Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Adik Vincent


__ADS_3

Seminggu kemudian ...


Mahen membawa Maura saat mengunjungi Vincent sesuai kesepakatannya dengan Vika. Gadis kecil itu terlihat lucu dengan balutan terusan pendek tanpa lengan. Rambut lurusnya dikucir dua dan dihiasi pita berwarna kuning. Kaki mungilnya dibalut dengan sepatu bludru bermotif polkadot.


"Papa, aku cantik?" tanya Maura sambil menatap bayangannya di depan cermin.


"Cantik sekali, dong!" seru Mahen.


Lelaki itu menatap kagum putrinya dan juga hasil karyanya yang sudah susah payah mendandaninya. Ia tak mau diremehkan begitu saja oleh Vika. Mahen ingin menunjukkan walaupun dia laki-laki, tetap bisa merawat seorang anak.


"Baiklah, Maura tunggu disini sebentar. Papa mau mengambil kunci mobil di kamar," ucap Mahen.


"Iya, Papa." Maura mengangguk, kemudian kembali mengagumi dirinya sendiri di depan cermin. Sesekali gadis kecil itu memonyongkan bibirnya agar terlihat semakin cantik.


Tak lama, Mahen kembali ke kamar putrinya. Ia menggendong tubuh mungil Maura ketika menuruni anak tangga. Begitu sampai di garasi, Mahen langsung membuka pintu mobil, kemudian mendudukkan Maura di kursi depan. Tak lupa ia memasangkan sabuk pengaman.


Setelah merasa Maura aman nantinya, Mahen masuk ke mobil dan langsung tancap gas. Lelaki itu membelah kota Jakarta yang mulai macet karena liburan akhir pekan.


Setiap melewati pusat perbelanjaan, ribuan orang berjubel keluar masuk. Kafe-kafe dan tempat hiburan lainnya juga penuh oleh pengunjung. Beruntungnya Vincent hanya ingin mengajaknya ke toko buku langganan kemudian makan kebab Baba Ahmed.


"Papa, kita kemana?" tanya Maura.


"Ketemu kakak, Maura mau?"


"Kakak?"


"Iya, kakak," jawab Mahen sambil tersenyum.


"Apa itu kakak?"


Krik ... krik ... krik ...


Kini di dalam kepala Mahen seakan ada jangkrik yang tengah berbunyi. Ia lupa bahwa lawan bicaranya adalah balita yang masih polos dan suci. Lelaki itu mencoba memutar otak untuk merangkai kata-kata demi menjelaskan apa itu artinya kakak.


"Jadi ... kakak itu, panggilan untuk orang yang lebih besar dari kita," jelas Mahen.


"Ooo .... " Kini Maura ber-O ria sambil manggut-manggut.


Merasa puas dengan penjelasannya Mahen tersenyum lebar. Namun, sedetik kemudian senyum lebarnya sirna, usai mendengar ucapan Maura berikutnya.


"Jadi, Ula panggil Papa, Kakak Papa?"


"Bukan begitu juga, Sayang, hahaha .... " Tawa garing kini keluar dari bibir Mahen.


Tiga puluh menit kemudian, Mahen sudah berada di apartemen Nola. Ia menekan tombol bergambar lonceng di depan pintu. Tak lama pintu terbuka. Vincent sudah berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan papanya.


"Hai, Boy!" panggil Mahen.


"Masuk dulu, Pa," ajak Vincent kemudian berlari ke dalam kamarnya.


Mahen melangkah masuk sambil menggendong peri kecilnya. Mata Maura melihat kesana kemari karena baru pertama kali melihat tempat seperti itu.


"Rumahnya kecil," celetuk Maura.


Mahen melotot mendengar celetukan bocah dua tahun itu, dibekapnya pelan bibir mungil Maura.


"Sssttt, Maura nggak boleh bicara seperti itu," ucap Mahen sambil menggelengkan kepalanya diikuti anggukan Maura.


Begitu jemarinya lepas dari bibir Maura, gadis kecil itu kembali mengoceh.

__ADS_1


"Tidak ada kolam renang ya, Papa? Kok nggak ada kamar banyak? Kenapa televisinya kecil, Pa? Terus .... "


Mahen hanya bisa tepuk jidat mendengar komentar Maura. Benar-benar Nova mini yang suka berkomentar pedas dimana pun ia suka. Ocehan Maura berhenti ketika sosok Vika keluar dari kamar.


"Tante peri!" ujar Maura, kemudian gadis kecil itu berontak dari gendongan Mahen.


Usai lepas dari dekapan papanya, Maura langsung berlari ke arah Vika. Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya meminta gendong. Vika pun dengan senang hati membawa Maura ke dalam pelukannya. Seakan sudah mengenal Vika, ia terus mengendus aroma tubuh Vika.


"Hai, Cantik. Siapa namamu?" tanya Vika basa-basi.


"Ula," jawab Maura sambil tersenyum manis.


"Ula?"


"Bukan Ula Tante, tapi Ullla ..., " protes Maura.


"O ... Ula?" goda Vika sambil tersenyum jahil.


"Papa! Tante peri nakal!" rengek Maura.


"Hahaha, Tante bercanda, Sayang," ucap Vika sambil menciumi pipi gembul gadis kecil itu.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Mahen.


"Iya, sebentar, tunggu Chen. Dia sedang menyiapkan sesuatu untuk Maura," ucap Vika.


