
Gamis maroon kombinasi hitam, dengan hijab dominasi warna senada kombinasi warna hitam menghiasi pinggir hijab yang aku kenakan sekarang adalah pemberian mas Amir dari Andara katanya aku disuruh memakainya. Karena semua anggota keluarga memakai seragam yang sama.
Aku tidak mengerti, konsep seperti apa pernikahannya nanti. Yah, hari ini adalah hari pernikahan mas Amir dan Andara. Aku harus datang menghadirinya menyaksikan suamiku menikahi wanita lain didepan mataku sendiri. Apakah aku akan kuat aku tidak tahu yang jelas mas amir hanya mau aku hadir sesuai janjinya kepada andara dan keluarganya.
Hebat sekali bukan suamiku menjaga perasaan orang lain. Bagaimana dengan perasaanku, mengikuti keinginannya adalah perintahnya. Melihat pantulan diri dicermin, aku tidak akan mampu bersaing dengan calon maduku itu jauh sekali perbedaanya. Wajahku memang pantas dikasihani. Mata sembab setelah tadi malam terlalu banyak menangis kurang tidur sudah pasti. Istri mana yang akan sanggup melihat suaminya bersanding dengan wanita lain.
Sakit dan terluka aku rasakan hanya akan percuma, tidak akan mampu mengubah apapun. Rasanya airmataku sudah kering. Ingin berteriak sekencang dan sekeras yang kau mau tapi aku tidak mampu. Rasanya tenagaku sudah habis terkuras, menyesal dan mengurung diri dikamar pun tidak menyelesaikan masalah.
“sayang ayo cepetan nanti terlambat” bergegas ku melangkah keluar kamar suaranya seperti orang tidak sabar melihat jam ditangannya. Setelah Setengah jam aku berdiri didepan cermin. Bukan berdandan karena aku tidak bisa, lebih meratapi nasib, mempersiapkan diri agar kuat terutama dari pandangan orang nantinya.
Melangkah menuruni tangga dengan gontai, suamiku memakai baju maroon khas mempelai pria. Tampan, Tapi aku benci melihatnya. Raniaku juga memakai baju dengan warna yang sama. Tuhan... seandainya aku punya kekuatan aku ingin lari, tidak ingin melihat apa yang terjadi hari ini. Menjauh semampuku. Tapi apa, cinta ini yang telah membuatku bodoh. Mungkin dihapan orang lain pun akan terlihat sama aku menyedihkan.
Ini bukan perkara mengikhlaskan, tapi tentang berdamai dengan rasa sakit. Tak akan pernah ikhlas kalau ditanya bahkan rela pun rasanya berat . hati siapa yang rela dibagi. Tujuh tahun aku memilikinya sendirian merengkuh dalam kesempurnaan cinta. Hanya ada aku dan dia. Tidak ada yang lain.
Kalau ada yang bertanya kuatkah aku hadir untuk menyaksikan belahan jiwaku bersanding dengan yang lain, tentu tidak. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah.
Aku hanya ingin memastikan bahwa detik itu dia bukan lagi milikku seutuhnya. Menyaksikan dengan indraku sendiri. dari dulu kami tidak pernah mempercayai apa kata orang. Sekalipun menyaksikan peristiwa hari ini akan menambah hancurnya hati tak apa. Akan lebih hancur lagi kalau aku mendengarnya dari orang lain.
Laki-laki yang dimataku memiliki nyaris kesempurnaan dalam setiap gerak lakunya, imamku yang selalu membimbingku dalam kebaikan. Setelah hari ini diapun akan menjadi imam untuk belahan jiwanya yang lain. Aku ingin serakah tidak ingin berbagi. Hanya ingin memilikimu seutuhnya bolehkah?.
Tapi wanita itu, aku tidak menyangka bahwa dalam hati lelakiku masih ada tempat yang indah untuknya. Aku diletakkan dibagian mana? kalau memang masih ada dia kenapa harus ada aku ataukah aku hanya pelariannya untuk menghindari rasa sakit. Aku yang mencintainya sepenuh jiwa dan ragaku seluruh nafas dalam diriku dan didalam setiap aliran darahku. Lihatlah dia hanya mencintaiku dengan setengah hati. Bodohnya aku tak menyadari itu selama ini.
Aku kira perhatiannya, rasa cemburunya, lembut lakunya, dan tanggung jawab yang dia berikan sudah menggambarkan rasa cinta yang utuh untukku.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, masih sunyi kami saling mengunci bibir. Kulirik mas Amir. Tatapannya fokus kedepan ada raut gugup tergambar disana. Rania duduk dijok belakang diapun sama diamnya denganku seolah mengerti kegundahan hatiku. Padahal kalau didalam mobil ada saja tingkahnya entah bernayanyi atau bertanya apa saja yang dia lihat dijalan.
