BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB. 6. MEMPERTAHANKAN APA YANG MENJADI MILIKKU


__ADS_3

“Lidah itu tajam, sayatannya mampu meniggalkan luka yang dalam.Bahkan sekalipun sembuh bekasnya masih tertinggal. Bisa memaafkan tidak melupakan, sebagai pengingat mana tahu membuat suatu saat ada sayatan baru”


Merasakan ada yang menyentuh badanku, sebuah tangan mengangkat tubuh, seketika membuatku terbelalak kaget. Tatapan tajam kuarahkan. Aku ingin dia tahu betapa besar rasa benciku, akibat luka yang dia torehkan. Kutepis tangannya


“Maaf aku terpaksa pakai kunci cadangan aku takut terjadi sesuatu” melepaskan tangan dan mundur sejengkal duduk dihadapanku yang sudah bangun, aku masih duduk diatas tempat sujudku, mukenah ini masih terpasang.


“Memang apa yang akan terjadi” tatapanku sinis, benciku tidak ada obatnya, mengalir bersama darahku memenuhi seluruh pori ini.


“Mungkin kata maaf tidak akan mampu menghapus kesalahanku.Aku sadar, yang aku lakukan ini sangat menyakitimu, dan mungkin tak termaafkan. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku” setiap kalimat yang dia ucapkan terdengar pelan seperti ada penyesalan disana aku tidak tahu tulus atau tidak.


“tinggalkan wanita itu, kembalilah sebagai suamiku, laki-laki yang aku cintai demi aku demi keluarga kecil kita, aku akan menganggap apa yang terjadi kemarin tidak ada, aku akan melupakannya. Aku akan menganggap hal itu tidak pernah terjadi aku berjanji” suaraku melemah, menahan gumpalan amarah yang mengendap di dada. Ku tahan sebisa mungkin, ini saatnya aku berusha mempertahankan apa yang menjadi milikku. Tidak ada salahnya mencoba tidak ada yang tidak mungkin bukan,,,mumpung belum terlambat. Mempertahankan apa yang menjadi milikku.


“Dari kemarin kamu belum makan, makanlah aku sudah menyiapkan bubur, mau aku suapi”dia mengalihkan pembicaraan, darahku kembali mendidih ingin aku cakar laki-laki dihadapanku ini. Duduk dihadapanku, tangannya mengaduk bubur dengan sendok, asap mengepul pelan.


“aku yang membuatnya” ucapnya pelan pandangan lekat pada mangkuk ditangannya. Kalau dulu aku akan senang hati disuapi, tapi sekarang setelah yang dia lakukan.


Kuambil mangkok ditangannya, meletakkan disampingku, kami duduk dilantai bawah kamarku, sekuat tenaga kusimpan ego, merendah dihadapan suami adalah jalanku mengharap belas kasihan sebelum semuanya terlambat. Menggenggam kedua tangannya, menatap matanya lekat, airmata masih ingin menghambur keluar. Panas mata menahannya. Kutarik nafas pelan menarik sekuat yang aku bisa karna sesak dada ini terasa menghimpit.

__ADS_1


“Aku mohon, tinggalkan wanita itu, aku mencintaimu aku berjanji akan menjadi istri yang baik aku akan berusaha, masih ada waktu untuk membatalkan semua tolonglah kasihani aku, dari dulu sampai sekarang tidak ada satupun laki-laki dunia ini, mas amir yang pertama dan terahir, aku akan lebih sabar, lebih pengertian, lebih bijaksana, aku akan berusaha menjadi istri yang sempurna untukmu mas aku berjanji, kembalilah” sederet kalimat yang aku ucapkan berharap suamiku tersentuh.


“Berikan yang dia mau asal jangan membagi cintamu, aku tidak perduli dengan dunia ini yang aku mau kamu tetap ada disini dan menjadikanku satu-satunya dalam hidupmu” suaraku memelas aku tahu itu, harapanku Cuma satu laki-laki dihadapanku ini luluh. Menarik tanganku membawa tubuhku kedalam dekapannya, hangat kurasakan debaran jantungnya memicu cepat aku mendengarnya. Terasa ada yang berat mengganjal.


