BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
BAB 13. PULANG KAMPUNG


__ADS_3

Duduk sendiri diantara kabut putih embun pagi yang masih tersisa, dingin menusuk sampai ketulang, aroma jerami bercampur lumpur tercium. Angin sepoi-sepoi membelai wajahku lembut menerbangkan hijabku.


tempat mengenang masa kecil bermain dan berlarian dengan teman sebaya. Suara kicau burung terdengar merdu bagai alunan musik di pagi hari.


Padi baru saja di panen terlihat ada banyak tumpukan jerami di tengah sawah, bekas potongan pohon padi itu hjuga berjejer rapi disana. sekumpulan burung pipit beterbangan mencari sisa padi yang masih tercecer.


Ini kebiasaanku dari dulu menunggu matahari terbit dari ufuk timur. Duduk dipematang sawah menghadap tempat terbitnya sang surya. Yah, disinilah aku sekarang, di tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan dalam kesederhanaan. Tempatku tumbuh dari kecil hingga dewasa yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang.


Seminggu setelah aku keluar dari rumah sakit, aku pulang kampung diantar mas raihan sampai terminal bis. sebenarnya Suami karina ini mau mengantarku sampai kampung halaman, aku yang menolaknya karena hari kerja.


Dimana suamiku, ada, dia dan istrinya mengantarku sampai dipintu. Menawarkan diri mengantarkan aku sampai rumah bapak dan ibu. Tapi dengan nada berat, aku menangkap nada basa basi disana. seorang suami tidak akan menawarkan diri. Seharusnya mempersiapkan diri untuk mengantar istrinya yang akan pulang kampung dengan membawa anak yang masih berumur lima tahun untuk perjalanan yang jauh. Tidak nampak raut khawatir seperti biasa dimatanya.


Mungkin dia berat meninggalkan istri barunya, membawa serta juga tidak mungkin bukan. Beruntung selama perjalanan Rania tidak rewel, terima kasih untuk kerja samanya nak. Karena perjalanan kali ini terasa berat. Ada beban menyertai perjalananku. Laki-laki yang masih berstatus suamiku itu hanya mengantarku sampai di pintu rumah. Bersama istri baru tentunya. Sakit sekali hati ini melihat perlakuannya padaku.


“mau sarapan, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu”.Suara itu memecah keheningan, Wanita tua ini duduk disebelahku. Membelai kepalaku yang tertutup hijab dengan lembut. “kalau belum mau bercerita tidak apa-apa ibu tidak memaksa, setidaknya makan dulu biar tidak sakit” suaranya lembut sampai ke kalbu. Ada hangat yang mengalir disana. kubendung air mata agar tidak tumpah. Menyandarkan kepala kebahunya. Nyaman, itu yang kurasakan. Aroma tubuh ini yang selalu kurindukan.


“ibu harap kepulanganmu atas ijin Amir, tak akan diridhoi setiap langkah seorang istri tanpa ijin dari suaminya” tangannya membelai bahuku. Apakah ibu tahu masalahku. Belum aku belum bercerita, menunggu waktu yang tepat.


Aku baru tiba tadi jam 2 dini hari setelah menempuh perjalanan 8 jam dari kota. Sampai sekarang mataku belum mau terpejam. Lelah memang, tapi entah mengapa tidurpun rasanya sulit ahir-ahir ini. Setelah sholat subuh tadi aku duduk disini seorang diri.


Sinar sang surya mulai menampakkan sinarnya malu-malu, warna kuning keemasan terpancar indah disana. ah, inilah yang rindukan dari tanah kelahiranku, alamnya selalu memberikan kedamaian. Kupejamkan mata menikmati hangatnya mentari pagi, ingin kembali ke masa kecil. Berlari mengejar kupu-kupu tanpa beban. Pulang kerumah saat adzan maghrib berkumandang lalu Pergi kesurau belajar mengaji.


Aku ingat. Disebrang sana jauh didepanku selalu ada tangan yang melambai kearahku, kami akan menikmati matahari terbit bersama meskipun dari jarak yang berjauhan. Meninggalkan tempat ini bersamaan setelah matahari menampakkan diri dengan sempurna, dan tak lupa melambaikan tangan dari kejauhan tanda perpisahan. Laki-laki itu. Aku tersentak, ingatan masa kecilku menyadarkanku.


“bu, bang fatih apa kabarnya?” yah, laki laki itu selalu menemaniku menikmati matahari pagi dengan caranya. Tidak duduk bersebelahan memang, tapi itu sudah membuatku nyaman.