Tak lama kemudian, Vincent keluar dari kamarnya sambil membawa boneka kuda poni berwarna ungu.


"Twilight Sparkle!" teriak Maura.


Gadis kecil itu langsung merosot dari gendongan Vika. Langkah kecilnya menghampiri Vincent.


"Mau, Kakak!" ujar Maura.


Vincent dengan ringan hati memberikan boneka yang sengaja dipersiapkannya untuk Maura. Bocah laki-laki itu kemudian berjongkok. Ia memberi kode kepada Maura agar mencium pipinya.


"Muach!" Maura dengan pintarnya mencium pipi Vincent.


"Ayo, berangkat sekarang!" ajak Mahen.


"Let's go!" teriak Maura dan Vincent bersamaan.


Setelah berkendara membelah jalanan yang semakin ramai, akhirnya mereka sampai di toko buku langganan Vincent. Anak laki-laki itu langsung menuju bagian buku cerita diikuti Mahen. Sedangkan Maura tertarik dengan warna-warni dari krayon di jejeran rak berisi alat tulis.


"Maura mau?" tanya Vika.


Maura yang sedang memperhatikan krayon beraneka macam warna itu, langsung mengangguk cepat. Gadis kecil itu memilih satu set krayon empat puluh delapan warna yang tersusun rapi dalam wadah mirip koper kecil.


"Nah, sekarang pilih buku mewarnai yang Maura suka," ucap Vika.


Gadis kecil itu melirik rak buku dan boneka kuda poni secara bergantian. Vika yang sangat peka akhirnya memahami keinginannya.


"Maura mau buku dengan gambar kuda poni?" tebak Vika.


"Mauuu ...., " ucap Maura malu-malu.


Setelah mencari-cari buku mewarnai yang dimaksud Maura tidak ada, akhirnya Vika memutuskan untuk bertanya kepada Rico.


"Coco!" panggil Vika.

__ADS_1


"Iya, Mbak Vika. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rico.


"Ada buku mewarnai My Little Pony?" tanya Vika.


"Ada, masih di gudang. Sebentar saya ambilkan," ucap Rico.


Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk Rico menemukan buku mewarnai itu. Kini ia menyerahkan lembaran kertas itu kepada Vika.


"Ini, Mbak," ucap Rico.


"Terima kasih," kata Vika.


"Sama-sama."


Bukannya kembali ke meja kasir, Rico malah memperhatikan setiap lekuk tubuh Vika dengan tatapan mesum. Tingkah tidak bermoralnya itu ternyata diketahui Mahen. Lelaki itu langsung melepas jaket yang ia kenakan, kemudian menghampiri Vika dan Nova.


Mahen memakaikan jaketnya ke tubuh Vika, untuk menyamarkan tubuh sintalnya yang terbalut terusan pressed body.


"Jangan pakai lagi baju ini untuk keluar rumah, atau akan kusobek-sobek!" ujar Mahen.


Vika awalnya tidak paham dengan ucapan Mahen. Namun, ia seketika tersenyum saat melihat Mahen melayangkan tatapan membunuh kepada Rico. Mendapat perlakuan manis dari Mahen, membuat bunga di hati Vika bermekaran.


Usai membayar buku-buku Vincent dan Maura, mereka langsung menuju ke kebab Baba Ahmed. Antrian panjang membuat Vincent menggerutu. Namun, senyumnya terbit ketika baba melambaikan tangan.


Pria paruh baya asal Turki itu selalu mengutamakan Vincent. Ia memberikan kebab untuk Vincent terlebih dahulu, agar bocah itu tidak merajuk.


Setelah menunggu tiga puluh menit, akhirnya tiba giliran mereka mengajukan pesanan. Vika mendekati gerobak Baba Ahmed untuk memesan kebab favorit Vincent.


"Apa kabar, Baba?" sapa Vika.


"Baik. Kebab seperti biasa?" tanya Baba Ahmed.


"Iya," jawab Vika singkat. Perempuan itu tak langsung pergi, ia memperhatikan cara baba membuat kebab.


"Adik Chen?" tanya baba sembari melirik ke arah Maura yang sedang asyik bercanda bersama Vincent dan Mahen.


"Ah ... bisa dibilang begitu," ucap Vika sambil tersenyum kecut.


"Kalian berdua sangat cocok," ucap Baba Ahmed.


"Ya?"


"Kamu dan lelaki itu. Menikah saja," ucap Baba Ahmed.


"Hubungan kami rumit, Baba." Pandangan Vika menerawang mengingat tragisnya perjalanan hidupnya dulu bersama Mahen.


Melihat Vika bermuram durja, Baba Ahmed enggan meneruskan percakapannya. Ia mengalihkan pembicaraan mengenai keluarganya. Vika sampai bisa menghafal nama istri dan ketujuh anak Baba Ahmed.


Setelah kebab siap, Vika langsung berpamitan. Ia ingin segera pulang karena perutnya terasa tidak nyaman.


"Baba, terima kasih, ya? Kami pulang dulu," pamit Vika.


Vincent dan Maura melambaikan tangannya tanda perpisahan dengan Baba Ahmed. Kedua bocah kecil itu langsung masuk ke kursi belakang. Hari itu berakhir dengan sangat menyenangkan. Vika berharap secuil kebahagiaan yang ia rasakan hari itu akan bertahan lama.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2