BERTAHAN KARENA STATUS

BERTAHAN KARENA STATUS
ANAK YANG TAK DIINGINKAN


__ADS_3

Seminggu kemudian ibuku juga berpamitan ingin pulang, aku tidak tahu harus berkata apa. Ingin rasanya menghalangi mereka. Tapi aku takut mereka tidak betah tinggal disini. Kalau boleh, aku ingin membawa mereka kemanapun aku pergi.


“tidak bisakah ibu sama bapak tinggal disini. Tidak usah pulang” kataku merangkul bahu ibuku.


“tidak bisa fira, ibu sudah terlalu lama disini tidak melakukan apa-apa. Bapakmu itu kalau tidak ada kegiatan malah tambah sakit. Kalau disana kan bisa jalan-bertemu teman-temannya. Membuka toko dipasar” jawab ibuku.


“kalian tidak usah bekerja, fira mampu menanggung hidup ayah dan ibu” aku bersikeras berusaha meyakinkan mereka.


“ibu percaya, ini bukan masalah materi. Tapi ibu lebih nyaman tinggal di kampung.” . kalau itu alasannya sudah tidak bisa dibantah lagi.


“biar kita antar bu” suara ayahnya Rania


“sudah siap semua, barang-barang sudah saya masukkan ke mobil”lanjutnya lagi


Kami berjalan keluar. Entah mengapa tiba-tiba kepalaku sangat pusing. Pandanganku gelap. Keringat dingin mengucur di dahi. Sebenarnya dari bangun tidur aku sudah merasakannya. Tapi tidak separah sekarang. Nafasku tersengal. Kakiku lemas tidak mampu lagi menahan tubuhku. Aku terjatuh.


Terdengar suara memanggil manggil namaku, suara ibu, bapak suara tangisan Rania tak terkecuali suara ayahnya Rania. Kurasakan tepukan di pipi berkali-kali. Mataku berat setelahnya aku benar-benar tidak ingat apa-apa lagi.


***


Membuka mata menyesuaikan dengan cahaya. Bau obat tercium menyengat. Aku dimana. Aku tidak mengenali sekelilingku.


“Bunda...”aku tahu itu suara Rania. Ku tatap dia, Wajah anakku bahagia


“sayang,,,”suara perusak suasana wajahnya tidak kalah bahagianya senyum terpancar jelas. Tiba-tiba dia mencium keningku. Ada apa ini.


“Fira..”suara ibu wajahnya sama berbinarnya dengan bapak


“ibu sangat bahagia, kita akan punya cucu lagi ya pak” apa maksudnya


“terima kasih sudah memberikan kabar bahagia ini untuk kami” kata-kata bapak apa maksudnya, cucu siapa yang dia maksud


“kamu hamil sayang, Rania akan punya adik” aku melotot tidak percaya perkataan laki-laki ini seperti ada godam menghantam dadaku, tapi bagaimana aku bisa hamil, selama aku pulang aku tidak pernah sekamar dengan ayahnya Rania. Tapi melihat wajah bahagia Rania. Aku luluh. Dan melihat senyum di wajah ayahnya Rania, aku benci. aku tidak suka.


“ya sudah ibu pulang ya. Kamu baik-baik sama suamimu Fira. Jangan lupa jaga kehamilan kamu baik-baik”.


“maaf bu, saya tidak bisa mengantar kondisi Syafira masih lemah. Sudah ada sopir menunggu di mobil” kata ayahnya Rania


“ibu Fira ikut”itu suaraku, yah aku menangis aku tidak suka dengan keadaan ini, aku benci.


“tidak usah, kamu baru sadar. Titip Fira ya nak, lebih sabar lagi menghadapinya. Ibu yakin kamu laki-laki yang tepat untuk anakku” ibuku mengusap bahu menantu kesayangannya.


Aku buang muka. Aku ingin menjauh dari laki-laki ini tapi seolah Tuhan punya rencana lain.


Aku hanya bisa menangis, meratapi nasibku kedepannya bagaimana.


“sayang kamu kenapa” aku tatap laki-laki ini penuh kebencian


“mengapa aku bisa hamil, katakan!!!” aku tahan suaraku takut terdengar Rania.


“bisa, kan ada aku” jawabnya santai


“maksudku, bagaimana bisa sementara kita belum pernah tidur satu kamar” jawabku penuh amarah.


“kamu lupa kejadian yang dihotel satu bulan yang lalu”ya Allah...bagaimana aku bisa lupa kejadian itu. Aku terdiam antara marah dan malu mengingat itu. Dia sudah memaksaku, aku akan mencabik habis harga dirinya. Lihat saja.


“jangan terlalu percaya diri tuan, bagaimana kalau ternyata anak ini bukan anakmu” ini satu-satunya cara. yang bisa melenyapkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.


“istriku masih sama seperti dulu selalu menjaga kehormatannya, itulah sebabnya suamimu ini sangat mencintaimu”senyum itu. Tuhan. Seandainya tidak ada Rania ingin aku cakar wajahnya.


