
"Seandainya hubunganku dengan Syafira seperti permainan dalam ponsel pintar, ketika kalah. Saya akan memulainya lagi dari awal dan tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Hingga akulah yang keluar sebagai pemenangnya. Semudah itu bukan.
Tapi tidak dalam kehidupan nyata, permainanku sudah dinyatakan kalah dan aku tidak bisa memulai lagi dari awal. Yang bisa dilakukan adalah, memperbaiki kepercayaan yang terlanjur rusak oleh sebab penghianatan yang bahkan aku sendiri tidak menginginkannya"
Amir.
***
“sri, laporan bulanan sudah selesai? Tanyaku pada perempuan yang duduk di kursi sebelah kiriku.
“sudah bu, saya kirim filenya apa mau dicetak”tanyanya balik
“dua-duanya biar enak meriksanya” jawabku sambil berkutat dengan komputer didepanku. Memeriksa beberapa penjualan dan stok barang.
ini bukan hal baru buatku. Dulu pekerjaanku juga tidak jauh berbeda dengan ini. Seputar laporan uang masuk dan keluar, mencocokkan dengan fisik.
“istirahat dulu bu, ini sudah masuk waktu makan siang” ujarnya.
Oh, aku baru sadar. Kulihat jam ditangan, menunjuk angka 12. Membereskan kertas yang berserakan di meja kerjaku.
Ruangan ini dilengkapi AC. Sofa memanjang untukku dan sri istirahat. Ada celah antara sofa dan lemari file, aku jadikan mushola mini untuk sholat.
Satu hal yang belum aku ceritakan tentang sri, perempuan ini begitu menguasai aplikasi dikomputer padahal hanya gadis desa lulusan SMA.
Ketika aku bertanya, dia belajar pelan-pelan karena ingin jadi sarjana jawabnya ketika itu.
Usaha swalayan ini sudah berjalan hampir dua bulan. Dari hari kehari selalu ada peningkatan penjualan.
Hal ini tidak luput dari kerja keras mereka. karyawanku membagikan brosur kerumah-rumah juga perkantoran yang dekat dengan lokasi. Bahkan dijalan yang dilalui kendaraan tepat didepan swalayan ini.
“assalamualaikum...”terdengar ketukan dipintu ruang kerjaku suara pria, sesaat setelah aku mengucap salam mengahiri sholat. Dengan mukenah yang masih terpasang kubuka pintu. Kebetulan sri keluar mencari makan siang.
“waalaikum salam..”kujawab salam sambil membuka pintu. Ah, suamiku. Ini sudah kesekian kalinya dia mengunjungiku di jam makan siang.
“makan siang diluar yuk. Mas ada yang ingin disampaikan”katanya antusias. Terlihat dari binar matanya yang cerah tergambar kebahagiaan yang aku sendiri tidak tahu
“tapi sri sudah beli, mubazir kalau ditinggal” jawabku. jujur aku lebih nyaman makan dengan sri dari pada dengan suamiku sendiri. kami bisa ngobrol diselingi tawa yang kadang kami sendiri tidak tahu letak lucunya dimana. Aneh bukan, itulah perempuan kalau sudah bertemu dengan yang klik.
“biar dimakan anak-anak yang lain, kalau perlu kamu telepon dia, suruh belikan juga makan siang untuk yang lain.” Jawabnya, Ada apa dengan suamiku, tidak biasanya.
Disinilah aku sekarang berdiri disebuah gedung perkantoran berlantai dua, dengan dominasi cat berwarna abu tua. Dipadu padankan dengan warna putih. Dengan sedikit sentuhan warna merah dibeberapa bagian.
__ADS_1
Aku tahu ini kantor suamiku perusahaan konstruksi, yang dia bangun dengan pengorbanan yang luar biasa. Perjuangannya ahirnya membuahkan hasil.
“Masuk kedalam yuk, aku perkenalkan sama karyawanku.” Ucapnya seraya menggandeng tanganku dengan mesra.
“selamat ulang tahun ibu syafira” serempak suara karyawan suamiku berjejer didepan pintu masuk perusahaan. Ya Allah...aku sampai lupa hari ulang tahunku sendiri.
