Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Bertemu Papa


__ADS_3

Ketika sampai di depan gerbang sekolahan, Raja dikejutkan oleh sosok Mahen yang terlihat berantakan. Kumis tipis yang tidak dicukur, kemeja dengan sisi kiri yang keluar dari celana, dan juga rambutnya terlihat kusut.


"Kamu kenapa?" tanya Raja.


"Bisakah aku meminta tolong?" pinta Mahen.


"Kalau mengenai Vika atau Vincent, aku tidak bisa. Aku tidak mau Kau mendekati mereka hanya untuk kembali menorehkan luka," ucap Raja dingin.


"Apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi untukku?"


Raja mengacuhkan Mahen, lelaki itu langsung masuk ke mobilnya. Lalu meninggalkan Mahen sendirian.


.


.


.


Tangis Vika pecah ketika melihat putranya mengalami kejang. Air mata perempuan itu bercucuran, dadanya terasa sesak, dan kekuatannya hilang entah kemana. Tim medis bolak-balik memeriksa keadaan Vincent.


Nola yang menemani Vika saat ini, mencoba menahan tangisnya. Berulang kali ia memeluk Vika memberi kekuatan. Setiap air matanya akan menetes, perempuan itu segera mengusapnya.


"Nyonya Vika," panggil seorang dokter.


"Ya, s-saya, Dok," ucap Vika sambil masih sesegukan.


"Kondisi Vincent sudah membaik, tetapi panasnya belum normal. Dia sakit karena karena stres," jelas sang dokter.


Vika hanya bisa diam, ia kembali menyalahkan dirinya sendiri. Apa ia terlalu bersikap keras pada putranya? Haruskah ia kembali menekan egonya demi Vincent?


Antara hati dan otaknya kini tengah berdebat. Nola yang melihat sahabatnya kalut, mencoba menenangkan dan memberinya saran.


"Kita masuk terlebih dahulu, coba kita bicarakan hal ini pada Chen." Nola menggenggam jari lentik Vika.


Vika mulai bangkit dari kursinya dan melangkah gontai ke ruang inap Vincent. Usai membuka pintu bertuliskan nama Vincent, mata Vika menatap nanar ke arah putranya.


Tubuh mungil Vincent kini sedang terbaring menghadap ke jendela. Vika mulai mendekati putranya itu. Ia mendudukkan bokongnya ke atas ranjang.


"Chen," panggil Vika.


Vincent masih tetap tak bergeming. Vika menghela napas kasar. Kini perempuan itu berbaring dan mendekap tubuh mungil putranya.


"Chen, mau bertemu papa?" tanya Vika


"Apa boleh?" tanya Vincent datar.


Vika mengangguk tanda mengiyakan. Walau berat, kali ini ia harus menekan kembali egonya. Demi kesehatan mental Vincent.


Bocah laki-laki itu kini menghadap ke arah Vika. Matanya terlihat sembab, bibirnya pucat, dan terlihat kering.


"Benarkah?" tanya Vincent.


"Benar, apa pun akan mama lakukan jika itu membuatmu bahagia, Chen," ucap Vika.

__ADS_1


Mimik wajah Vincent berubah riang. Kini lengannya melingkari leher ibunya itu. Tak lupa bocah itu menghujani dahi dan pipi Vika dengan ciuman.


"Hentikan, Chen!" ujar Vika sembari terkekeh.


"Aku mencintaimu banyaaaaak sekali, Ma!" seru Vincent.


Vika tak habis pikir darimana anak laki-laki itu belajar menggombal. Kini yang terpenting, ia sudah melihat lagi senyum ceria Vincent.


"Sekarang istirahat dulu, ya? Mama akan meminta Paman Raja menghubungi Paman Mahen," bujuk Vika.


"Ma .... "


"Ya, kenapa?"


"Apa ... aku boleh memanggil Paman Mahen dengan sebutan 'papa'?" tanya Vincent penuh harap.


"Apa hal itu akan membuatmu senang?"


Vincent mengangguk antusias, sorot matanya menyiratkan kebahagiaan level maksimal. Melihat aura kebahagiaan menguar dari tatapan anak semata wayangnya, tentu saja Vika tidak bisa menolak.


Perempuan itu akhirnya mengangguk. Senyum lebar Vincent akhirnya terbit. Vika mengusap lembut rambut tebal putranya. Bibir tebalnya melantunkan lagu pengantar tidur. Tak lama terdengar dengkuran halus, Vincent sudah berpindah ke alam mimpi.


Vika menoleh ketika mendengar pintu berderit. Sosok Raja berdiri di ambang pintu dan mulai melangkah masuk. Pelan-pelan Vika turun dari brankar. Ia menemui Raja yang kini sudah duduk di sebuah sofa hitam.


