Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Dia adalah Papamu ...


__ADS_3

Mahen terlihat begitu frustasi. Ia tahu penyesalannya sangatlah terlambat. Lelaki itu memang egois. Entah bagaimana respon Vika jika ia mengutarakan kalimat yang kini ada di otaknya.


Mahen mencoba mengatur detak jantungnya agar tidak meledak. Yang ia inginkan sekarang hanya satu, memiliki Vincent dan Vika seutuhnya.


"Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin memperbaiki hubungan kita."


Mendengar perkataan Mahen tentu saja membuat dada Vika terasa pedih. Kenapa baru sekarang ia memintanya kembali? Seharusnya dulu ketika Vika menghampirinya, lelaki itu mempertahankannya dan Vincent.


"Bukankah ini sudah sangat terlambat?" ucap Vika sinis.


"Aku mohon, beri aku kesempatan sekali ini saja, aku ingin menjadi papa yang baik untuk Vincent."


"Maaf!" Detik itu juga Vika meninggalkan Mahen yang masih mematung di atas kursi.


Air mata Vika akhirnya lolos setelah menahannya sekuat tenaga. Melihat Mahen seakan membuka kembali luka lamanya.


.


.


.


Sejak hari itu, Vika sendiri yang mengantar jemput Vincent. Ia rela membawa-bawa pekerjaannya kemanapun. Sembari menunggu Vincent pulang, ia akan mengerjakan tugasnya sebagai marketing franchise milik Raja.


Keesokan harinya ...


Ketika Vika mengantar putranya sekolah, raut muka Vincent terlihat begitu suram. Ibu muda itu memang menghukum Vincent karena telah bersekongkol dengan Raja dan Mahen. Dia tidak diijinkan bermain game selama dua minggu.


Vika memperhatikan jalanan yang sudah mulai padat merayap. Perempuan itu sesekali melirik Vincent yang sedang mengunyah roti tawar dengan olesan selai coklat kacang. Suasana kaku membuat Vika tak nyaman. Ia memutuskan untuk menekan egonya dan mulai membuka obrolan.


"Chen, nanti tunggu mama sampai, ya? Jangan sampai seperti kemarin-kemarin. Sekarang pun jangan pernah mau dijemput oleh Paman Raja. Mengerti?" pesan Vika.


"Hm," jawab Vincent singkat sembari menyeruput susu kotaknya.


"Begitu mama menyelesaikan urusan, mama akan langsung menjemputmu," ujar Vika.


"Hm." Vincent kembali menjawab ibunya dengan singkat.


"Chen, apa Kamu masih marah dengan mama?" tanya Vika.


"Hm."


Kepala Vika seakan mendidih melihat sikap putranya itu. Berulang kali ia mengatur napas agar tetap tenang. Ia tidak ingin putranya melihat emosinya meledak-ledak. Setelah sedikit tenang, Vika kembali angkat suara.


"Bukankah seharusnya mama yang marah?" ucap Vika dengan nada dingin


"Hm."

__ADS_1


Vika kali ini menepuk jidatnya. Ia tak habis pikir dengan sikap Vincent. Sikap keras kepala Mahen sudah mendarah daging pada Vincent.


Kini Vika dan Vincent sudah sampai depan sekolahannya. Mereka disapa oleh satpam berbaju coklat dan seorang guru perempuan dengan jilbab merah muda.


Sebelum menemani Vinchen turun, Vika mencoba membujuk putranya itu agar tidak merajuk. Dilepaskannya sabuk pengaman Vincent, kemudian sebisa mungkin perempuan itu melakukan kontak mata dengannya.


Vika menangkup pipi gembul Vincent. Mata bocah laki-laki itu enggan melihat ke arah Vika.


"Chen, lihat mama sekali ini saja. Mama butuh penjelasan darimu," ucap Vika.


Vincent kini menatap ibunya dengan tatapan malas. Rahangnya terkatup rapat seakan ada gembok yang menguncinya.


"Apa yang membuatmu marah kepada mama? Karena hukuman yang mama berikan? Atau karena hal lain?"


Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Vincent mulai angkat bicara. Vika bisa melihat sorot mata Vincent yang penuh kesedihan.


"Mama, sudah membohongiku selama berapa lama?" tanya Vincent.


"Maksudmu apa, Chen? Kali ini Vika melepaskan kedua telapak tangannya dari pipi Vincent.


"Kenapa Mama bilang bahwa aku hanya punya seorang mama? Kenapa aku tidak memiliki papa? Mama membohongiku kan mengenai hal itu?" cecar Vincent.


"Maaf," ucap Vika.