Ada yang memegang cake, bunga segar. Ada bunga dari uang warna merah tertata sangat indah. Aku tutup mulutku tak percaya. Terharu? Tidak. Bahagia? iya, kuhargai usahanya sedemikian rupa untuk memberikanku kejutan.
“terima kasih mas" kugenggam tangannya. Kepeluk lengannya. Dia mengusap kepalaku. Untung hari ini penampilanku tidak berantakan. Jadi tidak malu bertemu dengan mereka disini.
Atasan kuning gading dipadu celana kain warna putih dengan jilbab warna senada aku kenakan hari ini. Sepatu heels 5 centi melengkapi penampilanku.
“selamat ulang tahun ibu syafira semoga panjang umur dan bahagia. Saya iri dengan keluarga ibu yang selalu harmonis. Pak amir suami yang baik. beliau benar-benar laki-laki setia. Lihat saja karyawan disini semuanya laki-laki” kata laki-laki yang paling tua diantara mereka. oiya, aku baru sadar.
Tidak ada satu pun karyawan perempuan terlihat disini, begitu gigihnya usaha suamiku untuk membuktikan kesungguhannya.
Itulah penilaian orang tentang rumah tanggaku, apa aku rela merusaknya hanya karena ego. Tentu tidak, biarlah perasaan yang mulai pudar ini kusimpan sendiri.
“ada kejutan kejutan lain buat kamu, ayo masuk” kata suamiku
Dia menggandeng tanganku kesebuah ruangan yang cukup luas, ada sofa meja serta kursi tertata rapi disana. sebuah komputer ada diatas meja.
“Rania ngapain disini mas” tanyaku, sungguh aku terkejut. Seharusnya dia masih ada dirumah kirana.
“tadinya dia ingin ikut meyambutmu memberi kejutan. Tapi dia tertidur, kasihan sekali sepertinya putriku ini kelelahan” jelasnya, suamiku duduk tepat dibelakangku, merangkul bahuku dari belakang dan mencium kepalaku dengan lembut.
Kupejamkan mata,berusaha meyakinkan hati bahwa suamiku sudah berubah. Tapi mengapa rasanya sulit, bayangan dia melakukan hal yang sama dengan wanita lain menari-nari dibenakku. Mungkinkah aku trauma, bisakah hatiku kembali seperti dulu, menerimanya dengan utuh tanpa melihat masa lalunya.
Tidak ada debaran kebahagiaan, pikiranku selalu buruk tentang suamiku. Akankah dia tidak akan mengulanginya lagi. atau jangan-jangan dia akan melakukan kesalahan yang sama ketika hatiku sudah nyaman. Tuhan,,,,yakinkan aku bahwa kesalahan itu tidak akan terulang.
Terdengar ketukan dipintu, pria baruh baya yang tadi ikut menyambutku memberi kejutan, masuk setelah suamiku membukakan pintu.
Sekarang duduk berhadapan dimeja kerja suamiku, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak mendengar, fokusku hanya pada Rania. Aku mengelus pipinya lembut. Kucium keningnya berulang. Dia tidak terusik dengan perlakuanku.
“coba lihat ini sayang” suara suamiku sambil mendekat kearahku. Duduk disofa badannya sedikit membungkuk meletakkan berkas ditangannya dimeja.
“apa ini?” tanyaku penasaran
“jadi ibu tinggal tanda tangan disini”jawab pria tadi
Aku masih bingung kutatap suamiku, dia juga menatapku dengan senyuman yang sama seperti tadi. Mengapa dia terlihat bahagia sekali.
__ADS_1
“sayang, perusahaan ini aku berikan buat kamu dan Rania, jadi pemiliknya adalah kamu. Aku hanya pengelola disini dan pak faisal ini notaris yang sudah membantuku mengurus semuanya” penjelasannya membuatku tak percaya. Aku pandangi wajahnya dengan tatapan bingung.
“dari awal kita menikah, aku belum pernah mengajakmu bulan madu, sampai punya Rania aku juga belum pernah memberikanmu hadiah. Aku sudah berjanji kalau suatu saat nanti usaha yang aku rintis berhasil. Ingin memberikanmu hadiah. Anggaplah ini hadiah yang aku simpan untukmu selama tujuh tahun pernikahan kita” dia mengatakan itu sambil mentapku dalam. Aku melihat kejujuran dimatanya. Tidak terasa air mataku menetes.