“Tidak perlu berubah, jadilah syafiraku yang sekarang, sabar, baik, bijaksana dan dewasa”


Tangannya membelai lembut bahuku yang tertutup mukenah,


“Tapi aku tidak bisa merubah keputusanku, janjiku padanya harus ditepati”suaranya berat melemah, percayalah kalimat yang baru saja diucapkannya menambah sayatan yang semakin dalam pada luka masih berdarah, perih sungguh. Ibarat luka disiram asam cuka.


“Bagaimana dengan janjimu padaku mas?”. Masih kutahan amarah sekuat tenaga agar tidak meledak, belum saatnya ini masih negosiasi harapanku besar agar mas amir membatalkan semuanya.


“Aku bisa menemanimu dari nol sampai sekarang ,ujian hidup beerumah tangga kita mampu melewati semua. Bukan aku mas tapi kita. Saat ini aku yang akan menghadapinya sendiri, menanggung kepahitan ini sendiri karena kamu akan membaginya dengan wanita lain” berusaha sekuat tenaga agar mas amir berubah pikiran.


“aku akan akan adil buat kalian”. Gigihnya laki-laki ini. Aku seperti kehilangan sosok yang tidak pernah mau berdebat denganku, dari dulu sampai sekarang dia selalu mengalah tapi ini.


“kanapa” kalimat pendekku membuat suamiku menarik napas berat dan panjang.

__ADS_1


“Kalian sangat berarti dalam hidupku” kalimatnya terjedah. Masih memelukku erat


“tidak cukupkah hanya satu wanita dalam hidupmu?”suaraku melemah


“kalian saling melengkapi, andara itu wanita yang manja sangat tergantung padaku, itu yang aku sukai, dan kamu wanita yang kuat mandiri dan dewasa” sumpah demi apapun kata yang keluar dari bibirnya sudah mampu melehkan air mataku, mendengar mas amir menyebut namanya saja membuatku muak, cemburu mungkin iya tapi lebih kepada benci dan jijik.


“keluarlah, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi sekeras itu hatimu mempertahankan wanita itu, wanita yang datang pada saat kamu sudah punya segalanya” sakit,,,, sangat sakit tak akan ada yang mampu menggambarkan rasa sakit ini. Aku duduk menjauhi laki-laki yang baru saja menghujam belati dijantungku ini.


“Makanlah dari kemarin kamu belum makan”mangambil bubur mengarahkan sendok kemulutku aku tepis dengan keras, denting suara sendok beradu dengan keramik, bubur tercecer di lantai kamar.


“keluar...!!!!!” keras suaraku melengking menumpahkan amarah yang dari tadi berlomba ingin keluar.


“Jangan pedulikan aku, lakukan yang ingin kamu lakukan” masih dengan suara keras. Airmata deras mengalir aku tudak peduli, wajah dan mataku mungkin bengkak tak ku hiraukan. Kecewaku tak akan mampu mencegah ini.


“Aku minta maaf” hanya itu yang ku tangkap setelahnya hening, suara pintu kamar kemudian ditangkap indra pendengaran. Laki-laki itu pergi setelah membersihkan ceceran bubur menggunakan tisu.


Ya Allah....apa yang harus aku lakukan, bagaimana laki-laki ini bisa berubah dalam sekejap. Aku seperti tidak mengenalnya. Dia berubah menjadi sosok lain dihadapanku. Aku kehilangan laki-laki yang hangat. Yang tidak pernah berdebat denganku. Laki-laki lembut yang selalu menenangkan.

__ADS_1


Masih ada waktu, aku bangkit melirik jam didinding menunjukkan angka 10. Baru tersadar, begitu banyak waktu yang kuhabiskan meratapi nasib. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, bergegas ke kamar mandi. Perihnya lambung tak kuhiraukan. Keutuhan rumah tanggaku diatas segalanya apapun akan aku lakukan, bahkan mempermalukan diri sendiri sekalipun, aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Iya, aku memang serakah, egois aku tidak peduli. Kalau suamiku tidak bisa aku luluhkan mungkin perempuan itu bisa, kita sama-sama perempuan, nalurinya mungkin akan tersentuh.


__ADS_2