“koq tiba-tiba ingat fatih, kangen ya” ibuku menggoda


“sejak hari pernikahanku dia tidak pernah muncul lagi dihadapanku” kalau ingat itu sebenarnya aku kesal, bisa-bisanya tamu undangan yang kehadirannya paling diharapkan tidak datang. Aku sempat menangis tatkala bibi rukayyah, ibunya bang fatih mengatakan permintaan maafnya karena laki-laki itu tidak bisa hadir, ada kepentingan mendadak katanya, rencana kepulangannya dibatalkan itu berita yang aku dengar terahir.


Sedih, kecewa, marah bercampur jadi satu. Seharusnya dia datang memberi kami restu. Bukankah kedekatanku dengan mas amir juga atas jasanya. Orang yang paling berjasa juga dalam hidupku, membantuku ketika kiriman dari bapak belum sampai. Mengantarkan kedokter ketika aku sakit dikosan. Rela mengantarku bimbingan skripsi ketika dosen terbangku minta bimbingan tidak tahu waktu. Mengantarkanku kemanapun aku mau tanpa mengeluh.


“matahari sudah tinggi kita masuk dan sarapan, nanti jalan keliling kampung, pasti kamu rindu. 3 tahun tidak pulang banyak yang berubah di desa kita” ibuku beranjak, aku mengikutinya dibelakang. Aku melihat bapak dan rania sudah duduk lesehan beralaskan tikar dari anyaman daun pandan.


Hidangan lengkap sudah tersedia, serba ikan laut karena didesaku ini ikan laut harganya lebih murah. Daun singkong rebus, sambel kacang, ikan kakap bakar menggugah seleraku.


Dirumahku ada larangan makan tidak boleh berbicara, takut tersedak katanya itu yang diajarkan ibu sedari aku kecil. Entahlah, sampai sekarang pun kami tetap melakukannya.


Entah kenapa nafsu makanku meningkat sampai nambah dua piring penuh membuat ibu dan bapakku geleng kepala sambil tersenyum.


“makanmu tadi seperti orang g makan setahun nak.”ibu membuka percakapan sambil tersenyum menggodaku.


“kalau dirumah bunda tidak makan nek... g nafsu katanya, kalau dipaksa Rania baru makan itupun sedikit. Bunda banyakan nangis dikamar” anakku berbicara dengan lantang, bapak ibukku saling melempar tatapan heran. Tatapan tajam diarahkan padaku.


“Rania mau ikut kakek lihat sapi disawah?” aku tahu bapakku sengaja melakukannya


“mau kek...sapi ada anaknya tidak” tanya rania antusias


“ada...” bapak mengangguk tak kalah semangatnya


“ibunya ada dua g kayak Rania...” kembali tatapan tajam mereka arahkan padaku, bibirku beku.


Bingung mau memulai dari mana cerita semuanya. Aku sadar lambat laun kedua orang tuaku akan mengetahuinya juga. Serapat apapun aku merahasiakannya.


“mas Amir menikah lagi bu...” memulai percakapan setelah Rania dan bapak pergi. Sukses membuat ibu menghentikan tangannya yang merapikan tikar tempat kami sarapan tadi.


“sudah seminggu perempuan itu sah menjadi maduku, dan mas Amir mengajaknya tinggal dirumah kami” suaraku lemah kepalaku tertunduk dalam.

__ADS_1


Untuk saat ini aku tidak berani melihat wajah ibuku. Mas amir menantu kesayangannya, tidak tega rasanya aku menceritakan ini. Tapi aku tidak punya pilihan. Ibu masih membisu, tubuhnya diam kepalanya tertunduk. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.


“Apakah kepulanganmu untuk menghindari itu?” ahirnya ibu membuka suara sekalipun lirih, tapi pertanyannya membuatku bingung.


“Menghindari pernikahan mas Amir?” tanyaku bingung


“menghindar dari rasa sakit karena di madu” ibuku menyanggah cepat.


“aku tidak kuat bu, setiap hari harus bertemu dengan mereka” ahirnya tumpah sudah air mataku. Ibu berjalan lalu duduk disebelahku mengusap bahuku pelan tangan kirinya memegang tanganku erat.


“ibu senang waktu kamu sama rania mau pulang, setelah tiga tahun ahirnya ibu bisa melihat kalian. Rindu ini akan segera terobati segalanya ibu persiapkan mengganti seprai, gorden, bahkan ibu membeli semua ikan laut kesukaan kamu. Kulkas ibu penuhi.” Jedah sejenak ibuku menarik nafas panjang.


“seandainya ibu tahu kepulanganmu karena menghindari itu, ibu tidak akan mengijinkan” lanjutnya. Ada sedih dan kecewa.


