasa secara umum, tetapi Bu Winda tidak diperbolehkan pulang dengan alasan keamanan," jelas si polisi.
Mahen sontak berdiri, otot lehernya mulai menegang. Kedua tangan kokohnya menggebrak meja di hadapannya. Pak Ridwan terlihat menelan ludah.
"Kak, tenang." Raja kini memegang lengan kakaknya.
"Nasib putraku tergantung mama sekarang! Kami hanya minta kalian sedikit peduli! Apa tidak bisa!" teriak Mahen.
"Maaf, Pak. Kami melakukan semuanya sesuai prosedur, dan juga kami hanya menjalankan tugas."
"****! Kalian mau berapa, ha? Sebut nominalnya!" ucap Mahen dengan mata melotot.
"Maaf, Bapak mengganggu jalannya pelayanan kami. Silahkan keluar," usir si polisi. Kini polisi di hadapannya itu berdiri dan menunjuk pintu keluar dengan lima jarinya.
"Besok, usai penyidikan aku akan kembali lagi! Jika kalian masih kekeuh dengan alasan konyol, akan kuobrak-abrik kantor polisi ini!" ancam Mahen.
Kedua lelaki itu keluar dari kantor polisi dengan perasaan kecewa. Akhirnya mereka melajukan mobil menuju rumah sakit.
.
.
.
Di rumah sakit ...
Sebuah keajaiban muncul usai Vincent menjalani dialisis. Bocah lelaki itu kini tersadar. Bahkan kondisinya terlihat lebih segar. Namun, ia masih harus dirawat di ruang PICU karena kondisi Vincent yang belum stabil sepenuhnya.
"Ma ...." panggil Vincent dengan suara lemah.
"Ya ... ada yang sakit?" tanya Vika lembut.
Vincent hanya menggeleng. Bocah itu mengedipkan matanya perlahan, mengambil napas panjang kemudian mulai bicara lagi.
"Papa ... ke sini," ucap Vincent dengan suara hampir tak terdengar.
"Iya, Papa nanti akan ke sini. Chen rindu?" tanya Vika.
"Iya, kangen. Adik?"
"Chen ingin bertemu Maura?" tanya Vika diikuti anggukan kepala putranya.
"Besok, kakek akan mengajak Maura kemari. Chen istirahat, ya. Supaya besok bisa bermain dengan Maura," bujuk Vika.
Vincent mengangguk lemah, kemudian memejamkan matanya perlahan. Vika bersenandung pelan sambil sesekali mengecup punggung tangan putranya. Tak lama, Vincent sudah terlelap.
Suara ketukan jendela membuat Vika menoleh. Dua orang lelaki sudah berdiri di depan ruang PICU. Vika melangkah keluar menemui Mahen dan Raja.
"Bagaimana mama?" tanya Vika.
"Baru besok menjalani pemeriksaan," ucap Raja.
"Kata papa, Chen sudah sadar. Benarkah?" tanya Mahen dengan mata berkilat.
"Iya, tetapi masih dalam kondisi yang belum stabil," jelas Vika sambil tersenyum lembut.
Mendengar penuturan Vika membuat hati Mahen seakan diguyur dengan air es. Ia menghembuskan napas lega.
"Syukurlah," ucap Mahen dan Raja bersamaan.
__ADS_1
.
.
.
"Chen, setelah pulang dari rumah sakit mau kemana?" tanya Mahen sambil menggenggam tangan putranya.
"Boleh bawa Miki pulang?"
"Astaga! Kenapa harus Miki?"
"Dia lucu, Pa. Chen suka."
"Baiklah, jika itu membuat Chen senang, akan papa kabulkan. Syaratnya, Chen harus semangat! Besok Vincent tidak boleh takut saat proses operasi."
Vincent mengangguk lemah, tapi matanya terlihat berkilat. Mahen kini mencium puncak kepala putranya.
"Tidurlah," ucap Mahen.
Tak lama dengkuran halus terdengar dari bibir Vincent. Setelah memastikan putranya tidur, ia keluar dari ruangan. Vika sedang tertidur di kursi depan ruang PICU. Gurat wajah lelah nampak jelas menghiasi paras cantiknya.
Mahen duduk bersimpuh di depan perempuan yang ia cintai itu. Jemari Mahen menyelipkan anak rambut Vika ke belakang telinga.
"Pasti melelahkan menghadapi semuanya sendirian. Mulai sekarang, aku akan terus membersamaimu dalam suka dan duka." Mahen terus memandangi wajah Vika yang tertidur pulas.
"Kak, tidurlah ...." Raja mendekati kakaknya dan duduk di bangku seberang Vika.
"Kamu pulanglah, aku akan berjaga untuk mereka," ucap Mahen sambil terus memandang paras cantik Vika yang terlihat damai.
"Baiklah, aku akan pulang. Titip mereka."
"Hati-hati di jalan," ucap Mahen.
Raja melangkahkan kakinya keluar rumah sakit.
.
.
.
Sesampainya di kantor polisi, Mahen dibuat senewen oleh sikap pihak kepolisian yang tidak bisa dipegang kata-katanya.