“kalau begitu aku akan menggugurkan bayi ini, karena aku tidak menginginkannya” sudah kukatakan aku ingin merendahkan harga diri suamiku bukan.


“jangan lakukan aku mohon, kamu boleh membenciku, boleh memukulku, boleh menyakiti aku tapi jangan anak ini” wajahnya mengiba.

__ADS_1


“bunda semoga nanti adik bayinya seperti kenzy, lucu” wajah binar Rania. Memaksaku tersenyum walau hati ini masih tidak terima. Bayi dalam perutku ini hasil pem******n, yang dilakukan ayahnya.


“apa yang membuat istriku masih membenci ku?” pertanyaan macam apa itu


“semuanya. Tanpa terkecuali” jawabku tegas.


“permisi nyonya amir, saya mau mengecek kondisi ibu. kalau sudah baik-baik saja ibu dijinkan pulang hari ini. permisi tuan” seorang perawat perempuan mendekat. Ayahnya Rania menyingkir karena tempatnya mau di pakai perawat untuk memeriksaku.


Denyut nadi, tekanan darah, denyut jantung. Semuanya selesai. Kemudian wanita memakai hijab ini merapikan bajuku.


“semuanya sudah bagus ibu, tinggal menunggu berkasnya selesai. Jangan lupa istrinya di jaga pak. Karena usia kehamilannya masih 5 minggu sangat lemah, jadi perbanyak istirahat jangan lupa minum vitamin dan obat penguat kandungan.” Nasehat sang perawat panjang lebar. Yang mendengarkan dengan seksama malah ayahnya Rania, aku biasa saja.


“terima kasih” jawabnya singkat.


dia menoleh lagi ke arahku kembali duduk di tempat yang sama.


“ayah,,, Rania ngantuk” celetuk anakku meyadarkanku karena memang Sudah waktunya Rania makan siang.


“Jangan tidur dulu, Rania belum makan siang, Rania mau makan apa, ayah beli diluar sebentar” kata suamiku


“mau makan soto boleh?” jawab Rania


“bunda makan apa?” aku diam saja


“bunda harus makan. Apa mau makan jatah dari rumah sakit?” tanyanya. Aku hanya menggeleng. Sungguh aku tidak selera makan.


Tanpa bicara lagi mas amir keluar, sejak aku menjawab pertanyannya tadi tiba-tiba laki-laki itu menjadi pendiam. Aku peduli, tidak. Karena memang kenyataannya aku membencinya setelah kehamilan ini.


Kembali dengan bungkusan ditangannya, soto pesanan Rania di taruh di wadah warna hitam. Cukup higienis. Penjual makanan sekarang lebih kreatif, kemasan yang unik dan beragam tidak hanya menggunakan kertas biasa.


“Ayah suapi Rania ya,”putriku mengangguk. Aku melihat begitu telatennya mas amir menyuapi Rania. Bahkan Rania sebesar itu masih disuapi. Tiga tahun kami tinggal berdua Rania sudah makan sendiri tanpa di suapi.


“ayah makan juga biar tidak sakit” kata anakku, aku akui Rania begitu sayang sama ayahnya. Aku sempat merasa bersalah pernah memisahkan mereka. Mungkin betul kata orang bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Aku melihat itu pada diri Rania.


“bunda makan juga” membuka bungkusan kedua, aku lihat menu yang sama dengan Rania.


“aku tidak selera” kataku membuang muka


“di paksa ya, biar sehat, kasihan adiknya Rania” senyumnya tulus. entah mengapa dari sinar mata itu aku menangkap seolah ada duka yang tersimpan.


Menyuapiku dengan telaten, sesekali mengambil tisu mengelap bibirku yang terkena tumpahan kuah soto yang berwarna kuning. Sungguh ini enak sekali. Rasanya cocok untuk menu makan siang.


Kulihat Rania sudah terlelap dengan mukenahnya beralaskan sajadah, di karpet. Ruang perawatan ini cukup luas . mungkin dia lelah menunggui bundanya dari pagi. Makanku sudah selesai, ayahnya Rania memindahkan Rania ke kasur khusus yang hanya terdapat di ruang VIP.


Selepas sholat dia duduk di sofa memasukkan menu makannya sesuap demi sesuap kedalam mulutnya mengunyah pelan. Tatapannya menerawang, kelihatan tidak berselera . Entah apa yang mengganggu pikirannya.


“mas..”aku memanggil, dengan segera dia meletakkan makananya di meja


“istriku memanggil, ada apa?” tanyanya setelah menghampiriku dengan tergesa.


“aku mau sholat”


“emang bunda kuat?” tanyanya menatap wajahku tidak percaya


“kamu meremehkan aku” nadaku ketus


“bukan begitu, kalau tidak kuat tayamum saja, sholat sambil berbaring juga tidak apa-apa” dia menjelaskan dengan suara lembutnya seperti biasa.