“masalah itu dihadapi bukan dihindari” membelai kepalaku, bahuku tergunjang, tangisku makin menjadi.


“ibu mendidikmu menjadi pribadi yang kuat, ibu pikir kehidupanmu baik-baik saja. Tidak pernah menceritakan tentang sedihmu pada ibu, itu yang membuat ibu bangga. Karena ibu pikir kamu sudah bisa menghadapinya sendiri. ternyata ibu salah”


“fira bisa bersabar untuk perkara yang lain, tapi kalau diduakan itu lain cerita bu”


“kamu dikaruniai suami yang baik begitu menyanyangimu dan anakmu, anak sehat dan cantik, mertua yang begitu menyayangimu. tidak ada yang kurang dari rumah tangga kalian.


Pekerjaan amir lancar, usahanya juga semakin berkembang”


“kalau kamu pikir kehidupan sempurna itu cara tuhan menunjukkan sayangnya padamu,kamu salah besar nak. Kamu akan terlena pada ahirnya sifat sombong akan menguasaimu” petuahnya membuatku terdiam hatiku membenarkan.


“cobaan itu cara Tuhan memanggilmu untuk mendekat, Tuhan begitu menyayangimu dengan caranya. Datang mendekat dan merengeklah, tuhan suka itu”. Tidak ada amarah bahkan tidak terkejut.


Pembawaanya yang tenang membuat aku selalu kagum dengan wanita yang melahirkanku ini. Aku peluk erat ibuku, tangisku benar-benar pecah sedikit kelegaan mengalir di hati. Bahuku terguncang bahu ibuku basah airmataku.


“tidak usah dipikir, kamu pulang karena kangen ibu kan, terlepas dari masalahmu ibu mau kamu menikmati selama disini, sudah nangisnya jangan lama-lama” mengangkat badanku yang menempel di bahunya dari tadi, mengusap airmataku penuh kasih. Ada senyum tegambar disana. bersyukurnya aku punya wanita hebat ini.


“oh ya... besar apa kecil perut sapinya” tanyaku dengan senyum mengembang


“besar...sapinya bobok kata kakek capek.. kasihan Rania lihatnya”. Setiap pagi penggembala membawa sapi-sapi mereka mencari makan disawah belakang rumah, dan membawa pulang sore hari sebelum matahari terbenam.


Berjalan keliling kampung selepas sarapan tadi, hanya berdua dengan ibu Rania tidur mungkin kelelahan, ini sangat menyenangkan. Berpapasan dengan ibu-ibu yang berangkat kepasar berjalan berjejejer memanjang kebelakang sambil bercerita.


Ada yang untuk belanja ada juga yang untuk berjualan. Bapak-bapak dengan ternaknya, sebagian dengan alat berkebun terpasang dibahunya. Tidak lupa caping ( topi lebar terbuat dari anyaman daun kelapa) menghiasi kepalanya. Menyapa kami sekedar basa-basi. Ibu hamil berjalan pagi ditemani suaminya sambil bercakap sesekali sang suami mengelus perut istrinya.


Udara disini masih segar.


Minimnya kendaraan umum bahkan hanya orang-orang yang benar-benar mampu yang memiliki kendaraan roda empat. Untuk sepeda motor tidak semua orang memilikinya, sepeda ontel yang lebih sering dipakai warga disini. Bahkan masih ada yang memakai kuda sebagai alat transportasi.


Biasanya rumah daerah pegunungan yang memakai kuda karena aksesnya tidak bisa dilalui kendaraan apapun.


“oi....bira”suara kencang itu aku mengenalnya, berlari kecil kearahku. Aku tidak mau menoleh bisa-bisanya bertemu disini saat menikmati keindahan pagi. Perusak suasana moodku buruk sekarang. Kupejamkan mata tak ingin menoleh memanggil namaku saja belum berubah dari aku kecil, menyebalkan.


“Sombong kamu sekarang g mau noleh kekakak sepupumu yang ganteng ini” percaya dirinya masih tinggi rupanya, tidak ada yang berubah dari orang ini.


“wah...bira tambah cantik ya, coba sini kakak lihat” membalik badanku dengan paksa


“fira kak, fira” kesal sungguh melapaskan tangannya dibahuku


“itukan mereka, kalau kakak kan lain. Mana suamimu yang katanya lebih tampan dari aku itu. Ck, sombong kamu sekarang mentang-mentang tinggal dikota lupa pulang” mulai dia, aku ingin pergi dari tempat ini, kalau dulu dia tidak akan berhenti sebelum aku menangis, celingukan mencari ibu, ternyata ibu sedang berbicara dengan temannya.