Aku sadar sepenuhnya, setelah hari ini hatiku akan banyak terluka. Mungkin setelah hari ini sabarku akan terus teruji. Semoga tuhan menguatkan aku demi Rania.
Mobil memasuki sebuah pekarangan rumah sederhana berukuran 10 x 20 m. Tidak terlihat tenda dipekarangan. Rumah yang bercat biru ini sudah mulai ramai orang, tidak terdengar lantunan musik khas acara pernikahan. Mobil-mobil berjejer disepanjang jalan menuju rumah ini. Setelah memasuki halaman rumah ini hanya sedikit sekali terlihat sepeda motor yang terparkir disana.
__ADS_1
Mas Amir turun bergegas membuka pintu dan berjalan hendak menghampiriku dengan segera aku turun sebelum mas amir membukakanku pintu. Terlihat wajahnya terkejut aku tidak peduli. Kubuka pintu tengah mobil menggendong Rania. Orang yang ada diluar rumah menoleh kerah kami.
Dadaku berdebar tidak karuan ada rasa sakit yang menyusup, mengingat sebentar lagi aku akan menyaksikan suamiku menghalalkan wanita lain dihadapanku. Menguatkan hati agar nanti aku tetap sadar menyaksikan peristiwa yang seharusnya tidak perlu aku saksikan.
“Syafira kenapa kamu datang nak...”seorang perempuan peruh baya menghampiriku usianya sekitar 55 tahunan, mengenakan baju dengan warna yang sama dengan hijab menghiasi kepalanya. Aku menoleh kearahnya, mertuaku orang yang melahirkan mas Amir.
“Seharusnya kamu tidak perlu datang, ini akan sangat menyiksamu nak,,,”ada airmata yang meggenang nyaris tumpah disana di kedua netranya . Ini hari pernikahan anaknya justru wanita dihadapanku ini bersedih sungguh aneh. Aku pikir hanya aku yang bersedih nyatanya tidak, wanita dihadapanku ini sama terlukanya denganku.
“Mengapa ibu diluar, ayo masuk bu” itu suara mas Amir menggapai tangan ibunya untuk digandeng. “kamu tega mir, kenapa kamu bawa syafira, ibu seperti tidak mengenal anak ibu, kamu berubah. Tahukah kamu yang kamu lakukan ini sudah sangat menyakiti syafira” suaranya rendah tapi penuh penekanan mertuaku setengah berbisik mengatakan itu pada suamiku. Tatapannya tajam menghujam. Ada airmata yang menetes di kedua pipi tuanya.
“Tidak apa-apa bu, insya Allah syafira kuat. mari masuk kita akan melihat pernikahan mas Amir kasihan yang lain sudah menunggu didalam” tatapanku tajam aku terluka, terlebih melihat airmata yang menetes dikedua pipi mertuaku. Seingatku wanita dihadapanku sekarang bukanlah orang yang cengeng. Sejak ditinggal suaminya dia wanita yang sangat tegar membesarkan kedua anaknya sendirian.
Masuk ke ruang tamu, sebuah meja yang tertata cantik disana. Andara duduk disebelahnya seorang laki-laki tua dengan perawakan kurus. Sementara ibunya Andara duduk disisi yang lain dengan didampingi seorang laki-laki yang gagah dan tampan meski sudah berumur. Terlihat berkharisma dari tampilannya memakai jas rambutnya tertata rapi dan sorot mata yang teduh. Dua orang lagi kulihat memakai sarung dan peci seperti seorang pemuka agama dan dibelakangnya terdapat laki-laki dengan pakain serupa. Aku tidak melihat ada berkas atau kertas apapun diatas meja.
Semua mata memandang kami sesaat setelah kami memasuki ruang dimana acara akan dilangsungkan. Para tamu yang ada dibelakang andara terlihat mulai berbisik. Tatapan mereka beragam. Ada yang menatapku dengan iba. Ada yang menatapku dengan sinis sebagian lagi tatapan biasa tanpa ekspresi. Terlihat wanita-wanita cantik berkelas seperti andara berdiri memegang gelas minuman ditangannnya menatapku dengan sinis.
Tunggu dulu, baju yang dikenakan andara ya Allah,,,apa mas Amir tidak menegurnya. Sebuah kebaya full payet yang terlihat sangat mewah dengan belahan dada yang sangat rendah terlihat belahan dadanya menyembul. Dibelakang separuh punggungnya terlihat hanya dihiasi payet yang sangat transparan. Bagaimana dia bisa menampakkan auratnya sementara diruangan ini banyak laki-laki. Apa tidak risih. Aku saja yang melihatnya risih.
Dia berjalan menghampiri mas amir dan mengapit tangannya menuju meja. “mas Amir lama banget ditungguin dari tadi, acaranya mau dimulai” rengeknya manja. matanya memancarkan binar kebahagiaan.