"Bagaimana keadaan Chen? Tadi Nola meneleponku," tanya Raja.


"Sudah membaik, dan semakin membaik ketika aku mengijinkannya bertemu Kak Mahen," ucap Vika sembari mendaratkan bokongnya ke atas sofa.


"Yakin? Bagaimana dengan hatimu?" tanya Raja.


"Entahlah, lukaku sudah mulai mengering. Semoga saja aku tidak kembali goyah," ucap Vika sembari tersenyum kecut.


"Apa Kamu butuh bantuan agar tidak mudah goyah?" tanya Raja dengan wajah serius.


Vika menatap Raja penuh tanya. Raja menengadahkan tangannya di hadapan Vika. Ia tersenyum lembut.


"Jemariku ini akan siap menjadi pegangan agar Kamu tidak goyah, atau Kamu butuh sandaran? Bahuku sangat lebar jika hanya untuk tempat bersandar!" ujar Raja.


Mendengar ucapan Raja, mata Vika terbelalak. Namun, sedetik kemudia tawanya pecah. Air mata mulai keluar membasahi sudut matanya. Ia memegangi perutnya yang tergoncang hebat akibat tawanya.


"Astaga! Jangan seperti itu, Kamu benar-benar tidak cocok! Aduh! Geli aku mendengarnya!" seru Vika.


"Ck, dasar!" gerutu Raja.


Melihat Vika menertawakannya, kini muka Raja berubah masam. Akan tetapi lain di wajah, lain pula di hati. Melihat tawa lepas Vika adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi Raja. Ia benar-benar tidak mau melihat perempuan yang dicintainya berkubang dalam kesedihan.


.


.


.


Keesokan harinya, Raja kembali menjenguk Vincent. Bocah laki-laki itu terlihat lebih segar. Matanya sudah tidak sayu, bibir yang kemarin pucat kini terlihat segar, dan senyumnya sumringah mengiasi wajahnya.

__ADS_1


"Pagi ... Chen, sudah siap?" tanya Raja.


"Siap apa Paman?"


"Siap bertemu papamu! Atau Kamu menginginkan papa baru?" tanya Raja pelan sembari melirik Vika yang sedang sibuk memasukkan pakaian Vincen ke dalam tas.


"Masalahnya ... apa mama mau memberiku papa baru atau tidak," bisik Vincent.


Mendengar jawaban Vincent, Raja pura-pura merajuk. Lelaki dewasa itu menirukan gaya Vincent ketika mengambek. Ia melipat lengan di depan dada, menautkan alis, dan memonyongkan bibirnya sampai bisa dikucir. Melihat tingkah Raja, Vincent terbahak.


"Ma, lihat! Ada Donal bebek di sini!" teriak Vincent.


Vika hanya menoleh, kemudian tersenyum. Keakraban dua laki-laki beda usia itu bisa membuat siapa saja ikut tersenyum. Saat bersama keduanya akan melakukan banyak hal konyol bersama.


Di tengah suasana riang Raja dan Vincent, hati Vika tengah gelisah. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Mahen nantinya. Sikap seperti apa yang harus ia tunjukkan? Entahlah.


Vika sedang bergelut dengan pikirannya sendiri ketika pintu kamar terbuka. Tiga orang yang ada di ruangan itu, refleks menoleh ke arah benda yang terbuat dari kayu itu.


"Papa!" teriak Vincent.


Mendengar panggilan Vincent membuat dada Mahen bergetar hebat. Perasaan haru menyelinap di dalamnya. Rasa rindu yang seakan membunuhnya kini sedikit terobati. Langkah lelaki tampan itu semakin dekat dengan brankar.


Vincent pun menyambut ayahnya dengan tatapan penuh semangat. Rasa sakit bocah itu seakan menguap ke udara sejak Vika mengijinkannya bertemu Mahen.


Vincent langsung berdiri kemudian merentangkan kedua lengannya. Bocah itu menantikan dekapan sang ayah dengan antusias. Mahen pun tanpa ragu merengkuh tubuh putranya. Ia memeluk tubuh Vincent erat, Seakan tak ingin berpisah lagi.


.


.


.


Bersambung...


Sesuai janji Chika, hari ini mau kasih visual dari Vika, Mahen, Nova, dan Raja. Are you ready?


Vika Aditama



Mahen Putra Dirgantara



Nova Adisti Kenanga



Rajawali Putra Dirgantara



Semoga sukaaaa...

__ADS_1


Jangan lupa selalulah dukung author agar tetap semangat berkarya ♥️♥️♥️


__ADS_2