“ini kan fira pulang, kakak apa kabar. Bulek sama pak lek apa kabarnya” sekedar basa basi takut dikira sombong.

__ADS_1


“mereka baik, mainlah kerumah mereka juga kangen sama kamu. Aku sekarang tinggal sama istriku” seorang perempuan tengah hamil mendekat. Jadi mereka yang aku lihat tadi.


“oooo....selamat ya, istrinya cantik kak, sudah berapa bulan mbak” tanyaku pada perempuan denagnwajah manis memakai gamis dan jilbab biru itu.


“delapan bulan” kami berjabatan


“kamu itu beruntung fira, punya suami ganteng, baik, sayang sama kamu. Selain karyawan dia juga kontraktor ya, kata paman suamimu baru diangkat jadi manajer dikantornya aku senang mendengarnya” baru sekarang dia serius.


“alhamdulillah kak...”hanya itu yang bisa ku jawab memang apa lagi


“kenapa tidak diajak pulang sekalian?”


“dia sibuk namanya karyawan tidak bisa libur seenaknya, mana usahanya juga tidak bisa ditinggal” itu ibu yang jawab entah dari kapan dia dibelakangku.


“oooo...saya kira kalian ada apa-apa, kasih tahu kakak kalau macam-macam biar dibikin babak belur sekalian” muka usilnya keluar menunjukkan kepalan tangannya ke mukaku.


“sudah siang, ayo fira duluan kak”


“iya, baik-baik sama suamimu langka manusia yang setia seperti dia meskipun mapan tapi cintanya sama kamu saja fir, percaya sama kakak dia sudah bucin sama kamu” hanya senyum yang terbit didibirku, sambil berlalu tak kupedulikan omongan kakak sepupuku itu.


“fira, kapan datang koq g kasih tahu bibi” bibi rukayah, ibunya bang fatih menyapaku saat aku melintasi warungnya, sebenarnya lebih ke rumah makan tapi sangat luas, terkejut aku melihatnya.


Padahal dia dulu jualan nasi hanya memakai meja didepan rumahnya. Masakannya enak, jualannya laris tidak sampai siang. Ku salim tangannya tanda hormat.


“baru tadi pagi sampai. Wah, warung bibi sekarang berubah ya, semakin maju usaha bibi” sungguh yang sekarang aku benar-benar kagum.


“alhamdulillah, ayo duduk dulu mau makan apa biar bibi siapin”


“g usah mbak, kita sudah sarapan sebelum kesini” ibu yang jawab


“garang asem kepala kakap bibi enak lho, mau?”ah, orang ini masih ingat makanan kesukaanku.


“makasih bi, masih kenyang. Ida sama indira mana,,, koq g kelihatan” adik bang fatih dua orang cewek semua.


“bibi suruh kepasar, beli bahan-bahan. Sekarang bibi buka sampai sore, menunya banyak, kalau dulu kan hanya nasi pecel, jualannya sampai siang”


“bang fatih apa kabar bi” aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.


“baik, baru dua minggu yang lalu dia datang tiga hari disini berangkat lagi, sibuk dia sekarang”


“Fatih sudah jadi pengusaha sukses dikota, tapi sebulan sekali dia pulang” ibuku menjelaskan.


“Fira kangen ya, masak g pernah ketemu. Dia sekarang tinggal dikota yang sama dengan kamu” hah, hanya itu yang keluar dari mulutku.


“koq fira tidak tahu bi” tanyaku heran


“baru pindahan, tidak menetap Cuma mau buka usaha katanya bibi juga tidak tahu” bibi menatapku lama.


Aku mengangguk antara paham dengan bingung, sebenarnya rindu tapi mau bagaimana.


Mas amir paling tidak suka kalau aku tanya bang fatih. Menjaga perasaan suami karena bagaimanapun kedekatan kami dahulu harus ada batasan. apalagi sekarang aku sudah berkeluarga.


“mbak saya pamit dulu mau kepasar, besok fira saya ajak sarapan disini. Biar istirahat dulu dari tadi malam dia belum tidur.” Ibuku pamitan sambil bersalaman.


“janji ya fir, bibi juga kangen sama kamu. Oiya suamimu g ikut”


“dia sibuk bi, sekarang kan hari kerja”

__ADS_1


“Oiya ya,,,” kami berpamitan sebenarnya masih banyak pertanyaan dibenakku tentang bang fatih, tapi mau bagaimana lagi, batasan antara aku dengan dia sangat tebal ada perasaan yang harus aku jaga. Sekalipun orang itu tidak mempedulikan perasaanku.


__ADS_2