Mas Amir tersenyum lembut memegang tangan andara yang memegang lengannya. Rok motif batik yang dikenakan ada belahaan panjang, memperlihatkan kaki sampai pahanya yang jenjang. Benarkah mas Amir mengijinkan Andara memakai ini atau hanya kemauan wanita ini. Aku tidak melihat mas amir risih dia biasa saja.
Lelakiku itu tidak pernah pengijinkan aku keluar tanpa menutup aurat sekalipun aku duduk diteras rumah, “auratmu menjadi tanggung jawabku” katanya padaku kala itu. Aku yang terbiasa memakai baju yang menutup auratku sangat bersyukur mendapatkan imam yang baik menuntunku kejalan yang benar. Tapi hari ini sisi lain seorang Amir syarifudin yang baru aku tahu, laki-laki itu tampak santai dengan pakaian yang dikenakan calon mempelai wanitanya.
__ADS_1
Ibu berjalan menggandeng tanganku, disisi kiriku Rania menggandeng tanganku kami berjalan memasuki ruangan. Duduk lesehan dikarpet yang sudah disediakan. Ibu tak berhenti menggenggam tanganku sambil menepuk lembuk sesekali. Berulang-ulang mengusap bahuku lembut. Kami bertiga duduk tepat dibelakang mas amir.
“Bisa kita mulai acaranya?” itu suara bapak yang memakai sarung penghulunya mungkin. Seketika ruangan hening, tamu undangan yang tadinya berdiri mulai duduk lesehan dibelakang kedua mempelai. Doa pernikahan pun dibacakan sampai acara ijab kabul dimulai. Ragaku ada disini mentap mereka, aku tahu tatapanku kosong pikiranku entah kemana.
Aku melihat pria tua yang kurus itu menggenggam tangan mas amir saat akan dicapkannya ija kabul. Ternyata ayahnya andara ayah kandung mungkin. Yang duduk disebelah mamanya siapa?
Kata sah menggema diseluruh ruangan, terdengar bacaan hamladalah serempak terucap dari seluruh undangan yang hadir. Aku merasa detik itu juga seperti ada yang hilang dihatiku, ada rasa sakit yang merambat didada. Aku tidak bisa menahan airmata ini. Aku benci manangis didepan orang lain selain suamiku. Tapi aku tidak bisa membendungnya. Bahuku terguncang airmata begitu deras mengalir tanpa permisi.
Hatiku seperti tersayat ribuan pisau, ada banyak luka yang tidak terlihat tapi aku merasakannya. Sumpah demi apapun sakit tak dapat kusembunyikan lagi.
“kamu yang kuat sayang,,,kasihan Rania daritadi melihatmu sampai ikut nangis juga” aku tidak menyadari sejak kapan rania tidak ada disebelahku. Mertuaku itu mengelus tanganku menepuk bahuku lembut berulang dengan kata-kata menguatkan tapi aku tidak mendengar apapun. Dia pun sama terisaknya denganku.
Aku terlalu fokus pada rasa sakit ini, sakit kehilangan belahan jiwaku. Hancur rasanya melihat dia mengucap ijab qabul dengan menyebut wanita lain dihadapanku. Kuangkat kepala karna ada tangan lain yang memegang bahuku. Suamiku dan wanita yang beberapa menit yang lalu telah sah menjadi istrinya. Keduanya menatapku dengan iba.
“maafkan kami mbak,,,terima kasih mbk Syafira sudah mau datang memberi restu kami”. Apa? restu katanya cih, kalau tidak ingat malu ingin aku ludahi wajah wanita ini. Menjambaknya hingga sanggul indah yang menghias kepalanya terburai. Aku terdiam menatap dengan kedua netraku masih mengucurkan airmata tanpa henti. Dan lihatlah suamiku hanya bisa terdiam menunduk, bahkan menatap istrinyapun sepertinya enggan biadab kamu mas Amir.
“maafkan anak bapak dia sudah menyakitimu, sebagai orang tua saya gagal mendidiknya. Karena dia di bawah asuhan ibunya selama ini “laki-laki tua yang tadi menggengem tangan mas amir berucap lirih penuh penyesalan.
Aku tahu sekarang aku jadi pusat perhatian tamu yang ada diruangan ini, aku tak peduli bibirku seperti terkunci, tak mampu mengucap sepatah katapun. Sampai tangan mertuaku membimbingku untuk berdiri, menatap suami dan maduku dengan sinis dan membawaku keluar dari ruangan yang menyesakkan dada ini.
Tertunduk dengan airmata yang masih menetes, sakit tak bisa terucapkan seperti baru saja kehilangan harta berhargaku. Mobil berjalan pelan, aku tidak tahu mertuaku akan membawaku kemana.
“kamu tidak pantas menangisi mereka, airmatamu terlalu berharga. Maafkan ibu yang tidak bisa mendidik anak ibu dengan baik” dari tadi aku sudah berkali-kali mendengar mertuaku mengucap kata maaf atas yang terjadi hari ini.
__ADS_1