Mendengar ucapan dari bibir ibunya, Vincent tertunduk. Bahu bocah itu terlihat bergetar, ritme nafasnya semakin cepat, dan bulir air mata mulai jatuh membasahi celana seragamnya.


"Chen ..., " lirih Vika.


Akhirnya pertanyaan paling menakutkan bagi Vika meluncur dari bibir Vincent. Apakah dia harus jujur? Ataukah tetap terus menyimpan rahasia mengenai ayah dari Vincent?


Begitu urusan pertentangan hati Vika usai, perempuan itu mengambil napas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Maaf, karena mama sudah membohongimu Chen. Sebenarnya Chen juga memiliki seorang papa," ucap Vika.


Kini wajah Vincent mendongak dan menoleh ke arah Vika. Wajah mungilnya sudah bermandikan air mata. Ingusnya terlihat mengintip dari lubang hidung.


"Lalu dimana papa? Kenapa tidak bersama kita, Ma? Apa ia tidak ingin hidup bersamaku karena aku penyakitan?" ucap Vincent polos.


Isakan Vincent semakin menyayat setelah kalimat itu meluncur mulus dari bibirnya. Vika mendekap putranya itu agar tenang. Diusapnya punggung Vincent berulang kali. Sesekali ia mengecup lembut puncak kepala Vincent. Setelah putranya sedikit tenang, Vika melepaskan pelukannya.


"Chen, dengarkan mama. Papa Chen tidak bersama kita, bukan karena dirimu. Namun, karena menurutnya mama bukan perempuan yang tepat untuk papa."


Sebisa mungkin Vika tidak mau menyalahkan Mahen dan menanamkan kebencian di hati putranya. Sebagaimana pun buruknya sikap Mahen di masa lalu, fakta bahwa dia adalah ayah dari putranya tidak bisa dilenyapkan.


"Jadi ... siapa papaku sebenarnya, Ma?"


Jantung Vika kembali mendapatkan kejutan listrik dari pertanyaan Vincent. Ia ingin menyembunyikan fakta mengenai papa Vincent, tetapi perempuan itu paling tidak pandai berbohong. Usai menimbang, Vika memutuskan untuk mengungkapkan jati diri Mahen yang sebenarnya.

__ADS_1


"Paman Mahen, dia adalah papamu," ucap Vika.


Kini Vika hanya bisa menunduk, jemarinya saling meremas karena gugup. Ia menunggu respon Vincent dengan perasaan yang tidak karuan.


"Baiklah. Aku sudah tahu sekarang siapa papaku," ucap Vincent.


Kini Vika kembali memandang wajah tampan putranya. Vincent menghapus sisa tangisnya kemudian kembali bersuara.


"Jadi, aku bisa pamer kepada teman-teman kalau aku juga memiliki papa sama seperti mereka!" ujar Vincent sembari tersenyum lebar.


Vika hanya melongo melihat ekspresi Vincent saat ini. Apa putranya sedang melakukan drama? Ekspresi Vincent berubah dalam hitungan detik.


"Dimana perasaan sedihmu beberapa menit lalu?" batin Vika.


"Ya sudah, Chen mau masuk. Nanti terlambat! Dah, Mama!" pamit Vincent kemudian mencium pipi ibunya yang masih melongo.


Bocah laki-laki itu sedikit melompat-lompat ketika menghampiri satpam dan ibu guru di depan gerbang sekolahan.


"Astaga! Apa barusan itu? Apa Chen sedang berlatih drama?" ucap Vika.


"Kupikir, dia akan terkejut setelah mengetahui fakta bahwa Mahen adalah papanya. Namun, sekarang aku yang dibuat terkejut dengan sikapnya!" gerutu Vika.


Begitu Vincent melewati gerbang, Vika langsung tancap gas. Ia ingin membuat perhitungan dengan Raja, karena selama ini sudah ikut andil dalam drama antar jemput Vincent.


Matahari yang mulai meninggi tak menyurutkan niat Vika untuk segera menghampiri Raja. Ia benar-benar tak habis pikir Raja membohonginya.


Setelah berhasil melewati lautan kendaraan di jalanan ibukota yang sibuk, akhirnya Vika sampai di kedai kopi Raja. Ribuan pertanyaan sudah tersimpan rapi di benak Vika.


.


.


.


Bersambung ...


Assalamualaikum teman-teman,


Maaf yaa, hari ini Chika sangat sibuk sehingga tidak bisa up cepat.


Jangan lupa tinggalkan Like, komen, dan vote untuk terus mendukung Chika. Kalau sudah selesai baca bab ini, teman-teman bisa mampir ke karya temanku yaa...



Semoga hati kalian menyenangkan...


Kamsahamnida ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2