“aku masih kuat ambil wudhu”


“mas bantu ya”


“terserah” itu jawabanku.

__ADS_1


Dia memapahku kekamar mandi memegang botol berisi cairan infus.


“apakah kamu akan ikut masuk kekamar mandi?” dia terperanjat.


“infusnya bagaimana”tanyanya.


“aku yang pegang, mana” aku mengambil botol dari tangannya.


“sayang, sudah belum”tanyanya dari luar kamar mandi, sambil mengetuk pintu pelan.


Aku diam, berisik sekali laki-laki ini


aku keluar, ku pasang muka garang, aku malas melihatnya


“apaan sih manggil-manggil berisik” kataku ketus


“takut kamu pingsan di kamar mandi. Maaf” wajahnya menunduk, kasihan sebenarnya.


Tapi mau bagaimana lagi. anak dalam kandunganku ini dihadirkan dengan cara tidak wajar. Bukan aku yang menginginkannya tapi dia.


Aku sholat sambil duduk dia dengan setia duduk disebelah ranjangku. Menarik selimutku sampai keleher. Setelah aku selesai sholat.


“tidurlah, kalau ada apa-apa. Mas ada di sofa panggil saja” katanya mengusap keningku pelan.


Menuju kasur mencium kening Rania. Kemudian menarik selimutnya sampai keleher.


Duduk di sofa menikmati acara TV. Tangannya bersedekap di dada.


Dari wajahnya aku tahu kalau laki-laki ini juga lelah. Tapi dia paksakan untuk tidak tertidur.


Ketukan pelan terdengar dipintu, ayah Rania membukanya seorang perawat laki-laki memberikan kertas.


“terima kasih, tapi tunggu dulu anak dan istri saya masih tidur. Nanti kalau sudah bangun saya hubungi lagi” suara ayahnya Rania berbisik. Mungkin dia pikir aku tidur. Entahlah.


Pulang dari rumah sakit, setelah melalui drama panjang karena harus memakai taksi online.


Mobil ayahnya Rania masih di pakai mengantar ibu. tentu saja aku yang mencari masalah. Tak terhitung berapa jumlah kata maaf yang keluar dari bibirnya.


“jangan langsung tidur, mandi dulu ganti baju sholat baru tidur”. Pesannya padaku saat aku hendak naik. Masih jam tujuh malam ketika aku melihat jam yang menempel diatas ruang TV.


Laki-laki itu masih sibuk dengan barang bawaan dari dalam mobil. Tadi kami sempat mampir ke swalayan dan apotik untuk menebus obat dan membeli susu hamil untukku. Aku menunggu di mobil. Rania dan ayahnya yang berbelanja.


“biar mas tidur sama Rania, kamu tidur dikamar saja biar nyaman, kasihan adiknya Rania kalau harus tidur berdesakan” sejak tahu aku hamil. Laki-laki ini lebih cerewet dari emak-emak.


Aku menuju kekamar.


Mas amir masih mondar-mandir ke atas kebawah, masuk kekamarku meletakkan barang-barang. Masuk kekamar Rania. Keluar lagi. turun naik. Entah apa yang dia lakukan aku tidak peduli. Aku berbaring dikasur.


Menarik selimut hendak tidur. Ketika laki-laki itu masuk membawa nampan berisi susu hangat.


“minum dulu susu sama vitaminnya” duduk di tepi ranjang meletakkan nampan diatas nakas.dengan perlahan dia membantuku duduk.


“aku tidak mau, sudah kukatakan aku tidak menginginkan anak ini”aku membuang muka kearah berlawanan.


“jangan keras kepala kalau anak ini kenapa-napa kondisimu juga akan melemah, mengalah lah sebentar setelah itu istirahatlah. Besok akan aku layani kemarahanmu” bisa juga dia mempengaruhi aku. Untuk kali ini aku mengiyakan ucapannya


“Mas ada dikamar sebelah, tidak tidur dengan Rania dia sudah besar sekarang. mas tidur dikamar adiknya Rania. Kalau perlu apa-apa panggil saja. kalau masih lemah, telpon saja.” ucapnya panjang lebar.


Membawa kembali gelas dan nampan kosong keluar. Entah mengapa ayahnya Rania berbicara lebih lembut lebih sopan. Mungkinkah dia marah


“kamu baik-baik saja” ahirnya terlontar juga kata itu.


“aku baik, maaf ternyata aku salah. Kukira kehadiran anak ini akan merubah perasaanmu padaku ternyata Keberadaan anak itu semakin menyiksamu. Maafkan kebodohanku yang kesekian” ucapnya sambil tertunduk. Sungguh aku terenyuh mendengarnya. Sekeras apapun aku hanyalah manusia biasa yang masih punya perasaan.

__ADS_1


“tidak usah dipikirkan. Tidurlah” katanya lagi sambil menutup pintu kamar pelan


__ADS_2