"Kata Bapak, hari ini mama saya bisa pulang! Bukannya jadwal pemeriksaan selanjutnya masih dua hari lagi?" protes Mahen.
"Atasan kami meminta untuk tetap menahan Bu Winda sementara waktu."
"Siapa atasanmu! Katakan! Apa kalian ingin aku mengobrak-abrik kantor ini? Ha!" teriak Mahen.
"Bukan begitu ...." Suara si polisi menggantung di udara.
"Mahen!" seru seorang perempuan dengan seragam polisi.
"Maaf, siapa Anda?" tanya Mahen dengan suara datar.
"Aku Aluna. Kau tidak ingat?"
"Mungkin Anda salah orang."
Aluna tersenyum kecut, pundaknya melemas. Kemudian ia mencoba bertanya kepada Pak Ridwan, penyebab Mahen terlihat marah.
"Ada masalah apa, Pak?"
"Ini ... Pak Mahen ingin ibunya dibebaskan untuk kepentingan pribadi, tetapi ...."
Mahen kembali menggebrak meja, wajahnya merah padam, rahangnya terkatup rapat.
"Ini bukan masalah sepele! Aku sedang menanti mama karena putraku membutuhkan donor ginjal darinya!" teriak Mahen frustasi.
__ADS_1
"Kau sudah menikah?" Mata Aluna melebar, sedangkan Mahen masih tidak memperdulikan perempuan asing di sampingnya itu.
Merasa Mahen tidak merespon apapun yang ia katakan, akhirnya Aluna menengahi dua orang lelaki di hadapannya itu.
"Kapan jadwal penyidikan selanjutnya?" tanya Aluna kepada Pak Ridwan.
"Dua hari lagi, Bu."
"Berikan ijin pembebasan bersyarat." Aluna kini berlalu, sedangkan Pak Ridwan hanya bisa mematuhi perintah atasannya itu.
"Siap, Bu!"
Berkat bantuan Aluna, akhirnya Bu Winda bisa dibebaskan sementara. Mahen dan ibunya langsung meluncur ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Vincent?" tanya Bu Winda panik.
"Tadi malam kondisinya membaik, sudah lebih banyak bicara," ungkap Mahen sambil terus fokus menyetir.
"Syukurlah, mama ikut lega. Semoga operasi hari ini berjalan lancar," ucap Bu Winda.
Sesudah berada di jalanan selama hampir tiga puluh menit, Bu Winda dan Vincent sudah sampai di rumah sakit. Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di ruang ICU.
Vika tengah menangis sesegukan dalam pelukan Raja. Tatapan Raja terlihat begitu sendu. Berulang kali lelaki itu mengusap punggung Vika agar tenang.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Mahen.
Vika sudah tidak bisa menjawab lagi pertanyaan yang dilontarkan Mahen. Ia hanya bisa menangis pedih. Tangisan perempuan itu terdengar begitu menyayat.
"Kondisi Vincent tiba-tiba memburuk, tim medis kini sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Astaga!"
Bu Winda kini mengambil alih tubuh Vika dari pelukan Raja. Tangis Bu Winda pun pecah. Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU.
"Apa pendonor sudah datang?" tanya Dokter Lie.
"S-saya, Dok," ucap Bu Winda sambil mendekat ke arah Dokter Lie.
"Kapan terakhir anda mengkonsumsi makanan atau minuman?"
"Kemarin pagi, Dok."
"Baiklah mari ikut saya ke ruang operasi."
Bu Winda melepaskan pelukannya dari tubuh Vika. Perempuan itu kemudian mengekor di belakang Dokter Lie. Dadanya bergetar seiring langkah kakinya yang semakin dekat dengan ruang operasi.
.
.
.
Matahari bersinar begitu cerah di sebuah tempat dengan hamparan ilalang. Angin semilir menerpa wajah tampan Vincent.
Bocah laki-laki itu berlarian di antara ilalang yang bergoyang diterpa Sang Bayu. Senyum hangatnya menyapa siluet seorang perempuan yang menanti di depannya.
Langkah Vincent terhenti sejenak. Ia menatap langit dengan gumpalan awan putih yang nampak seperti permen kapas. Sebuah senyuman terbit di bibir mungilnya.
"Oma! Tunggu Chen!" teriak bocah laki-laki itu.
Vincent kembali berlari ke arah Bu Winda yang sedari tadi menunggunya. Jemari kecilnya kini bertautan dengan jari-jari neneknya.
"Mama ... terima kasih enam tahun ini sudah mengasuh Chen dengan kasih sayang yang tak ternilai. Maaf karena Chen tidak bisa berjuang lebih lama bersama Mama. Jika Tuhan mengijinkan, Chen ingin menjadi putra Mama lagi di kehidupan selanjutnya. Chen menyayangi Mama banyak sekali, sebanyak bintang yang tertaburan di langit. Cinta Chen untuk Mama seluas perairan yang ada di planet bumi. Ma ... jangan pernah menangis lagi. Chen sekarang sudah tidak sakit. Chen sudah bertemu dengan nenek, Oma mengantar Chen hari ini. Tetap bahagia walaupun Chen tidak lagi di sisimu, Ma. I love you soo much ...."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...