Aku terharu, aku tahu bagaimana suamiku membangun usaha ini dari nol. Harus membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan usahanya. Mencari investor, tertipu, gagal semuanya sudah dia alami. Tapi mengapa dengan mudahnya dia memberikannya padaku.
“tapi mas, ini terlalu berlebihan aku tidak tahu tentang konstruksi” jawabku
“kamu hanya pemiliknya. Aku pengelolanya. Banyak yang bantu kamu disini tidak usah cemas ya” ucapnya meyakinkanku
“ini terlalu berlebihan. Bagaimana kalau tiba-tiba aku pergi membawa ini semua, kamu jadi gembel dijalan mas” jawabku, berusaha menolak hadiahnya yang memang tidak bisa diterima dengan akal.
“jangan bicara begitu kamu tidak akan kemana-mana. Kita akan tetap bersama membesarkan Rania sampai tua” jawabnya sambil menggengam tanganku. Aku lihat Pak faisal hanya tertunduk. Entahlah mungkin dia merasa risih dengan kelakuan suamiku
“ibu tanda tangan disini, setelah ini perusahaan ini menjadi milik ibu” ucap laki-laki berambut putih itu.
“bisakah saya memikirkannya dulu” tanyaku pada pak faisal
“bukankah ini bagus, cara seorang suami menunjukkan cinta pada istrinya”jawabnya lagi.
Dia orang lain, tidak akan paham tentang apa yang sudah aku lewati, tentang sakit yang pernah aku alami, tentang penghiatan yang tidak bisa aku lupakan. Aku merasa ini hanya usahanya mengembalikan kepercayaanku. Setelah usahanya berhasil, apakah dia akan tetap seperti ini. Atau kembali akan melukaiku.
“bapak bisa keluar dulu, nanti kalau selesai saya panggil lagi” ucapan suamiku, membuatku bingung. Pak faisal beranjak pergi setelah menganggukkan kepala.
Mengapa ngotot sekali ayahnya Rania memberikan ini semua padaku. Dia bisa mengelolanya sendiri. segampang itu mengapa dia buat susah.tanpa melibatkan aku semuanya sudah berjalan dengan baik, bukan?
“Apakah kamu masih belum percaya sama mas?” tanyanya, setelah pak faisal keluar
“ini bukan masalah percaya atau tidak, ini terlalu berlebihan” jawabku meyakinkan
“aku merasa, kalau kamu memang belum sepenuhnya menerimaku, ini bukan tiba-tiba terjadi. Dari awal aku mendirikan ini memang sudah aku tekadkan buat kamu dan Rania” tegasnya. Sungguh aku tidak bisa menerima ini. Hatiku menolak.
“baiklah aku hargai keputusanmu, dimana aku harus tanda tangan”mengahiri perdebatan yang tidak mungkin ada ujungnya.
Laki-laki ini menunjukan tempatku tanda tangan, dengan diam. Aku lihat gurat kecewa diwajahnya. Selesai tanda tangan aku tutup map itu. Menarik nafas dalam, menghalau pikiran buruk yang berkecamuk.
Aku turun ditempat Mas Amir menjemputku tadi. Aku terpana. Bagaimana tidak. Karangan bunga besar terpampang didepan pintu masuk. Bertuliskan ucapan selamat ulang tahun untukku. Dengan logo GLOBAL GROUP. Dibawahnya.
Ku tatap suamiku. Tidak ada lagi senyum bahagia yang dia tunjukkan padaku pada saat menjemputku tadi. Aku tahu, sikapku memang keterlaluan. Tidak menghargai usahanya memberikanku kejutan. Harusnya aku terharu seperti kebanyakan perempuan yang diberikan kejutan manis oleh suaminya.
Maafkan aku mas, sungguh aku hanya ingin memberi jarak pada hatiku. Memastikan bahwa luka itu sudah benar-benar sembuh. Aku harap pada saatnya nanti kita akan kembali seperti dulu. Biar waktu yang menyembuhkan luka ini.
__ADS_1
***note : ada yang mulai tersentuh dengan cara amir membuktikan cintanya pada syafira....
jangan lupa like dan komennya biar author semangat Terima kasih***